Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Pulang ke rumah


__ADS_3

Setelah diam sesaat, mata kucing Xander mulai bermain. Gerakannya tidak cepat, namun cukup untuk melumpuhkan tubuh Alona. "Sayang apa kamu akan melawanku?" Tanya Xander.


Alona diam tidak melakukan pergerakan. Ia hanya memandang Xander dengan ekor matanya.


"Tuan Alexander dia akan pulang bersamaku" Kata Michael memperjelas.


"Apa aku berbicara padamu Tuan Michael. Dia akan pulang bersamaku." protes Xander.


"Alexander aku ingatkan padamu dia pergi bersamaku. Jadi akulah yang berhak mengantarkannya pulang."


"Oh! Tuan Michael..., jangan lupa Kau orang baru di sini. Aku bisa membuatmu terkena masalah jika Kau bersikeras. Kau tidak ingin di deportasi dari negerimu sendiri, bukan!?. Jika tidak ingin menyingkirlah" Xander memberi peringatan keras. Xander sudah menyelidiki identitas pria itu saat makan malam sedang berlangsung.


Michael mengertakan giginya dan mengepalkan tangan. Bagaimanapun benar apa yang di katakan Xander. Dia bukan warga negara kota J secara hukum. Ia duduk di kursinya dengan tenang menanti permainan baru. Michael tidak tertarik untuk bermain malam ini. Ada hal yang lebih penting. Pria itu sangat matang perhitungannya dan tidak pernah gegabah dalam memutuskan sesuatu. "Baiklah aku mengalah, tapi tidak lain kali." Kata Michael dengan muka menghitam bagai tanah lumpur.


"Alona ikut aku." Xander menarik tangan Alona dan menggendongnya.


Alona tersentak kaget mendapati dirinya di gendong oleh Xander. "Xander turunkan aku!?"


Bagaimanapun Alona menendang-nendang atau memukulnya, Xander tetap tidak bergeming. Pandangannya mantap ke depan.


Michael hanya jadi penonton ketika Xander menggendong Alona pergi meninggalkannya. Tangannya menampar meja. "Xander tunggu pembalasanku." Kata Michael dengan wajah berapi-api.


Tidak ada yang akan menghentikan Xander karena restoran itu miliknya sendiri. Semua karyawannya hanya memandang ke arahnya. Mereka sibuk menggunjing terutama sekelompok pelayan wanita. "Lihatlah itu calon Nyonya. Kau bisa lihat Kan dia sangat cantik seperti dewi dalam dongeng penghantar tidur. Aku jadi iri melihat mereka." Semua wanita itu menggigit jari masing-masing. Lalu wanita di tengah menyelah. "Apa kalian tidak tahu wanita itu siapa?" Kedua wanita yang mengapitnya di tengah menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu...." Wanita di tengah itu memakai celemek di dadanya. Tangannya mengeluarkan ponsel kemudian membuka situs berita populer. "Lihatlah sendiri..." Kedua wanita itu tersentak dan hampir tersedak oleh air liurnya sendiri. Mata mereka melotot. "Benarkah!?, wanita itu kekasihnya Alvaro putra pemilik Nugroho grup yang sebentar lagi akan bertunangan. Wanita di tengah menganggukan kepalanya. "Kehem...." Supervisor pria berdiri di belakang mereka. "Apa membicarakan keburukan seseorang menjadi pekerjaan kalian saat ini." Ketiga wanita itu berdiri mematung dan saling memandang lalu berbalik ke arah supervisor. "Maaf supervisor kami akan kembali bekerja." ketiga wanita itu langsung menghambur pergi.


Alona di gendong oleh Xander sampai area parkir menuju mobilnya. Xander melemparkan tubuh Alona ke kursi depan. "Au!!!, Xander bisa pelan sedikit tidak. Aku bukan bantal atau kasur yang bisa Kau lempar kemanapun Kau mau."


"Diam!!!" Teriak Xander marah. "Duduk di kursimu dengan baik."


Xander membuka obat yang di berikan oleh Raisa dan memasukkannya ke dalam mulut Alona kemudian memberinya minum agar obat cepat masuk. Xander juga meminum satu tablet.


"Xander apa yang Kau berikan padaku!?"


"Obat dari surga sayang..., Kau yang memberikannya padaku tadi."


"Apa!?" Mata Alona melotot. "Xander!!!" Alona berteriak.


"Bukan salahku. Kau yang memberikannya padaku tadi. Itu hukuman untukmu. Bukankah Kau bilang aku payah. Aku akan membuktikan siapa yang payah di antara kita."


Lima menit berlalu, obat mulai beraksi, badan Alona seketika menjadi panas dan tidak terkendali. Tubuhnya sudah mulai terangsang. Obat kuat itu benar sangat manjur berbeda dari merek biasa yang beraksi 25-40 menit setelah meminumnya.


Xander masih sempat mencelah wanita itu. "Alona apa kau benar-benar tidak bisa menjaga dirimu. Bukankah Kau bilang akan menikah. Tapi, kenapa pergi bersama pria lain."


