
Penghujung pekan, waktu itu jalanan sepi dari lalu lalang kendaraan pribadi. Jalanan lengah, hanya terlihat sesekali mobil pengangkut barang melewati jalan.
Pembicaraan kedua wanita dan pria itu terdengar sangat jelas. Kata demi kata terus keluar dari mulut pria itu, kata-kata kasarnya sangat menyayat hati wanita di depannya.
Berdiri dari kejauhan menyaksikan setiap pertikaian kedua orang itu, tatapan matanya penuh iba akan wanita yang sedang tertindas.
"Apakah aku juga seperti itu saat menyakitinya!?" Xander bertanya dalam hatinya, penuh penyesalan.
Xander melangkahkan kakinya sangat mantap, menuju ke arah Alona dan Alvaro.
-
"Apakah dia orangnya Alona?" Alvaro bertanya, jari telunjuknya ia arahkan ke arah Xander yang sedang berdiri di gerbang utama hotel.
"Jawab!?" teriaknya.
"....!" Kesakitan di kedua pipinya membuat wanita itu sulit berbicara. Bola matanya memerah dan sudah digenangi air mata, siap tumpah kapan pun.
Hati wanita itu sakit, lebih sakit daripada di tusuk pedang tepat di dadanya.
Bola mata Alvaro sudah membesar, memelototi wanita itu. Wajah tampannya berubah merah padam dan di penuhi keringat. "Katakan padaku.... Iya atau bukan! Alona!?"
"Jawab Aku!?"
Alona memegang kedua tangan yang sedang mencekram kedua sisi pipinya. Ia berupaya melonggarkan tekanan tangan di pipinya itu. "Sakit! Varo.... tolong lepaskan tanganmu. Aku mohon....!" Pinta Alona dengan wajah memelas.
"Benar dia, kan!? pria yang meniduri mu!?"
Alvaro melepaskan cengkraman pada pipi Alona, kemudian ia menarik rambut wanita itu, hingga leher Alona terlihat sangat jelas menengadah ke atas. Kepala wanita itu terasa sangat sakit akibat rambutnya ditarik sangat kuat.
Menarik rambut wanita itu, tidak membuatnya jerah. Alvaro lantas mengguncang kan kedua bahu wanita itu, genggaman tangannya sangat erat menekan dan mencengkeramnya.
"Alona!? tatap mata, dan lihat aku." Kata Alvaro saat melihat Alona menutup matanya. "Apakah Kau menjual tubuhmu, pada pria itu? Berapa haragmu aku akan membayarnya!? Katakan!"
Alvaro berteriak lagi. Ia semakin marah!
"Varo.... Aku tidak menjual apapun pada pria itu. Itu tidak benar, aku berani bersumpah padamu!" Dada wanita itu terasa sesak, air mata yang ia tahan kini tumpah membasahi pipinya. Pandangannya menjadi buram akibat terhalang air mata.
"Lalu, Apa yang Kau lakukan bersama pria itu!?, kalau bukan menjual diri!?" Alvaro terus memancing semua kebenaran antara kekasihnya dan pria itu.
"Jawab aku, Alona!?" Kata Alvaro dengan nada yang sedikit gemetar menakutkan.
"Varo...." Alona menagis memegang siku tangan Alvaro. Alona berteriak mengatakan kata-kata yang telah ia tahan sebelumnya, wanita itu lelah selalu dituduh. "Aku tidak akan berbuat demikian!, aku masih punya harga diri Varo."
"Alona, Kau selalu saja menyangkal perbuatanmu. Alvaro menjabarkan semua bukti yang pernah ia lihat. "Foto ciuman di pesta, alat kontrasepsi di tasmu, video Kau memeluknya di depan kampus, tanda merah di lehermu sekarang. Alvaro berteriak, "Aku bisa melihat semuanya Alona!, apa Kau pikir aku buta dan tuli!?"
__ADS_1
Alona menggelengkan kepalanya. Semua kata-kata yang ingin ia ucapkan sudah hilang.
