Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Jangan takut!, aku akan selalu di sampingmu


__ADS_3

Suara riuh dari pasien rumah sakit terdengar gaduh. Semua sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing.


Petugas keamanan menyisir setiap ruangan pasien terutama ruangan VIP. Ada sebagian petugas mengecek lokasi sumber dari korsleting listrik yang mengakibatkan semua lampu dan peralatan padam. Sirene sangat sensitif walaupun hanya percikan api. Semua sistem keamanan itu di lakukan demi keselamatan seluruh pasien maupun pengunjung dan pekerja di rumah sakit.


Dari luar kamar VIP tempat Alvaro di rawat. Terdengar suara petugas sedang bertengkar.


Suara mereka sangat berisik. Kepala sistem keamanan sedang memarahi bawahnya.


"Bagaimana Kalian bisa melalaikan tugas kalian. Sudah kubilang berulang kali. Tapi kalian selalu saja mengabaikan perintahku. Letakkan semua kartu akses di dalam satu kotak berdasarkan lantai dan bloknya. Jika kejadian seperti ini, siapa yang akan bertanggung jawab!?, apa aku yang harus mencari kartu aksesnya satu persatu?"


Seorang pria berseragam bertuliskan perawatan gedung memberanikan diri untuk bertanya. " Pak, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Kepala sistem keamanan menjawab seraya menjambak rambutnya sendiri. "Bongkar pintunya!, semua biaya akan dipotong dari gaji kalian. Mengerti!, ini konsekuensi untuk kalian. Berdoalah agar pihak keluarga tidak melakukan gugatan ke rumah sakit ini."


"Dasar bodoh!, tidak dapat di andalkan." Pria itu kembali mengumpat. Lalu ia memerintahkan tim dokter penanggung jawab ruangan VIP untuk menyiapkan semua peralatan penyelamatan saat pintu sudah terbuka.


Semua petugas ketakutan namun tetap menunjukkan sikap tenang. Mereka sudah di latih sebelum bertugas di rumah sakit itu.


Pintu kamar pasien bisa terbuka meskipun lampu mati dengan catatan kartu akses duplikat tersedia, atau kartu akses di dalam ruangan tidak bermasalah.


Alona menggerakkan jari-jemarinya. Tangannya perlahan meraba wajah Alvaro. Karena lampu mati ia tidak bisa melihat apapun. "Varo sayang, kamu akan selamat. Jangan takut, aku akan selalu di sampingmu"


5 menit pintu terbuka. Alona merasa bahagia walaupun masih ada badai yang akan datang menimpa. Setidaknya ada harapan yang akan menyelamatkan kekasihnya.


Kecepatan kinerja bagian rumah sakit Gunawan Hospital patut di acungi jempol. Dalam waktu kurang dari 15 menit semua sudah stabil seperti semula. Pasien sudah kembali ke ruangan masing-masing. Tidak heran jika rumah sakit Gunawan Hospital dijuluki rumah sakit terbaik di kota J, meskipun bayarannya mahal semua pasien puas dengan semua pelayanan yang di berikan pihak rumah sakit. Tentu pasien dan pihak keluarga akan mengabaikan biaya yang di keluarkan jika kualitas pelayanan rumah sakit sangat terjamin.


Petugas dengan cekatan memindahkan Alvaro ke ranjang pasien untuk di berikan pertolongan atas luka sayatan di nadinya.


Selama terjebak di dalam ruangan kedap suara dan rendahnya sirkulasi udara akibat mati lampu di dalam ruangan itu membuat kepala Alona menjadi pusing. Badannya mulai sempoyongan. Ia tidak kuat lagi menahan kelelahan. Akhirnya ia terjatuh ke lantai memeluk kursi roda yang sudah kosong. "Varo berjuanglah, demi cinta kita."


Alona menatap keheranan. Semua ruangan terlihat berbeda. Cat tembok berwarna putih terang. Desain interior kamar mewah dan megah. "Aku ada di mana!?" Alona memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.


Alona membuka selimutnya dan segera duduk di tempat tidur itu. "Varo!, dimana dia?"


Seorang wanita cantik berpakaian putih tersenyum ramah ke arah Alona. "Nona, Kau sudah bangun?"


Alona mengganggukan kepalanya dan membalas senyuman wanita itu. "Kau siapa, lalu, aku ada di mana?"

__ADS_1


Wanita itu tersenyum lagi, "tenaanglah Nona, Kau sedang di rawat di ruang VIP rumah sakit ini. Aku perawat Naya yang bertugas menjagamu hari ini."


Alona kembali ke alam sadarnya, " perawat Naya di mana pria yang bersamaku waktu itu?"


Naya menarik nafasnya perlahan, ...Dia baik-baik saja. Jangan khawatir, ada dokter yang menjaganya.


"Di mana dia!?" Alona berteriak ke arah Naya.


"Nona tenanglah, Kau bisa mengunjunginya setelah kesehatanmu stabil."


"Aku ingin menemuinya, katakan padaku di mana dia?"


"Nona tenanglah!"


Merasa kewalahan menangani Alona, perawat Naya segera memencet bel menghubungkan kebagian dokter pendamping. "Dokter pendamping, tolong ke ruangan VIP blok AC01, pasien membutuhkan anda segera."


Di rumah sakit itu semua petugas tidak diperbolehkan menyebutkan psikiater tapi sebutan itu di ganti dengan dokter pendamping. Hal ini di lakukan untuk menjaga kenyamanan pasien saat mengungkapkan keluhannya. Dokter pendamping juga akan di berikan ketika kondisi pasien sulit untuk di tenangkan.


