Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Inikah yang dinamakan cinta tak bertepi!?


__ADS_3

Alona seperti akan mati pada saat itu. Ia sudah menyerah akan takdirnya. Tidak ada artinya hidup jika kekasihnya sudah pergi.


Inikah yang dinamakan cinta tak bertepi!?


Cinta yang luasnya seluas samudra, seluas angkasa biru, dan seluas jagat raya.


Inikah yang dinamakan cinta mendalam!?


Cinta yang dalamnya, sedalam samudra.


Cinta!?


Sesaat aku meragukan cinta, apa itu cinta sesungguhnya!?


Aku lelah dengan kata cinta!


Haruskah aku mati karena cinta!?


Apakah aku salah satu diantaranya, memiliki cinta tapi seperti tanpa cinta.


Aku bersungguh-sungguh mencintainya. Jika ia pergi harusnya aku pun pergi....


Aku tidak ingin hidup, jika hidup terasa suram tanpa kehadirannya....


Aku ingin cintaku tumbuh sampai aku mati, pada saat kematian telah mentakdirkan bahwa aku dan dia harus pergi. Mungkin, tidak sekarang, aku ingin pergi nanti, jika aku sudah bersamanya untuk waktu yang lama.


Alvaro, seandainya Kau memberiku satu kesempatan maka nyawa dan cintaku hanya untukmu, tidak ada yang lain dan tidak akan pernah ada.


Aku ingin menutup hati dan cinta ku hanya untukmu, sama seperti Kau menutup hati dan cintamu untuk yang lainnya.


Aku percaya bahwa tuhan ada. Jika Kau takdir ku bawalah aku selalu bersamamu. Aku ingin menghabiskan segalanya hanya untuk kita dan generasi kita berdua.


****


Xander mengangkat badan Alona, ia menggendongnya ke arah mobilnya. Wanita itu sudah terkulai lemas.


Mata wanita itu penuh air mata, masih ada sedikit kesadaran tapi sudah tidak mampu untuk bergerak, hanya napas yang masih terdengar disertai suara tangisan kecil.


Membuka pintu mobil, pria itu sangat berhati-hati saat meletakan badan Alona di jok mobil depan. Xander menatap sedih wanita itu, ia kemudian menutup pintu Mobil dan segera keluar.


Pria itu berlari sangat cepat ke arah mobil Alvaro. Tangannya meninju kaca mobil, sangat kuat. Darah menetes dari buku jarinya, semua kesakitan yang ia rasakan ia hiraukan untuk sesaat.


Xander segera meraih badan Alvaro. Kaki pria itu sedikit terjepit. Butuh sedikit usaha untuk mengeluarkannya dari mobil itu.


Sementara, api-api kecil mulai membesar. Panasnya sudah terasa seperti akan membakar kulit. Seluruh keringat sudah membanjiri sekujur tubuh pria itu.


Xander hampir menyerah dengan semua usahanya untuk menyelamatkan Alvaro.


Tapi, ia selalu berusaha lagi dan lagi, menyelamatkan Alvaro yang sudah tidak sadarkan diri.


Dendam memang masih terasa, tapi hatiku masih memiliki hati nurani untuk manusia. Aku bukan hewan buas yang sedang kelaparan, rela memangsa sesama teman bahkan memakannya tanpa rasa bersalah.


Dendam ku memang harus ku balas, tapi tidak dengan cara kotor atau pun sesuatu yang membuat penyesatan opini publik terhadap ku.


Aku Xander, seorang pria, aku tidak akan jadi pecundang. Tidak akan melakukan hal bodoh. Aku hanya ingin membalas dendam dengan jalur yang sama.

__ADS_1


Suasana saat ini sangat menyesakan dada, benar-benar membuat hati tersayat-sayat.


Aku yang menyaksikan dari kejauhan dapat merasakan kehancuran hati wanita itu.


Aku membencinya....


Dia yang seperti itu terhadap orang lain.


Kenapa harus dia!?


...Bukan Aku!? Xander menahan semua sakit hatinya, pria itu mendesah dan memejamkan mata indahnya. Hitungan ketiga pria itu menginjak gas mobilnya. Kendaraan itu melaju sangat cepat seperti pesawat tempur.


