
Alona melihat ke arah wanita berrambut pirang itu. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, siapa gadis cantik itu?
"Maaf Nona sepertinya Kau salah alamat. Aku tidak pernah memanggil atau mengenalmu." Alona menjawab wanita berrambut pirang itu.
"Aaw Bibi, bisakah Kau pelan sedikit menyisir rambutku. Aku bukan patung percobaan!" Alona tetap memanggil wanita itu Bibi meskipun ia tidak menyukainya, karena wanita itu lebih tua darinya. Ibunya selalu mengajarkan agar ia selalu bersikap sopan pada orang yang lebih tua darinya.
Alona sedikit marah pada Selly yang menyisir rambutnya dengan sangat kasar.
"Kau yang membuang waktuku sia-sia! Harusnya aku yang marah!"
"Kau... Bibi!" Alona mengepalkan tangannya, ingin memukulnya tapi ia sadar bahwa wanita itu lebih tua darinya.
"Bisakah Kau tidak bergerak!? atau Aku akan menarik rambutmu ini!" Selly tipe wanita pemarah, pekerja keras dan sangat serius saat bekerja. Sebenarnya dia wanita yang baik, tapi ia hanya mengikuti perintah tuannya untuk tidak bersikap baik pada Alona.
"Hem...."
Wanita berambut pirang itu masih berdiri mematung di depan pintu. Ia memperkenalkan dirinya kepada Alona
"Halo Nona Alona. Aku Tiffany, Aku instruktur dansa waltz. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik. Tuan Xander, memberitahuku untuk menemuimu disini."
"Baiklah Kau bisa duduk disana." Alona menunjuk arah kursi di pojok sebelah kirinya tanpa melihat ke arah Tiffany.
"Maaf Aku tidak bisa melihatmu sekarang. Aku takut nanti beruang betina marah, jika Aku bergerak." Alona menyindir Selly yang sedang menata rambutnya.
Stella dan Selly beranjak dari tempat duduknya. Mereka sibuk menata kembali peralatan yang sudah digunakan.
"Kami sudah selesai. Kau Nona, bisa pergi tanpa khawatir makeup mu akan luntur."
Stella dan Selly pergi meninggalkan Alona dan Tiffany. Mereka pergi tanpa basa-basi dan pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Alona.
"Heeekh...." Aku sangat kesal dengan mereka berdua. Alona menghentakan kakinya ke lantai.
Tiffany yang sudah lebih dari 10 tahun berkecimpung di dunia dansa waltz sangat mengetahui duo stella dan Selly. Mereka berdua adalah make up artis paling top pada saat ini.
"Nona Alona, apakah Kau tidak mengetahui siapa mereka berdua?"
"Tidak." Alona mengelngkan kepalanya memberitahu Tiffany.
"Memangnya merka berdua siapa?"Alona bertanya balik pada Tiffany.
"Mereka berdua terkenal dengan nama duo stella dan Selly. Mereka adalah make up artis paling top saat ini. Aku dengar make up yang di aplikasikan oleh mereka berdua tidak akan luntur walaupun berkeringat dan terkena air.
"Oh, sungguh!?" Alona sedikit terkejut mendengar penjelasan Tiffany.
"Iya. Aku dengar mereka juga tidak dapat langsung dipesan, jadwal nya sangat padat. Kau harus memesannya setidaknya 3 bulan sebelum hari H, jika kau menginginkan jasanya. Nona sangat beruntung bisa didandani oleh mereka. Aku Sangat iri pada Nona!"
"...." Oh pantas saja mereka sangat angkuh, dalam hati Alona.
__ADS_1
"Baiklah, Nona Tiffany. Sepertinya kita bisa memulai latihannya. Tapi aku tidak yakin aku bisa mengikutimu."
"Tidak masalah! apakah Nona Alona pernah menari?"
"Iya, itu dulu. Saat Aku masih kecil pernah menari balet. Tapi, aku tidak yakin aku masih bisa melakukannya atau tidak!?"
"Itu bagus, setidaknya Kau mempunyai pengalaman menari. Aku akan mengajarimu teknik dasarnya saja."
"Oke. Aku akan mengikutimu." Seru Alona.
"Baiklah Nona kita mulai sekarang, perhatikan Aku baik-baik."
Pertama, Nona dan tuan saling berhadapan. Jarak Nona dan tuan harus selebar bahu.
Kedua, letakan tangan kiri Nona di atas bahu Kanan Tuan, kemudian tangan kanan Nona akan di gengam dengan tangan kiri tuan. Angkat siku kiri Nona setinggi bahu.
"Iya seperti itu Nona." Alona mengikuti perintah instruktur Tiffany dengan sangat serius."
