
Setelah mengungkap kehamilan Alona. Alvaro pergi ke kampusnya Alona. Ia mengambil semua data-data Alona dan mencabut nama Alona sebagai peserta kuliah.
Ketika selesai Alvaro pulang ke rumahnya di Yellow Residence. Saat tiba, Alvaro menyerahkan kertas itu pada Alona. "Apa?!" Alona tersentak kaget. "Varo apa maksud dengan semua ini? jelaskan padaku!"
"Sayang dengarkan aku. Kita akan segera mempunyai baby tentu kamu harus meninggalkan kuliah mu, kan?Aku ingin kamu fokus menjaga bayi kita, itu saja!" ungkap Alvaro memberikan penjelasan.
"Varo kau tidak ada hak memutuskan semuanya, ini tentang hidupku! Kenapa Kau melakukan itu tanpa persetujuanku?"
"Alona sudahlah. Aku juga sudah lulus dan memiliki perusahaan sendiri. Untuk apa lagi kamu meneruskan kuliah itu? Aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu Sayang...."
"Varo!" Alona berteriak dan menarik kera baju Alvaro. "Bukan masalah kamu bisa memenuhi semua kebutuhhanku tapi aku juga ingin menyelesaikan kuliah ku Alvaro!"
Alvaro memeluk Alona untuk menenangkan wanita itu. "Sayang jaga emosimu. Jangan lupa ada bayi di perutmu. Aku mohon mengerti kali ini saja."
"Varo aku bisa mengerti jika kau hanya mengambil cuti untukku. Tapi lihat kau menarik dataku, itu artinya aku keluar dari kampus itu Alvaro."
"Alona masalah itu nanti kita pikirkan lagi. Kamu bisa melanjutkan kuliah setelah bayi kita lahir."
Alona melemparkan kertas itu ke hadapan Alvaro hingga berhamburan di lantai. "Pergi! aku mau sendiri!"
"Oke, oke, Sayang..., aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu. Ingat besok hari pertunangan kita. Jangan terlalu banyak pikiran. Nanti kamu terlihat jelek," Kata Alvaro mencoba memecah perselisihan.
Alona menaggis sendirian di dalam kamar. Ia harus pergi hari ini juga. Alona menghapus air matanya dan bersiap-siap pergi. Alona sudah siap ingin pergi lewat pintu belakang. Alona mengenakan baju tidur agar penjaga dan asisten rumah tidak curiga. Sementara tas kecilnya ia masukan di kantung celananya yang besar. Alona berpura-pura akan memetik bunga mawarnya di belakang rumah. Saat itulah ia kan menyelinap pergi lewat jalan kecil di belakang rumah.
Siapa sangka saat ia mau keluar pintu kamarnya sudah di jaga ketat oleh penjaga keamanan Adi. Penjaga Adi sudah berdiri di depan pintu semenjak Alvaro keluar kamar.
Penjaga Adi mengikuti kemana saja Alona melangkahkan kakinya, ke dapur, ke taman, ke luar rumah. Alona geram dan kembali ke kamarnya. "Kesempatan untuknya pergi sangat tipis. Bagaimana ini? aku harus cepat keluar!" Kata Alona sambil meremas-remas jari jemarinya duduk di sofa sudut kamar menghadap ke luar jendela.
******
Amor mendengar desas-desus bahwa pertunangan Alona dan Alvaro akan di laksanakan besok pagi di Golden Hotel.
Mendengar kabar itu membuat amarahnya meradang. Terlebih ia sudah mendapatkan konfirmasi dari Diana langsung membuatnya semakin menjadi gila. "Alona rupanya kau tidak jera dengan peringatanku!"
Amor mengeluarkan ponselnya dan segera memerintahkan seseorang untuk mencetak fotonya dengan Alvaro sedang berciuman bibir di rumah sakit. Tidak lupa pula ia memindahkan sebuah video panasnya bersama Alvaro dalam bentuk DVD. Video itu di ambil Amor pada saat ia menjaga Alvaro ketika Alona dan Diana membeli cincin pertunangan. Saat itu, selain memberi Alvaro obat tidur ia juga menambahkan obat kuat di dalamnya. Dosisnya sedikit tapi cukup untuk membangkitkan gairah bercinta. "Alona semua itu hadiah untukmu!" Kata Amor tersenyum jahat.
__ADS_1
Tidak berselang lama sebuah paket beramplop coklat sampai di rumah. Bi Asih datang mengetuk pintu kamar. "Nona Alona, ada kiriman untukmu Non."
Alona membuka pintu dan mengambil paket itu. Secara kasar Alona langsung membuka amplopnya. Foto berhamburan keluar sementara DVD msih terbungkus di dalam.
Alona tertawa getir saat melihat isinya. Meskipun sudah tidak ada rasa cinta dengan Alvaro, air mata tetap saja ingin keluar. Karena saat itu ia masih mencintai Alvaro. Melihat kaset yang tersisa, Alona mengerutkan alisnya. Alona sudah tahu pasti itu rekaman jejak Alvaro dan Amor lagi. Alona membiarkan kaset itu itu tertutup rapat dan menyimpannya untuk barang bukti.
Alona termenung cukup lama. Melihat amplop coklat di tangannya ia terbesit sebuah ide. "Undangan pertunanganku!" Alona mengambil satu sisa undangan di atas meja. Setelah itu Alona merobek kalender meja bulan may. Semua kalender bulan mei tanggal satu pasti tertulis may day dan berwarna merah. Alona melingkari tanggal itu. Alona memasukkan kalender ke dalam undangan yang sudah di bungkus plastik. Dengan seperti itu pasti orang yang menerimanya akan tahu tujuannya mengirim undangan.
