Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Pernikahan sederhana dan berkesan


__ADS_3

Alona menyambut tangan Xander yang terulur ke arahnya dan tersenyum menatap pria masa depannya. Ada perasaan sedih saat itu. Kakak yang seharusnya menemaninya tidak ada di sisinya. Bukan itu masalahnya, tapi, hatinya saja yang selalu muda meleleh di kala ada sesuatu yang membuatnya bahagia. Orang pertama yang ia ingat selalu kakaknya, ibunya, ayahnya, dan, detik ini bertambah dua, anak dan suaminya.


Seorang pendeta berdiri di antara keduanya. Pendeta langsung saja memulai pengucapan janji suci Alona dan Xander secara khidmat.


Xander menjawab ucapan pendeta tanpa sedikitpun ganguan. Hanya Alona saja yang sedikit terbata-bata akibat menanggis bahagia. Wanita memang selalu seperti itu. Bahagia menangis, sedih sedikit menangis, air mata dan wanita menjadi satu kesatuan yang tidak akan terpisahkan sampai akhir masa kehidupan di bumi.


Xander dan Alona saling menyematkan cincin pernikahan masing-masing, setelah mengucap janji suci sehidup semati.


Belum sempat pendeta mengucapkan kata untuk berciuman sebagai tanda cinta mereka. Xander sudah membuka veil penutup kepala Alona dan menciumnya. Pria itu sangat agresif hari ini, melebihi ****** pelacak. Gerakannya pun sangat cekatan seperti ada orang yang akan merebut istrinya.


Ciuman berlangsung selama satu menit. Ciuman yang membuat semua orang iri dengan kebahagiaan mereka berdua.


Bi Ani di bawah bertepuk tangan gembira. "Oh! Tuan Xander, tolong jangan lakukan itu di sini. Tuan menyiksa kami semua yang lajang." Ucap Bi Ani sambil tersenyum memandang perbuatan Tuan dan Nyonya-nya.


Sementara sekretaris Rudy hanya tertawa dan tersenyum menyaksikan sisi lain dari bos-nya. "Tuan Xander aku padamu." Teriaknya. "Aku akan setia di sampingmu. Pergilah bulan madu bersama istrimu. Aku bisa meng-handle semua pekerjaan selama satu minggu." Kata Rudy bersemangat.


Alona terpaksa mencubit perut suaminya. "Tolong jaga sifat mesumu di depan orang lain." Kata Alona sangat pelan di telinga Xander, tanpa peduli apa pendeta di sampingnya mendengar atau tidak, ucapannya itu.


Pendetapun ikut tersenyum, terbawa arus kebahagiaan pengantin di depannya. "Tuan Xander dan Nyonya Alona saya pamit. Selamat atas pernikahan kalian." Ucapnya.


Xander sudah menyiapkan sebuah puisi untuk Alona. Dengan suara gaga dan di iringi melodi piano yang indah, Xander mengucapkan bait demi bait puisi yang ia tulis sendiri.


Alona....


Seandainya bulan tidak lagi ingin bercahaya di malam hari. Maka cukup senyumanmu saja yang menyinari kegelapan malamku.


Alona....


Seandainya matahari pun enggan bersinar di siang hari. Maka cukup kebahagaian mu saja yang memberikan kehangatan untukku di siang hari.


Alona....


Hidup penuh misteri. Tapi, satu yang pasti. Aku mencintaimu sangat dalam. Lebih dalam dari dasar lautan di samudera.


Alona...


Dari ribuan kata yang bisa ku ucapkan hanya namamu saja yang selalu ku kenang dan selalu teringat di benakku. Aku mencintaimu, Alona istriku.


Alona....


Kamu tentu tahu kenapa aku berdiri di sini.


Alasannya cuma satu, karena aku sudah resmi menjadi suamimu.

