Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kemana saja Kau selama ini?


__ADS_3

Jam 10 pagi Alona sudah siap menjemput kekasihnya pulang dari rumah sakit.


Saat Alona tiba Alvaro sudah menunggu di ruang tunggu dan siap pulang.


Alvaro tersenyum menatap Alona saat wanita itu berjalan melihat ke arahnya dan menyapa. "Hai Sayang, aku di sini" Alvaro melambaikan tangannya. Jarak mereka di perkirakan 2 meter.


Alona balas tersenyum "Apa aku mengenalmu?" Alona membuka kacamata dan mengerutkan keningnya.


Alvaro tersenyum kecut. "Baiklah. Sepertinya aku salah orang. Tadinya aku berpikir Kau kekasihku yang akan menjemputku pulang."


"Maaf aku memang ingin menjemput kekasihku pulang." Alona tertawa kecil melihat Alvaro sedikit marah padanya.


"Sayang, aku datang dengan kuemu" Alona memberikan kue brownis kukus pandan wangi kesukaan Alvaro.


"Terima kasih Nona Alona. Kau memang kekasih terbaikku." Alvaro tersenyum.


Alona mendorong kursi roda Alvaro menuju parkiran bawah tanah...


Memasuki mobil di parkiran bawah tanah Alvaro menutup mata Alona menggunakan kain berwarna hitam. Awalnya Alona kaget saat kain itu menutup matanya. Alona berpikir bahwa Alvaro hanya ingin bermain-main saja dengannya. Ia hanya patuh dan bersandar di bahu Alvaro.


Tidak di sangka mata Alona terus di tutup oleh kain. Alona ingin melepaskan penutup kain itu. Saat tangan Alona mulai menyentuh kain yang menutupi matanya Alvaro dengan sigap menahan kedua tangan Alona. "Jangan di lepas sayang...." Suara Alvaro sangat lembut saat mengatakan kata-katanya. "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu sebelum pulang." Ujar Alvaro penuh cinta. Sementara Alona masih bingung lalu berkata tidak sabaran. "Varo apa kita masih anak-anak!?. Tidak bisakah Kau membuka penutup mata ini?. Aku tidak bisa melihat apapun"


"Bagiku kita akan selalu seperti anak-anak. Bebas mengekspresikan segala hal tanpa memikirkan sesuatu yang berat. Tenanglah aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah." Alvaro memeluk dan mencium kening Alona.


"Varo jangan membuat aku takut. Kenapa mataku harus di tutup?" Alona mulai manja lagi...


"Alona sayang ini kejutan untukmu. Jika aku tidak menutup matamu nanti Kau akan tahu. Itu tidak akan menjadi kejutan lagi."


Alona duduk diam di kursinya menunggu kejutan dari kekasihnya Alvaro.


20 menit kemudian. Mobil berhenti di salah satu kawasan perumahan elite modern di kota J.


Alona turun dari mobil begitupun Alvaro. Alvaro masih duduk menggunakan kursi rodanya. Sopir membantu Alvaro untuk turun dan mendorong kursi itu.


Sementara Alona tetap berjalan di samping Alvaro dengan mata tertutup. Seorang wanita paruh baya berdiri di sampingnya. Wanita itu memegang tangan Alona sangat erat.


Wanita paruh baya berdiri menyaksikan kemegahan rumah itu. Mulutnya tidak bisa mengatakan apapun. Kemegahan rumah itu tidak dapat di bandingkan dengan hidupnya yang sebatang kara. Beruntungnya ia mempunyai Tuan yang baik hati. Dan segera setelah ini ia akan mengikuti Nona baru yang akan menjadi Nyonya muda di masa depan.


Alona mulai melangkahkan kakinya. Perlahan kakinya sudah menginjakkan teras di depan rumah. Tangan Alona meraba ke depan. Saat tangannya menyentuh pintu besar rumah itu, tiba-tiba suara robot mengucapkan salam padanya. "Selamat datang Nona Alona" Alona kaget dan mundur satu langkah ke belakang. "Varo kita ada di mana?"


Alvaro menarik tangan Alona dan berkata, "kemarilah." Alona mengikuti dan menundukkan kepalanya mendekati Alvaro. Alvaro membuka penutup kain di mata Alona.


Detik berikutnya, Alvaro berteriak antusias memperlihatkan hadiahnya untuk Alona. "Kejutan!"

__ADS_1


Alona menutup mulutnya tidak percaya. "Varo rumah siapa ini?" tanya Alona penasaran.