Alona sudah memikirkan rencananya dengan matang. Jika ia mengirim surat meminta bantuan secara terang-terangan sudah pasti surat itu tidak akan di kirimkan. Alona mengirim undangan itu ke Xander. Meskipun tidak berharap banyak, ia tetap mencobanya.
*****
Keesokan harinya....
Ballroom Golden Hotel lantai 5. Semua sudut ruangan di hias sangat mewah dan berkelas.
Alunan musik mengemah ke seluruh penjuru ruangan.
Tamu undangan satu persatu memasuki ruangan dan duduk di meja masing-masing yang telah di sediakan sesuai nama tertulis.
Tiba saatnya memasuki acar puncak. Berdiri Alvaro dan Alona di atas panggung. Semua lampu di matikan dan beralih ke lampu sorot di atas kepala Alona dan Alvaro.
Momen pemasangan cincin segera akan di mulai. Suara pembawa acara memulai rangkaian kata dengan indahnya.
Alona mulai cemas menunggu pertolongan dari siapapun. "Xander apa kau akan datang menolongku!" tanya Alona dalam hati.
Perasaan cemas kian tinggi. Keringat dingin mulai menghiasi kening Alona. Di hadapan para tamu undangan Alona tetap memaksakan tersenyum dalam hati yang getir.
Sepasang cincin berlian sudah dikeluarkan dari kotaknya. Diana tersenyum membawa kotak itu.
Alvaro melantunkan kata-katanya. "Alona, hari ini, aku Alvaro sebagai pria ingin melamarmu."
Suara sorakan dari tamu undangan tidak terbendung. Tepuk tangan kian tidak terkendai. Semua tamu undangan bergembira kecuali Amor yang sedang duduk di sudut ruangan. "Alona, wanita ******! Aku biarkan Kamu memiliki pertunangan ini, tapi tidak untuk pernikahan," umpatnya dalam hati sambil tersenyum sinis menatap ke arah Alona dan Alvaro.
Alvaro memegang tangan kiri Alona dan tangan kanannya memegang cincin. Pembawa Acara membantu memegang mikrofon di samping Alvaro.
__ADS_1
"Alona sayang..., bersediakah Kau menjadi istriku?"
Alona mengalihkan pandangannya ke arah tamu mencoba mencari sosok seseorang yang bisa menyelamatkannya.
Dari pandangan tamu undangan, tatapn Alona di salah artikan. Mereka mengira bahwa Alona ingin meminta pendapat mereka seperti di drama televisi. Tamu undangan seketika berteriak di ikuti tepuk tangan. "Terima! terima! terima!"
Melihat suarh antusias tamu undangan Alona tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah Alvaro. Lalu detik berikutnya ia menganggukan kepalanya secara terpaksa namun tetap dengan sikap anggun.
Tepat saat Alvaro akan memasukkan cincin ke jari tangan Alona. Semua lampu mati. Ruangan menjadi gelap tanpa cahaya sedikitpun. Cincin yang akan di pasangkan ke jari Alona ikut terjatuh. Cincin itu jatuh berdenting sebelum suarnya benar-benar hilang.
Ketika kegelapan menguasi ruangan itu, datang sosok seorang pria menarik tangan Alona. Gerakannya lembut dan hangat. Dengan kegaduhan dan suara riuh dari tamu undangan membuat semua orang fokus pada diri masing-masing. Tidak ada yang tahu jika Alona ditarik seseorang keluar dari ruangan itu.
Alona tidak menolak tarikan dari pria itu. Alona seperti terbawa suasana. Sebuah kesempatan untuk melarikan diri. Mungkin ini keajaiban baginya untuk mendapatkan kebebasan.
Sampai pada ujung ruangan. Alona di bawa masuk ke dalam lift. Ruangan di lift itu juga ikut gelap tanpa cahaya. "Alona tolak lamaran pria itu!" ucap pria yang menarik tangan Alona ke dalam lift. Pria itu menekan Alona ke dinding lift yang terasa dingin.
"Siapa Kamu?!" Tanya Alona ngeri.
"Aku seseorang yang mencintaimu," kata pria itu.
"Siapa?!" tanya Alona lagi. "Jangan bermain-main denganku!"
"Apa Pria ini Alexander?" tanya Alona dalam hati. "Tapi, wangi parfumnya tidak seperti biasanya. Selain itu, dia juga menggunakan sarung tangan. Aku tidak bisa menebaknya. Suaranya juga tidak sama dengan Xander?!"
Alona semakin ngeri seperti keluar dari kandang harimau masuk mulut buaya.
Dengan napas yang memburu pria itu menekan Alona semakin dalam. "Alona, Sayang.... Aku menginginkanmu!" Kata pria itu.
"Kamu!" Alona kaget tidak percaya.
"Ya. Ini aku!" kata pria itu dengan sikap gagahnya.
#BTW saya juga buat cerita baru di sini, judulnya Mawar hitam sang Melati. Boleh di baca juga, sudah ada sekitar 18 bab dan masih on going....
Dan, untuk DTS ini ada sekitar 95 bab, artinya sebentar lagi akan selesai....
__ADS_1
Terima kasih yang sudah menyukai cerita ini. See you next chapter😘🙏