
Alona tidak percaya bahwa kebahagian terakhirnya telah hilang. Ia seperti ling-lung memikirkan bagaimana ia bisa sampai seperti ini?
Wanita itu seperti terhipnotis, pikirannya seperti di kuasai dan dikendalikan oleh orang lain.
Terakhir kali ingatannya, ia yang menggoda lelaki itu untuk bisa membuka kunci kamar. Ia berhasil dengan rencananya. Ia kembali mengingat bahwa ia tidak bisa menempelkan kartu kamar itu, ia dibekap oleh seseorang. Ingatannya terhenti sampai disitu. Ia tak dapat mengingat sisanya, apa yang terjadi dengannya?
Aku wanita yang bodoh menganggap bahwa sarang serigala seperti kebun binatang!
Aku wanita yang bodoh mengganggap bahwa serigala akan menjadi jinak seperti seekor kucing kecil yang lucu!
Aku wanita yang bodoh menganggap bahwa penebusan itu akan berbentuk uang atau surat perjanjian!
Aku wanita yang bodoh yang mengganggap bahwa pergi ke sarang serigala akan selamat!
Aku bukan wanita yang polos!
Aku harusnya tahu bahwa serigala dan sangkarnya akan tetap sama seperti di habitat aslinya.
Aku harusnya tahu bahwa serigala tidak membutuhkan uang!
Aku harusnya tahu cara menghindari serigala yang kelaparan!
Aku harusnya tahu jika memasuki kawasan serigala, Aku tidak akan selamat! itu sama saja dengan memberikan nyawaku secara cuma-cuma!
"Betapa bodohnya Aku...!"
"Ibu, Ayah, apakah kau melihatku? Aku sudah hancur! segala yang kumiliki hilang! dosa apa yang kulakukan di masa lalu? hingga aku jadi seperti ini!?"
"Ayah..., Ibu..., Aku rindu kalian!" Aku ingin pergi! Pergi dari sini, bawalah aku mengikutimu!"
Alona meluapkan semua kemarahan di dalam pikirannya. Ia menganggap bahwa ia wanita yang bodoh bukan wanita yang polos.
" Kau sudah bangun?" Tanya pria itu pada Alona.
"...." Alona tetap diam.
Pria itu bertanya kepada Alona seperti tidak ada yang terjadi di antara keduanya. Ia bertanya seperti tidak ada yang salah dengan yang di lakukannya.
"Kau sangat menikmatinya, Nona!, yang terjadi tadi malam!."
"...." Kau sangat menikmatinya!
"Tubuhmu merespon sangat kuat, Kau seperti kucing jalang yang kesepian!"
Alona tidak menanggapi setiap pertanyaan dan penjelasanya, ia hanya diam seribu bahasa. Ia hanya mendengar kata "Kau sangat menikmatinya!" Seakan-akan Alona lah yang meminta itu darinya. Tangisannya terdengar sedikit samar-samar. Ia sudah kehilangan suaranya akibat menaggis secara terus-menerus.
Wanita itu merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Ia tidak memiliki kekuatan untuk bergerak, bahkan sedikitpun tidak. Jika ia berdiri saat itu maka ia akan secara langsung jatuh kepermukaan lantai.
" Bisakah Kau diam!? atau Kau bisa menutup mulutmu itu!"
"Aku ingin tidur!"
"...." Aku ingin tidur!
Alona tersadar dengan kata-katanya, " Aku ingin tidur!"
Apakah lelaki itu memang tidak punya hati dan perasaan?
"Tidak!, Hatinya sudah beku sedangkan perasaannya sudah hilang tertelan dendamnya."
Apakah ia serigala berbulu domba itu?
"Tidak!, Dia adalah serigala dari serigala."
Apakah ia lelaki yang psikopat?
"Benar!, Dia lah orangnya."
Wanita itu menahan emosinya hingga ia merasa pertahannannya sudah tidak ada artinya.
"Aaaaaaaaaakh!"
Alona berteriak untuk membangunkan pria itu. Ia hanya peduli akan kakaknya. Ia ingin menemuinya sekarang juga dan ingin memastikan bahwa kakaknya baik-baik saja.
