
Diana Maringka, bulu kuduknya berdesir saat mendengar kata-kata Xander. Wanita itu mendengar sangat jelas apa yang di ucapakan Xander padanya, mengenai rubah betina. Diana hanya berpura-pura saja tidak mendengar apa yang dikatakan Xander, untuk menghindari kecanggungan diantara keduanya.
"Apakah Kau ingin meminum sesuatu atau cemilan?" Diana bertanya pada Xander, ia hanya berbasa-basi menanyakan apakah Xander ingin minum atau makan. Bisa terlihat jelas di raut wajah masamnya, tidak ada ketulusan dari dalam hatinya. Ia hanya mencoba mencairkan suasana. Lagipula ia mempunyai hutang pada pria itu. Tujuannya untuk berterima kasih pada orang yang menyelamatkan anaknya. Bukan untuk bertengkar atau berselisih paham. Wanita itu masih tahu diri, dengan sikap anggunnya ia bisa menutupi segala sikap buruknya.
"Tidak, terima kasih Nyonya Nugroho. Aku sudah kenyang." Xander menolak tawaran Diana dengan penuh kehangatan menyelimuti setiap kata yang terucap dibibirnya. Meskipun perutnya lapar dan haus, melihat wajah masam wanita itu, seketika ia sudah kehilangan nafsu makan dan minumnya.
"Xander.... Aku masih bibimu dan Alvaro adalah sepupumu. Tolong jangan Kau ganggu hubungan mereka. Bagaimanapun kita pernah satu keluarga."
Diana menekankan kata tolong, yang berarti bahwa ia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Demi kebahagiaan anaknya ia rela menurunkan satu level derajat tingginya di depan orang lain, sekalipun ia tidak berniat melakukannya. Apapun ia akan lakunnkan untuk Alvaro anak kesayangan satu-satunya.
"Bibi.... "Xander kembali memanggil wanita itu bibi. "Jangan katakan itu lagi, mereka sudah berakhir."
"Apa maksudmu?, mereka sudah berakhir!?" Diana menatap Xander dengan pandangan marah dan tidak percaya.
Xander tersenyum dan menyilangkan kakinya, dengan kaki kanan di atas. "Sepertinya Bibiku sangat tidak rela kehilangan tambang emasnya. Apakah aku benar Bibi!?"
"Xander hentikan omong kosongmu itu!" Seluruh darah wanita itu seperti sedang berjalan sangat cepat berkumpul di otaknya. Panas!, ingin rasanya ia mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa membuat hati Xander sembuh dari luka lamanya. Tapi, ia tahan demi tercapainya tujuan utama.
Wanita itu sudah menyelidiki apa yang menyebabkan kecelakaan anaknya. Sebagai ibunya ia berhak mengetahui segala sesuatu tentang Alvaro putranya.Tapi, ia belum menemukan jejak apapun. Wanita itu khawatir, takut ada yang sedang bermain di belakang melalui anaknya. Mendengar ucapan Xander mengatakan bahwa hubungan anaknya sudah berakhir. Wanita itu kembali memikirkan kecelakaan yang menimpa anaknya, pasti ada kaitannya dengan berakhirnya hubungan Alvaro dan Alona calon menantunya. Wanita itu mengepalkan tangan dan bergumam dalam hatinya. "Anak itu benar-benar keterlaluan mencintai seseorang sampai rela melenyapkan nyawanya sendiri."
Keheningan sesaat, cukup membuat suasana di ruangan itu seperti kamar mayat, sunyi dan sepi.
Xander ingin memancing keluar kemarahan wanita itu. Xander sangat paham dengan karakter bibinya. Jika wanita itu diam berarti emosinya sedang berada di puncak. Xander memulai permainan cantiknya. "Apa Bibi Ingin tahu siapa yang membuat mereka berakhir!?" Xander bertanya pada wanita itu. Pandangan matanya jelas menyiratkan sesuatu yang menarik mata Bibinya.