Keesokan hari di Golden hotel.


Diana dengan stelan rok hitam pendek selutut dan kemeja berwana putih mendatangi Golden Hotel milik Xander. Lipstick merah terang dengan eyeliner tipis dimatanya menambah kesan glamor melekat di tubuhnya. Tas tangan dengan merek terkenal dunia, edisi terbatas keluaran terbaru masa kini menjadikan penampilannya semakin mewah dan berkelas . Saat tiba di meja resepsionis tanpa berbasa basi ia berbicara lantang dengan segala keangkuhnya. "Panggil bos kalian, katakan Diana menunggunya di ruangan pribadi. Aku akan membayarnya. Se-ka-rang!" Diana mengeluarkan kartu emasanya ke arah resepsionis itu.


"5 menit!" Diana memainkan jari-jarinya di meja dan segera pergi ke ruangan yang telah ia pesan.


Anita segera melakukan panggilan ke ruangan kantor bos-nya. "Selamat pagi Tuan. Ada seseorang yang ingin menemui Tuan namanya Diana. Dia sudah menunggu Tuan di ruangan pribadi nomor 107."


"Emm..., " Xander menjawab dengan malas dan tidak berniat ingin pergi.


Mendengar nama bibinya di sebutkan saja sudah membuat Xander tidak bersemangat, apalagi menemuinya.


Meskipun tidak ada keinginan untuk menemui bibinya, Xander tetap meluangkan waktu.


Xander turun dari lantai 30 menuju ruangan Diana ingin menemuinya.


"Bibi kesayanganku." Xander langsung duduk tanpa tersenyum ataupun memberikan salam. "Aku merasa sangat tersanjung Bibi berkenan datang ke tempatku secara langsung."


"Xander keponakanku, aku tentu tidak akan datang menemuimu jika tidak ada hal penting. "

__ADS_1


"Tentu," Xander menjawab santai. "Bibiku sangat sibuk tentu tidak ada waktu untuk menemuiku. Apalagi orang sepertiku tidak memiliki apapun dibanding Bibiku yang sangat kaya."


"Terima kasih pujiannya Xander." Diana tersenyum dengan sejuta makna di dalamnya.


Apa yang Bibi inginkan sehingga datang menemuiku sepagi ini.


Tanpa aba-aba Diana mengeluarkan amplop besar berwarna coklat dari tasnya. Ia melemparkan amplop itu ke hadapan Xander. "Lihatlah!, setelah Kau melihatnya baru kita bicarakan kesepakaatan menguntungkan di antara kita."


Apa ini sebuah konspirasi Bibi, aku tidak ingin terlibat dengan hal-hal jahat denganmu.


Jangan bicara sebelum melihat isinya. Kau akan menyesal nanti. Diana mengingatkan Xander.


Baiklah. Xander membuka amplop itu dan segera melihat isinya. Tes DNA Milan Allegri Alexander McQueen Utama dan Miller Allegri McQueen Utama.


Xander tersenyum menyeringgai saat melihat isinya. "Apa yang Kau inginkan?"


"Tidak banyak." Diana tersenyum santai bahkan terkesan dingin.


"Katkan sebelum aku berubah pikiran." Ucap Xander mengancam.


Jauhi dan jangan ganggu dia..., hanya itu yang aku inginkan. Kau tentu tidak ingin semua orang tahu siapa adikmu sebenarnya. Aku tahu kau menyembunyikannya seperti harta berharga lebih bernilai dari segalanya.


"Xander tersenyum. Jika aku mengatakan bahwa aku sudah mengambil saham miliknya. Apa yang akan Bibi lakukaan?"


"Apa Kau menilaiku hanya seorang wanita yang memikirkan uang?, sayangnya aku tidak peduli dengan itu. Anakku lebih berharga. Kau jangan salah menilaiku. Aku tidak seperti yang Kau bayangkan."


"Lalu bagaimana dengan paman Andreas yang Bibi tinggalkan dulu bahkan anaknya kau ganti menjadi anak orang lain!?"


Xander kau tidak tahu tentang aku dan pamanmu. Mungkin aku dulu bersalah. Tapi, tentang anak aku tidak bersalah sedikitpun. Seharusnya pamannmu berterima kasih kepadaku.


Xander menundukkan kepalanya. Berpikir sejenak, lalu ia mengatakan sesuatu. "Kali ini Kau bisa menang Bibi tapi tidak lain kali. Aku tidak akan mengganggunya lagi selama Kau menutup mulutmu..., Aku bersumpah sedikit saja rahasia ini bocor Kau akan tahu akibatnya."


"Xander, aku selalu menjaga kepercayaan orang lain. Aku harap Kau menepati janjimu. Aku juga bisa melakukan yang lebih buruk dari ini jika kau mengingkari janjimu. Ingat aku tidak suka pengkhianatan!


Diana meraih tas tangannya di atas meja dan segera pergi.


Xander yang mulanya tenang dan terlihat biasa-biasa saja kini ia berubah setelah kepergian Bibinya. Darahnya panas seperti terbakar, "Bibi aku tidak bisa Kau ancam. Aku tahu apa yang akan aku lakukan. Tidak ada yang bisa menghalangi rencanaku."

__ADS_1


Tangan Xander terkepal, ia meninju meja kaca di depannya hingga menimbulkan sedikit retakan. "Alona kau wanita yang dulu akan menerima akibatnya. Aku ingin menyaksikan saat-saat itu terjadi di hadapan kakakmu sendiri."


Aku bersumpah demi keluargaku aku akan membuat kalian merasakan apa yang aku rasakan....


__ADS_2