
Padang rumput yang hijau, banyak bunga-bunga sedang bermekaran dan ada juga yang sudah mulai layu karena mekar lebih awal. Burung di atas berterbangan kesana kemari hinggap di antara rerantingan pohon, daun-daun ikut berjatuhan di terpa angin musim panas.
Kuda putih dan pria bertopi gaya Cowboy sedang asyik melewati padang rumput yang tumbuh subur di atas bukit yang tidak terlalu tinggi. Terik matahari dengan sangat setia menemani pria itu menunggang kudanya.
Kemeja kotak-kotak dan syal yang melingkar di lehernya menambah kesan maskulin pada pria itu. Ia mengenakan jeans berwarna biru dan sepatu boots berwarna coklat muda. Raut wajah pria itu terpancar aura hangat dan penyayang, senyumannya sangat manis seperti permen Lollipop.
Mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga dan buket bunga mawar merah ia pegang di tangan bagian sebelah kirinya. Tatapan matanya lurus ke arah wanita yang sedang asik bermain dengan kelincinya. Wanita itu mengenakan gaun berwarna putih sampai mata kaki, kerah bajunya berbentuk huruf V dan tanpa lengan. Pria itu melambaikan tangan pada wanita itu.
"Sayang...!"
Wanita itu tersenyum melihat kekasihnya datang. Cahaya matahari yang sedang berada di puncak kepalanya membuat ia memicingkan mata untuk memperjelas pengelihatannya.
"Kau...! bagimana Kau bisa tahu kalau aku berada disini?"
"Hatiku dan hatimu terhubung jadi satu, tentu saja aku bisa tahu dimanapun kau berada!"
Wanita itu tesenyum tersipu malu oleh rayuan kekasihnya, meskipun rayuannya tergolong klasik tapi cukup membuat hatinya berdebar-debar seperti ingin melompat keluar dari sangkarnya.
Pria itu turun dari kuda putihnya, ia kemudian memasangkan mahkota bunga itu di atas kepala kekasihnya. Gerakannya perlahan tapi pasti, ia berlutut di hadapan wanita itu.
"Sayang....!"
Kau tentu tahu bahwa darah itu tidak akan berhenti mengalir sampai pemiliknya mati!?
Seperti itulah cintaku padamu, tidak akan berhenti sampai aku mati.
"Sayang...!
Kau tentu tahu bahwa matahari selalu memberikan cahaya dan kehangatan!?
Seperti itulah cintamu padaku, selalu memberikan cahaya dan kehangatan di jiwaku yang hampa, sunyi, dan sepi.
"Sayang....!"
Kau tentu tahu bahwa bunga mekar terlihat cantik dan memesona!?
Seperti itulah Kau di mataku, cantik dan memesona.
"Sayang....!"
Kau tentu tahu alasan tuhan menciptakan makhluk-nya berpasang-pasangan!?
Pria itu diam sejenak dari sajak-sajaknya yang terlihat kaku namun cukup untuk mengungkapkan maksud dan tujuan nya pada wanita itu.
"Bersediakah Kau menjadikanku sebagai pasanganmu, seperti alasan tuhan menciptakannya?"
"Sayang....!"
__ADS_1
"Bersediakah Kau memulai hidup dan mengakhirinya bersamaku!?"
Pria itu memberikan buket bunga mawar merah pada wanita itu. ia meraba-raba saku celana bagian kananya untuk mengambil cincin yang telah ia pesan khusus untuk kekasihnya itu.
"Sayang...!"
Maukah Kau menikah denganku sekali dan selamanya?
Wanita itu menundukkan kepalanya, senyum simpul diwajanya sangat terlihat jelas dari kerutan di keningnya. Tubuhnya sedikit bergoyang-goyang menyeimbangkan perasaannya. Ia seperti akan terjatuh di terpa angin.
Wanita itu menjawab dengan nada yang sedikit terbata-bata menahan rasa haru di dadanya. Perasaan wanita itu bercampur aduk menjadi satu. Senang, sedih, tawa dan tangis seperti menjadi rasa yang sama. Rasa bahagia!
"I-iya...! Aku bersedia dan jadikanlah aku satu-satunya."
Pria dan wanita itu saling berpelukan mengungkapkan kebahagiaannya.
