Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Bukti gigitan serangga atau serigala!?


__ADS_3

Melihat pemandangan indah, tidak ada satupun mata yang akan rela mengedipkan matanya walau hanya satu detikpun.


Bagaimana dengan seorang Wanita!?, jika ia melihat tubuh sempurna milik lawan jenisnya.


Pria bertubuh atletis melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Handuk berwarna putih melingkar di pinggangnya. Rambut pria itu basah, air terus menetes membasahi dada bidang dan otot perutnya, tanpa sehelai kain menutupinya. Tetesan air turun dari rambut basah Xander, tetesan airnya seperti aliran sungai menuju lautan biru. Sangat menggiurkan!


Aku yakin semua mata wanita pasti tergoda dengan pemandangan seperti itu. Tidak terkeculai wanita yang sedang asik memandangi pemandangan indah milik Alexander.


Alona salah satu wanita yang tidak akan berpaling dari pengelihatannya, saat melihat pemandangan indah. Ia tengah asik memandangi tubuh pria itu. Alona sedikit menggigit bibir bagian bawahnya, kepalanya miring kesamping, bola matanya bergerak-gerak melihat dada bidang pria itu. Air liurnya naik turun tidak ada henti-hentinya. Wanita itu seperti anak anjing melihat gambar daging di papan reklame.


"Alona!?" Panggil Alexander.


"Apa yang Kau lihat!? apakah aku terlihat semenarik itu?" Xander menggoda Alona, mata pria itu sedikit naik turun memainkan sepasang bola mata indahnya.


Wajah wanita itu seketika berubah muram.


"Apakah Kau tahu Xander jika mencuri, akan dikenakan hukuman setidaknya lima tahun penjara?" Tanya Alona dengan suara mengancam.


"Maksudmu!?" Xander menjawab Alona dengan nada seadanya.


"Jangan berpura-pura bodoh di depanku, Xander! Aku tahu Kau yang melakukan tindakan tidak terpuji itu." Alona menuduh Xander secara terang-terangan.


"Apakah Kau juga tahu Nona Alona? jika memfitnah orang tanpa bukti akan dikenakan hukuman setidaknya empat tahun penjara?" Ancaman balik Alexander untuk Alona.


"Aku tidak memfitnah mu, semua bukti jelas." Alona menyangkal telah memfitnah Xander. "Kau telah mencuri...." Ia sedikit berteriak namun ia hentikan kata-kata terakhir diujung lidahnya.


Xander menjawab dengan penuh percaya diri, "Aku tidak mencuri sedikitpun dari mu bahkan tidak sehelai rambutpun."


"Xander! beraninya Kau menyangkal perbuatan hinamu itu!" Alona berteriak dengan suara nyaring memenuhi ruang kamar.


Alona mengangkat rambutnya dan memperlihatkan tanda merah di lehernya."Lihat ini! Kau yang melakukannya, kan?"Wanita itu menunjuk Xander menggunakan jari telunjuknya.


Xander menyilangkan tangan di perut kotak-kotaknya. "Apakah Kau yakin bahwa itu Aku?" Tanya Alexander tanpa rasa bersalah.


"Kau bisa melihat bahwa hotel ini dikelilingi hutan, danau, sungai bahkan di depannya ada lautan sangat luas. Hutan lebat akan menjadi sarang serangga, bukan? Jadi, sangat mungkin jika serangga menggigitmu."


Alexander diam sesaat. Ia tersenyum jahat di dalam pikirannya. Ia sangat senang, karena memang dia yang memberikan tanda merah itu.


"Kau tahu aku tertidur sangat lelap, bagaimana aku bisa melakukan itu semua." Xander melayangkan semua pernyataan yang masuk akal untuk menutupi perbuatan kejinya.

__ADS_1


Wanita itu sangat jelas melihat Xander tertidur sangat lelap sebelum ia menyelinap tidur di samping pria itu. Jika dilakukan penyelidikan lebih mendalam, wanita itulah yang patut di salahkan. Wanita itu berani memasuki kandang hewan buas. Wanita itu melakukannya seperti kancil menyeberangi sungai penuh buaya. Tentu saja, Kancil itu akan menjadi santapan yang menggiurkan bagi buaya kelaparan.


