Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Waktu berlalu sangat cepat


__ADS_3

7 bulan kemudian....


Waktu berlalu sangat cepat, seperti ombak tsunami menerjang tepi pantai hingga ke pemukiman warga.


Tanpa terasa waktu persalinan Alona semakin dekat. Dokter Risma sudah memprediksikan bahwa Alona akan melahirkan sekitar satu minggu kedepan.


Berdasarkan hasil pemeriksaan USG, Alona mengandung bayi kembar lima. Dengan keadaan seperti itu, mengharuskan Alona melahirkan di rumah sakit berfasilitas medis lengkap dan transportasi lancar. Jika sesuatu diluar dugaan terjadi bisa langsung ditangani.


Semua itu tidak tersedia di west flores. Sedangkan Michael tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan adiknya, apalagi kelima keponakannya.


Berhubungan dengan itu, Michael memutusakan memindahkan Alona dari west flores ke rumah sakit Gunawan hospital di kota J. Michael memindahkan Alona bukan karena tanpa alasan. Semua itu diputuskan karena keadaan Alona yang memaksa.


Semua alat medis itu tentu bisa didatangkan ke west flores. Hal itu sangat gampang bagi Michael yang memiliki kekayaan sangat berlimpah di tambah kekayaan Alexander dan Alan.


Namun ada alasan lain, kenapa Michael memutusakan untuk memindahkan Alona ke kota J. Ada sebuah misi yang sangat penting di balik pemindahan Alona. Misi itu sangat rahasia hingga orang yang mengetahuinya saja tidak bisa mengatakannya secara terang-terangan.


Alona dan Michael tiba di pintu masuk rumah sakit Gunawan hospital. Alona berjalan bergandengan tangan dengan Kakaknya, Michael. Sedangkan Dokter Risma dan Bibi Ani berjalan mengikuti Alona dan Michael di belakang.


"Kak Michael di mana suamiku, Alexander? aku hampir satu bulan tidak bertemu dengannya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? apa ada hal lain yang kalian tutupi dariku?"


Alona bertanya pada Kakanya sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


"Alona tenanglah. Suamimu sedang sibuk mempersiapkan waktu cuti untuk kamu melahirkan. Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Itu bisa mempengaruhi kesehatan keponakanku." Jawab Michael.


"Tapi kak---?"


Alona menekuk kening lalu cemberut. Ia sangat penasaran dimana keberadaan suaminya. Selain itu, Dia juga sangat merindukannya.


"Alona...." Selah Michael. "Ada Kakak yang menjagamu di sini. Jangan membuat suamimu kahwatir."


"Kak apa benar aku akan tinggal di rumah sakit ini sampai aku melahirkan? Menurut Kakak? tidakkah semua ini terlalu berlebihan?" Tanya Alona mengalihkan pembicaraan sebelumnya.


"Sayang, dengarkan Kakak. Kami bertiga sangat menyayangi mu, oke. Kami tidak ingin terjadi sesuatu yang bisa membahayakan keselamatan mu dan kelima keponakanku." Jawab Michael meyakinkan Alona sambil mengusap kepalanya.


"Nyonya Alona selamat datang."


Perawat Chintya mengucapkan salam pada Alona saat wanita itu tiba. Chintya sudah menunggu di depan gedung rumah sakit khusus VVIP. "Silahkan masuk." Ucapnya sambil tersenyum ramah dan membuka pintu utama gedung VVIP.


Alona akan di tempatkan di ruang VVIP bagian barat rumah sakit. Ruang rawat itu, terpisah dari bangunan lain rumah sakit. Fasilitasnya lengkap dan pengawasannya lebih ketat daripada ruangan lain.


"Terima kasih." Jawab Alona.


Perawat Chintya berjalan memasuki ruangan itu. Ia menyalakan lampu dan merapikan tempat tidur. "Nyonya Alona, kami sudah menyiapkan semuanya. Nyonya boleh istirahat terlebih dahulu, berbaring di atas kasur menunggu Dokter Hilman datang melakukan pemeriksaan seluruh kesehatan Nyonya Alona sebelum melakukan operasi Caesar. Dokter Hilman yang akan bertugas melakukan operasi caesar untuk Nyonya Alona."


Perawat Chintya menjelaskan semuanya kemudian berpamitan pergi. Dia hanya bertugas menyambut pasien.


"Alona Sayang. Ingat pesan Kakak, Kamu harus kuat, oke. Kakak tidak bisa memaafkan diri Kakak sendiri jika kamu dalam bahaya." Ucap Michael sambil memegang tangan adiknya yang tengah tidur di atas ranjang pasien menunggu pemeriksaan.


