Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Siapa pria itu sebenarnya?!


__ADS_3

Alvaro tidak ada niat sedikitpun untuk menyentuh tubuh Alona. Mengingat bahwa Alona sedang mengandung anak orang lain membuatnya semakin jijik untuk melakukan hubungan se*sual secara langsung. Alvaro tidak akan pernah menyentuh seorang wanita hamil dengan pria lain.


Alvaro memulai rencana jahatnya. Perlahan ia melepaskan semua pakaian milik Alona dan menutup badan Alona mengunakan selimut. Alat mainan s*x di dalam box ia keluarkan. Kemudian membaca cara penggunaan. Setelah selesai membaca ia memasukan alat itu ke dalam **** * Alona sampai wanita itu merasakan kenikmatan sutu hubungan. Ia memasukkan alat itu secara perlahan takut terjadi sesuatu pada bayi di dalam perut Alona. Setelah selesai Alvaro mengakhiri memasukkan alat itu. Ia tinggal menuggu esok hari. Dengan alat itu seakan-akan ketika Alona terbangun mereka telah melakukan hubungan s*x. Sementara untuk leher Alona dan lehernya. Alvaro mengambil alat bekam lalu ditempelkan satu demi satu. Bekasnya akan terlihat seperti ciuman cinta yang memabukkan.


Obat anti mual dan susu hamil sudah Alvaro siapkan untuk Alona, demi menghindari kecurigaan wanita itu. Alvaro akan mengungkapkan kehamilan Alona sehari sebelum hari pertunangannya. Ia tetap menjadwalkan hari pertunangan sesuai rencana awal, 2 minggu dari hari ini. Alvaro akan berpura-pura mengantarkan Alona untuk cek up kesehatan sebelum hari pertunangan mereka. Rencananya sudah di siapkan sangat matang seperti seorang yang sudah berpengalaman.


Setelah selesai dengan perbuatannya. Alvaro membuka celananya lalu tidur memeluk Alona dengan intim.


Pagi hari Alona terbangun dari tidurnya. Alona memijat keningnya yang terasa pusing. Alona merasakan kehangatan dan kenyamanan saat tertidur semalam, membuatnya bersemangat di pagi hari.


Alona tersentak kaget mendapati dirinya berada di pelukan Alvaro dalam keadaan tidak memakai sehelai benang. Alvaro ikut terbangun saat merasakan pergerakan badan Alona di pelukannya, kemudian ia menyapa Alona. "Pagi sayang...." Alvaro mencium leher Alona dan memeluknya lebih erat.


"Varo apa yang kau lakukan padaku!?" Tanya Alona dengan pikiran kusut.


"Hubungan yang memabukkan sayang..., bagaimana rasanya? lebih nikmat denganku atau dengan pria itu?" Ucap Alvaro ringan dan tersenyum sekaligus menyindir Alona.


"Apa maksudmu!? kita melakukan itu!!"


"Emm..., tentu saja. Kita akan menikah lagipula kau juga sudah melakukannya pada orang lain. Bukankah tidak masalah bagi kita untuk melakukannya!?" Kata Alvaro.


Alona membalikkan badannya mendorong Alvaro dan menamparnya. "Varo kau pria brengsek." Ucap Alona dengan mata melotot.


"Heh....!" Alvaro tersenyum sinis. "Jangan berperilaku seperti perawan Alona. Bahkan Kau tidak tahu malu melakukannya dengan pria lain."


"Varo!!!, cukup! hentikan omong kosongmu!"


"Omong kosong katamu!? Sudah bagus aku mau meniikahimu Alona. Memangnya ada yang mau dengan sampah sepertimu!?"


"Varo! jaga ucapanmu!" Teriak Alona.


"Alona sudah kukatakan aku mencintaimu. Harus bagaimana aku membuktikannya Alona!?"


"Varo pergi! pergi dari sini aku tidak ingin melihat wajahmu!"

__ADS_1


"Pergi katamu. Ingat pemilik rumah ini aku Alona."


"Baik!, aku yang akan pergi dari sini."


"Jangan berkhayal Alona. Sebelum kakaimu melangkah aku akan mematahkan kakimu lebih dulu."


Alona menagis ."Varo kenapa kita seperti ini!?


"Jangan tanyakan padaku. Tanyakan pada dirimu sendiri Alona. Kau bermain gila dengan pria lain."


"Varo setidaknya Kau bisa menghargaiku sedikit. Kau juga memiliki seorang ibu perempuan." Alona kembali menangis melihat dirinya yang sangat memalukan.


Alvaro kembali dengan kata-kata lembutnya. "Maafkan aku sayang..., aku tidak tahu cara seperti apa lagi untuk mendapatkanmu." Alvaro memeluk Alona dengan hangat.


"Jangan menaggis lagi. Kita akan menikah secepatnya." Kata Alvaro menghibur Alona.


Alvaro bangkit dari tempat tidur dan memakai celananya. "Alona rencana pertunangan kita sesuai jadwal awal. Dua minggu dari sekarang. Aku akan pulang ke apartemen sekarang. Tenangkan dirimu dan jangan berpikir macam-macam. Aku sudah menyiapkan obat dan susu untuk menambah staminamu. Ingat untuk meminum obat di pagi hari dan meminum susu di malam hari."


Alvaro memakai kemejanya lalu mengusap kepala Alona kemudian mencium keningnya. " Aku pulang sayang."


Alvaro turun dari tangga. Ia duduk menyilangkan kaki di sofa ruang tamu lalu memanggil Bibi Asih. "Bi Asih!!!" Teriak Alvaro


Bibi Asih segera berlari ketakutan. Karena hari masih pagi sekali Bi Asih menabrak dinding di dapur. Bibi Asih menghiraukan rasa sakitnya. "Kenapa Tuan memanggilku pagi sekali. Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya dalam hati.


