
Sebelum melanjutkan memutar rekaman video. Alona berpindah tempat duduk. Ia berpindah dari sofa ke kasur. Alasannya cukup sederhana.... Untuk menghindari hal-hal di luar dugaannya. Ia bersikap teliti dalam menyiapkan segalanya. Karena kemungkinan yang akan terjadi tidak bisa ia tebak sedikitpun.
Fakta sebenarnya Alona mengkhawatirkan ia akan jatuh pingsan saat tidak kuat menerima kenyataan pahit di dalam viedo tersebut. Oleh karena itu pilihan paling tepat ia berpindah duduk dari sofa ke atas kasur. Dengan begitu dia tidak akan terjatuh ke lantai. Juga, tidak akan membahayakan bayi di dalam kandungannya.
Setelah mendapatkan posisi teraman dan nyaman. Alona kembali memutar Video rekaman dari CCTV dalam kamarnya di Yellow Residence. Video berputar dengan kualitas HD nomor satu. Semua nampak dengan jelas, tanpa satupun gambar buram. Alona melihat menit demi menit video yang berputar. Dalam hatinya ia terus berdoa agar ia dapat menerima semua kenyataan yang ada.
Tiba saatnya video berputar menunjukkan saat Alvaro membuka sebuah kotak dari bawah kasur. Alona sempat bingung melihat mainan s*ks itu. Alona kembali menghentikan putaran video sejenak, untuk mengamati benda yang di pegang Alvaro. Alona tercengang menutup mulutnya saat sadar bahwa yang di pegang Alvaro adalah alat mainan se*s.
Alona semakin tidak sabar! jantungnya sudah bergemuruh mengikuti irama kepanikannya, kekhawatirannya, dan segalanya....
Alona melihat jelas mainan itu di masukkan ke dalam orang intimnya. "Jadi dia tidak menyentuhku...." Kata Alona sambil meneteskan air mata saat video berakhir di putar.
Alona tidak percaya bahwa mantan kekasihnya itu bisa menjadi jahat seperti sekarang ini!
"Alvaro, aku tidak menyangka Kau rela melakukan apapun demi mencapai keinginan mu. Dulu, aku memang sangat mencintaimu. Aku tidak akan munafik untuk itu! Tapi lain dengan sekarang, hati ku sudah terpaut dengan seorang pria. Dia ayah dari anakku. Sejujurnya aku tidak membencimu. Kau yang menciptakan benteng besar di antara kita. Jangan salahkan aku yang pergi darimu." Ucap Alona dalam hatinya mengenang masa lalu yang manis dan pahit.
Alona menggelengkan kepalanya dan mencubit kedua pipinya yang putih dan mulus. "Auuu...," Jeritnya merasakan sakit. "Aku tidak bermimpi?! ini nyata! anak ini?! anakku dengan Alexander! bukan dengan Alvaro." Ucapnya sangat senang dan gembira menemukan sebuah jawaban pasti.
Alona tersenyum, menagis, tertawa, bercampur aduk menjadi satu. Ia bukan gila ataupun sedih. Dia hanya merasakan kebahagiaannya. Kesalahpahaman akan segera berakhir berganti menjadi sebuah kenyataan yang manis....
Ketika tersadar sepenuhnya, Alona tidak dapat berkata apa-apa. Bagaimana ia harus menejelaskan pada suaminya bahwa anak yang ia kandung bukan anak Alvaro melainkan anak mereka berdua. Tentu penjelasan Alona akan canggung tanpa memperlihatkan video. Tapi dia tidak mungkin menunjukkan video tersebut kepada suaminya. Alona tidak ingin menyakitinya. Meskipun video itu tidak memperlihatkan adegan ranjang. Namun ia tetap harus menjaga perasaan suaminya karena di dalam video itu merekam saat Alvaro menciumnya dan memeluknya tanpa busana. "Aku akan memberitahunya saat ia pulang nanti." Ucap Alona pasti. "Menjelaskan semuanya!"
Alona mengusap layar ponselnya dan memandang foto suaminya sedang bekerja. Foto itu baru di kirim saat mereka bertukar gambar di ruang tamu. Kesenangan ini, membuat Alona tidak tahan untuk mengirimkan sebuah pesan singkat. "Sayang aku sangat mencintaimu lebih dari apapun. Cepat kembali! aku sangat merindukanmu...." Katanya dalam pesan yang ia kirim untuk suaminya Alexander.