Alona menarik selimut pria itu. Ia membuka selimut yang menutupi wajahnya. Ia tidak memikirkan, apakah lelaki itu mengenakan pakaian atau tidak?
Pria itu terbangun dan berbaring miring ke kanan menghadap wanita itu. Tangannya yang berotot menopang kepalanya dan menjadikannya sebagai penyangga. Dadanya yang bidang terlihat sangat jelas. Pria itu memicingkan mata dan mengernyitkan alisnya, dan memperlihatkan senyum samar yang mengoda.
Melihat pemandangan di depan matanya yang begitu sempurna. Wajah Alona sedikit bersemu merah, terlihat jelas tarikan air liur di lehernya yang panjang. Entahlah!, apakah ia merasa haus? atau terpanah dengan pemandangan di depan matanya!.
Gadis itu menarik selimut dan menutupi semua lekuk tubuhnya. Ia hanya menyisahkan bagian kepalanya yang terlihat. Ia seperti kupu-kupu yang berada di dalam kepompongnya.
Senyum manis terlihat di wajah pria itu, melihat tingkah Alona yang seperti anak kecil.
"Kau tidak perlu menutupi tubuhmu itu!. Aku sudah melihat semua yang ingin aku lihat!, bahkan aku bisa menghitung jumblah tahi lalat di tubuhmu itu."
"...." Alona terdiam dan hampir melupakan tujuannya membangunkan pria itu. Ia tersadar dan hampir menggigit lidahnya sendiri.
__ADS_1
"Apakah Kau begitu senang menghancurkan masa depan orang lain, Tuan serigala!?"
"Apakah Kau sudah puas membalaskan dendammu itu?"
"Apakah Kau bahagia sudah melakukannya? kepada orang yang tidak tahu sama sekali tentang dendammu itu?"
"Seharusnya Aku yang bertanya seperti itu. Apakah keluargamu itu begitu senang menghancurkan masa depan orang lain, Nona jalang?"
"Keluarkan Aku dari sini!" Aku ingin menemui Kakakku, Aku ingin melihatnya sekarang!.
"Tidak semuda itu, bNona yang cantik!"
"Harusnya Kau yang memberikan pelayanan kemarin malam, bukan Aku!"
"Pelayananmu yang akan menentukan segalanya, apakah Aku akan melepasakannya atau tidak?. Semua tergantung pelayanan mu itu!"
"Kau..., Kau..., terkutuklah Kau,Tuan!"
Alona menarik lelaki itu dan ingin segera mencekek lehernya!.
Keberuntungan tidak berpihak padanya, bukan ia yang menarik pria itu tapi lebih tepatnya ia yang tertarik oleh pria itu. Alona yang memiliki tubuh mungil dan berisi tidak sanggup menarik tubuh pria yang kekar dan berotot. Alona terjatuh, posisi wajahnya tepat diatas dada bidang lelaki itu, adegan itu seperti di film roman remaja.
Pria itu merasakan sakit, yang amat sakit di dadanya akibat kepala Alona yang membentur tepat di dada bagian jantungnya. Pria itu sangat refleks mendorongnya kembali hingga Alona sudah terlentang di kasur dengan selimutnya yang terlilit menutupi semua badannya, keadaanya seperti bayi baru lahir yang selesai di mandikan oleh ibunya.
Selimutnya itu lebih berpihak pada lelaki itu, ini seperti senjata makan tuan. Lelaki itu terus menggodanya. Posisi keduanya saling berdekatan
"Bagaimana, Nona? Haruskah kita melakukannya lagi di sini, atau di kamar yang satunya lagi?"
Dada Alona terasa sesak, ia kesulitan untuk bernafas, ia seperti akan mati!. Kepalanya berputar-putar, semua yang ia lihat menjadi hitam kelam, sangat kelam.
Pria itu menindih perut Alona mengunakan kaki bagian kirinya, sedangkan tubuhnya ia miringkan, kepalanya bertopangkan tangannya. Ia memainkan rambut yang mengembang di kepala wanita itu. Ia memutar-mutar rambutnya sperti bentuk rambut gimbal.
Mata Alona terpejam secara perlahan, sedangkan pria itu masih asyik dengan permainan memutar-mutar rambut wanita itu.
