Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kepulangan Alvaro


__ADS_3

Setelah terjadi keributan di rumah itu Diana menghela nafas panjang lalu berkata sekaligus memberikan perintah. "Bibi Asih tolong awasi Alona selama di rumah. Aku akan pulang sekarang. Pastikan dia tidak keluar rumah ini."


Bibi Asih mengangukan kepalanya. "Baik Nyonya. Aku akan mengawasinya."


Amor bangkit dari sofa. Dengan elegan ia juga mengatakan. "Bibi Asih aku akan pulang bersama tante Diana. Tolong jaga calon istri temanku." Amor mengeluarkan kartu debit dari dalam tasnya dan menempelkan kartu itu ketika ia bersalaman dengan Bibi Asih. Amor berpura-pura memeluk Bibi Asih agar tidak ketahuan oleh Diana. "Terima kasih atas kerja samanya. Pinnya 234432. Ingat untuk selalu memberikan informasi apapun tentang wanita itu." Setelah memeluk Bibi Asih Amor menepuk punggungnya dan tersenyum seperti memperlihatkan kasih sayang. Dan Diana merasa sangat menyukai ketika Amor memeluk asistennya karena sikapnya yang tidak merendahkan orang lain.


Setelah Diana pulang Bibi Asih pergi ke atas berpura-pura menghibur Alona. Ia mengetuk pintu kamar sebelum masuk. "Nona ini aku Bibi Asih. Tolong buka pintunya."


Alona menjawab dari dalam. "Bibi aku ingin istirahat. Jangan ganggu aku."


Bibi Asih turn lalu tersenyum menatap kartu debitnya. "234432, iya itu pinnya. Aku akan mengingatkannya." Bibi Asih memeluk kartu itu dan memasukkannya ke saku celananya.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang ketika Xander bangun. Kejadian semalam di tambah pagi hari membuatnya lelah hingga tertidur sampai siang hari. Ia meraba-raba di samping tempat tidurnya. Hanya ada kasur yang terasa dingin. "Kemana dia? kemana Alona?" Xander memicingkan matanya. Alona sudah pergi meninggalkannya sendirian di kamar.


Sore ini ia ada meeting dengan klien di restoran Three M. Xander bangun dengan perasaan malas. Pria itu turun dari kasurnya dan mandi. Setelah itu ia bersiap-siap pergi. Sebelum meeting dengan klien Xander pergi ke golden hotel terlebih dahulu untuk mengambil file di kantornya. Saat tiba semua mata memandang aneh ke arahnya.


"Selamat sore Tuan" Penjaga pintu mengucapkan salam dengan tatapan membingungkan.


'Selamat sore Tuan" Staf yang sedang lewat menatapnya dengan tatapan yang sama.


Xander mengernyitkan alisnya kala orang memandangnya dengan tatapan tidak biasa.


Xander berpikir. "Apa aku salah kostum atau resleting celanaku terbuka!?"Tanyanya dalam hati.


Sekretaris Rudy baru saja keluar dari lift langsung menyambut Tuannya yang sedang berjalan ke arahnya. Rudy berjalan dengan langkah besar. "Tuan, selamat sore." Kata sekretaris Rudy dengan membungkukkan badannya.


Sebagai sekretaris, Rudy harus memiliki ketelitian yang tinggi, terutama memperhatikan penampilan bos-nya. Mata Rudy menangkap mata karyawan yang sedang memperhatikan bos-nya. Senyum Rudy tertahan saat mengetahui apa yang sedang di perhatikan orang-orang. "Tuan" Kata Rudy ingin mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah pada penampilan Tuannya.


"Hem..." Xander menjawab dengan wajah tanpa ekspresi. "Ada apa!?"


"Maaf Tuan. Sepertinya Tuan harus melihat sendiri. Aku tidak berani mengatakannya." Rudy mengeluarkan ponselnya dengan layar kamera depan menyalah, lalu mengarahkan ke depan Xander.


Mata Xander bergerak menangkap gambar di layar ponsel. Matanya berubah menjadi gelap saat menatap lehernya. Buru-buru ia masuk ke dalam lift. "Alona!!!" Teriaknya dalam hati, sedikit kesal namun hatinya ingin meloncat karena senang. Tangan Xander memegang lehernya. Wajahnya berubah merah dan sedikit berkeringat. "Kenapa aku tidak memperhatikan bahwa leherku habis di makan oleh wanita itu."


Kebetulan hari ini ia mengenakan kaos oblong berwarna biru di padukan dengan celana jeans dengan warna senada sehingga bekas ciuman itu sangat nyata terlihat setiap mata memandang ke arahnya. Tidak di sangka bahwa baju itu malah membuatnya malu. Xander memang berniat mengganti baju formal di kamar hotel sekaligus kantornya karena baju kerjanya di rumah belum selesai di laundry.


