Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Apakah ukurannya cukup besar?


__ADS_3

Lagi-lagi, Alona masuk perangkap pria itu. Sepandai-pandainya ia mengatur siasat melawan semua ucapan Xander tetap saja ia akan kalah. Posisi wanita itu serba salah, bagaimana tidak ketika Xander mengatakan sesuatu yang menyimpang dari moral, selalu saja ia di anggap seperti perempuan murahan, maniak se*s.


"Aku akan berlatih lebih giat... dengan itu adikku akan menjadi lebih besar. Selain itu, aku juga akan memakai obat pembesar setiap hari, " Xander menjawab santai gurauan Alona.


Pelayan di dalam ruangan itu merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Mungkin saja ia menganggap bahwa pasangan itu seperti pasangan baru menikah? pasangan berselingkuh?, atau sesuatu yang lainnya....


Kepala wanita itu menunduk dan menikamati makanan penutupnya. Bola matanya bergerak ke atas tanpa melihat pria itu. "Apakah itu lelucon yang sangat lucu Tuan Xander....?" Mengangkat kepalanya dan tersenyum sinis pada pria itu. "Sebaiknya jahit saja mulutmu jika tidak bisa berkata baik dan benar." Alona memberi saran pada pria itu dan mengelap sudut bibirnya menggunakan serbet.


"...." Xander tetap diam dan tenang, menikmati setiap kemarahan dari wanita itu.


Ruangan hangat berubah menjadi sedingin musim hujan. Bagaimana aku harus melangkah kan kakiku ketika aku hendak berjalan selalu saja ada kaki yang menghalangi. Pikiran Alona selalu saja kusut saat ia bersama pria itu, seperti benang jahit jatuh lalu di gulung lagi.


"Cukup! Xander. Aku tahu kau pria dewasa. Mestinya kau tahu apa saja yang pantas Kau ucapkan padaku, ini ruangan publik bukan milikmu. Lelucon itu tidak lucu sama sekali. Kau berulang kali membuat citraku buruk di depan oarang."


"Ruangan ini, ruangan khusus Nona! Tidak ada orang yang akan mendengar apapun."


Pelayan di ruang tunggu itu berdiri membeku, "apakah pria itu menganggapku tidak ada disini, meskipun aku seorang pelayan, tetap saja aku seseorang yang bernyawa. Kenapa dia tidak menyuruhku keluar saja jika ada hal-hal yang tidak panatas untuk dibicarakan."


Alona bingung mencari celah menyingkirkan pria di depan matanya. Mengambil napas dalam-dalam Alona berbicara untuk kesekian kalinya pada pria itu.


"Xander!? apakah hidupku sungguh membuat mu tertarik!? Kau selalu saja mengacau kehidupan ku. Cukup kali ini saja!, tolong menjauh dari hidup ku. Aku bukan boneka yang bisa seenaknya kau mainkan. Aku hanya punya nyawa, jika kau menginginkannya!? maka ambillah!"


"Alona bukankah kau yang telah berjanji padaku akan melakukan apapun demi kakakmu!? Apakah aku salah dengar waktu itu!?"

__ADS_1


"Semua yang ku katakan memang benar adanya. Tapi bukan sesuatu cabul seperti ini! aku bukan wanita simpanan mu Xander." Alona mengingatkan Xander dengan keras tentang perjanjiannya dengan pria itu.


Mengangguk kan kepalanya dengan makanan penuh di mulutnya, ia mengunyah sedikit dan meminum air, lalu Xander menyenderkan badannya di kursi miliknya. "Kau.... ingin bebas dariku, kan? Baiklah, putuskan dia!"


"Tidaak, selain itu." Alona dengan tegas menolaknya.


"Lalu, apa yang bisa kau tawarkan untuku!?"


Alona menggelengkan kepalanya."Tidak ada...."


"Bagaimana jika Kau menjadikanku kekasih gelapmu!?" Xander menyarankan.


"Tidak, aku tidak mau." Alona menolak tawaran itu tanpa berpikir lebih dalam.


Makan malam berakhir dengan alot, tanpa kesan romantis sedikitpun. Setidaknya jika makan malam bersama teman atau kekasih pasti meninggalkan kesana manis dan memberikan motivasi penuh semangat beraktivitas lebih tinggi setelahnya, akan tetapi tidak bagi Alona. Makan malam itu seperti sedang diintrogasi di ruang penyidik kepolisian bagian kriminal.