*****


Rumah sakit, Alona terbaring di ranjang pasien di ruang VVIP. Luka di kedua lututnya sudah di obati. Wanita itu masih tertidur, ia belum sadar sejak menyaksikan kecelakaan kekasihnya.


Xander duduk di samping ranjang menemani wanita itu. Tampilan wajahnya masih tampan meskipun ada sedikit luka di wajahnya. Tangannya yang terluka dibiarkan begitu saja tanpa diobati ataupun dibungkus kain kasa.


Rasa khawatir terhadap wanita itu masih menghantui nya sampai kini. Tak terasa ia sudah duduk selama 2 jam menemani wanita itu.


Pria itu kini merasakan sakit di seluruh badannya. Ia beranjak dari kursi menuju sofa di sudut ruangan itu. Xander merbahkan badannya di atas sofa. Kedua tangannya ia silangkan di perut, matanya perlahan terpejam. Badannya miring menghadap Alona.


*****


Ruang operasi, seorang pria tertidur di meja operasi. Alvaro mengalami patah tulang di kaki kirinya. Sejak pria itu tiba di rumah sakit, dokter selalu sibuk melakukan segala persiapan operasi.


Semua dokter seperti terkena serangan jantung ringan akibat pasien itu. Mereka harus berhati-hati. Ada kecemasan di setiap pergerakan. Bagaimana tidak, pasien yang mereka tangani adalah seorang pangeran satu-satunya dari keluarga terpandang. Sedikit saja kesalahan mereka akan di bantai oleh sang ayah yang sedang berkuasa di dunia perekonomian saat ini.


Diana Maringka, berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Wajahnya mendongak dengan kedua tangan menagkup di atas dagunya. Wanita itu mencoba menahan air mata yang terus menggalir membasahi pipinya. Ia terus berusaha tegar menghadapi semua cobaan ini, meskipun hatinya sangat sakit menunggu anaknya yang sedang berjuang di meja operasi. Matanya sesekali menatap lampu indikator di atas pintu ruangan itu.


"Duduklah sayang...!, Varo kita pasti bisa melewati semua operasinya. Jangan terlalu cemas ia hanya mengalami patah tulang bukan gegar otak." Tuan Jaya Nugroho menghibur istrinya.


"Dia akan baik-baik saja, aku sudah memastikannya." Semua dokter yang menangani operasinya sudah terbukti keahliannya. Mereka sudah lebih dari 10 tahun bekerja disini.


Diana mengikuti saran suaminya, ia duduk di kursi dan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Kedua tangannya memegang pergelangan tangan suaminya.


"Sayang...!" Diana memanggil suaminya.


"Iya. Ada apa?" Tuan Nugroho menjawab pertanyaan istrinya dengan nada lembut dan menenangkan.


"Apa Kau sudah menyelidiki penyebab kecelakaan anak kita? Apakah ada yang mencoba melakukan sesuatu pada anak kita!? Aku sangat mencemaskannya!"


"Aku sudah melakukannya, sebelum Kau mengatakannya padaku, Sayang. Ini murni kecelakaan, dia yang salah, anak kita mengemudi melawan arah."


Tuan Nugroho seperti mengingat sesuatu. Pria itu sangat bersyukur bahwa seseorang telah menyelamatkan anaknya.


"Tapi, kenapa dia melakukan itu!? pasti ada penyebabnya. Aku tahu anak kita tidak pernah melanggar aturan apapun."


Tuan Nugroho kembali menjawab. "Sudahlah anak kita selamat. Sebaiknya Mama kunjungi saja orang yang sudah menyelamatkan anak kita. Kita harus berterima kasih padanya."


"Hem...." Wanita itu menganggukan kepalanya tanda ia setuju.


*****


Ribuan butir keringat sudah membasahi seluruh tubuh wanita itu. Alona masih tertidur di ranjang.

__ADS_1


Mimpi buruk membuat wanita itu gusar. Tidurnya menjadi terganggu. Ia melihat semua tabrakan itu. Mobil berguling-guling menghantam setiap inci aspal. Hatinya sangat sakit seperti di gigit ribuan lebah.