"Rumah kita sayang." Ucap Alvaro bersemangat.


Mata Alona sudah berkaca-kaca. Perlahan air matanya jatuh menetes. "Varo tapi rumah ini sangat besar. Dari mana Kau mendapatkan uang untuk membelinya?"


"Aku sudah menabung selama dua tahun untuk membeli rumah ini." Alvaro berkata jujur. "Papa dan Mama membantuku sedikit. Mereka membeli tanah ini dan bangunan rumah sepenuhnya adalah uangku sendiri."


Asisten dan sopir pergi meninggalkan Alvaro dan Alona. Mereka masuk ke dalam rumah terlebih dahulu untuk membuka semua pintu di dalam ruangan itu.


Alvaro memegang tangan Alona. "Sayang tinggalah di sini. Aku tidak mau kau tinggal di rumahmu. Aku takut pria itu akan datang mencarimu kemudian mencelakaimu lagi seperti dulu."


Alona menuruti semua permintaan Alvaro. Karena rumah itu baru tentu Xander tidak akan mengetahui alamat rumahnya. "Ya, aku akan tinggal di sini." Ucap Alona meyakinkan.


Alvaro berdiri mengunakan tongkat dan memeluk Alona lalu ia berkata. "Setelah kita menikah nanti aku akan pindah ke sini. Kita akan bahagia sayang. Aku ingin mempunyai anak yang banyak bersamamu."


Hati Alona terenyuh bulan dan bintang seakan bersinar di pelupuk matanya, terang dan berkilauan. "Terima kasih sayang sudah memiliku yang tidak pantas untukmu. Aku sangat mencintaimu." Ucap Alona penuh syukur.


Rumah itu sudah di desain sesuai impian Alona dan Alvaro. Rumah dua lantai dengan 8 kamar tidur. Alona dan Alvaro berencana memiliki lima anak. Tidak lupa juga Alvaro sudah menyiapkan taman bunga mawar di belakang rumah khusus untuk Alona.


Alvaro tidak ingin Alona bekerja saat sudah menikah dengannya. Taman bunga itu disiapkan untuk mengisi waktu luang Alona saat Alvaro tidak di rumah atau sedang bekerja. Alona bisa melakukan apapun di taman itu.


Alona dan Alvaro mengelilingi semua sudut ruangan dan akhirnya tiba di taman belakang rumah. Kaki Alona berhenti melangkah, matanya tertuju pada taman di belakang rumah barunya. "Varo bagimana Kau tahu aku menyukai bunga-bunga ini?" Alona terkejut. Ia tidak tahu jika selama ini Alvaro sangat memperhatikannya.


Semenjak hari itu Alona tinggal di rumah barunya. Tidak ada gangguan yang menimpa kebahagiaannya. Rumah lamanya hanya tersisa pengurus rumah, penjaga keamanan dan kucing kuning kesayangannya.


Alona berniat menjual rumah lamanya setelah Kakaknya sembuh dan bebas dari Xander.


Selama satu bulan Alona sibuk dengan kuliah dan ujian akhir semester. Tidak ada halangan dan rintangan, Alona menyelesaikan semua ujian kuliahnya dengan lancar.


Hari demi hari Alona lewati menunggu hari pertunangannya dengan Alvaro. Alona menghabiskan waktunya memasak menu baru dan berkebun di taman belakang....


*****


Xander yang sedang terluka hatinya mencoba melupakan semua kenangan indah bersama Alona. Ia menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaannya. Kerja lembur tiap hari bahkan tidak pernah pulang ke rumah. Xander bagaikan robot bekerja 24 jam tanpa istirahat.


Apa benar ini yang di katakan orang jika putus cinta bisa mengubah segalanya. Termasuk pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.


Berhari-hari bahkan sebulan Xander sudah melacak keberadaan Alona termasuk ponsel Alona yang sudah ia sadap sebelumnya. Namun tetap saja tidak ada hasilnya. Alona bagai di telan permukaan bumi. Xander hampir menyerah. Setiap kali ia melewati seorang wanita dengan rambut panjang berwarna hitam matanya selalu mengingat Alona. Pernah suatu ketika ia sedang merasakan rindu berat dengan Alona, ada seorang wanita lewat di depan matanya ia tanpa sadar menarik tangan wanita itu dan memanggilnya Alona.


*****


Malam hari di jalanan ibu kota. Alona sedang naik taxi dan terjebak kemacetan. Mobil bagikan lautan kendaraan yang terus sahut-sahutan meneriakkan bunyi klakson mobil. Alona baru saja pulang dari rumah lamanya.

