
Menggoda wanita itu selalu saja membuat Xander bersemangat.... Dia tidak pernah kehilangan akal bulusnya sedikit pun.
Oh! Alona apakah Kau benar-benar seorang wanita?
Bagaimana Kau bisa terjebak dalam suasana yang menjijikkan seperti itu!? Bahkan kerbau tertidurpun tidak sepertimu!
Jadilah Wanita yang selalu siaga jika Kau tidak ingin di mangsa oleh musuhmu Alona!
Alona memijit pelipisnya. "Apa yang harus aku lakukan!? Tamatlah riwayat ku...." Gumamnya dalam hati.
Terdengar suara lantang Xander, memanggil namanya. Pria itu mengetuk pintu dengan tidak sabar, seperti akan mendobrak dengan paksa. "Aloan apakah Kau akan terus bersembunyi di kamar mandi itu!? Keluarlah!"
"Bagaimana ini!? rasanya aku tidak sanggup melihat wajah mesum pria itu. Tentu, dia akan mengolok-olok ku dengan kata-kata mesumnya sepanjang hari. Oh!, Alona kenapa Kau begitu ceroboh!? Seharusnya Kau tahu diri jika menumpang tempat, Kau harus lebih dulu bangun darinya... Sungguh memalukan!" Makinya dalam hati.
"Memalukan, memalukan,
memalukan!" Alona menggelengkan kepalanya dan memukul tembok kamar mandi itu.
"Alona! apa Kau mendengarku?" Xander kembali memastikan wanita itu.
"Iya... Aku akan keluar sebentar lagi." Alona menjawab dengan suara keras dari dalam kamar mandi.
Mandi sedikit terburu-buru, ia mandi seperti bebek... " terpenting badannya sudah basah dan wangi."
Alona memakai handuk kimono di dalam kamar itu. Ada sedikit rasa khawatir di hatinya. Wanita itu masih merasa malu atas kejadian pagi tadi.
Apa pria itu sudah melupakannya? Selalu saja pertanyaan itu melintas dipikirannya.
"Alona.... Kau lama sekali!" apa Kau seorang Putri raja!?, mandi sampai berjam-jam lamanya. Cepatlah! Aku sudah tidak tahan....
Pria itu tidak melanjutkan kata-katanya, seperti memiliki maksud tersirat didalamnya.
"...." Apa maksudnya sudah tidak tahan? ada sedikit rasa cemas di dalam hatinya. Wanita itu mengepalkan tangannya dan keluar.
Xander menyenderkan badanya di dekat tiang pintu kamar mandi menunggu Alona.
Alona terkejut ketika ia membuka pintu kamar mandi, mendapati Xander tengah berdiri menyenderkan badan di dekat pintu. Pria itu menundukkan kepalanya, menyilangkan tangan di perutnya. Posisi berdirinya sedikit malas dengan kaki sedikit menyilang.
Xander mengangkat kepalanya dan memerintahkan wanita itu untuk mengganti bajunya segera. "Pakai bajumu, sudah ku siapkan di ruang ganti. Kau bebas memilih satu diantara semuanya, cepat! aku tidak suka menunggu.'
"Bawel!," Alona menanggapi Xander. Wanita itu berjalan menuju ruang ganti, bergumam dengan suara kecil, "cowok kok bawelnya minta ampun, kaya emak-emak rumpi aja."
Alona masuk ke ruang ganti, ia melihat banyak baju tertata rapih, semua lengkap tersedia. Alona melihat satu persatu dari semua pakaian itu. Ukuran bajunya semua pas di tubuhnya, seperti tersedia hanya untuk Wanita itu.
Kaca besar di ruangan itu membantunya memilih baju yang cocok untuknya. Alona memilih gaun santai dan memakainya.
Sedikit kaget, saat ia mengangkat rambutnya untuk menarik resleting bagian belakang baju. Wanita itu melihat tanda merah di lehernya.
Alona mendekatkan badannya ke kaca besar itu. Wanita itu mempertajam penglihatannya. Ia memutar badan membelakangi kaca dan sedikit menoleh ke belakang. Wanita itu lebih kaget saat melihatnya dari kaca. Banyak tanda merah di sepanjang bahu dan tengkuknya.
"Xander!" Alona berteriak sangat kencang.
__ADS_1
"Kau benar-benar pria kurang ajar!"
Wanita itu segera keluar, mencari Xander.
Sisi lainnya....
Cahaya matahari menembus ruangan kerja pria itu, cahaya terang matahari tepat bersinar menyilaukan kedua bola mata indah miliknya.
Cahaya matahari menyadarkan Alvaro dari tidur panjangnya. Pria itu terbangun dari lelah bekerja seharian, ia tertidur sangat nyenyak dan melupakan janji makan malam bersama pacarnya, Alona.
Alvaro segera mengusap mata menggunakan kedua tanganya, ia memutar kursi putarnya membelakangi cahaya terang. Alvaro seorang pria sejati, jika ia melakukan kesalahan ia akan selalu meminta maaf terlebih dahulu. Pria itu meraih ponsel di saku celananya.
Segara, pria itu melakukan panggilan video kepada kekasihnya.
Future Wife, Video Call....
Panggilan telepon berdering berulang kali, tapi satupun tidak diangkat oleh pemilik nomor yang dituju.