Alona menghapus semua linangan air mata di matanya. Segera setelah itu ia keluar dari kamar membangunkan Dokter Risma untuk melakukan cek kehamilannya saat ini. "Kak, Risma..." panggil Alona membangunkan Dokter Risma yang sedang tertidur pulas di sofa. "Kak, bangun..." Katanya lagi, sambil menggoyang-goyangkan bahu Dokter Risma.
"Eh... Emm..." Dokter Risma menggeliat kan badannya. "Nyonya..." panggil Dokter Risma saat matanya menatap Alona yang sedang membangunkannya.
"Kak, tolong periksa usia kehamilan ku." Kata Alona memohon.
"Maaf Nyonya Alona. Aku tidak membawa alat untuk melakukan tes kehamilan. Karena aku pikir Nyonya sudah mengetahuinya, jadi aku tidak membawa alat itu." Jelas Dokter Risma.
Alona menundukkan kepalanya, sedikit kecewa! Jalan terakhir memberi penjelasan tentang perbuatan Alvaro padanya. Ia akan mengatakan secara garis besarnya saja.
__ADS_1
*****
Golden Hotel, telepon berdering memekikkan telinga. Alexander mengangkatnya dengan sedikit malas. Dia sudah tahu pasti adiknya akan mengeluh padanya. Telepon seperti itu sudah klasik. Adiknya menelponnya jika ada hal penting dan ada yang ia inginkan saja. Dari ujung telepon suara makian sangat keras membuat telinga Alexander seperti akan keluar darah.
"Kak Kau keterlaluan sekali padaku! apa aku ini orang lain?!" Cecarnya karena marah.
"Apa maksudmu?" Tanya Alexander, menanggapi makian adiknya dengan ekspresi datar.
"Kak, Kau benar-benar menyakiti hatiku... Kakak menikah kenapa tidak bilang padaku? Kakak membuat ku kecewa! bahkan aku tahu dari orang lain. Untungnya sekretaris Kakak itu sedikit ember mulutnya." Keluh Miller.
Alexander tersenyum malas. "Sejak kapan Kau menjadi seorang yang sangat ingin tahu segalanya?!" Tanya Alexander. "Aku tahu sekretaris Rudy seperti apa. Aku lebih tahu darimu. Jika Kau tidak memaksa pasti dia tidak akan mengatakannya. Tolong kurangi sifat pengosipmu itu. Kau selalu menanyakan hubungan ku dengan seorang wanita padanya. Aku ini pria normal. Kau tidak perlu khawatir bocah kecil." Alexander mengingatkan nya.
"Ayolah Kak. Jangan marah padaku. Lagipula aku itu adik yang perhatian. Aku hanya mengkhawatirkan Kakak akan menyimpang." Katanya.
"Kau pikir aku tidak mampu." Balas Alexander dengan suara meninggi.
"Oke, oke, aku tidak akan meragukan kakak lagi mulai sekarang." Jawabnya. "Aku akan pulang minggu ini, untuk melihat Kakak ipar. Jangan menghalangi aku pulang." Ancam Miller.
"Jika Kau tidak ingin pulang mengunjungi Kak Michelle dan orang tua kita, maka pulanglah. Aku tidak senang melihat mahasiswa bolos kuliah." Ancam balik Xander.
"Miller... Kau tahu Kakak paling benci dengan keluhan anak kecil seperti mu."
"Kak! Kau berubah setelah ada Kakak ipar." Rengeknya merajuk.
"Jelas saja aku akan berubah. Dia istriku. Tentu saja aku akan berubah sangat mencintainya." Pamer Alexander.
"Aku ingin pulang, titik!" Jelasnya.
"Miller jangan melampaui batas kesabaran Kakak. Kali ini benar-benar tidak bisa. Kakak iparmu sedang tidak ada di kota. Lebih baik Kau belajar lebih giat." Kata Xander.
"Pelit!" Jawab Miller blak-blakan karena tidak dapat izin pulang dari kakaknya.
"Apa katamu?!" Tanya Alexander saat mendengar kata-kata adiknya yang terdengar tidak sopan.