__ADS_1


Alona berbicara dan menyuruh sopir untuk berhenti di pusat perbelanjaan Center C. "Pak tolong berhenti." Sopor taxi mengangguk dan berhenti.


Alona menyalakan layar ponselnya lalu mengetik pesan. "Sayang aku akan mampir sebentar ke mall Center C. Aku tidak kuat menahan kemacetan di jalan. Apa Kau bisa menjemputku pulang?, kebetulan aku naik taxi. Maaf merepotkanmu" Pesan terkirim dan Alona masuk ke dalam mall lewat lift utama.


Alona berniat membeli sayuran dan daging untuk keperluan dapur di mall Center C.


Alona tidak memperhatikan siapa pria di dalam lift bersamanya. Alona memencet nomor lantai dan berdiri diam. Tiba-tiba pria itu mendekat dan mendorongnya ke dinding


Mata Alona melotot ketika melihat pria itu.


Bagimana ia lupa bahwa dunia ini sangat kecil. Kemana ia melangkah tidak akan terpikirkan akan bertemu pria yang sedang ia hindari selama sebulan.


Xander menatap wajah Alona. Penantian selama ini tidak sia-sia. Akhirnya ia berhasil menemukan wanita itu. Xander sudah mencarinya kemanapun tapi tidak menyangka jodoh dan cinta memang penuh misteri. Ketika ia hampir menyerah cintanya justru menghampirinya lebih dulu. "Alona ke mana saja Kau selama ini?" Pria itu memegang dagu Alona hingga posisinya mendongak saling memandang. Kedua tangan Alona sudah di tekan di atas kepalanya. "Xander apa yang ingin Kau lakukan!?, lepaskan aku!."Alona berteriak memberontak.


"Tidak!, aku sudah lama mencarimu. Apa Kau berpikir bisa lepas lagi dariku Alona?"


"Xander jaga perilakumu. Antara kita tidak ada hubungan apapun. Tolong lepaskan aku." Ucap Alona lantang.


Xander tersenyum sinis. "Setelah ini kita akan memiliki hubungan Alona."


Hari ini Xander menandatangani pembelian mall Center C. Ia juga tidak menyangka bisa bertemu Alona di mall itu. "Aku yakin mall ini membawa keberuntungan. Buktinya mall ini mempertemukanku dengan Alona." Xander berbicara dalam hatinya.


*****


Alvaro sedang berada di parkiran bawah tanah menemani Mama Diana berbelanja di mall Center C. Waktu itu, Alvaro akan segera pulang. Ia membuka ponselnya dan membaca pesan dari Alona. "Pak Dodi tolong antar aku ke dalam lagi. Cepat!"


Diana memandang anaknya, "ada apa?"


"Alona Ma, dia naik taxi ke luar rumah. Aku harus menjemputnya sekarang. Aku takut sesuatu terjadi padanya jika aku tidak menghampirinya segera."


Diana menunggu di mobil dan memerintahkan Dodi untuk menemani anaknya.


Alvaro duduk di kursi rodanya dan mengetik pesan. "Alona Kau di mana!?, kenapa Kau pergi keluar sendirian. Bukankah aku sudah mengatakan pergi dengan sopir dan pengawal pribadi mu?. Tidak bisakah Kau patuh sedikit saja?. Aku sangat mengkhawatirkanmu Alona!"


"Pak tolong jalan lebih cepat." Alvaro memerintahkan sopirnya.


Tangan Alvaro sudah gemetaran. Keringat dingin sudah membasahi keningnya. "Alona kenapa kamu sangat ceroboh!. Bagaimana jika pria itu menculikmu dari ku!?"


Sopir Dodi sudah memencet tombol lift berulang kali. Detik berikutnya, pintu lift terbuka lebar menampakkan pria dan wanita sedang berciuman di dalam lift. Karena terhalang badan pria yang menciumnya badan Alona tidak terlihat dari depan pintu lift.


Alvaro terdiam untuk sesaat menatap kemesraan pasangan di depan matanya. Pikirannya melayang memikirkan Alona kekasihnya. Di mana dia sekarang?, ia ingin segera bertemu dan membawanya pulang.


Dodi diam membeku memegang kursi roda Alvaro. Ia ingin berkata namun tercekat lantaran Alvaro tidak mengalihkan pandangannya dari kedua orang di dalam lift.

__ADS_1


__ADS_2