"Bukan urusanmu Xander!, dia hanya temanku. Dia yang menolongku kemarin. Berhentilah mengangguku."


Alona mendegus dan membalikkan wajahnya menghadap ke luar jendela. Namun tubuhnya kian panas tidak bisa menahan lagi.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Alona berdering sangat kencang. Alona segera mengangkatnya. "Alona di mana Kau saat ini. Pulang sekarang!!!" Perintah otoriter Diana. Tangan Alona sedikit gemetar saat mengangkat telpon itu. "Ya Ma aku akan pulang Sekarang."


Xander merampas ponsel itu dari Alona lalu berbicara pada Diana. "Bibi Alona bersamku sekarang, dia baik-baik saja dan tidak akan pulang."


"Alexander aku peringatkan padamu antarkan dia pulang sekarang." Diana sudah berceloteh bagai burung berkicau tidak henti-hentinya.


Detik berikutnya Xander mematikan saluran telepon. "Alexander!!!" Diana berteriak dan ingin melemparkan ponselnya namun mengambang di udara. Ponselnya ia genggam erat. Sebagai gantinya ia menendang meja di depannya.


Amor yang sedang duduk di sofa berbicara dengan lembut. "Tante apa Alona melawanmu. Jangan terlalu emosi. Dia masih sangat muda. Tentu emosinya tidak stabil. Kita tunggu saja di sini sampai Alona pulang."


Amor memegang tangan Diana dan memeluknya lalu duduk di sofa. "Tante bagaimanapun Alona pilihan Alvaro. Jangan memarahinya."


Diana menatap Amor dan menggerakkan tangannya ke atas pahanya. "Amor kau wanita yang sangat lembut. Seandainya saja Alvaro bisa melihat kebaikan dan ketulusanmu. Tante pasti sangat senang memiliki menantu sepertimu."


"Tante masalah hati tidak bisa di paksakan. Mereka saling mencintai. Aku tidak ingin menjadi wanita perusak hubungan orang lain apalagi Alvaro adalah temanku sendiri." Kata-kata Amor terlihat sangat murni. Ia sangat pandai memainkan peranannya sebagai wanita berhati lembut.


"Amor temani Tante menunggu Alona pulang."


Amor menganggukan kepalanya. Ia sangat senang. Kata-kata itulah yang sangat ia inginkan. Amor tidak bisa melewatkan pertunjukan yang akan membuatnya senang.


*****


Melihat wajah Alona berubah merah Xander semakin bersemangat. "Bagaimana Sayang, apa rasanya enak?"


"Xander cepat bawa aku pulang. Badanku terasa terbakar rasanya sangat panas seperti di bakar api."


Alona meraih kerah baju Xander. "Xander antar aku ke rumah sakit atau ke rumahku, sekarang!!!"


Alexander menginjak gas mobilnya. Lima menit sampai ke golden hotel karena restoran Three M sangat dekat hanya berjarak 500 meter saja.


Xander membawa Alona ke kamarnya lewat pintu samping hotel masuk ke lift pribadi yang terhubung langsung ke kamarnya.


Xander dan Alona bagai dua orang yang mabuk. Mereka sama-sama merasakan panas di tubuhnya. "Xander apa kau bodoh!!!, kenapa Kau memberikan obat itu padaku?" Tanya Alona dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Ya aku memang bodah lalu bagaimana lagi? itu salah satu cara untuk membuktikan siapa yang payah di antara kita. Mau tidak mau aku melakukannya agar kau bisa menjaga mulutmu di lain hari."


Xander menggendong Alona ke kamar mandi. Mereka masuk ke dalam bathtub yang sama. Kran shower di nyalakan, air bercucuran langsung mendinginkan kulit samapi ke tulang. Namun efek obat tidak juga reda. Alona sudah seperti an*ing gila. Ganas dan tidak terkendali. Wanita itu menerkam Xander di bawah tubuhnya. "Dengan cepat ia mencium pria itu. Perkelahianpun tidak terelakkan. Mereka bagai terbenam di lautan es namun kepanasan.


Baju mereka sudah terlepas, semua berhamburan di lantai kamar mandi.


Jam 10 pagi Alona terbangun di atas ranjang dengan Xander memeluknya dari belakang. Alona memijit kepalanya yang terasa pusing. Alona secara diam-diam turun dari tempat tidur dan menutupi badannya dengan selimut. "Xander Kau pria sialan." Maki Alona.


"Tapi Kau menyukainya kan!?" Xander berbicara dengan Alona kemudian membalikkan badannya membelakangi wanita itu. "Ingat siapa yang kalah semalam."


Alona ingin menendang pria itu. "Xander!, Kau pria tidak tahu diri."

__ADS_1


"Kita sama. Sama-sama tidak tahu diri." Jawab Xander dengan posisi yang sama, membelakangi Alona.


