Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Alona jangan pernah membantah perkataanku, Kau tahu akibatnya.


__ADS_3

Lampu tidak terlalu terang menyinari ruangan itu. Mata Alona masih bisa melihat wajah Xander dengan jelas. Aura pria itu sudah terlihat menyeramkan seperti di rasuki raja iblis ganas dan mematikan. Tangan pria itu terus menekan lehernya. Nafas Alona sudah tersengal-sengal kekurangan oksigen. Wanita itu seperti berada di ruangan hampa udara. Mata Alona perlahan mulai menutup, memejamkan mata indahnya.


Pikiran jahat apa yang telah merasuki jiwa pria itu!?, sehingga ia tanpa sadar mencekek Alona.


Mungkin karena rasa cemburu!?


Benarkah!?


Benar, Xander telah di kuasai rasa cemburu buta akibat foto kiriman Diana, ia melihat Alvaro merangkul leher Alona dengan sangat mesra. Alvaro juga mencium leher wanita itu saat sedang bercanda gurau. Kejadian itu terus berputar-putar di ingatnya seperti lingkaran setan.


Sayup-sayup terdengar suara jangkrik dari luar rumah. Suara jangkrik itu cukup menghibur, seperti memberi semangat untuk Alona agar tetap bertahan dan berjuang melawan Xander.


Perlahan tangan Xander melonggarkan cengkeramannya pada leher Alona. Xander tersadar saat mendengar suara tersengal-sengal mencoba mengambil nafas.


Alona terbatuk-batuk ringan saat cengkraman di lehernya lepas. Wajahnya merah dan di penuhi keringat dingin, mengucur deras dari sudut pangkal rambut di kepalanya.


"Xander tidak, jangan lakukan itu lagi. Aku mohon!" Alona memohon pengampunan pada pria itu.


Bukankah Alona sangat sombong mengatakan bahwa dia tidak akan takut. Dia sendiri mengajukan agar pria itu melenyapkannya. Lalu apa masalahnya sekarang!?


Aku bukan takut. Aku takut ketika aku pergi kakak dan kekasihku juga lenyap. Jika seperti itu, tidak ada artinya pengorbananku selama ini.


"Alona! Katakan bagian mana saja yang sudah di sentuh oleh pria itu!? Bibir, tangan, kening atau yang lainnya....?"


"Apa maksudmu pria itu, Xander!?" Alona bertanya siapa yang dimaksud pria itu.


"Jangan berpura-pura, Kau tahu apa yang aku maksud!. Kau benar-benar wanita murahan Alona, beraninya kau menemui pria itu saat keluar dari rumah sakit. Apa Kau sangat tidak tahan ingin berduaan bersamanya!?"


"Xander dia kekasihku!, Kau tidak ada hak melarangnya menyentuhku. Seharusnya Kau tahu diri!"


"Alona!?, katakan di mana!?" Xander kembali menginterogasi Alona, layaknya seperti seorang pencuri tertangkap basah mencuri dompet miliknya.


"Tidak! Apa yang ingin aku lakukan akan aku lakukan. Aku ingin menemuinya maka aku akan pergi. Enyahlah Kau dari hadapan ku Xander!" Alona berteriak memaki Xander.


"Alona jangan pernah membantah perkataanku, Kau tahu akibatnya!" Xander mengingatkan Alona untuk tidak membantah setiap perkataannya.


Xander kembali mencium bibir wanita itu. Menutup mulut Alona. Ciumannya ringan tapi penuh gairah bercinta. Xander seperti telah terhipnotis oleh kekuatan ciuman itu. Bibir Alona seperti candu baginya, tidak ingin berhenti menciumnya. Ingin menciumnya lagi dan lagi.


Alona memberontak, mencoba menghentikan kegilaan Xander. Wanita itu mendorong dada bidang Xander dengan sangat kuat. "Lepasakan aku Xander!, aku akan tanda tangan seperti yang Kau mau."


Xander melepaskan ciumannya, "ini hukuman yang pantas untukmu Alona. Jangan sekali-kali mencoba menentangku."

__ADS_1


Alona menundukkan kepalanya. Air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


Xander berjalan ke arah meja dan duduk di kursinya. Pria itu meraih dokumen pemindahan saham di atas meja. Ia membuka halaman bagian persetujuan dan membantingnya. Xander mengambil pulpen di atas meja dan melemparkannya ke arah Alona. "Tanda tangan sekarang!" Xander memerintah wanita itu.