__ADS_1


Alona tersenyum. Alona tidak habis pikir bagaimana suminya sampai terpikir membuat sebuah puisi seperti itu. Meskipun puisi terdengar absrud dan bahkan anak SD saja bisa membuat puisi seperti itu, Alona tidak peduli. Senyum Alona selalu merekah ketika namanya di sebut. "Suamiku sayang, tolong hentikan puisi mu itu." Ucap Alona malu di lihat orang yang mendengar puisi Xander untuknya.


"Sayang... aku sudah menyiapkan semua ini. Kenapa kamu tega menghentikannya. Masih ada 1000 kata lagi yang belum ku ucapkan."


"Sayang..., apa kamu tega membiarkan semua orang berdiri menunggumu membacakan puisi itu. Mereka sudah kelaparan." Ucap Alona. "Bacakan saja di kamar khusus untukku." Kata Alona tersenyum hangat.


Xander mengerutkan alisnya melipat kertas puisi yang masih berjumlah 10 halaman belum di bacakan olehnya. Dia menggerutu tidak senang di dalam hatinya. "Tega-teganya Alona menghentikan puisiku di tengah jalan. Padahal aku sudah tidak tidur semalaman hanya untuk membuat puisi ini untuknya."


Alona tahu pasti pria itu marah padanya. Alona menghentikannya justru karena dia sangat sayang padanya. Alona tidak ingin mempermalukan Xander dengan puisi absurd-nya itu. "Sayang berhenti menekuk wajah seperti itu. Apa kata orang jika melihat pengantin pria sangat jelek di foto nanti."


"Biarkan saja. Aku tidak peduli." Kata Xander merajuk dan memalingkan wajahnya.


"Oh! tuhan salah apa aku hari ini. Kenapa sikap suamiku berubah 360° seperti anak-anak TK. Apa dia salah makan atau salah minum obat." Gumam Alona dalam hati dan tetap menampilkan senyuman walaupun dia marah melihat sikap kekanak-kanakan Xander.


"Sayang, maafkan aku, puisimu sangat bagus. Jangan marah aku menghentikanmu. Itu semua karena aku tidak ingin berbagi pada orang lain. Aku tidak ingin orang-orang menyalinnya untuk kekasihnya. Aku sungguh terkesan. Aku tidak ingin mereka mendengarnya, itu saja." Ungkap Alona dengan wajah meyakinkan suaminya.


"Benarkah?" Tanya Xander bersemangat.


"Tentu saja. Puisimu tidak dapat di bandingkan dengan penyair terkenal di seluruh dunia. Pokoknya kamu nomor satu di hatiku." Ucap Alona.


Alona sangat pandai menjadi seorang penjilat. Demi menyenangkan hati suaminya dia rela berbohong dan mengucapkan kata-kata manis melebihi kadar gula batu dan aren. Bahkan gula buatan tidak ada tandingannya.


"Sayang, puisiku masih ada 10 halaman, dan, aku berencana menambahnya menjadi 20 halaman." Kata Xander tanpa bersalah.


Wajah Alona berubah muram seketika. Satu halaman saja sudah membuatnya pusing di tambah menjadi 20 halaman. Alona menggertakan giginya. "Senjata makan tuan." Ucap Alona menyesal.


"Oke..., kita ajak Bi Ani dan sekretaris Rudy juga." Jawab Xander.


Berfoto, makan, sudah mereka lalui. Acara pernikahan Alona dan Xander telah usai. Meskipun acara pernikahan mereka sederhana, tapi, menurut Alona itu merupakan sebuah pernikahan paling berkesan untuknya.


Xander menggendong Alona masuk ke dalam mobil pengantin, dan, membawanya pulang ke rumah.


"Sayang, aku sangat lelah hari ini." Ucap Alona sambil bersandar di bahu Xander.


"Tidak apa. Aku akan memijat kakimu di kamar." Jawab Xander.


Alona menganggukan kepalanya. Berharap bahwa kata-kata suaminya itu benar. Kakinya sangat sakit, terutama pinggangnya. Semua terasa ngilu.