"Sayang...!, apakah kau menyukainya?
"...."
"abcdefghijklmnopqrstuvwxyz."
"...."
"aaaaabbbbccc."
"...."
"...."
"Nona..., Nona..., Nona!"
"Nona ini tidak lucu!"
"Bangunlah!, atau Aku akan membunuhmu!"
"...."
"Nona ku ingatkan Kau, sekali lagi! bangunlah!"
"...."
Pria itu mencium bibir Alona dan menutup hidungnya. Ia memberikan napas buatan pada wanita itu.
"Ackhhhhh!, apakah Aku begitu bodoh!"
Seharusnya pemberian nafas buatan itu hanya untuk korban yang tenggelam bukan untuk orang yang pingsan!. Setidaknya ia harus tahu itu, meskipun ia tak secerdas ayah dan adiknya.
"Aku meragukan gen ku sendiri!"
Apakah aku benar-benar anak seorang dokter yang terkenal itu!?
"Iya, itu ayahku!. Nandra Utama"
Apakah aku benar-benar anak dari pengusaha sukses itu!?
"Iya, itu ibuku!. Audrey McQueen"
Pria itu segera mencari solusi agar wanita itu bisa sadar secepatnya. Ia membuka selimut yang melilit penuh ditubuhnya.
Matanya membelalak melihat tubuh wanita itu. Ia melihat penuh warna merah dan biru. Ia tidak mempercayainya, apa yang ia lihat sekarang! tepat di depan matanya.
Apakah aku begitu bergairah?
Apakah itu, benar-benar Aku yang melakukannya?
__ADS_1
Apakah Aku sesadis itu padanya?
Pertanyaan demi pertanyaan di dalam pikirannya terus berputar seperti angin yang selalu berganti memberikan udara untuk kelangsungan kehidupan manusia.
Lelaki itu sibuk, mondar-mandir di samping kasur itu. Ia harus memikirkan cara memanggil dokter tanpa memperlihatkan tubuh Alona yang penuh dengan ciumannnya. Ia merasa akan memberikan citra buruk pada dirinya jika diketahui oleh orang lain.
Pria itu mencari ponselnya.
"Ponselku...! ia mengingat di mana keberadaan ponselnya?"
"Aaackh, Wanita itu!, telah menghancurknnya berkeping-keping." Ia kemudian menghampiri meja di sudut dinding menghadap tirai, di sana ada telpon yang hanya menghubungkan kebagian resepsionis dan bagian pesan makan. Pria itu dengan sangat cepat mengangkat gagang telepon untuk menelepon bagian resepsionis.
"Tut..., tut..., tut...." Deringan telepon yang ke tiga telepon itu diangkat oleh seorang resepsionis yang cantik, meskipun orang yang menelponnya tidak melihat wajahnya. Sang resepsionis wanita itu tetap memperlihatkan senyum ramahnya.
"Selamat siang! Golden Hotel, dengan saya Anita. Ada yang bisa saya ban-"
Sebelum Wanita itu menyebutkan niat memberikan bantauan, pria itu langsung berbicara lantang dan tanpa basa basi. Orang yang tidak menyukai basa-basi dialah bos yang paling di takuti setiap karyawannya.
"Telepon dokter Chandra, sekarang juga!" Katakan padanya untuk menemuiku di kamar.
"Baik, Tuan...!" adalagi yang ingin Tuan butuhkan?
"Satu lagi belikan gaun santai untuk seorang wanita, ukuran yang paling kecil!"
"Ii-iya Bos, ee iya Tuan" Aku akan segera menyampikannya dan membeli gaun itu.
"Tut...,tut...,tut..." Sambungan telepon di putus begitu saja.
"Hidupku sepertinya akan tamat!, wanita itu bergumam sendiri di dalam pikirannya."
Untungnya hari ini ia di bantu oleh Citra melakukan tugasnya. Sehingga ia bisa menenangkan pikirannya. "Citra tolong Aku, tolong tangani semua telepon yang masuk. Aku akan keluar sebentar."
Pria itu berjalan seperti alat setrika baju, maju-mundur dan sesekali melihat jam yang tertempel di dinding kamar. Ia sudah merasa gelisah menanti dokter chandra yang tak kunjung datang.