"...." Alona perlahan berdiri, berjalan ke arah pria itu. Langkah kakinya sangat lambat tanpa suara pijakan kaki. Setiap langkah kakinya penuh kehati-hatian.


Tangan Alona memegang pulpen dengan sangat erat. Ia menarik dokumen di atas meja dan menandatangani dokumen pemindahan saham itu.


Alona ingin menangis, tapi ia tahan air mata itu. Alona terlihat seperti anak-anak yang sedang di rebut permen lollipop dari tangannya secara paksa. Alona terlihat sangat menyedihkan!


Alona wanita yang malang. Takdir seperti apa yang sedang mempermainkan hidupnya. Alona tidak mempedulikan kehilangan 45% sahamnya tapi bagaimana dengan nasib kakaknya nanti.


Alona tidak rela, jika perusahaan keluarga jatuh ke tangan orang lain. Perusahaan keluarga itu sudah turun-temurun di wariskan dari generasi ke generasi. Bagaimana caranya ia mempertanggung jawabkan semua yang telah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Tentu tidak bisa kembali seperti semula.


Kakaknya satu-satunya tumpuan harapan terakhir Alona. Ada secercah harapan pada kakaknya, belum sempat bersinar sudah pudar kembali. "Kak cepatlah sembuh, aku ingin menyerahkan 10% sahamku. Aku tidak rela jika orang lain merebut perusahaan keluarga kita. Saham 5% cukup untukku hidup."


Alona membalikkan badannya dan ingin pergi meninggalkan ruangan itu. Baru saja tanganya ingin menyentuh gagang pintu, tiba-tiba tangannya di tarik oleh Xander sang penjahat itu.


Alona menoleh, wanita itu keheranan saat menatap Xander yang tengah memeluknya. Alona tidak menolak pelukan itu. Ia merasa nyaman, ada kehangatan yang membuatnya ikut menikmati.


Pikiran Alona menjadi kosong. Apa arti semua ini!?, apa ini termasuk salah satu pengganti jabat tangan saat selesai melakukan persetujuan!?. Alona bingung, ia ingin melepaskan ketidak benaran ini. Baru saja ia ingin mendorong tubuh pria itu, tiba-tiba Xander berbicara padanya, "sebentar saja. Tidak akan lama...." Alona mengikuti kemauan pria itu. Alona tidak menanam rasa curiga sedikitpun terhadap pria itu.


Xander lelah seharian penuh, berkutat dengan pekerjaannya. Pria itu tidak makan dan minum seharian. Bibir pria itu terlihat kering dan pucat. Mata indahnya terlihat sayu. Pandangan matanya gelap. Bola matanya berkunang-kunang. Hidungnya terlihat kemerahan. Badai sepertinya sedang menimpa pria itu.


Alona menarik Xander ke kamar pria itu. Letak kamarnya tidak terlalu jauh. Saat sampai Alona mengeluarkan seluruh tenaganya mengangkat tubuh pria itu ke atas kasur. Alona melepaskan sepatu dan kaus kaki yang masih terpasang rapih di kaki pria itu. Ikat pinggang yang melingkar di pinggang Xander, ia lepaskan secara perlahan.


Xander apa yang terjadi padamu!?, bangunlah aku takut. Tidak ada orang lain di sini. Kemana asisten rumahmu?, apa Kau hidup sendirian di sini?


Oh Tuhan....


Apa yang harus aku lakukan pada pria ini?


Bukannya ini yang ku inginkan melihat ia mati!, agar ia tidak mengganggu hidupku lagi. Tapi, tidak bisa. Polisi pasti akan menyalahkan ku karena tidak mencoba menyelamatkan nyawanya. Merepotkan sekali!


Alona kebingungan memikirkan pria itu. Telepon, iya aku akan menelepon asistennya, tapi nomornya aku tidak tahu. Alona melihat ponsel Xander di saku celananya. Ia secara perlahan mengeluarkan ponsel itu. Alona menekan semua sidik jari Xander pada layar ponsel itu tapi tidak berhasil. Aaakh, sial dia hanya menggunakan PIN.


Alona berjalan mondar-mandir memikirkan sesuatu. Alona menemukan idenya, telepon dokter pribadi rumahku saja. Alona menggulir layar ponselnya mencari nomor dokter Cindy. Telepon terhubung, dokter Cindy tolong aku segera datang ke sini, ini darurat. Aku akan mengirimkan lokasi padamu. Tolong!