Alona tidak mengetahui kejadian selanjutnya. Apakah kekasihnya selamat atau sudah pergi selamanya. Ingatan terakhirnya terhenti pada saat kedua lututnya jatuh di aspal, ia masih merasakan ada seseorang membantunya berdiri, menggendongnya dan.... Ia tidak mengingat kejadian apapun.


Wanita itu seperti di sekap di gudang kecil penuh debu, dan kotoran. Tidak ada tanda kehidupan dan cahaya yang menyinari, semua yang ia rasaka hanya kegelapan. Dadanya seperti di timpah ribuan ton batu, menyesakan dadanya.


"Varo!" Alona berteriak memanggil nama kekasihnya.


Alona terbangun dari tidurnya....


Menyadari bahwa ia berada di sebuah ruangan asing, matanya memutari setiap inci ruangan itu. "Aku dimana!?" tanyanya dengan bibir sed bergetar.


Ada selang infus terpasang di tangannya. Wanita itu duduk, ia kemudian ingin mencabut jarum infus di tangannya. Wanita itu ingin keluar mencari kekasihnya. Hidup atau mati!


"Hiks, hiks...." Mendengar suara tangisan Xander terbangun dan segera menghampiri Alona yang sedang mencoba melepaskan jarum infus di tangannya.


"Alona, hentikan!" Pria itu langsung menepis tangan Alona.


"Xander.... "


Wanita itu memeluk Xander yang sudah berada di samping ranjang itu. Pelukannya sangat erat.


"Xander, diman dia!?" tanya Alona penuh harapan.


"Varo ku! aku ingin melihatnya." Alona menepuk-nepuk dan sedikit meninju bagian punggung pria itu. Air mata Alona sudah membasahi semua bahu Xander.


"Varo..., aku ingin dia Xander. Tolong aku.... Aku tidak bisa hidup tanpanya." Wanita itu menangis tersedu-sedu.


Xander memeluk wanita itu, ia mengelus-elus punggung dan kepala Alona. Xander mencoba menenangkan kesedihan yang di alami Alona.


Entah mengapa saat ini, Xander seakan melupakan dendamnya yang setinggi gunung saat melihat wanita yang sedang terpuruk di pelukannya.


Xander menarik napas dalam-dalam. Tangannya terkepal, ia sedikit mengernyitkan alisnya saat wanita itu memukul luka di bagian punggungnya. "Tenanglah, dia selamat...." Kata Xander mencoba menenangkan Alona yang sedang merasa kacau.


"Benarkah!?" Alona melonggarkan pelukannya pada pria itu. Ia melihat dan menatap wajah Xander untuk memastikan kebenarannya.


Xander menganggukan kepalanya pertanda bahwa ucapannya benar.


Alona langsung merasa bahagia dan ingin turun dari ranjang itu.


"Alona berhentilah, jangan membahayakan keselamatan dirimu sendiri." Xander mengingatkan Alona agar tetap tidur di ranjang itu.


"Tidak!, Xander. Aku ingin menemuinya sekarang." Alona berteriak tepat di wajah pria itu.


"Alona berhentilah. Jika Kau terus berteriak seperti itu Kau akan membangunkan seluruh pasien di rumah sakit ini."


"Tidak, tidak, tidak! Xander aku ingin menemuinya sekarang! sekali saja, aku ingin menemuinya." Alona terus memukul dada Xander, ia terus meronta-ronta ingin pergi.


"Dokter!"


Xander memangil dokter dan memencet bel di ruangan itu. Ia sudah kehilangan akal untuk menenangkan Alona.


Dokter datang sangat cepat dan langsung membuka pintu ruangan itu.


"Berikan dia obat penenang. Aku tidak ingin melihatnya seperti itu." Xander memerintahkan dokter agar cepat bertindak sesuai keinginannya.

__ADS_1


Dokter tidak sempat menjawab perintah pria itu. Ia merasa ketakutan di seluruh tubuhnya.


Dokter itu hanya mengerjakan apa yang di perintahkan Xander, bahkan ia mengerjakannya tanpa sempat mengambil napas.


__ADS_2