"Xander, setidaknya otakku masih jalan. Aku bisa membedakan gigitan serangga dan gigitan serigala sepertimu!" Sangkal Alona.


"Baiklah, jika Kau ingin bukti jelas bahwa bukan aku yang melakukannya. Aku akan menggigit di samping tanda merah itu. Jika memang aku yang melakukannya pasti bekasnya akan sama, bukan?"


"Xander Kau...." Wanita itu mengepalkan tangannya dan *** jari-jari rampingnya, sedikit hentakan kedua kakinya menambah penekanan bahwa ia sangat marah.


Apa bedanya aku dengan pepatah, "sudah jatuh tertimpa tangga." Seperti itulah nasibku di hadapan pria itu. Alona menggerutu di dalam hatinya.


Xander mendekati Alona dan memegang leher gadis itu, ia menjulurkan lidahnya. Sementara Alona memegang dada bidang pria itu. Alona seperti lupa diri saat memandangi dada itu. Hatinya berdebar-debar merasakan sesuatu yang menggelitik di hatinya.


Wanita itu tersadar ketika hawa hangat dan sedikit ber-air hinggap di leher jenjangnya.


"Xander apa yang ingin Kau lakukan!? Hentikan!" Teriaknya marah.


"Bukannya Kau ingin membuktikan bahwa aku atau serangga yang melakukannya, sekarang aku sedang membuktikannya. Jadi, tolong diam dan bekerjasamalah denganku. Jika, kau tidak mau memperburuk keadaan."


Pria itu sangat pandai menutupi semua celah kesalahannya. Ia berdebat dengan wanita itu seperti pengacara kriminal profesional. Tidak ada sedikit keraguan setiap orang yang menyaksikan pernyataannya.


"Xander! Kau benar-benar...." Umpatnya.


Pria itu memperlihatkan foto hasil tangkapannya. "Lihatlah, Nona Alona. gigitanku meninggalkan jejak gigiku, sedangkan yang satunya lagi hanya berwarna merah dan sedikit samar-samar. Kau wanita cerdas, pasti tahu cara membedakannya, bukan?"


Alexander meninggikan suaranya disetiap intonasi yang keluar.


Akan sangat lucu jika Alona kembali menyangkal. Lagipula ia tidak memiliki bukti jelas dan tidak melihatnya secara langsung bahwa pria itu menggigitnya, kecuali, saat pria itu menggigitnya Alona melihat dengan jelas baru bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah.


"Bukankah Aku wanita yang telah di rugikan itu. Lalu, kenapa? seakan-akan aku yang bersalah dan pria itu menjadi korban atas perbuatannya sendiri."Gumam Alona dalam hati.


Pria itu keluar dari kamar ganti dan melemparkan handuk basah tepat di wajah Alona yang sedang berdiri mematung.


"Apakah Kau akan menjadi patung sovenir di kamar ini? Cepatlah! aku sudah lapar! kita akan turun sekarang." Xander meneriaki wanita itu dengan nada sedikit tinggi dan tidak sabar.


Alona menuruti saja perkataan pria itu, ia sudah tidak tahan menahan laparnya akibat makan malam hanya sedikit. Makan malam itu, semua tersaji serba mewah dan menggiurkan lidahnya. Tapi, melihat pria yang selalu menggodanya wanita itu tidak berselera untuk makan. Ia hanya memakan tiga sendok dari semua hidangan, selebihnya wanita itu hanya mengaduk-aduk makanan itu.


Hari sabtu, hari libur bagi penduduk kota. Dimana semua tempat rekreasi akan ramai pengunjung. Tidak terkecuali dengan hotel Cempaka. Entah kenapa hari ini semua reservasi restoran ruang khusus semua penuh. Akhirnya Xander memutuskan memasuki restoran padat pengunjung dan terlihat sedikit mengantri di daftar tunggu meja.