"Apa aku harus melihatmu telan*ang, tidur disamping pria itu. Apakah harus seperti itu bukti yang benar, Alona!?"
"Varo.... Hentikan! aku tidak seperti itu." Alona menagis sejadi-jadinya.
Suara Xander menghentikan semua kata-kata kasar Alvaro pada wanita itu. "Kawan lepaskan wanita itu. Tolong lah, dia wanita ku sekarang....!" Xander memohon.
"...Dan Kau Sayang, Kenapa Kau keluar dari mobil?" Xander bertanya pada wanita itu. "Tidakkah Kau tahu, bahwa aku sangat mengkhawatirkan mu saat pelayan mengatakan sesuatu telah terjadi padamu!?"
"...." Wanita itu masih terdiam, mencoba mencerna segala sesuatu yang telah terjadi padanya.
Alvaro tersenyum menyeringai. Ia melepaskan cengkramannya pada Alona. Pria itu menoleh ke arah Xander. "Bung, apa maksudmu dia wanitamu!?" Alvaro menyelah perkataan Xander. "Aku kekasih wanita ini. Kau tidak ada hak melarang apa yang aku lakukan pada kekasihku sendiri."
"Oh!, Kau kekasihnya!?" Jawab Alexander dengan senyuman menyungging ke sudut kanan atas.
"Bukankah kekasih mu sangat kaya sayang?" Xander bertanya pada Alona, pandangan wajahnya penuh arti tersembunyi. "Tapi, aku bingung kenapa Kau lebih memilihku? Kau menyerahkan dirimu demi uang 10 milyar!"
Alexander menciptakan sebuah drama. Alona tidak pernah menyerahkan uang 10 milyar kepada Alexander. Semua itu hanya untuk memperburuk keadaan antara Alona dan Alvaro.
"Bukankah meminta dengan kekasihmu akan lebih mudah!?" Tanya Alexander dengan menekankan pada kata kekasih untuk mengintimidasi Alvaro.
Alvaro kembali menatap wanita itu, ia mengharapkan sebuah kebenaran. "Apakah selama ini Kau sangat membutuhkan uang Alona!?, aku selalu memberikan segalanya untukmu. Apa itu kurang Alona!? jika Kau membutuhkan uang aku memilikinya. Kenapa Kau lebih memilih jalan seperti ini!?
Alona diam... Bagaimana ia harus menjelaskan pada kekasihnya. Dia tidak pernah menjual diri ataupun melakukan hal yang buruk lainnya. Dia hanya ingin menyelamatkan Kakaknya Alan.
"....!!!" Alona semakin terdiam seribu bahasa, pikirannya sudah hilang. Otaknya berhenti mencerna.
Aku mengingatnya sekarang, "apakah dia kekasihmu yang pernah Kau ceritakan padaku, sayang...!?" Xander kembali bertanya pada Alona.
Pria itu bersedekap. "Tidak memiliki kemampuan menghangatkan ranjangmu, benar kan, Alona!?"
Mendengar tidak mempunyai kemampuan menghangatkan ranjang dari pria itu. Alvaro langsung mengepalkan tangannya dan mengayunkan ke arah Xander. "Kau...!"
Gerakan tubuh Xander sangat cepat menghindari pukulan itu. Ia memegang tangan Alvaro. " Santai... Kawan, tidak perlu tergesa-gesa!"
Alvaro melemparkan sebuah kartu berwarna emas ke arah Xander. "15 milyar! Ambil ini jika Kau menginginkan uangmu kembali. Tolong jangan ganggu kekasihku lagi." Alvaro menarik tangan Alona. Tapi di sisi lain Xander menarik tangan wanita itu hingga jatuh ke pelukannya.
"Uang itu tidak seberapa bagiku kawan. Sebaiknya kau simpan baik-baik untuk melatih kemampuanmu. Lagi pula kekasihmu sudah memberi imbalannya padaku...."
Xander diam-diam berbisik pada Alona, "menurutlah!, jika Kau tidak mau aku mematahkan kedua kaki kekasihmu dan Kakak kesayanganmu."