Cahaya terang bulan secara tiba-tiba tertutup awan hitam. Langit tidak lagi bercahaya, bintang hilang seperti tertelan oleh awan hitam pekat. Guntur dan petir menjadi pemandangan baru. Hujan lebat turun tanpa aba-aba, sesekali petir menyambar ke permukaan bumi. Suara guntur tidak henti-hentinya menghantam bumi seperti sedang memamerkan kekuasaannya pada alam semesta. Alona ketakutan melihat petir memancarkan cahayanya. Suara guntur menambah suasana mencekam di dalam kamar itu.


Rencana untuk pulang di batalkan, karena terjadi longsor di jalanan menuju pusat kota J. Di beberapa titik terdapat pohon tumbang akibat angin kencang.


Xander tertidur sangat nyenyak di sofa empuk, lebar dan panjang di kamar itu. Xander merasa lelah mengendarai mobil selama 3 jam tanpa kemacetan. Napasnya teratur. Raut wajahnya sangat bersahabat saat ia tertidur, seperti pria penyayang dan lembut.


Alona mendekati Xander yang tengah tidur di sofa. Wanita itu tidak tahan mendengar suara guntur dan petir menyambar. Ketakutan menjadikan wanita itu berani mendekati pria yang sangat ia benci.

__ADS_1


Alona lebih memeilih tinggal bersama serigala daripada menderita ketakutan, setidaknya jika mati ia memiliki teman. Alona menyelinap merebahkan badannya di samping pria itu. Awalnya wanita itu merasa takut, tapi, untuk sesaat ia hiraukan ketakutannya itu.


Ternyata tidur di samping pria itu, lebih nyaman di bandingkan dengan tidur di kasur. Alona cepat terlelap, ia membaringkan badannya di pelukan Pria itu. Badannya yang kecil seperti tertutupi oleh tubuh Xander yang gagah dan berisi, pria itu persis seperti selimut bagi Alona.


Pertengahan malam Xander terbangun dari tidurnya, tangan kanannya terasa sakit akibat dijadikan bantal oleh Alona. Pria itu mengangkat tangannya, tapi ia hentikan ketika menyadari bahwa Alona tidur di sampinganya.


Diam-diam Xander memperhatikan wajah cantik Alona. Ia tersenyum menatap pola tidur wanita itu, tertidur dengan menggigit jari jempolnya seperti bayi kecil dengan tubuh melengkung seperti udang matang.


Mata Xander terasa mengantuk, matanya terasa berat untuk tetap terjaga. Lelah masih membebani badannya. Xander mengerakan tangannya, ia mendekatkan kepala wanita itu ke dada bidangnya dan memeluk wanita itu. Xander mencium kening Alona, sebagai ucapan selamat tidur dan bermimpi indah.


Pagi hari, Alona membuka matanya. Wanita itu merasakn ada sesuatu yang mengganjal di dekat paha bagian belakangnya. Benda itu terasa seperi ubi kayu siap panen. Tanpa sadar Alona memegang benda itu untuk memastikan benda apa yang mengganggu di dekat pahanya, karena terasa tidak nyaman.


"Sayang... apakah ukurannya cukup besar!?" Xander bertanya pada wanita itu.


"...." Alona sedikit bingung, ingin menjawab tapi wanita itu merasakan ada sesuatu yang aneh mengganjal di lubuk hatinya.


"Sudah ku bilang, aku akan berlatih, aku tidak menyangka jika hasil nya sangat memuaskan. Apakah Kau mau mencobanya, Sayang....?"


Alona terbangun secara spontan dengan posisi tangannya masih memegang benda itu. Xander memainkan matanya ke arah benda miliknya. Alona mengikuti arah mata Xander.


Seketika, mata wanita itu membesar dan melepaskan genggamannya pada benda itu. "Maaf... Aku tidak sengaja." Ia sedikit tergagap, pipinya memerah menahan malu. Semua yang ia lakukan seperti salah tingkah.


"Bagaimana? apakah sesuai selera mu?" Xander kembali bertanya pada wanita itu.

__ADS_1


"A-A-Aku ingin mandi sekarang, ruangan ini terasa panas." Alona mengibaskan tangan ke arah wajahnya. Wanita itu bertanya basa-basi untuk mencairkan situasi canggung. " Tidakkah Kau merasakan bahwa ruangan ini terasa panas?," detik berikutnya wanita itu berlari ke kamar mandi dan menutup pintunya. Wanita itu menyenderkan badanya di pintu kamar itu dan mengelus dadanya.


"Alona, tunggu! Aku juga kepanasan...." Teriak Alexander sambil tersenyum geli melihat reaksi Alona.


__ADS_2