Air mata tanpa terasa menetes di wajah wanita itu.
"Sayang...!, jangan menagis."
"Sayang hari ini aku ingin menghabisakan waktuku hanya bersamamu."
"Sudikah kiranya tuan putri menemaniku menunggang kuda ini, untuk melihat pemandangan yang begitu indah!?" Akan sayang jika kita melewatkannya!.
"Baiklah pangeran...!, Aku bersedia menemanimu kemana saja Kau mau."
Pria dan wanita itu seperti memerankan kisah klasik percintaan antar tuan putri dan pangeran. Mereka memerankanya dengan sangat sempurna.
Kuda putih berjalan secara perlahan menyusuri tepi bukit yang memiliki panorama indah seperti di dunia khayalan. Kuda itu seperti mengerti bahwa yang menungganginya ialah sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta.
Pria itu duduk di atas kuda putih, ia terlihat gagah dan berani, ia seperti seorang pangeran yang sedang bertugas menjaga tuan putrinya. Sedangkan wanita itu duduk miring, kedua kakinya yang jenjang duduk menyerong menjuntai ke arah kiri. Kepalanya ia sandarkan ke dada bidang pria itu.
Tangan yang berotot dengan ikhlas menyanggah kepala wanita itu agar tidak terjatuh.
Pohon yang rindang dengan bunga-bunganya yang indah sedikit menari melambai-lambai tertiup angin sepoi-sepoi.
Angin berlari-lari kecil menyapu rumput-rumput ilalang yang tinggi menjulang.
__ADS_1
Terpaan angin di bawah pohon menjadikan sepasng kekasih itu seperti lukisan 3 dimensi, sangat nyata.
Panorama indah itu, terlihat kontras dengan kecantikan dan ketampanan sepasang kekasih itu.
Kuda putih itu berhenti di bawah pohon rindang dengan bunga-bunga yang mulai bersemi, memperlihatakn keindahn warna dan kelopaknya. Warna bunga itu terlihat mirip dengan bunga sakura. Kuda itu berhenti untuk melepas lelah mendaki puncak bukit.
Kelopak bunga berguguran di terpa angin sore yang sedikit kencang. Kelopak bunga itu berjatuhan tepat di atas kepala sepasang kekasih itu, seperti memberikan ucapan selamat atas pertunangan mereka.
Pria dan wanita itu seperti duduk diatas kursi taman yang panjang di bawah pohon yang rindang. Mereka menutup matanya merasakan tiupan angin, tiupan angin itu seperti pil tidur yang membuat mata semakin mengantuk. Kicauan burung seperti dongeng penghantar tidur yang membawah ketenagan.
"Dor...!"
Terdengar suara tembakan dari arah belakang Wanita itu. Ia tersadar dari tidur ayamnya. Wanita itu melihat kekasihnya tertembak tepat di dadanya.
"Tidak!"
Pria itu sudah terkulai memeluk wanita itu. Sudah tidak ada kesadarannya.
Dua orang pria menyeret wanita itu secara paksa melepaskan dari pelukan pria itu. Wajah kedua pria itu beringas, tatapan wajahnya mematikan.
"Tidak...!" Lepaskan Aku, siapa kalian?
Kedua pria itu menyeret dengan paksa wanita itu masuk ke dalam mobil.
"Buk...!"
"Aaakh" Wanita itu meringis kesakitan di lemparkan ke dalam mobil secara paksa, kepalanya menabarak dada seorang laki-laki. Laki-laki itu kemudian menjambak rambut wanita itu dan memulai konfrontasi verbalnya.
"Sudah sering ku katakan padamu, jangan bermain api denganku!. Kau akan menderita!"
"Lebih menyakitkan dan lebih mendrita dari pada kematian!"
"Lepaskan aku, siapa Kau? Aku tidak menggenalmu!"
"Lihatlah!"
"Kau akan melihat sendiri kematian kekasihmu itu!"
Kedua pria itu menyeret paksa kekasih wanita itu. Pria itu belum mati tapi ia sedang menanti kematinnya, ia sedang sekarat.
__ADS_1
Wanita itu melihat kesakitan yang dirasakan oleh kekasihnya. Pria itu melambaikan tangannya ke arahnya, seperti mengucapkan salam perpisahan.