Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Apa yang aku rasakan sudah kau rasakan Alexander!


__ADS_3

Saat Alexander menyalakan ponselnya, ratusan pesan masuk dan voice note dari Dokter Risma. "Tuan Alexander, Nyonya Alona dalam bahaya! cepat kembali!"


Alexander dengan wajah merah padam langsung menghubungi semua pasukan elite keamanan perusahaannya di kota F. Pria itu menugaskan 20 pasukan elite perusahaannya agar segera datang ke Villa bukit merindu untuk memastikan keamanan istrinya.


Bila dibandingkan kekayaan antara Alexander dengan milik Bibi-nya Diana, maka tidak akan sebanding. Diana memiliki kekayaan nomor tiga sementara Alexander menduduki posisi ke lima. Akan tetapi, pasukan keamanan perusahaan Utama Grup milik Alexander sudah diakui nomor satu di seluruh negeri.


Semua pasukan Kuda Hitam sudah siap berjaga di ring terluar dan di bagian terdalam dengan senjata lengkap militer kelas satu. Mereka mengatur barisan tanpa terlihat mata telanjang manusia. Mereka sudah terlatih dalam segala bidang seperti menyusup melakukan pengintaian, melakukan peperangan dan menaklukkan musuh dalam satu kali tembakan.


Alexander berada di dalam helikopter. "Cepat turunkan aku mengunakan tali tepat di depan rumah." Perintah Xander.


"Tapi, Tuan... itu sangat berbahaya."


"Aku lebih baik membahayakan keselamatanku sendiri di bandingkan melihat istriku dalam bahaya!" Teriaknya dengan wajah datar namun terlihat menyeramkan seperti seorang raja iblis pembunuh manusia.


"Baik, Tuan..." Ucap pria yang sedang mengendalikan laju helikopter di udara.


Alexander turun dari helikopter. Ia berlari sangat cepat menaiki anak tangga. Pria itu menarik dasi yang melingkar di lehernya. Sementara jasnya ia lepaskan dan di lemparkan ke sembarang arah. Aura membunuh Xander seketika aktif. Namun kulitas ketampanannya tetap terjaga. Lengan kemaja ia gulung sampai siku. Otot bisep dan trisepnya hampir merobek lengan kemejanya akibat marah yang memuncak.


Dari kejauhan sudah nampak Bibi Ani dan Dokter Risma sedang berusaha membuka pintu kamar. "Minggir!!!" Teriak Xander.


Alexander berlari lalu menendang pintu sekali hantam. Tendangan pria itu bagaikan meteor yang jatuh menghantam permukaan bumi. Pintu yang kokoh hancur. Detik berikutnya, pintu terbuka lebar memperlihatkan isi kamar yang hancur berantakan.


Bibi Ani dan Dokter Risma masih berdiri mematung di kedua sisi pintu kamar, saling berhadap-hadapan. Mereka memegang dada masing-masing menahan irama jantung yang sedang bergejolak bagaikan terombang-ambing di lautan lepas dengan ribuan hiu membuka mulutnya, mengelilingi mereka dan siap menerkam kapanpun.


Alexander berjalan dengan langkah besar. Berjalan lurus tanpa mempedulikan di sekelilingnya. Tatapannya tertuju pada pria di atas kasur. Alexander menarik kerah baju Alvaro dan menghantam wajahnya. Seketika Alvaro jatuh terhempas ke lantai. Sementara Alona masih tertidur terlentang di kasur.


Darah segar mengalir di sudut bibir Alvaro...


Tanpa jedah sedikitpun, Xander dengan cepat menerkam Alvaro. Xander menghajarnya dengan pukulan tinju bertubi-tubi. Pria itu kemudian menarik kerah baju Alvaro dan berkata. "Katakan di bagian mana saja kau menyentuhnya?"


Alvaro diam, tersenyum kemudian tertawa. "Aku sudah menyentuh semua yang mau aku sentuh. Dia sangat menawan dan membuat ku bergairah." Jawab Alvaro memprovokasi Xander.


"Brengsek! sialan!" Teriak Xander. Kembali sebuah pukulan mendarat di wajah Alvaro. "Aku akan membunuhmu!" Teriaknya lagi.


"Hahaha bunuh saja aku Alexander. Tapi, kamu tidak akan bisa mengubah bahwa anak yang dikandung di dalam perutnya adalah anakku. Dia darah dagingku." Teriaknya semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Xander melepaskan cengkeramannya pada leher Alvaro.


"Kenapa tidak berani?" Tantang Alvaro.


"Diam!" Teriak Xander terduduk di lantai.


"Apa yang Kau rasakan Tuan Alexander? saat melihat istrimu aku sentuh?!"