Semua karyawan di hotel tertawa saat bos-nya pergi memasuki lift. Anita juga tidak bisa menahan tawanya. "Bos dan kekasihnya bermain sampai siang. Apa tenaga Nona Alona sangat kuat. Aku bisa menebak bos pasti kalah bertarung di ranjang." Kata Anita bersemangat sambil tersenyum.


Sementara penjaga keamanan dan staf tertawa kecil. Lalu suara riuh gemuruh terdengar di seluruh ruangan itu. "Pantas saja bos tidak datang ke kantor pagi ini. Rupanya dia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya."


Lain lagi dengan petugas kebersihan berjumlah tiga orang di dekat pintu utama hotel. Mereka juga sibuk membicarakan bos-nya. Satu diantaranya memberikan pertanyaan berupa lelucon. "Apa kalian bisa menebak berapa kali bos kita melakukan aksinya!?" Kedua orang di sampingnya menjawab dengan kegembiraan. "Aku yakin lebih dari 3 kali." Kata pria bertopi hitam "Tidak!, aku yakin lebih dari itu. Kau bisa lihat bukan ciuman itu penuh menyelimuti seluruh lehernya." Kata petugas kebersihan yang mengajukan pertanyaan.


Karena ada urusan penting Rudy tidak mengikuti Xander ke atas. Pria itu merasa geram melihat kekacauan di ruangan itu. Ia khawatir para tamu akan merasa terganggu dan memandang bos-nya rendah. Rudy dengan cepat memerintahkan kepada semua karyawan yang sedang berkumpul. "Bubar-bubar. Apa kalian tidak takut aku memberi tahu Tuan bahwa kalin membicarakannya di belakang."


Semua karyawan bubur dalam sekejap. Situasi kembali hening seperti semula.

__ADS_1


*****


Setelah meeting dengan klien Xander berhasil menyepakati sebuah kontrak pembangunan hotel baru di Kota B. Pria itu memutuskan untuk pergi selama 3 minggu ke kota B untuk melakukan pengecekan lokasi dan urusan lainnya.


*****


Dua minggu kemudian. Yellow Residence....


Selama Alvaro pergi Alona tinggal di rumah menanti Alvaro pulang. Rumah megah terasa bagaikan di penjara. Alona tidak bebas ingin pergi keluar. Lima penjaga keamanan sudah ditugaskan mengawasinya selama 24 jam nonstop.


Alvaro di perkirakan akan pulang besok pagi. Alona kembali bersemangat, jiwanya seperti memancarkan aura positif.


Saat itu, hari sudah malam. "Varo, aku merindukanmu." Alona memiringkan badannya dan tertidur lelap di kasurnya menanti kepulangan Alvaro.


Pagi hari, matahari masuk melalui celah tirai yang sedikit tersibak karena angin yang berhembus dari pentilasi ruangan.


Alvaro berjalan stapak demi setapak. Meskipun lama, namun langkahnya sudah bisa seimbang. Alvaro berjalan memasuki kamar Alona.


Ketika ia sampai Alvaro duduk di pinggir kasur memandang Alona yang sedang tidur nyenyak. Ia membelai rambut Alona lalu turun ke pipi. Kemudian ia membaringkan badannya dan memeluk Alona dari belakang.


Wangi parfum Alvaro berhembus memasuki hidung Alona. Dalam tidurnya ia bermimpi. Alvaro memeluknya dengan hangat.


"Alona aku kembali sayang...." Suara Alvaro lembut namun sedikit berat. Meskipun ada hal yang mengganjal tetap saja hatinya selalu mencintai wanita itu. Entah cobaan apalagi yang menimpa hubungannya dengan Alona. Hatinya kembali bergejolak emosi mengingat foto yang dikirimkan nomor yang tidak di kenal. Foto Alona sedang digendong Xander menuju parkir mobil di restoran Three M. Bukan itu saja, Alona juga pergi dengan Michael malam saat ia pergi keluar negeri.


Alona terbangun dari tidurnya. Ia tidak bermimpi, Alvaro benar-benar telah pulang dan memeluknya. " Sayang..., kapan kau pulang?" Tanya Alona.


Alona membalikkan badannya menghadap Alvaro lalu bertanya. "Sayang apa kakimu sudah sembuh?"


Alvaro kembali diam. Detik berikutnya, Alvaro menjambak rambut Alona. " Apa yang Kau lakukan selama aku pergi Alona!?"


Alona sudah menduga pasti Amor sudah menyalakan api kompor pada Alvaro. "Sayang..., aku bisa menjelaskannya." Kata Alona dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang bisa kamu jelaskan padaku Alona!?" Alvaro berteriak.


"Varo, aku memang pergi dengan Michael tapi benar dia cuma sebatas teman saja tidak lebih."


Lalu bagaimana dengan pria lain Alona!!


Alona mengerti maksud Alvaro. Pria lain itu Xander. "Varo-," Alona terdiam.


"Tidak bisa jawab, kan?"