Tatapan mata pria itu tertuju pada Alona yang terbaring di atas kasur, wajahnya terlihat sangat polos. Wanita itu seperti memanggil jiwanya yang hampa. Wanita itu seperti memiliki magnet di tubuhnya. Pria itu seperti magnet bagian kutup utara sedangkan Alona seperti magnet bagian kutup selatan, jika mereka di dekatkan maka akan saling tarik menarik.
Langkah kaki pria itu berjalan mendekati Alona. Butiran keringat terlihat keluar dari sudut-sudut rambut di kepalanya. Keringat itu berjatuhan secara perlahan menyusuri setiap wajahnya. Pria itu kemudian membuka telapak tangannya, dan ia letakan tepat diatas kening Alona. Suhu panas di kening Alona sangat terasa seperti bara api yang sedang menyala.
"Sepertinya, dia demam. Suhu badannya sangat panas!."
Pria itu berjalan menuju lemari pakaian. Ia sibuk mencari baju yang cocok dengan wanita itu. Ia menemukan kemeja berwarna putih berbahan katun slik sutra, ini akan membuatnya lebih nyaman dibanding dengan memakai selimut tebal.
Pandangan mata pria itu beralih ke arah Alona, ia segera menghampirinya dan memakaikan baju itu dengan sangat lembut dan hati-hati. Ia seperti seorang pengasuh yang sudah profesional.
10 menit kemudian dokter Chandra datang dan langsung masuk ke kamar. Ia seperti pemilik rumah itu, ia tidak membutuhkan kartu akses untuk masuk, ia cukup berdiri di depan pintu dan menunggu pintu terbuka secara otomatis. Ia seperti berjalan di jalan toll, bebas hambatan masuk keruangan itu.
"Milan, apa yang terjadi?
"Tolong periksa wanita itu...."
"Apa?"
"Milan, apakah Kau sudah gila? Aku bukan dokter umum yang menangani hal semacam ini. Aku dokter spesialis mata."
"Lagi-lagi Kau memanggilku, Milan! sudah kukatakan jangan panggil aku dengan nama itu." Aku tidak menyukainya, itu terdengar seperti nama yang manja dan kekanak-kanakan.
"Aku lidah lokal asli, jadi Aku lebih mudah menyebut kan namamu, Milan!"
"Sudahlah namamu itu membuat lidahku bengkok. Milan...Aleg...alergi, namamu itu terdengar seperti alergi."
"Milan Allegri Alexander McQueen Utama"
"Apakah sesulit itu?
"Nama panggilanku, Xander! apakah kau mengerti?"
"Hem...." dokter Chandra menyudahi pertengkarn diantara keduanya.
"Cepat Kau periksa dia!" atau Aku akan mencabut surat izinmu itu, dan mengirimu ke rumah sakit lama agar Kau menjadi dokter umum seperti sebelumnya!
"...." Tidak bisakah dia berbicara sedikit lembut kepadaku, meskipun aku sepupunya aku lebih tua 10 hari darinya. Dia sangat pandai memanfaatkan ku. Kata dokter Chandra bergumam dalam hatinya.
Dokter chandra dengan sigap memeriksa wanita itu, Ia segera memasang stetoskop di telinganya kemudian ia ingin menempelkan diaphragm ke dada wanita itu. Sebelum ia menempelkannya, Xander menghentikannya secara paksa.
"Apa yang ingin Kau lakukan?" jauhkan tanganmu itu, cepat!." Printah Xander agar Chandra tidak menyentuh Alona.
"Aku hanya ingin memastikan detak jantungnya saja, Aku tidak akan melakukan hal yang aneh." Kata dokter Chandra geram.
"Aku akan memegangnya, Kau cukup mendengarkannya saja!" Xander tetep kukuh dengan pendiriannya.
"...." Sepertinya aku tidak lebih baik dari anjing peliharaannya. Ia sangat memanjakan anjingnya itu, sampai-sampai anjing itu memiliki nama yang hampir sama dengannya. "Allgeo!"
"Dokter Chandra, apakah Kau mendengarku?" Kata Xander mengingatkan.
"Hem...!"
__ADS_1
"...."