Alexander menundukkan kepalanya dan diam menahan emosi dengan tangan terkepal. "Jangan bicara jika tidak ingin aku merobek mulutmu Alvaro!"


"Hahahaha, apa yang aku rasakan sudah Kau rasakan Alexander! Kau merebutnya dariku. Kau pria tidak tahu malu merebut calon istri orang di acara pertunanganku! Kau penyebab semua ini. Kau menghancurkan kebahagiaan ku dengan Alona. Dia kekasihku, dia milikku, dia yang Kau curi dari ku. Sekarang aku memintanya kembali. Apa aku salah?!" Tanya Alvaro sambil menyeka darah yang menetes di sudut bibirnya.


Alexander mengaku salah di dalam hatinya. Benar dialah yang pertama mencuri Alona dari Alvaro. Tapi, dia juga tidak dapat di salahkan. Mereka sudah saling jatuh cinta. Setelah diam sesaat, Xander mengangkat kepalanya dan berbicara memberikan peringatan keras pada Alvaro. "Alvaro aku tidak akan membuat perhitungan denganmu hari ini! tapi aku tidak akan melepaskanmu di lain waktu."


"Tuan Alexander kau terlalu bermurah hati. Tapi, aku tidak akan menyerah. Hari ini aku akan membawanya pergi dari sini." Teriak Alvaro.


Alvaro perlahan bangkit berdiri dan menarik sebuah pistol di di balik celana dekat pergelangan kakinya.


Pistol itu sudah dia arahkan ke arah Xander.


Alona menaggis, " Alvaro aku yang bersalah padamu. Jangan sakiti dia. Dia suamiku." Teriaknya lagi.


Alona turun dari kasur, merentangkan kedua tangannya menghalangi arah pistol...


"Varo letakkan pistol itu...." Kata Alona memohon.


"Alona! minggir!" Kata Alvaro dengan pistol terarah ke arah Xander. "Minggirlah... Alona! ini urusan lelaki."


"Aku tidak akan pergi!"Jawab Alona.


"Minggir! atau aku akan menembak semua orang yang ada di sini." Ucap Alvaro.


Alexander memegang kedua bahu Alona dan menariknya ke samping. Detik berikutnya, Xander berjalan dengan cepat memegang tangan Alvaro dan merebut pistolnya...


Alona terduduk lemas di pinggir kasur....

__ADS_1


Pistol beralih ke tangan Alexander. Pria itu kemudian mengarahkan pistol ke arah Alvaro.


Alona tercengang melihat pistol sudah berpindah tangan...


Alona harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi hari ini. Bagaimana pun dialah yang menjadi penyebab pertarungan kedua pria di depannya. "Alexander! hentikan! Jangan tembak dia!" Teriak Alona.


"...." Alexander tetep diam memicingkan matanya menatap letak jantung pria di depan matanya.


"Sayang..., lepaskan dia, aku mohon. Jangan tembak dia." Kata Alona dengan air mata berlinang membasahi pipinya.


Mata Xander sudah mantap menatap jantung pria di hadapannya. Pria yang hampir saja menodai istrinya di depan matanya sendiri.


Xander menghiraukan segala macam peringatan Alona agar tidak menembak pria di depan matanya. Namun, sakit hatinya sudah tidak dapat di bendung. Pistol sudah siap terarah menembak mangsanya.


"Sayang, dengarkan aku. Letakkan pistolnya di lantai. Dia Ayah dari bayiku. Jadi, tolong lepaskan dia. Aku tidak ingin anakku membencimu nanti."


Xander tetap dengan tujuannya, melenyapkan mangsa di depannya. "Dia harus mati!" Bisik ribuan setan yang menghasut di telingganya. "Tembak dia, dia sudah berani menyentuh istrimu." Bisik raja iblis di telinganya sampai masuk ke dalam hatinya.


Alona menghalangi pistol yang akan di tembakan Xander ke arah Alvaro.


Dor!


Alona memejamkan matanya saat Xander menarik pelatuk pistol. "Tidaaaaak!!!" Teriak Alona memecah keheningan di dalam kamar.


Badan Alona menjadi lemas seketika. Ia tidak dapat menahan berat badannya dan perlahan terjatuh.


Bibi Ani dan dokter Risma melongo tidak percaya. Pandangan mereka tertuju pada Nyonya-nya. "Nyonya!" Teriak Bi Ani dan dokter Risma secara bersamaan.


Xander menjadi lemas melihat istri di depannya akan terjatuh. "Alona!" teriak Xander sangat kencang.


Pistol itu?


Kemana arah tembakannya?


Alona atau Alvaro?

__ADS_1


__ADS_2