Menunggu memang sesuatu yang sanagt membosankan, akhirnya kedua pasangan itu memutusakan mengunjungi pantai terlebih dahulu. Pesanan makan akan disaiapkan tiga puluh menit kemudian.

__ADS_1


Menikmati deburan ombak di penghujung minggu, tentunya, akan sangat menggembirakan. Terlebih telah menghabisakan waktu siang dan malam untuk bekerja, liburan ke pantai pastilah sangat mengasikan bersama pasangan dan keluarga.


Seorang lelaki berperawakan kecil, diperkirakan umurnya sudah memasuki usia lanjut. Pria itu datang menghampiri Xander dan Alona yang tengah serius menatap ke arah lautan biru. Terdengar suara cukup samar dan sedikit menyedihkan, "Tuan dan Nona bolehkah saya mengambil gambar kalian. Anakku sedang sakit di rumah, aku membutuhkan uang untuk membeli obat dan makan. Aku akan memberikan diskon jika kalian tidak keberatan."


Xander sempat merenung sebentar, "apakah tempat se-elite ini masih ada sewa jasa seperti ini?" Tapi semua pikirannya ia buang jauh-jauh. Toh ini cuma berfoto saja, ia merasa tidak akan dirugikan. Membuang sedikit uang saja tidak masalah baginya. Tidak akan mengikis harta kekayaannya saat ini.


"Baiklah, Bapak Tua. Saya bersedia," Xander menjawab fotografer keliling itu dengan senyum ramahnya. "Tolong buat foto menarik saya dan istri saya, jika Kau berhasil, saya akan membayarmu 2 kali lipat dari harga biasanya."


Xander cukup bermurah hati. Pria itu telah menyiapkan siasatnya pada Alona.


Mendengar kata istri Alona sedikit kaget. Ia ingin berbicara menyangkal pernyataan itu, tapi ia hentikan. Tidak ada gunanya berdebat dengan pria itu untuk saat ini. "Istri!, mengucapkan janji suci saja belum" Alona berbicara di dalam hatinya dan tersenyum menyeringgai.


"Istriku, kemarilah sayang." Xander memanggil Alona untuk mendekat di sampingnya. "Kau harus terlihat cantik dengan senyumanmu saat di foto. Benar kan Pak Tua!?" Xander meminta dukungan dari fotografer itu.


"Iya Nona. Mendekatlah kemari!, tidak usah malu. Aku sudah profesional dengan pekerjaanku." Jawab bapak tua itu.


Alona mendekati Xander dan memulai pengngambilan gambar itu.


Awalnya semua berjalan lancar, sebelum Xander berulah. Pria itu memeluk dan mencium bibirnya dengan sangat intim. Pria itu juga bahkan memperlihatkan tanda merah di leher dan menciuminya pada saat pengambilan gambar terakhir.


Hampir semua pengunjung pantai memperhatikan sesi pemotretan itu. Alona dan Xander terlihat seperti model majalah pria dewasa, bukan suami istri. Tak ayal, banyak yang mengabadikan foto mereka berdua.


*****


Apartemen Dewa Agung.


Alvaro masih bersedih dengan keadaannya. Mamanya masih menengkan hati anaknya yang sedang sedih.


"Ma, bantu aku. Agar Alona mau menikah dengan ku sekarang. Aku tidak mau dia pergi meninggalkan ku, Ma."Kata Alvaro memohon.


Mamanya tersenyum, "Nak pernikahan tidak semudah itu. Kau harus menyiapkan mental, jika Kau seperti ini terus bagaimana nasib rumah tangga mu nanti. Mama tidak mau Kau terluka dan kecewa. Mama akan membantumu meyakinkan Alona bahwa Kau sangat mencintainya."


"Sungguh, Ma!?" Alvaro langsung tersenyum bersemangat.


Mamanya Alvaro mencolek hidung Alvaro dan berkata lemah lembut meyakinkan putra semata wayangnya.


"Iya. Sayang. Mama akan menemuinya besok."


"Janji ya Ma." Alvaro mencium pipi Mamanya dan memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2