Meskipun hamil Alona tetap energik. Dia tidak kesulitan untuk bergerak seperti ibu hamil lainnya. Hanya saja saat ini dia tidak boleh terlalu banyak gerak untuk mengurangi resiko kontraksi di dalam rahim.


"Kakak jangan khawatir. Aku pasti mampu melewati semuanya. Aku tidak takut dengan operasi Caesar asalkan Kakak menemaniku di ruang operasi." Jawab Alona meyakinkan.


Berita keberadaan Alona di rumah sakit Gunawan hospital dengan cepat menyebar keseluruh informan Davis Moyes. Dia sangat cekatan dalam bertindak!


"Emm, perintahkan semuanya untuk segera menculik wanita itu. Aku tidak peduli dia ada di ruangan mana." Perintah Davis Moyes lewat sambungan telepon.


"Baik Bos." Jawab pria bertopi hitam di luar gedung rumah sakit. "Kami akan melakukan misi malam ini, sesuai perintah Bos." Ucapnya sangat yakin.


Malam sudah tiba. Alona tidur sendirian di kamar rumah sakit. Dia tidur sangat nyenyak setelah makan malam.


Hanya ada dua orang penjaga keamanan yang berjaga di depan pintu kamar. Kedua pria itu berperawakan tinggi besar dan sangat gagah. Wajahnya terlihat sangat serius tanpa ekspresi. Kulitnya berwarna sawo matang.


Bibi Ani pergi ke supermarket untuk membeli segala kebutuhan di rumah sakit selama Alona di rawat.

__ADS_1


Sementara Dokter Risma sedang istirahat, tidur di kamar sebelahnya. Dia juga tertidur sangat nyenyak setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan.


Michael pergi ke taman rumah sakit. Dia sedang ingin menikmati udara malam di taman rumah sakit itu. Michael sudah lama tidak pergi ke rumah sakit Gunawan hospital. Bisa di katakan tidak pernah sama sekali setelah ia pergi ke luar negeri. Dia ingin mengenang masa kecilnya ketika ayahnya masih hidup. Ayahnya sangat sering mengajaknya bermain di taman rumah sakit. Semua memori bahagia itu seperti terulang kembali.


Alaram di ponsel Michael berbunyi sangat nyaring. Dia segera berlari menuju kamar adiknya di rawat. "Alona, dia dalam bahaya." Kata Michael dalam hati.


Michael berlari sangat cepat. Napasnya terengah-engah. Dia menopangkan kedua tangan di lututnya saat sampai di depan kamar Alona. Dilihatnya kedua penjaga keamanan sudah terbaring di lantai.


"Tidak!" Michael menggelengkan kepalanya. "Mereka tidak mungkin menculik Alona, Kan?"


Michael langsung saja berlari masuk ke dalam kamar Alona. Di atas kasur hanya ada selimut kusut dan berantakn. Tidak ada sosok adiknya Alona. "Bi cepat pulang. Mereka sudah menculik Alona. Tolong beritahu semuanya. Aku akan mencari Alona sekarang. Aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini." Ucap Michael menjelaskan lewat sambungan telponnya dengan Bi Ani.


"Iya Tuan. Aku akan menjalankan semuanya berdasarkan perintah Tuan Michael."


Setelah kejadian itu, Michael segera berlari ke ruang pemantau keamanan. Dia melihat hasil rekaman CCTV di ruangan tempat Alona dirawat.


Michael tidak menduga bahwa pergerakan Davis Moyes sangat cepat. Semua sudah terjadi di luar dugaannya.


Sisi lainnya....


Mata Alona di tutup menggunakan kain berwarna hitam. Sedangkan kedua tangannya terikat kebelakang, seperti seorang penjahat saat di tangkap dalam operasi penangkapan.


"Bos, kami sudah membawanya." Kata seorang pria yang bertopeng hitam, berdiri di belakang Alona.


Davis Moyes sedang duduk di kursinya. Ia kemudian membuka matanya melihat seorang wanita hamil di depannya. Davis berjalan menghampiri Alona. Ketika sampai di depan Alona, ia secara perlahan membuka penutup mata Alona.


"Kau memang sangat cantik!" Kata Davis memuji kecantikan Alona. Ia kemudian mengangkat dagu Alona menghadap ke arahnya. "Akhirnya aku bisa melihat kekasih adikku?"


