Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kau ikan penggoda, jangan salahkan kucing ketika ia menerkammu!


__ADS_3

Wanita mana yang akan berani menantang seorang laki-laki ketika mereka berada di ruangan yang sama, dalam keadaan tidak ada satupun orang kecuali hanya mereka berdua.


Aku rasa wanita itu, wanita terbodoh yang pernah ada di dunia. Seorang profesional pun tidak akan pernah menantang pria secara terang-terangan, hanya wanita gila yang tidak mempunyai pikiran berani melakukan hal semacam itu.


"Oh! aku tahu kau menginginkan sebuah pelayanan. Apakah aku benar Tuan Xander!?"


Alona berjalan mengelilingi pria itu, sentuhannya lembut dan sedikit sensual. Mata wanita itu lincah, tatapan matanya nakal menggoda Xander.


Pikiran wanita itu mungkin sedang hilang berkelana ke suatu tempat hingga ia tanpa berpikir panjang menggoda seorang laki-laki di depan matanya.


Secepat angin topan menerpa isi bumi, Alona membuka kancing tuksedo Xander, ia kemudian melemparkan tuksedo itu ke lantai. Wanita itu menarik dasi kupu-kupu yang melingkar di leher pria itu, tangannya dengan lihai membuka kancing kemeja Xander yang berwarna putih. Kulit putih mulus terlihat jelas tanpa sehelai kain menutupi dada bidangnya. Jari-jari lentik Alona sudah merabah dada bidang pria itu. Kakinya sedikit berjinjit mencium bibir merah alami Xander. Matanya terpejam menikmati setiap sensasi ciuman itu.


Semakin lama, ciuman itu seperti minuman anggur yang memabukan, membuat Alona lupa diri. Xander ikut terbuai oleh ciuman Alona. Mereka berciuman sangat intim tanpa paksaan dari siapapun. Xander memegang tengkuk Alona dan sedikit mencengkeramnya. Pria itu mencium Alona hingga wanita itu kesulitan untuk bernapas.


"Apakah Kau menguji ku, Alona?" Xander melepaskan ciuman itu dan menatap Alona yang telah berada di depan matanya. "Tidak buruk! lumayan untuk pemula." Xander menyeringgai, ia mengingatkan wanita itu. "Jangan salahkan aku jika Kau berakhir sangat menyedihkan di kamar ku ini, Nona Alona!"


Xander memulai konfrontasi verbal pada wanita itu. "Se-ekor Kucing tidak akan menjadi liar jika ikan tidak keluar dari kolamnya. Kucing juga tidak akan mencuri ikan asin milik majikannya, jika ditutup rapat menggunakan tudung saji."


"Kau ikan penggoda, jangan salahkan kucing ketika ia menerkammu!" Xander kembali mengingatkan!


"Aku rasa bukan salah ikan terlihat gurih dan mengiurkan Se-ekor kucing, ketika ikan di sajikan di atas meja makan. Kamu pikir ikan bersalah!?" Alona menyangkal pernyataan Xander. "Aku tahu kucing memiliki nafsu, tapi ia tidak akan sesuka hatinya merampas hak orang lain, Tuan Xander!"


"... Kecuali kucing garong seperti mu." Alona menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya.


"Heh...." Xander tersenyum menyeringgai. "Tentu saja aku memiliki nafsu se*sual yang tinggi, jika tidak bagaimana Kau bisa melupakan malam itu. Kau sangat mendesah di ranjangku, menikmati setiap permainan yang kulakukan padamu. Jangan sok suci di depanku!"


Alona berjalan ke arah kasur, ia duduk dikasur itu dan menyilangkan kakinya dengan kaki kanan di atas. "Buktikan! jika memang benar seperti itu, Tuan Xandar!"

__ADS_1


Alona sedikit tersenyum dan menggigit bibir merah sensualnya. Tangan kirinya ia topangkan ke belakng diatas kasur itu, sedangkan tangan kanannya mengangkat gaun panjangnya hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang menawan. kaki jenjangnya ia mainkan menelusuri kaki Xander yang masih terbungkus celana dasarnya.


"Haruskah kita melakukan pemanasan Tuan Xander!?" Alona mengoda pria itu. Kakinya dengan cepat ia naikan di atas kasur. Wanita itu berbaring miring menghadap Xander dengan tangan kanan menopang kepalanya. Gaun yang kembali menutupi kakinya ia naikan secara perlahan memperlihatkan kaki putih mulus miliknya.


"Xander sayang, kemarilah!" Alona memainkan jari-jari lentiknya ke arah pria itu. Alona seperti memanggil se-ekor kucing kesayangannya. Alona berguling ke tengah kasur memberikan ruang bagi Xander untuk naik ke atas kasur.