*****


Kamar pengantin, jam 13.00 dengan suhu ruangan yang sejuk menambah kenyamanan untuk tidur siang.


Xander perlahan meletakkan Alona di atas kasur dan membantunya melepaskan gaun pengantin.

__ADS_1


Tangan Xander bermain-main nakal di punggung Alona sambil membuka resleting gaun di belakangnya. Xander memeluk Alona dari belakang dan berbisik. "Sayang aku ingin..." Kata Xander dengan suara penuh godaan.


Alona menoleh dan mendelikkan matanya. "Apa kamu akan mengingkari janjimu." Kata Alona marah.


"Sayang, pikiran dan fantasimu terlalu liar." Jawab Xander tertawa renyah. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa Aku ingin selalu bersamamu."


"Aku terjebak lagi." Gumam Alona.


"Jangan-jangan kamu yang sudah tidak tahan." Ucap Xander tanpa rasa malu.


Wajah Alona sudah berubah, bersemu kemerahan. Merona seperti buah ceri matang di pohon.


"Lihatlah..., bahkan tubuhmu saja sudah jujur." Kata Xander, saat melihat wajah Alona berubah merah.


"Sayang..., apa kamu benar-benar ingin tidur di luar." Ancam Alona.


"Baiklah dengan senang hati ku terima." Kata Xander. "Jangan salahkan aku jika banyak wanita menghampiriku." Jawabannya lagi.


Tangan pria itu terus bermain, mengusap tengkuk Alona hingga bulu kuduk wanita itu berdesir dan merinding di buatnya.


"Aku tidak percaya bahwa ternyata kamu pria sangat mesum, Xander." Keluh Alona.


"Kamu terlalu berlebihan sayang. Kamu istriku saat ini..., jadi Tidak ada hal mesum seperti itu"


"Pergilah!" Teriak Alona.


"Ini kamar dan rumahku." Jawab Xander. "Harus pergi ke mana aku." Tanyanya.


Alona mengepalkan tangannya dan beranjak berdiri ke kamar ganti. "Aku bisa sendiri..." Ucapnya sedikit ketus.


Xander yang sudah tidak tahan menahan kantuknya akibat tidak tidur semalaman melepaskan jasnya ke sembarang arah. Ia melonggarkan dasinya dan tertidur di kasur.


Alona keluar mengenakan piyama berwana abu-abu. Xander sudah menyiapan puluhan lusin piyama untuk mereka berdua. Semua piyama itu berpasang-pasangan.


Satu hal lagi membuat Alona kesal di buatnya. Saat keluar kamar ganti ia mendapati baju berserakan di lantai. Semua sudah berantakan akibat ulah suaminya. Lebih membuatnya kesal saat melihat pria itu tertidur tanpa mengganti baju dan melepas sepatu.


"Apa kebiasaan buruk baru keluar saat sudah menikah? apa sifat seseorang juga akan berubah ketika sudah menikah?" Tanya Alona geram.


Alona tidak menyangka begitu cepat perubahan terjadi pada suaminya. Alona sangat ingat bahwa pria itu sangat maniak kebersihan sebelum mereka menikah.


Tapi, mengapa semua berbalik menjadi tidak karuan.


Alona perlahan memperhatikan wajah pria itu. Ia tidak bisa marah. Ada kehangatan saat menatap wajah suaminya lekat. Alona duduk di pinggir kasur melepaskan sepatu, kaos kaki, dan kemeja suaminya dan menggantikannya dengan baju piyama.

__ADS_1


Alona menggenggam tangan Xander dan berkata. "Sayang maaf kan aku yang selalu membuatmu marah dan kahwatir. Kamu pasti lelah menghadapi sifatku seperti ini."


Alona naik ke atas kasur dan tidur di dalam pelukan suaminya. Tidak lupa sebuah ciuman hangat di pipi Xander ia hadiahkan untuk ucapan selamat tidur di siang hari sebagai suami dan istri.


__ADS_2