"Apa yang Kau inginkan?!" tanya Alona langsung ke intinya.


"Sabar Sayang!" Jawab Davis dengan tatapan sarkastik sambil membelai rambut Alona yang terurai.


"Katakan dan cepat lepaskan aku sebelum Kau menyesal!" Alona memberi peringatan keras kepada Davis Moyes.


Davis sudah membangun dark heaven jauh dari kehidupan kota walaupun tempatnya di pertengahan kota. Dari luar, rumah itu di desain seperti rumah kosong tanpa penghuni, mirip rumah hantu. Catnya berwarna putih kusam dan ada bercak-bercak kekuningan. Dinding luarnya di tumbuhi rumput liar, menjalar sampai ke atap rumah.


"Oh! Ya." Jawab Alona menantang. "Tapi sayangnya, Kau sekarang sudah mengatakannya kepada semua orang."


"Benarkah?! apa ini yang Kau maksud?"


Davis Moyes menyibakkan rambut di balik telingga Alona. Ia memperlihatkan benda berukuran kecil itu. Benda itu berfungsi untuk merekam pembicaraan dan memberikan informasi keberadaan Alona.


"Kau tidak bisa membawa benda ini Nona. Aku sudah mengetahui semuanya, sebelum Kau tiba di kediamanku. Dan Benda ini sudah tidak berfungsi lagi, karena aku sudah memblokir nya. Kau pikir aku bodoh?"


Alona diam menundukkan kepalanya. Dia tidak takut, hanya saja dia sedang memikirkan cara lain untuk keluar dari ruangan itu.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini." Ancam Davis Moyes. " Kau tidak akan pernah bisa pergi! Kau sudah menjadi milikku. Adikku Alvaro tidak pantas untukmu." Katanya sangat yakin seperti penguasa alam beserta isinya.


"Aku rasa Kita tidak punya masalah apapun. Kenapa Kau menculikku?" tanya Alona sambil menatap tajam ke arah Davis Moyes.


"Ibuku menyuruhku menculikmu dan ingin Kau kembali bersama anak kesayangannya Alvaro. Melihat Kau sangat cantik, aku pikir Kau lebih cocok dengan ku. Masalah anak yang Kau kandung tidak masalah bagiku. Aku bisa menjadi ayah yang baik untuk anakmu. Lagipula dia anaknya adikku, bukan?!" tanya Davis yakin.


Alona tertawa mencemooh Davis. "Darimana Kau tahu jika ini adalah anak dari adikmu. Dia anakku dengan suamiku bukan anak adikmu!" Bantah Alona mulai murka.


"Bawa wanita ini ke dalam kamarnya." Perintah Davis Moyes karena sudah kesal dengan omong kosong Alona.


Alona tidak melakukan perlawanan. Ia lebih baik menuruti aturan sebelum bantuan datang. Dia tidak ingin semua misinya gagal, hanya karena luapan emosi sesaat.


Keesokan harinya....


Hari sudah menjelang siang. Alan duduk di kursinya di ruang persidangan Diana. Ia menunggu detik-detik keputusan hakim.


Setelah melewati serangkaian persidangan yang pelik dan rumit Diana dinyatakan bersalah. Wanita itu mendapatkan hukuman penjara seumur hidup, sesuai dari tuntutan jaksa penuntut umum.

__ADS_1


Persidangan berakhir cukup dramatis. Diana membuat keributan karena tidak terima dengan keputusan hakim. Dia ingin mengajukan banding lewat bantuan pengacaranya.


Sementara Alan tersenyum lebar saat mendengar putusan hakim. Dia mendapatkan keadilan untuk kedua orangtuanya.


Setelah sidang berakhir Diana akan dipindahkan ke rumah tahanan khusus wanita.


Mobil tahanan polisi sudah menunggu di halaman parkir.


Diana digiring masuk ke dalam mobil tahanan.


"Lepasakan aku!" Teriak Diana pada petugas kepolisian.


Diana masih belum bisa menerima keputusan hakim yang memberinya hukuman penjara seumur hidup.


Polisi sudah bersiap siaga mengamankan setiap persimpangan jalan yang akan di lalui mobil polisi yang membawa Diana ke rumah tahanan bukit derita.


Satu hari sebelum Diana mendengar keputusan hakim. Ia di kunjungi tangan kanan Davis Moyes. Pria itu memberi tahu di mana Diana harus bersiap-siap menyelamatkan dirinya.


Alan masuk ke dalam mobilnya. Dia ikut mengikuti mobil yang membawa Diana.