Alvaro menoleh ke arah Xander. Tatapan matanya tersirat 1000 pertanyaan dari pernyataan terakhir Alexander.
"Apa maksudmu?, ...dengan kekasih ku sudah memberikan imbalan padamu!?
__ADS_1
"Sudah kuduga!, pasti Kau belum tahu." Xander mulai memainkan taktik permainannya. "Aku pria bermurah hati, aku akan memberikan sedikit bocoran padamu. Kekasihmu sangat nikmat, membuat ku selalu lapar! Jika Kau ingin tahu lebih jelas, sebaiknya Kau tanya sendiri pada kekasihmu. Pria sejati tidak akan pernah membocorkan rahasia ranjangnya kepada orang lain."
"Alona....!? Apa yang dikatakan pria itu benar!?" Tanya Alvaro.
Alona hanya menanggis, tidak berani memberikan jawaban apapun.
"Alona!, jangan pernah temui ataupun mengangguku lagi. Aku benar-benar kecewa padamu!" Kata Alvaro dengan suara yang sangat lantang dan menyakitkan hati Alona.
Alvaro pergi berjalan sangat cepat, ia masuk ke dalam mobilnya.
Menyalakan mesin mobil, Alvaro langsung tancap gas meninggalkan Alona bersama pria itu. Pikirannya sudah hilang, ia tidak melihat ke arah jalan di depan. Pria itu mengemudi di jalur yang salah, ia mengemudikan mobilnya berlawanan arah dengan kendaraan lain.
Truk molen datang dari arah berlawanan. Mobil itu sangat kencang. Pengemudi mobil itu sudah membunyikan klakson berulang kali. Tapi tidak ada respon, Alvaro seperti sengaja ingin menabrakkan dirinya ke mobil itu. "Bam!, bam!, bam!" Mobil Alvaro di hantam truk molen itu. Mobil berguling-guling sebanyak 3 kali.
"Tidak!" Alona berteriak .
Alona melihat jelas kejadian itu. Hatinya hancur, badannya lemas seperti ayam tanpa tulang. Dadanya terasa sesak, seperti akan mati.
"Varo!" Alona memanggil nama kekasihnya dengan diiringi suara tangisan.
Alona ingin segera berlari menuju mobil Alvaro. Wanita itu ingin menyelamatkan kekasihnya.
Xander menarik tangan Alona, menghalangi jalannya menuju mobil itu.
"Xander lepaskan aku!," Alona memberontak.
"Varo bertahanlah!, aku tidak bisa melihatmu pergi meninggalkanku." Kata Alona sambil mencoba melepaskan tangan Alexander yang mencoba menghalanginya.
"Alona berhenti!" Xander mengingatkan agar wanita itu tidak mendekati mobil.
"Xander tolong selamatkan dia!" Alona memohon.
Posisi mobil Alvaro seperti mobil pada umumnya saat terakhir berguling.
Mobil itu tidak sepenuhnya hancur, hanya sedikit penyok, di bagian depan mobil. Kaca mobilnya pun masih utuh hanya sedikit retakan.
Terlihat jelas darah keluar dari kepala pria itu. Wajahnya berlumuran darah merah. Alvaro menggerakkan jari tangannya. Ia masih tersadar dan memegang kepalanya.
Bahan bakar terus keluar menetes dari tangki mobil. Percikan api mulai tampak dari kendaraan bagian belakang.
"Xander, mobil itu akan meledak. Tolong selamatkan dia... A-Aku tidak bisa hidup tanpanya."
Alona membungkukkan badannya berlutut pada Xander. Kedua lututnya mengeluarkan darah akibat jatuh di aspal.
"Tolong, tolong, tolong selamat kan dia Xander. Aku mohon padamu." Kata Alona sambil memegang kedua tangan Alexander.
__ADS_1
Wanita itu sudah seperti ayam kehujanan, rambutnya kusut, wajahnya sangat pucat. Badanya bergetar, menggigil kedinginan.
"Xander...."