Alvaro mengira bahwa kekasihnya marah karena tidak memberikan kabar kepadanya. Pria itu masih berpikir positif, ia masih mengira bahwa Alona marah, mungkin Alona sudah bersiap-siap menunggu lama kedatangannya, tapi ia tidak kunjung datang menjemput.
Alvaro tidak memungkiri bahwa ia bersalah, atas kejadian itu. Ia memutusakan mengirim serentetan pesana pada Alona.
Sayang maaf, Aku tertidur. Aku benar-benar kelelahan.
Apakah Kau marah? maafkan aku. Aku mohon, dengan diikuti emoticon tangan menangkup.
Sayang bisakah kita bertemu? Aku akan menjelaskan semuanya padamu!?
Alvaro mematikan layar ponselnya, lalu ia menyalakan kembali, berulang kali ia lakukan seperti itu. Menunggu balasan SMS atau telepon dari kekasihnya.
Alvaro memutuskan melihat pesan dari teman-temannya. Ia terus mengulir semua pesan masuk.
"Hei, Kawan. Lihatlah video dariku. Aku tidak yakin, tapi cobalah Kau lihat sendiri. Wanita itu terlihat seperti kekasihmu, Alona."
Alvaro meng-klik unduh segera video itu. Ia sudah tidak sabar ingin melihat isi dari viedo tersebut.
Awan cerah seperti awan kelabu. Cahaya hangat matahari seperti badai hujan lebat. Ketika pria itu membuka isi pesan beserta gambar video dari teman dekatnya.
Alvaro terkejut melihat video itu. Benar, wanita itu adalah kekasihnya. Pakaian yang dikenakan wanita itu sama dengan Alona saat ia mengantarkan ke kampusnya. Meskipun video itu di putar dengan resolusi rendah, tapi bagi alvaro dia tidak akan salah melihat keasliannya.
Alona Kau lagi-lagi mempermainkan ku! aku selalu memperlakukanmu dengan baik. Tapi, mengapa Kau selalu berlaku curang!?
Alona aku menilaimu dengan bodoh. Meminta maaf padamu tapi kamu lah yang pantas meminta maaf.
Pria itu beranjak dari kursinya dan membanting kursi tersebut.
Menurut mu apa yang harus dilakukan ketika kamu mengetahui bahwa kekasihmu selingkuh?
Aku!?
Memutuskan hubungan dengan pacaramu?
__ADS_1
Tidak mungkin, aku sangat mencintainya.
Merebut kekasihmu dari pria pengganggu itu?
Aku rasa itu tidak perlu di lakukan, Alona juga sangat mencintaiku.
Membalas perselingkuhan pacarmu?
Tidak, ini akan memperburuk hubungan ku dengannya.
Menghajar selingkuhan kekasihmu?
Aku rasa pria itu perlu di kasih ganjaran setimpal, agar ia menyadari posisinya.
Berbagai macam pertanyaan dikepalanya terus berputar. Ia menjawab sendiri dari pertanyaannya, untuk menyakinkan hatinya yang sedang rapuh.
Alvaro duduk berjongkok di lantai, menjambak rambutnya. Keringat sudah membanjiri sekujur tubuhnya.
Alona!
Kau benar-benar wanita terkutuk!
Aku akan menggurungmu! Lihat saja!, ada saatnya nanti.
Kau hanya milikku, Alona!
Wanita paruh baya memasukan kata sandi apartemen anaknya. Wanita itu berjalan perlahan memasuki ruangan itu. Langkah kakinya angun seperti anggota keluarga kerajaan. Parasnya ayu, lekuk tubuhnya sempurna. Meskipun umurnya terbilang sudah memasuki lanjut usia, tubuhnya masih sangat prima seperti wanita berumur 27 tahun.
Suaranya halus dan menenangkan. Wanita itu memanggil anaknya. "Varo Anakku, Mama datang Nak."
Varo Kau dimana?
Varo?
Wanita itu menyusuri setiap ruangan, berjalan dan memanggil nama anaknya.
Wanita itu terkejut, saat mendapati anaknya di ruang kerja. Ruangan itu terlihat sangat berantakan. Segera, wanita itu menghambur mendekati anaknya.
Varo. Kamu kenapa sayang?
Varo mengangkat kepalanya yang tengah duduk memeluk kedu pahanya. "Ma, Alona..., dia mengkhianati ku."
Wanita itu menarik napasnya, memeluk anaknya dan menepuk pundaknya. "Ceritakan sama Mama sayang. Apa kalian sedang bertengkar?" Alvaro menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa Kau memiliki buktinya, bahwa Alona berselingkuh?" Alvaro menunjukkan bukti video saat Alona di gendong oleh Xander.
"Sayang, sebaiknya kamu tanya terlebih dahulu. Mungkin gadis di video itu memang benar dia. Tapi kamu belum tahu penjelasannya, iya,kan?
Mama Alvaro selalu memberikan penjelasan agar anaknya tidak mudah mengambil kesimpulan dari isi gambar video itu.
Alvaro mengangkat kepalanya menatap wajah Mamanya. "Ma, tapi aku tidak mau kehilangan dia. Dia milikku seorang, kan, Ma?"
__ADS_1
"Iya. Alona akan menjadi satu-satunya menantu Mama." Wanita itu tersenyum meyakinkan anaknya.