"Alexander bagaimana keadaan Alona. Apa kalian sudah menemukan keberadaannya?" Tanya Alan lewat sambungan telepon.


"Belum, Kak. Aku masih melacak posisi terakhir GPS yang di pasang di tubuh Alona."


"Hubungi Michael. Aku sedang mengurus


target satu. Aku sudah siap meluncur." Alan mengakhiri panggilan teleponnya.


"Kak Michael..., cek posisi." Kata Alexander lewat panggilan teleponnya.


"Aku sudah siap dengan targetku. Apa kau sudah menemukan titik terang keberadaan Alona?" Tanya Michael.


"Rekaman terakhir GPS berada di jalan raya utara perempatan jalan menuju barat Kota J." Jawab Alexander.


"Sebaiknya Kau awasi saja rekaman CCTV di seluruh jalanan. Kau bantu saja Alan. Aku akan melacak keberadaan Alona. Aku sudah memasang chip di lipatan kakinya. Chip itu tidak akan terdeteksi oleh penjahat manapun kecuali dia pernah bergabung di agen detektif BBC. Aku akan meminta bantuan temanku. Kau tidak usah khawatir, aku yakin pasti bisa menemukannya." Kata Michael membagi tugasnya.


*****


Jalan raya terlihat lengah seperti tanpa penghuni. Seluruh jalanan sudah di lakukan rekayasa lalu lintas.


Diana duduk di antara petugas polisi yang ikut mengantarnya. Wanita itu menundukkan kepalanya, tangannya terasa dingin dan sedikit gemetar. Ia mengepalkan tangannya bersiap-siap untuk melancarkan aksinya. Diana menarik napas berat saat mobil yang membawanya sudah memasuki jalanan yang telah ditetapkan sebagai tempat bantuan yang akan membawanya pergi kabur dari tahanan.


Dua mobil hitam melaju kencang dari arah kiri jalan. Mobil itu datang dari jalanan sempit.


"Bam!"


Mobil polisi yang membawa Diana di hantam dari arah samping penumpang di bagian paling depan. Seketika petugas polisi langsung menghambur keluar dari mobil. Diana memanfaatkan kejadian itu untuk keluar dan masuk ke dalam mobil yang berada tepat di belakangnya.


Alan dari kejauhan 10 meter langsung mengikuti laju kendaraan mobil yang membawa Diana. Dia segera tersambung ke pusat bantuan. "Diana sudah masuk ke dalam mobil. Lakukan sesuai rencana B" Perintah Alan.


Mobil Diana melaju sangat cepat. Ada seorang sopir handal yang mengendari mobil itu. "Pasang sabuk pengaman mu." Perintah sopir pada Diana. " Aku akan melajukan mobil sampai ke lapangan bagian timur gedung Perkantoran transmigrasi, setelah itu aku akan keluar dan Kau bisa pergi menuju rumah kosong di bukit duri. Tuan sudah menyiapkan helikopter untukmu kabur dari kota ini. Pastikan setelah ini Kau tidak menampakan wajahmu di kota J. Bila itu terjadi Tuan David Moyes tidak akan segan-segan memenggal kepalamu."


Sopir David Moyes memberikan peringatan keras pada Diana.


"Aku sudah mengerti. Katakan padanya untuk memberikan bantuan pada anaknya di penjara bambu kuning. Bagaimanapun dia anaknya. Alvaro anaknya David Moyes!"


"Kau tidak usah khawatir. Tuan sudah menagani semua masalah itu." Ucap sang sopir.


"Alexander! Diana sudah keluar dari jalur pantauan CCTV di jalan raya. Pastikan drone-mu berfungsi. Awasi kemana mobilnya melaju. Petugas polisi sudah mengejarnya. Kau pastikan untuk mengirim video pada mereka."


"Sudah ku lakukan. Kakak tenang saja. Dia tidak akan bisa kabur dari kota ini. Kita hanya perlu mengetahui siapa orang yang selalu mendukung Diana selama ini. Aku yakin dia yang sudah menghancurkan keluarga ku. Diana tidak akan punya kemampuan tak terkalahkan untuk menghancurkan seluruh keluargaku. Dia dibalik semua fitnah yang telah ditebarkan antara keluarga Utama dan Raharaja." Jawab Alexander dengan kemarahan yang memuncak.


"Aku pikir juga seperti itu. Mari kita tuntaskan semuanya secara bersama-sama." Ajak Alan dengan semangat berapi-api.

__ADS_1


__ADS_2