Dokter Cindy tiba sangat cepat seperti terbang menggunakan helikopter menuju rumah itu. Dokter Cindy, Alona menyapa. Kau tiba sangat cepat. Itu tidak penting, kebetulan aku sedang lewat daerah sini. Dimana orang yang terluka. Tidak ada yang terluka dokter Cindy. Pria itu hanya pingsan saja. Aku kebingungan memikirkan cara membangunkannya. Tunjukkan padaku di mana dia?. Lantai dua, Alona menunjuk arah kamar itu. Mereka segera berlari ke lantai dua.


"Alona Kau membuatku khawatir," Aku pikir terjadi sesuatu yang fatal.

__ADS_1


"Maaf dokter Cindy, aku tidak tahu harus berbuat apa?" Alona terlihat seperti seekor kucing kecil yang sedang mengibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri. Terlihat imut dan lucu.


"Siapa pria tampan ini Alona?, apa dia kekasihmu?" Dokter Cindy bertanya penuh keingin tahuan di dalan hatinya. Tapi bukannya, pacarmu Alva..., Siapa namanya bibi lupa.


Pipi Alona memerah menahan malu. "Bibi jangan menggodaku seperti itu."


Dokter Cindy menggelengkan kepalanya, "Alona Kau ingat memanggilku Bibi saat Kau malu seperti itu. Kau persis seperti ibumu sangat pemalu."


"Bibi tolong jangan katakan pada siapapun kalau aku pernah ke sini. "Alona memohon dengan muka memelas meminta belas kasihan pada bibinya.


"Rahasia di jamin aman, selama Kau memberiku penutup mulut yang menggiurkan." Dokter Cindy kembali menggoda Alona.


"Bibi jangan seperti itu, aku akan pergi berkunjung ke rumah Bibi di akhir minggu. Janji!"


"Alona apa Bibimu harus menemukan rahasiamu, baru Kau datang ke rumah Bibi. Sejak ayah dan ibumu meninggal kau tidak pernah datang sekalipun." Dokter Cindy mendesah menunjukkan ke-kecewaannya pada Alona.


Alona menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Bibinya sedikitpun.


Sudah selesai, tidak ada yang serius. Dia hanya kurang istirahat, tidak makan tepat waktu, dan dia sedikit stres. Mungkin dia terlalu memikirkanmu Alona....


"Bibi selalu menggodaku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia." Alona menyangkal semua sindiran Bibinya.


"Mungkin nanti, tidak sekarang!. Aku kasih tahu Alona dia pria tampan, kaya dan mapan. Pria itu cocok untukmu Alona." Dokter Cindy memberikan saran pada Alona.


"Oh..., Bibi kau di bayar berapa oleh pria itu sehingga mulut Bibi sangat manis memujinya seperti gula."


"Alona Bibi mu lebih tua darimu. Aku sudah berpengalaman dalam segala hal." Dokter Cindy menyombongkan dirinya.


Bibi cepatlah pergi. Jadi setelah selesai kau mengusir Bibimu Alona?.Bukan begitu, maksud ku..., Alona terdiam. Dokter Cindy tertawa, Alona kau sangat polos. Dokter Cindy mencubit dagu Alona dan mencium pipinya. Hati-hati sayang aku takut terjadi sesuatu padamu malam ini. Dokter Cindy berbisik pada Alona dan segera pergi. "Bibi...," Alona menghentakan kakinya ke lantai. Lagi-lagi Bibinya menggoda Alona.


Alona memasak bubur instan dan membawanya ke atas. "Xander bangunlah sebentar saja. Aku sudah memasak bubur untukmu." Pria itu bangun dan memakan bubur nya tiga sendok, ia menolak untuk makan lagi. Alona meraih obat penurun panas dan demam di atas nakas. Obat yang sudah di resepkan Bibinya sendiri. Membaca petunjuk pemakaian obat, Alona membuka pil itu dan memberikan pada Xander.


Xander tertidur nyenyak setelah di berikan obat. Alona merasa lelah dan membaringkan tubuhnya di pinggir kasur.


*****


Keesokan harinya, Xander terbangun.Pria itu tersenyum melihat Alona tidur di sampinganya.


Xander meraih ponselnya dan mengetik sesuatu.... "Bibi lihatlah!, aku juga ingin menebarkan kabar bahagia pada Bibi. Bukankah Bibi bilang menebarkan kebahagiaan itu baik untuk kesehatan jantung dan badan kita. Semoga Bibi menyukainya. Xander menambah emoticon menutup mulut.


"Xander...." Diana berteriak histeris.

__ADS_1


"Ma..., ada apa?" Alvaro terbangun mendengar Mamanya berteriak.


"....!!!"


__ADS_2