Alona menarik selimut yang menutupi badan pria itu. Alona ingin membunuhnya. "Xander!!!, matilah Kau." Alona ingin mencekek leher Xander. Namun Xander dengan cepat menghindar. Xander menarik badan Alona dan menindih badannya. Tangan Alona di tekan di kedua sisi di atas kasur. Nafas mereka saling memburu. Apa Kau menginginkannya lagi Alona. Aku masih menyimpannya 2 tablet lagi." Kata Xander dengan tatapan mata elangnya. Alona memberontak mencoba melepaskan pegangan tangan Xander di kedua tangannya. "Xander lepaskan aku!." Xander membelai pipi Alona yang sudah bersemu merah. "Maaf Alona..., sayangnya aku tidak bisa melepaskan mangsaku. Kau yang telah membangunkan seorang pria di pagi hari, itu sama saja dengan membangunkan serigala kelaparan."


Alona diam, dan melakukan pemberontakan dengan menendang-nendang pria itu.


Detik berikutnya Xander mencium bibir wanita itu dan menguncinya. "Diam atau aku akan melakukan lebih dari ini." Kata Xander mengancam. Alona mau tidak mau hanya diam mengikuti arus. Cairan hangat tanpa sadar menetes di pipinya.


Setelah sekian lama melakukan pertarungan sengit Xander melepaskan Alona. "Aku ingin melihat apa kekasihmu tetap akan menerimamu yang seperti ini."


Kata-kata Xander bagai petir yang menyambar dan membakar tubuh Alona. Ia berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya. Baju di lantai ia keringkan. Setelah kering ia memakinya lagi.


Hari sudah menjelang siang. Alona pulang ke yellow residance.


Baru masuk pintu suara kasar sudah menghujaninya. "Dari mana!?" Tanya Diana yang sedang duduk di sofa ruangan tamu.


Alona berdiri membeku di depan pintu. "A-aku dari rumah lama Ma." Alona menundukkan kepalanya.


"Duduk!!" Perintah Diana. Wanita itu tertawa sinis memandang Alona. "Kau kira aku tidak tahu kau pergi kemana semalaman ini!?"


"...." Alona diam tidak berani bicara.


Alona mengedarkan pandangannya. Di sofa panjang ada Amor dan Diana di sofa utama duduk sendirian. Sementara Bibi Asih berdiri di samping Diana seperti dayangnya.


Alona berjalan kemudian duduk di tengah sofa di antara Amor dan Diana. Alona bagaikan anak pungut tidak memiliki keluarga. Ia menundukkan kepalanya. Gaun silver yang ia kenakan sedikit kusut akibat pertarungannya dengan Xander. Lehernya di balut syal berwarna putih menutupi leher jenjangnya.


"Alona!!! apa kamu pikir kamu begitu cantik sehingga bisa berbuat sesuka hatimu. Apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan Alvaro jika melihatmu bersama pria lain. Kamu pikir siapa dirimu Alona!?" Diana sudah berdiri memarahi Alona.


Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujaninya. Mata Alona memandang ke arah Bibi Asih. Diana menagkap arah pandangan Alona. "Bukan dia yang memberitahunya"


Diana menarik tangan Alona sampai ke depan kaca besar di ruang tamu. "Lihat betapa buruknya dirimu." Diana kemudian menyibakkan rambut Alona dan menarik syal di lehernya. Kaca besar itu memperlihatkan bukti perbuatannya yang kotor. Bekas ciuman cinta bertebaran di seluruh lehernya hingga tidak bisa di tutup oleh tangan.


Sementara Amor duduk manis di sofa menyaksikan tragedi itu. Ia tersenyum sinis menatap pemandangan di depannya. Hati dan jantungnya saling berlomba-lomba meloncat ingin keluar dari tubuhnya menggambarkan kegembiraannya saat ini. "Alona kita lihat siapa yang akan menang di akhir. Ini hanya permulaan. Semakin Kau bertahan semakin Kau akan terluka di akhir. Amor bersedekap dan menyilangkan kakinya lalu berkata pada Diana ."Tante tolong jangan terlalu kasar. Sekarang zaman sudah modern, seorang gadis juga bisa memiliki teman yang banyak sebelum mereka menikah. Benarkan Alona!?"


Alona diam meneteskan air mata. Ia tahu dia salah. Tapi, apa pantas mereka memperlakukannya seperti itu? Demi cintanya pada Alvaro ia rela melakukan apapun tapi tidak menyedihkan seperti ini.


"Ma. maafkan aku. Tolong jangan katakan pada Alvaro Ma."


"Alona apa Kau masih punya muka menemui anakku!?"


"Lihat foto ini..." Diana melemparkan fotonya sedang melangkahkan kakinya ke mobil Michael. "Satu lagi..." Diana mengambil foto Alona saat itu juga.


Alona berlutut di hadapan Diana dan meraih tangannya. "Ma jangan lakukan itu. Aku mengaku salah, ampuni aku."


"Naik!!!" Perintah Diana. "Jangan pernah keluar dari rumah tanpa seizinku."

__ADS_1


Alona berjalan ke kamarnya. "Bertahanlah Alona. Kau pasti bisa melewati semua ini. Tunggu Alvaromu pulang."


__ADS_2