Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Berhentilah menjadi kucing kecil yang lucu


__ADS_3

"Xander menjauhlah dari ku!"


Alona memberi peringatan pada pria itu.


Xander yang telah bertelanjang dada, naik ke atas kasur mendekati Alona.


Pria itu tersenyum melihat Alona yang sudah ketakutan. Ia membaringkan tubuhnya di hadapan Alona, posisinya miring tangan kirinya ia topangkan ke kepalanya. Sedangkan tangan kanannya ia arahkan ke arah wanita itu, jari telunjuknya ia gerakan seperti memanggil anjing peliharannya , Allgeo. Ia berbicara pada Alona.


"Alona, kemarilah sayang. Aku akan bermain lembut, tidak seperti kemarin."


"...." Badan Alona sudah terasa kaku seperti membeku di dalam freezer akibat ketakutan luar biasa.


Pria itu mendekatinya, semakin dekat hingga tidak ada jarak diantara keduanya.


Bibir pria itu sedikit menyentuh bibir Alona. Tangan kanannya sudah menarik rambut Alona dan sedikit menekuk tengkuknya ke bagian atas. Ia berbisik pada wanita itu.


"Kau pikir aku tertarik padamu. Kau salah sayang!"


"...." Yang benar saja, dia terus mengatakan bahwa dia tidak menyukaiku. Tapi melihat tingkahnya yang cabul itu, setiap saat selalu mengambil keuntunggan dariku. Sangat menjijikan! Aku ingin memukul kepalanya agar otaknya kembali normal. Gerutu Alona dalam hatinya.


Pria itu memperjelas ucapannya dan menekankan bahwa ia tidak bermain-main.


"Lebih dari itu, Aku sangat menginginkannya. Sangat-sangat sangat menginginkannya!"


Xander menekankan kata sangat-sangat menginginkannya untuk membuat wanita itu semakin takut.


"Kau bisa lihat sendiri, Kan!? Adikku sudah bangun dari tadi. Alona apakah Kau tega melihat adikku menderita, sayang?"


Bibir wanita itu sudah berubah warna menjadi biru. Giginya bergemeletuk seperti kedinginan. Wajahnya memerah, jari-jemarinya mengecil. Ia merasakan ketakutannya seperti menjalar ke setiap ujung-ujung urat yang ada ditubuhnya


Ha...,ha..., ha...,ha..., ha....


Xander tertawa melihat Alona yang sangat ketakutan.


"Alona apakah Kau begitu bodoh? Aku tidak menginginkan mu.Tapi, jika kau tidak mau menjadi pasangn menariku malam ini, mungkin aku akan melakukannya sekarang.


Aku memiliki gaya yang bermacam-macam. Tentu itu tidak akan mebuatmu bosan."


Gaya A....


Gaya B....


Gaya C....


Gaya D-Z....


"Aku rasa gaya an*ing sedang populer saat ini." Xander menopangkan kedua tangan di dagunya. Ia memainkan mata genitnya, seperti bola mata boneka yang bergerak-gerak. Ia tertawa kecil dan sesekali mengoyangkan kepalanya.


"Xander! Kau sungguh keterlaluan!"

__ADS_1


"Iya, Aku akui memang aku sedikit keterlaluan. Tapi aku tetap menjadi lelaki yang baik hati, bukan?"


"Oh! Haruskah kita melakukan pemanasan, sayang!?" Ia meraih dagu Alona dan menatap wajahnya.


Sorot mata pria itu membuat Alona seperti akan mati membeku. Ia tidak mau meliaht langsung matanya yang seperti iblis. Menakutkan!


Cepatlah mandi dan ganti bajumu, Sekarang!.


"60 menit harus siap atau Kau tahu sendiri apa akibat yang akan terjadi jika aku marah! Bukankah begitu, Nona Alona?"


"Aku tidak suka dengan penolakan ataupun interupsi!"


Pria itu pergi keluar kamar meninggalkan Alona sendirian. Ia sedikit membanting pintu, membuat badan Alona sedikit bergetar.


Lima menit berlalu, dua orang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar.


Wanita paruh baya itu membawa koper berwarna hitam serta gaun berwarna merah darah.


Melihat Alona yang masih duduk meringkuk. Wanita paruh baya itu mengingatkannya.


"Nona, tolong bekerjasama lah dengan kami." Kami akan memandikanmu secara paksa jika Kau masih seperti itu.


Alona berdiri dan segera bangkit dari kasur. Ia menuruti permintaan kedua Wanita itu. Ia bergegas masuk ke kamar mandi.