"Bi Asih!!!" Teriak Alvaro untuk kedua kalinya.


"Iya Tuan" Sahut Bi Asih yang sudah berada di dapur menyalakan lampu.


Alvaro mengusap mukanya untuk menyegarkan pandangan matanya.


"Kemana Bi Asih, lama sekali!, asisten sekarang semakin di manja semakin tidak tahu diri rupanya." Gumam Alvaro.


Dengan napas tersengal-sengal Bi Asih berbicara. "Ada apa Tuan memanggilku?"

__ADS_1


Alvaro menunjuk sekotak obat dan susu sudah terlepas dari mereknya. "Berikan pada Nona untuk satu minggu ini. Obat pagi hari dan susu malam hari. Pastikan dia meminumnya."


"Baiklah Tuan" Jawab Bi Asih sambil menghela napas lega dan membungkukkan setengah badannya.


*****


Satu minggu berlalu. Xander kembali ke kota J. Akhir-akhir ini perasaannya tidak menentu. Pola makannya juga berubah dari penyuka sayur-sayuran menjadi penyuka daging. "Apa aku telah berubah menjadi orang lain" Tanya Xander dalam hati.


Xander masih belum menemukan titik terang keberadaan Alona karena GPS yang di letakkan di dalam tas Alona sudah tidak aktif. Rekaman terakhir menunjukkan bahwa Alona berada di Yellow Residence. "Apa itu rumah baru Alona?" Tanya Xander.


Aku harus menemukannya sebelum ia bertunangan dengan pria itu. Aku akan membawanya pergi meninggalkan kota ini.


Xander duduk di ruang kerjanya di Golden Hotel. Duduk termenung memikirkan Alona. Jika benar Alona tinggal di yellow residence tentu sangat sulit untuk menemukan Alona. Rumah itu di jaga sangat ketat. Pengawasan di sana lebih teliti dan terperinci. Identitas pemilik rumah semua di rahasiakan. "Aku akan mencari siapa pendiri bangunan rumah itu? bukankah dengan membeli sahamnya akan mempermudah mengetahui siapa saja pemilik rumah di sana."


Tangan Xander bermain di sebuah situs web pencarian data-data penting. Gerakannya sangat lincah mengetik huruf demi huruf. Pandangannya fokus kedepan layar. Keahlian Xander dalam melakukan penyerangan ke sebuah situs penting milik perusahaan tidak dapat di pungkiri meskipun belum mencapai level dewa hacker. "Michael!" Xander terkejut. "Pria misterius itu adalah pendiri bangunan itu!?" Tanya Xander tidak percaya. "Rupanya pria itu lebih agung dari dugaanku. Penyelidikan ku sebelumnya belum sepenuhnya benar!, siapa pria itu sebenarnya!?"


Setelah mengetahui data pendiri bangunan yellow residence Xander menyerang data-data penting milik perusahaan pendiri rumah itu. Selama satu jam melakukan pembobolan data, Xander tidak berhasil menemukan data apapun. Perusahaan itu telah melakukan proteksi tingkat tinggi ada sepuluh lapisan pelindung keamanan data. "Aku belum pernah menemukan pelindung data seperti ini" Ucap Xander sambil mengusap keringat di keningnya.


"Apa Michael juga menginginkan Alona ku?" Xander menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, aku harus menemui Michael sebelum semuanya terlambat. Aku akan menemukan cara menekan pria itu.


Xander menyenderkan badannya di kursi goyang. "Ingat!, selalu ada jalan menuju Roma" Ucap Xander menyemangati dirinya sendiri. "Demi Alona semua akan aku lakukan."


*****


Siang hari di gedung baru pencakar langit di kota J. Berdiri seorang pria bertubuh atletis. Pandanganya sedikit suram. Pria itu tidak berhenti mondar-mandir berjalan di sekitar mejanya. "Sial!!!" Ucap Michael. "Siapa yang sudah berani mengacak-acak sistem keamanan perusahaannya. Meskipun orang itu tidak berhasil masuk tetap saja itu meninggalkan virus yang secara perlahan membekukan data-data penting perusahaan."


Michael mengangkat gagang telepon di atas meja dan menghubungkan ke sekretaris pribadinya. "Reihan, cari data-data pemilik perusahaan besar di kota ini. Sekarang!" Setelah selesai Michael mematikan telepon tanpa basa-basi.


Michael sudah berhasil melumpuhkan virus penyerang keamanan data perusahaannya. Namun, tidak berhasil menemukan jejak yang sudah melumpuhkan data-data perusahaan hingga membuatnya kesal.


Michael dengan tatapan bringas memandang penuh arti ke arah luar jendela memandang pemandangan indah siang hari di kota J. "Apa motif di balik semua ini!?" Tanya Michael.


Michael membalikkan badannya berjalan dan duduk di kursi ke agungannya. Di atas meja tertulis namanya Michael Cipta Gunawan di ikuti CEO di bawah namanya. "Aku akan melihat sejauh mana tikus itu menyusup!"

__ADS_1


Tiba-tiba dalam pikiran kusutnya, terlintas wajah Alona yang penuh keceriaan. Michael tertawa. "Alona! wanita seperti apa dirimu. Kau seperti magnet yang menarik hati terdalamku. Kau seperti Michelle ku" Kata Michael sambil menghela napas dan menyenderkan tubuhnya ke kursi.


"Michelle di mana kamu sayang.... Sudah bertahun-tahun aku mencarimu tapi tidak pernah bertemu. Lima tahun sudah kita terpisah. Entah dirimu masih hidup atau sudah tiada. Aku berharap menemukanmu dalan keadaan apapun!"


__ADS_2