"Xander, kemarilah! Alona menunjuk kasur di sampinganya dan sedikit menepuk nya dengan tangan lentik miliknya. "Aku sudah tidak tahan, Xander sayang..." Suara Alona sedikit mendesah dan mendayu-dayu memanggil nama Xandar.


"Aku juga menguasi banyak gaya untukmu. Aku rasa kita bisa bermain imbang malam ini! Bagaimana? Kau ingin di atas atau di bawah!?"


Alona kembali berguling-guling di atas kasur itu dan memperlihatkan tulang punggung nya yang sudah terbuka. Wanita itu kemudian berbalik menghadap Xander, leher jenjang dan tulang selangkanya terlihat seksi dengan warna kemerah-merahan akibat berkeringat. Sedangkan buah dada wanita itu terlihat sedikit menonjol keluar dari sangkarnya akibat gaun bagian atas yang telah terbuka.


Xander terus memandangi Alona di depannya, ia tidak memberikan respon apapun. Matanya tidak buta, ia dengan jelas melihat pemandangan yang membuat gairah se*sualnya meningkat.


Alona bergerak-gerak, ia memainkan kaki jenjangnya. Bibir merahnya sangat seksi dengan suara rayuannya pada Xandar. Wanita itu terus bergerak seperti cacing kepanasan.


Wanita itu bangkit dari tempat tidur dan mendekati Xander yang hanya menonton nya berguling-guling di atas kasur. Alona kembali memberikan ciuman hangat pada pria itu. Tangan nakalnya sudah turun kebawah mencari resleting celana Xander.


"Keluar!" Xander berteriak pada Alona. Jari telunjuknya ia arahkan ke pintu kamar itu.


"Buk!" kunci mobilnya ia lemparkan ke arah Alona. Kunci itu hampir saja mengenai wajah cantik wanita itu.


"Ambil semua barang-barang mu di dalam mobilku, jangan ada yang tersisa sedikitpun, sekalipun itu rambut ataupun wangi parfummu."


"Cepat!" Xander memerintah Alona, "atau aku akan melemparkan mu keluar pintu kamar ini."


Alona tidak bergerak di atas kasur itu, ia menahan air matanya yang ingin tumpah membasahi pipinya.

__ADS_1


"Alona! apakah Kau tuli!?"


Tangan berotot pria itu menarik badan Alona yang masih tertelungkup di atas kasur. Wanita itu sadar dan mengambil kunci mobil itu. Langkah kakinya gontai bangkit dari keterpurukan nya dan segera keluar dari kamar itu.


"Titipkan kunci itu di bagian resepsionis. Jangan sekali-kali kau berani menampakan wajahmu di depanku. Masalah kakakmu aku yang akan mengurusnya. Pergi!" Xander kembali meneriaki Alona.


Alona sedikit menoleh ke arah pria itu. Tanpa pikir panjang ia membuka pintu dan menutupnya. "Bam!" Alona membanting pintu itu, getarannya terasa di dinding-dinding kamar.


Xander kaget melihat tingkah wanita itu. Ia tidak mempercayai Alona, wanita kecil bisa melumpuhkan kekuatannya.


Ingatan Xander akan kejadian lima tahun silam, yang menimpa kakaknya membuat Xander marah dan melepaskn wanita itu.


Xander membaringkan tubuhnya di atas kasur, meredam kemarahan yang terus bergejolak di dalam jiwanya.


Mengendarai mobil putihnya dari rumah Xander. Alona merasakan kesedihannya yang luar biasa. Menagis dan menopangkan tangan nya ke pintu mobil, pikirannya terbelah menjadi seribu.


Bagaimana aku harus menjelaskan pada Alvaro!?


Aku malu melihatnya, menelponnya bahkan menemuinya.


Alona kuatkan hatimu sayang...!


Menagis sejadi-jadinya mebuat Alona ke sulitan bernapas. Wanita itu membanting setir mobil dan memarkir mobilnya di pinggir jalan.


"Aaaaaaaaaakh!" Alona berteriak melepaskan semua emosi dan kesedihannya. Air matanya menetes lebih deras lagi seperti tak ada habisnya. Matanya merah dan sedikit bengkak. Alona memegang kepalanya dan sedikit menjambak rambutnya untuk mengurangi kesakitan yang ia rasakan.


Walau terasa berat, namun hidup harus tetap berjalan. Jangan menyerah dengan kepahitan hidup yang kau alami Alona. Tetaplah bertahan Alona. Alona mengingat nasehat ibu nya semasa ia masih hidup.

__ADS_1


Alona membuka tasnya, mengambil tissue basah dan membersihkan semua kesedihannya...


"Alona semangat!" Ucapnya dalam hati memberikan semangat bagi dirinya sendiri.


__ADS_2