"Aku sudah tahu, sebelum Kau memberi tahuku Xander! Kau, kan?, yang membuat mereka putus! Jangan berpura-pura di depanku!"
"Wow fantastis Bibi.... Bibiku memang sangat cerdas. Tidak diragukan lagi kemampuan Bibi ku yang paling agung. Ternyata Bibi benar-benar pemain yang ulung."
"Xander sejujurnya apa yang ingin Kau dapatkan dari ini semua!?" Diana sudah menarik kartu permainannya. Tidak ingin terjebak dalam sebuah permainan yang tidak menguntungkan.
"Bibi Kau tahu aku dari dulu selalu menghindar darimu, tapi, sepertinya saat ini takdir sedang ingin mempertemukan kita."
Wanita itu meminum kopinya. Matanya terlihat memancarkan sejuta rencana jahat dan licik. "Xander apakah Kau tahu apa yang terjadi 20 tahun yang lalu!?" Wanita itu duduk tegap di kursinya. Kata-katanya halus tapi jelas itu sebuah ancaman untuk Xander.
__ADS_1
"Bibi jangan mengungkit masalah jika tidak ingin terkena masalah." Xander membalas ancaman wanita itu.
"Xander.... Keponakanku, apakah Kau bermaksud mengancamku!?" Suara yang terdengar dari mulut wanita itu lembut tapi mematikan.
"Bibi jangan terlalu serius.... Hidup harus santai. Urat-urat di wajahmu akan sangat tersiksa jika Bibi marah. Aku takut kulit Bibi yang mulus akan cepat timbul keriput. Nanti Bibi tidak punya senjata untuk mendapatkan tambang emas yang lain. Bibi sangat tahu perekonomian dunia saat ini sedang goyah."
Kedua orang itu terus mengancam dengan kata-kata yang menjurus rahasia kelam masa lalu mereka berdua.
Diana mengetahui arti dari kata perekonomian sedang goyah. Suaminya saat ini adalah pengusaha properti nomor satu di kota J. Tapi ada kemungkinan suaminya akan jatuh jika tidak berhati-hati. Banyak orang kaya sedang menahan semua arus kas dan pengeluaran terutama berinvestasi di bidang properti. Meskipun investasi dalam bentuk properti menguntungkan dan terbilang relatif aman. Orang kaya saat ini lebih memilih menahan uangnya. Lebih mudah di gunakan saat di butuhkan, berbeda jika sudah di investasikan.
"Xander aku lebih berpengalaman darimu. Jangan coba-coba menyinggungku. Nanti Kau menyesalinya!" Wanita itu memberi peringatan keras pada Xander.
"Bibi.... Jangan seperti itu. Aku keponakan mu yang baik, asal Bibi bersikap baik padaku, aku tidak akan membocorkan masa lalu bibi yang fenomenal itu."
"Cukup!"
Diana memukul meja dengan tangan halusnya. Kopi di atas meja tumpah berceceran. Gelasnya terjatuh ke lantai, suaranya menimbulkan kebisingan di ruangan itu. Suasana seperti itu cukup memberikan penjelasan bahwa wanita itu sangat marah. Wanita itu berbicara tanpa meragukan apapun. "Apa yang Kau inginkan Xander!?"
"Bibi.... Kau jelas mengetahui apa yang aku inginkan"
Hati Diana panas terbakar, seperti di siram kuah sop mendidih. Baginya kebahagiaan anaknya lebih penting dari pada tujuan yang lainnya. "Itu tidak akan terjadi. Jika kau menginginkan calon menantuku.Aku menentangnya!"
Xander mengetukan jari-jemarinya di atas meja itu. Pembawaannya tenang dan bersahaja, seulas senyuman terus menghiasi waja tampannya. "Tidak ada yang bisa menghalangiku. Jika aku mau, aku bisa melakukannya sekarang juga!"