__ADS_1
"Oh itu, aku dengar Kakak ipar sedang mengandung keponakanku, benarkah?!" Tanya Miller mengalihkan pembicaraan. "Keahlian Kakak sungguh hebat!" Puji Miller.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Miller. Aku tidak mengajarimu mengatakan sesuatu yang tidak sopan pada orang yang lebih tua darimu." Kata Alexander dengan nada serius di sambungan telepon untuk mengajari adiknya. Padahal aslinya ia sedang tersenyum saat mengucapkan kata-katanya.
"Eh..., Kakak terlalu serius." Jawab Miller tertawa kecil. "Selamat Kakak akan menjadi seorang ayah dan aku akan menjadi seorang paman." Ungkapnya dengan nada lembut sedikit canggung. Detik berikutnya, ia mematikan sambungan telepon dan menjatuhkan badannya ke atas ranjang.
"Eeekh. Kakak tidak asik lagi." Gumam Miller setelah selesai dengan panggilan teleponnya. "Lihat saja aku akan mendapatkan nomor Kakak ipar, agar aku bisa mengeluh dengan nya. Aku akan membocorkan rahasia masa kecil Kakak ku pada kakak ipar. Dengan begitu Kakak ku tidak akan bermulut besar saat berbicara denganku."
*****
Kantor polisi kota J.
Diana masuk mengunjungi anaknya di dalam penjara di ruangan khusus. Alvaro dan Diana duduk di kursi berhadap-hadapan dengan meja sebagai pembatasnya. "Alvaro kali ini Mama tidak bisa membantumu lagi. Papamu sudah murka denganmu. Kau tahu berapa banyak uang yang sudah ibu keluarkan untuk mengurangi hukuman mu di dalam penjara ini?!" Tanya Diana.
Diana menarik napas bertanya. Kemudian melanjutkan kata-katanya." Mama sudah menghabisakn 2 milyar untuk membayar pengacara dan 3 milyar untuk membayar denda, Nak" Keluh Diana.
"Ma, aku tidak ingin tinggal di sini." Rengek Alvaro sambil memegang kedua tangan Mama-nya.
"Mama sudah bilang padamu untuk tidak bertindak gegabah. Kalau sudah seperti ini, mau bagaimana lagi?" Tanya Diana.
"Mama tolong keluarkan aku dari sini. Mama pasti bisa membantuku. Alvaro janji kali ini tidak akan bertindak gegabah." Jawabnya.
Diana terdiam sejenak memijat keningnya yang terasa akan pecah. "Mama cuma punya satu solusi untukmu." Ucapannya sedikit ragu.
"Apa Ma?" Tanya Alvaro bersemangat. "Aku pasti mampu melakukannya. Dan, Alvaro berjanji tidak akan pernah gegabah di lain waktu."
"Berpura-pura gila!" Ucap Diana tanpa ekspresi dan menundukkan kepalanya agar tidak terbaca di rekaman CCTV.
"Apa?!" Jerit Alvaro tidak percaya. "Mama bercanda, kan, Ma?" Tanya Alvaro.
"Mama serius. Itu jalan satu-satunya. Kau bisa melakukan aktingmu. Mama akan membayar dokter spesialis penyakit jiwa di rumah sakit luar dan siapapun yang memeriksa mu nanti." Ucap Diana meyakinkan anaknya.
Alvaro berpikir, mencerna kata-kata Mamanya. Ia berpikir, ide Mamanya ada benarnya juga. Ia tidak ingin membusuk di penjara. "Ma aku setuju dengan ide Mama." Jawab Alvaro.
__ADS_1
"Lakukan senatural mungkin. Mama serahkan semua padamu. Mulai lah bertingkah perlahan-lahan. Jangan terlalu berlebihan. Nanti petugas akan curiga dengan mu. Kau bisa mulai dengan diam sendiri, tertawa, menagis. Terserah padamu." Kata Diana. "Mama akan pulang sekarang." Ucapnya.
Diana beranjak berdiri dan memeluk anaknya. "Mama akan kembali satu minggu lagi. Saat itu kamu bisa langsung melakukan aksimu." Kata Diana sambil tersenyum dan menepuk pundak anaknya.