Ketiga, langkahkan kaki kanan Nona ke belakang, biarkan tuan mengarahkan langkah Nona. Lalu rapatkan kaki kiri ke kanan. Jejakan kaki dengan lembut dan elegan menggunakan bola telapak kaki. Turunkan tumit ke lantai, terutama ketika kaki Nona melangkah ke samping.
Xander sudah berdiri di depan pintu kamar saat Alona berlatih. Ia meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Ia mengisyaratkan pada Tiffany agar tidak mempedulikannya. Tiffany membalas Xander dengan senyuman dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Ingat tiga ketukan ini Nona Alona."
Satu, langkahkan kaki kanan Nona ke belakang.
Dua, langkahkan kaki ke samping searah dengan kaki tuan.
Lakukan setiap langkah dengan irama yang lembut sambil berjinjit di setiap ketukan dan turun diantara ketukan.
"Iya Nona Tiffany. Aku akan mendengarkan mu. Alona tersenyum bahagia, pipinya menggembung ke samping."
"Lihatlah Nona Tiffany apakah gerakan ku sudah benar?"
"Iya bagus, seperti itu. Lanjutkan Kau sangat pandai melakukannya."
Alona berputar-putar karena gembira. Ia melakukan gerakan balet yang masih di ingatnya.
Xander berjalan mendekati Alona.
"Buk...." Alona menabrak Xander yang sedang berdiri berjalan ke arahnya.
"Aaw!" tangan kanan Alona memegang kepalanya yang membentur sedangkan tangan kirinya memegang dada bidang Xander.
"Kau...?"
Mata Xander dan Alona saling bertatapan. Mata Alona sedikit melebar, terkejut menyadari bahwa ia menabrak Xander. Xander tersenyum ke arah Alona. Senyumannya membuat hati Alona bergetar. Ia seperti akan pingsan. Hatinya sangat bahagia hingga terpancar di raut wajahnya yang menawan.
__ADS_1
"Oh, Tuhan. Perasaan apa ini?" Mata Alona terus menatap wajah Xander, matanya berkilauan seperti memenangkan undian berhadiah. Jantungnya berdegup sangat kencang.
"Heeeem" Alona memegang pipinya yang bersemu merah, membayangkan Xander seseorang yang sangat perhatian padanya, seorang yang lembut dan mencintainya. Badan Alona bergoyang-goyang seperti seekor kucing kecil yang imut"
"Ehem..., hem..." Alona tersadar ketika mendengar Xander berdehem padanya. Alona mengerakan badannya dengan sedikit canggung menahan rasa malu.
"Apakah Kau sudah siap, sayang?"
"I-iya. Aku sudah siap" Jawab Alona dengan sedikit terbata-bata.
"Nona Tiffany, terima kasih Kau sudah membantunya." kata Alexander.
"Iya. Sama-sama Tuan, Aku akan pergi sekarang" Tiffany sedikit menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan mereka berdua.
*****
Pada saat Alona menabrak Xander. Jantung pria itu seperti akan lepas dari sangkarnya. Ia merasakan sesutu yang berbeda dari wanita itu. Tidak ada perasaan dendam, marah, jengkel dan kesal yang ada hanya rasa suka melihat tingkah wanita itu. Ia mengagumi wanita itu seperti penggemar rahasia.
Oh, Tuhan. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?
Pria itu tersadar dan berdehem pada Alona.
*****
Mobil berjalan secara perlahan.
Alona dan Xander tidak ada yang berbicara. Suasan di mobil itu seperti malam yang mencekam.
Xander mencoba mencairkan suasana.
"Alona apakah Kau akan terus meneekuk keningmu itu? Bisakah Kau sedikit tersenyum atau berbicara padaku?"
"...." Memangnya dia pernah tersenyum ramah kepadaku? Menyebalkan!
"Aku bukan hantu atau patung. Setidaknya Kau bisa mengatakan sesuatu padaku!"
"Iya Xander. Aku tahu Kau bukan patung ataupun hantu. Tapi Kau serigala? Aku bukan orang gila yang akan berbicara dengan hewan."
Panas bumi seperti akan membakar Alona melihat pria itu.
"Alona apakah Kau begitu senang bertengkar denganku!?"
"Hei, Tuan. yang suka bertengkar itu adalah Kau bukan Aku" Alona menunjuk Xander dengan jari telunjuknya dan sedikit mengangkat kedua bahunya.
Xander membanting setir mobilnya, ia kemudian menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Nona Alona, jika Kau tidak bersikap baik padaku selama di pesta sahabatku nanti. Kau akan tahu akibatnya!"
__ADS_1
"...." Terus saja mengancamku Aku tidak takut, "Hek" Alona memalingkan wajahnya menghindari tatapan pria itu.
"Alona!"