"Lakukanlah jika Kau memiliki kemampuan. Setahuku calon menantuku sangat mencintai anakku." Diana menantang Xander secara terang-terangan. Ia tidak lagi bermain trik apapun untuk melawan Xander.
Xander menarik kursinya ke belakang. Tubuhnya yang tinggi semampai kini sudah berdiri, bersiap meninggalkan tempat itu. "Jangan menyesal Bibi!," Xander mengucapkan tiga kata pengingatnya. Tersenyum dan membalikkan badan, ia pergi meninggalkan Bibinya di ruangan itu.
Diana terdiam seribu bahasa, ia tercengang mendapat ancaman dari keponakannya. Saat Xander sudah tidak terlihat ia menendang kursi yang ada di ruangan itu. "Lihat saja Kau yang akan menyesal!" Muka wanita itu memerah dan di penuhi keringat.
*****
Xander melangkahkan kakinya kembali ke tempat Alona dirawat. Penampilan pria itu seperti dewa kematian yang akan menjemput mati setiap orang yang di laluinya. Aura pria itu benar-benar mematikan!
__ADS_1
Setiap orang yang lewat tidak ada yang berani menatap pria itu, saat mereka berpapasan di lorong jalan menuju kamar perawatan.
Perlahan Xander mendorong pintu kamar Alona di rawat. Saat ia masuk wanita itu masih tertidur lelap.
*****
Hari sudah berganti, sinar matahari sangat cerah menyinari bumi.
Xander menyiapkan makanan untuk Alona. Pria itu sangat berhati-hati memilih setiap menu makanan untuk wanita itu. Ia memesan khusus program makanan sehat, selama berada di rumah sakit.
Alona masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Xander sangat perhatian pada wanita itu. Ia menarik kursinya dan memberi makan Alona. Suap demi suap sudah di lahapnya tanpa hambatan apapun.
Saat Xandar menyuapi Alona, mata Alona menagkap pemandangan yang membuat hatinya sedikit sakit. Ia melihat di punggung tangan Xander terluka. Luka itu seperti sudah menghitam. Pria itu seperti membiarkan lukanya tanpa di obati. Alona memegang tangan itu, "Xander tanganmu terluka. Keningmu juga." Wanita itu memegang kening Xander tatapan matanya penuh cinta. Belaian tangan wanita itu seperti menghapus semua rasa sakit di lukanya. Tangan wanita itu seperti obat, luka yang ia rasakan seperti sudah sembuh.
Alona ingin mengambil obat di atas meja di samping tempat tidur, ia melepaskan tangannya tapi di tahan oleh Xander. "Biarkan saja, lukaku tidak penting, nanti akan sembuh sendiri."
"Tapi---" Saat Alona ingin menyelah perkataan Xander, pria itu sudah menyuapinya.
Sudut bibir sebelah kiri Alona terdapat sisa makanan. Xander awalnya ingin mengelapnya menggunakan serbet. Tiba-tiba pintu sedikit bergerak, sendok makan berwarna silver memantulkan sosok wanita yang ia kenal. Xander secara perlahan mendekatkan wajahnya pada Alona. Pria itu membelai rambut Alona dan sedikit berbisik pada wanita itu. "Sayang apakah sudah cukup?"
Alona mengganggukan kepalanya. Wanita cantik itu tersenyum, "terima kasih."
Dari sudut pandang wanita yang masuk keruangan itu, ia melihat bahwa kedua orang itu sedang berciuman mesra. Tangan wanita itu langsung menarik baju bagian belakang Xander.
Plak...plak.... Diana menampar Xander.
"Bibi apa yang Kau lakukan!?" Xander menampilkan wajah kagetnya.
"Memalukan!"
Diana memaki Xander.
Alona kebingungan, dan berbicara. "Ma.... Hentikan itu tidak seperti yang Mama duga. Dia tidak melakukan apapun padaku!" Alona memohon pada wanita itu, untuk melepaskan Xander.
__ADS_1