Mata Alvaro semakin hitam. "Katakan apa yang terjadi Alona!?"


"Varo---"


Alvaro sudah tersulut emosi. Tangannya tanpa sadar menarik rambut Alona hingga rasanya mau putus. Kemudian tangannya menekan leher Alona.

__ADS_1


"Alvaro!!!, hentikan!. Semua tubuhku memang sudah tidak sempurna tapi bukan berarti kau bisa menginjak-injak harga diriku. Aku juga Lelah seperti ini. Kau selalu muda marah dan meledak-ledak. Apa kamu juga tidak pernah memikirkan perasaan ku." Kata Alona sambil memandang Alvaro dengan wajah sendu.


"Lalu aku harus bagimana menghadapimu Alona!? Kau selalu bermain curang di belakangku"


"Alvaro kau selalu mempercayai temanmu bukan. Sebuah hubungan harus juga di landasi saling percaya. Kau selalu percaya dengan Amor sementara dengan ku kau selalu acuh. Lebih baik kita putus Varo"


"Jedar!!!" Badan Alvaro diam membeku. Ia seperti tersambar petir saat kata putus memenuhi gendang telinganya. "Alona!!! apa hakmu meminta putus dariku?, Kau tidak akan bisa putus dari ku, jangan pernah bermimpi! untuk meninggalkanku Alona. Alvaro berteriak dan menarik rambut wanita itu lagi. Tarikannya semakin kuat.


"Varo lepaskan rambutku. Sakit!!!" Air mata Alona menetes, ia tidak tahan lagi menahan rasa sakit dari rambutnya yang seperti dicabut secara paksa. "Apa yang harus kita pertahankan dari hubungan ini, Varo?"


"Katakan!!!" Alona berteriak tepat di wajah Alvaro. "Aku berharap Kau sembuh dan bisa menikah denganmu, tapi apa kau malah menyakitiku."


Alona terisak menagis."Varo, mungkin kita tidak di takdirkan bersama. Lepaskan aku!!!"


Alona menendang Alvaro dan berlari turun ke bawah.


"Alona!!!" Teriak Alvaro. "Jangan pergi. Kembali Kau Alona!, aku akan mematahkan kedua kakaimu jika Kau berani keluar."


Mata Alona menjadi kabur di penuhi air mata. Kaki Alona dengan cepat menuruni anak tangga. "Aku tidak mau lagi denganmu Varo" Teriak Alona menyahut kata-kata Alvaro dari atas yang mencoba menghentikan langkahnya.


"Penjaga!!!" Alvaro berteriak dari lantai atas. "Hentikan wanita itu. Jangan biarkan dia pergi dari rumah ini."


Kelima penjaga dengan sigap menghalangi langkah kaki Alona. "Minggir kalian semua. Aku ingin keluar." Kata Alona sambil mengarahakan tangannya ke arah penjaga keamanan.


"Tangkap dia" Perintah Alvaro.


"Nona, tolong jangan mempersulit pekerjaan kami." Kata pimpinan penjaga keamanan yang bertubuh kekar dan menyeramkan.


"Aku ingin pergi. Kalian tidak akan pernah bisa menghalangiku." Kata Alona dengan menagis tersedu-sedu.


Alvaro turun dari tangga. "Jangan biarkan dia pergi. Aku akan membuat kalian menyesal jika wanita itu pergi." Ucap Alvaro memberi peringatan.


Alona terduduk di lantai. Ia tidak bisa berkutik sedikitpun. Tubuhnya sudah lemas karena ia tidak makan sejak kemarin. Akhirnya tubuh Alona tidak kuat lagi, badannya jatuh terkulai lemas di lantai.


"Alona aku mohon. Jangan pergi dariku." Kata Alvaro menyesal.


"...." Hanya suara tangisan Alona yang terdengar di permukaan lantai.


Alvaro menarik tubuh Alona dan memangku kepala Alona di lantai. "Alona sayang..., maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengatakan itu padamu. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya padamu tadi. Jangan pergi dariku ya...."


Alvaro mengangkat kepala Alona dan memeluknya. "Bibi Asih, Bibi...." Alvaro memanggil Bibi Asih. "Bi tolong bantu aku mengangkat Alona ke sofa.


" Iya Tuan." Bibi Asih berlari dari dapur menuju ruang tamu.


Tubuh Alona di pindahkan ke sofa panjang di ruangan tamu. Alona benar-benar sudah kehilangan tenaganya. Kepala Alona di pangku di atas paha Alvaro. "Sayang...." Alvaro membelai rambut Alona dan merapihkan rambutnya. Belaiannya sangat lembut. "Bi, tolong buatkan Alona bubur ayam dengan santan kelapa ya. Badannya panas.


Alvaro mengeluarkan ponselnya dan menelpon dokter keluarganya. "Dokter Raisa tolong ke rumahku sekarang di yellow residence. Aku akan mengirimkan alamatnya."

__ADS_1


__ADS_2