Tersadar, dari rasa takutnya. Alona sedikit meneteskan air mata dan menarik napasnya. Hidungnya seperti tersumbat, ia tidak bisa bernapas dengan leluasa.


Alona berdiri di depan wastafel dan melihat ke kaca. Ia melihat dirinya yang sangat menyedihkan. Ia sedikit menarik rambutnya dan menutup mukanya menggunakan kedua tanganya.


Aku tidak menjadi aku yang dulu saat bertemu dengannya!


Aku bukan aku yang dulu, polos?


Sudahlah itu bukan diriku lagi.


Aku bukan aku yang dulu, cerdas?


Sudahlah itu tidak berfungsi dihadapannya.


Aku yang dulu sudah mati ditelan bumi.


Air hangat terasa menyegarkan saat ia mencuci wajahnya. Mengepalkan tangan dan menarik napas, ia menceburkan dirinya ke dalam air di bathtub. Air itu membashi semua badanya yang terasa kaku.


Alona jika Kau seperti ini terus!?


Sampai kapan Kau akan di permainkan olehnya!?


Bangunlah, jika dia serigala setidaknya kau bisa jadi singa atau harimau.


Berhentilah menjadi kucing kecil yang lucu.

__ADS_1


"Tok, tok, tok," pintu kamar mandi di ketuk dari luar.


"Nona apakah Kau sudah selesai?"


"Iya. Aku akan segera keluar Bi."


Lihatlah serigala Aku akan menjadi singa yang mematikan!


Alona segera keluar dari kamar mandi dan pergi menemui kedua wanita itu. Ia masih mengenakan handuk kimono berwarna putih. Handuk itu dengan cepat menyerap semua air yang tersisa di tubuhnya.


Kedua Wanita paruh baya itu segera menghampiri Alona. Tatapan wajahnya sama seperti bosnya, sombong dan angkuh. Mereka menarik Alona ke arah meja rias di sudut ruangan dan memberikan gaun merah kepada-nya.


Alona merasa bingung, menatap gaun malam yang cantik itu. Ia tidak mengerti maksud dari wanita yang memberikan gaun itu padanya.


"Cepat Kau ganti baju mu, atau kami akan menelanjangi mu disini!"


"...." Sepertinya memang aku dianggap boneka mainan anak-anak. Bos dan bawahnya sama saja. Lihat saja, suatu saat nanti kalian akan berlutut di kakiku! Wajah Alona terlihat seperti boneka chucky "Good Guy" saat dia marah, lucu tapi menyeramkan.


Alona meraih gaun yang mengambang di tangan wanita itu. Ia meraihnya dengan cepat dan pergi ke kamar ganti.


"Tak...tik...tuk...tak...tik...tuk...." Bunyi jam terus berputar.


"Nona apakah kami menyuruhmu tidur di dalam? Kau membuat kami lama menunggu."


"Iya, iya Aku akan segera keluar. Crewet sekali mereka berdua, memangnya mereka majikanku apa!?"


Kesal dan gondok, perasaan Alona tidak pernah bahagia di rumah Xander. Ia seperti tahanan perang, diperlakukan seperti budak dan tidak ada harga diri apalagi kehormatan.


Jangankan bahagia, keamanan juga tidak ada untuknya.


Wanita yang mencepol rambutnya memperkenalkan diri kepada Alona. Raut wajahnya masih sama, judes dan jutek. Lalat atau nyamuk pun tidak akan sudi hinggap di wajahnya.


"Perkenalkan namaku Stella dan ini adikku Selly." Ia sedikit berbasa basi menyapa Alona.


Stella memasukan pin di kopernya. Ia membuka peralatan makeup nya dengan sangat kasar. Ia memulai memoles wajah Alona dengan sangat cepat seperti tidak bernapas.


Selly menyalakan mesin pengering rambut dan mengeringkan rambut Alona secepat kilat. Tangannya sangat cekatan menata rambut Alona. Keriting gantung dan sedikit berglombang di tengah menjadikan Alona seperti selebriti paling top saat ini.


"Tak...tak...tak...." Terdengar suara kaki melangkah menuju kamar utama.


Seorang wanita berambut pirang berjalan menuju kamar utama di lantai dua. Langkah kakinya anggun seperti seekor kucing. Sorot matanya tajam dan menenangkan. Matanya bulat dan terang, bola matanya hitam berkilauan. Tubunya ramping proporsional. Raut wajahnya ramah dan menyenangkan.


Wanita itu mengetuk pintu.


"Hai, apakah Aku mengganggu? Maaf Aku sedikit terlambat.


Selly, "...!!!"


Stella, "...!!!"

__ADS_1


Alona, "...!!!"


__ADS_2