Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Ingkar janji!


__ADS_3

Rasanya Xander belum lama meninggalkan Alona ke lantai atas. Ponselnya tidak henti-hentinya berdering.


Notifikasi pesan masuk silih berganti seperti antrian di pom bensin.


Xander membuka ponselnya dengan rasa enggan menyelimutinya. Ia sedikit memicingkan mata saat layar ponselnya menyala terang.


Bibi Rubah...!?, Xander mengerutkan keningnya ketika menerima pesan dari Diana. Hanya saja ia merasa sangat bahagia saat menerima pesan itu.


Xander tersenyum menatap gambar dirinya dan Alona di ambil. Foto itu memperlihatkan ia tengah mencium pipi Alona di dalam restoran hotel saat ia tiba pertama kalinya. Entah apa maksud Bibinya mengirimnya foto berulang kali dengan gaya yang sama. Marahkah!?, aku rasa tidak, bodoh yang sangat benar. Xander mengejek Bibinya.


"Oh!,harusnya aku mengganti saja profesiku menjadi seorang aktor. Tentu aku akan sangat terkenal. Bila di lihat-lihat tampangku tidak kalah dengan pemain film luar negeri itu" Xander tersenyum bersemangat sambil melihat wajahnya di kaca besar ruangan tamu kamarnya. "Kemana aku pergi selalu saja diikuti oleh Bibiku sendiri. Dia bukan Bibi lagi tapi paparazzi." Xander meralat ucapannya.


"Oh tidak!, ternyata aku terlalu percaya diri." Xander menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin Bibiku mengawasiku sampai seperti ini. Rupanya Bibi Rubah sudah sangat protektif dengan calon menantunya. Baiklah aku akan mengikuti permainannya" Xander semakin semangat mengatur siasat.


Xander mengabaikan pesan gambar itu, ia tidak menanggapi Bibinya Diana yang sedang marah. Xander hanya mengunduh dan menyimpan foto itu di file pribadinya untuk tambahan koleksi, katanya. "Tidak buruk juga hasil foto paparazzi yang di sewa Bibiku. Semua terlihat jelas dan sangat nyata. Aku menyukainya. Alona kekasihku sekarang." Xander memutuskan tanpa pengakuan.


Setelah berpikir cukup lama dengan mempertimbangkan segala yang akan terjadi Xander tersenyum palsu mengatur siasat barunya.


Xander segera menelepon sekretaris Rudy. "Rudy perintahkan semua petugas keamanan untuk tidak memperbolehkan taxi online ataupun konvensional keluar masuk hotel tanpa pemeriksaan menyeluruh. Jangan biarkan mereka masuk atau keluar jika menjemput wanita yang ada di foto. Aku akan mengirim fotonya segera!" Xander memerintah memanfaatkan segala kekuasaannya.


Diana geram tidak mendapatkan tanggapan atas pesan gambar yang telah ia kirim untuk Xander. Ia memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat pada Xander. "Apa maksudmu dengan foto itu? apa Kau ingin ingkar janji?"


Xander tersenyum menyeringgai. "Bibi terima kasih sudah memberikan foto yang begitu cantik. Harusnya bibi pajang saja foto itu saat acara pernikahan sepupuku nanti. Terima kasih juga sudah memberiku bukti baru." Xander tertawa lepas dengan penuh kemenangan saat memikirkan itu.


Otak Diana memanas seperti terbakar cahaya matahari. " Xander berhentilah berulah!" Diana kembali mengancam. "Apa Kau tidak takut. adikmu---?"


"Tidak!" Xander meneguhkan keyakinannya. "Dia sudah dewasa. Cepat atau lambat dia akan tahu dan aku sendiri yang akan memberi tahunya. Jadi, Bibi tidak perlu repot-repot memberitahunya."


"Kau sangat percaya diri. Apakah Kau sangat yakin bisa mengatasinya!?" Diana memperjelas ancamannya.


"Yakin!" Xander mengatakannya lantang. "Tapi, aku tidak yakin dengan anak Bibi. Bisa bertahan hidup atau mati jika ia tahu bahwa kekasihnya aku rebut!?"

__ADS_1


....,Satu lagi bukankah kemarin sepupuku memang ingin bunuh diri?. Aku turut perihatin Bibi. Tapi, semoga itu terjadi nyata dan terulang lagi.


Diana geram dan kembali mengancam. "Xander, jangan melewati batas kesabaranku!"


"Aku tidak peduli!" Xander mengakhiri SMS itu.


Sejak 20 menit lalu Alona menunggu taxi yang sudah ia pesan. Ia terus menunggu di depan pintu utama hotel. Wanita itu sudah gelisah, dari duduk di kursi tunggu, berdiri, duduk lagi. Entah sudah berapa kali ia melakukannya berulang kali. Mobil yang ia pesan selalu saja membatalkan pesanannya dengan berbagai macam alasan tidak jelas. Sore ini ia harus kembali ke rumah sakit menemani Alvaro. Tiba-tiba mobil berwarna hitam berhenti di hadapannya. "Masuk!" Xander memerintah Alona untuk segera masuk. Alona berpura-pura tidak melihat dan mengabaikan Xander. "Alona apa aku harus menggendongmu agar Kau masuk." Alona tetap dengan pendiriannya, ia hanya diam dan menghembuskan nafasnya pelan. Xander membanting pintu mobilnya lalu ia keluar. Melihat tatapan mata Xander yang menakutkan dengan langkah kakinya yang seperti akan membunuhnya. Alona merasa takut dan segera pergi menuju pintu mobil sebelum pria itu benar-benar menggendongnya. Tentu saja sangat memalukan jika itu terjadi.


"Tolong antar aku ke rumah sakit," Alona memohon." Setelah itu, Alona hanya diam selama di mobil, begitupun Xander tidak mengatakan apapun. Alona tidak kuat lagi menahan kantuknya akibat seharian menjaga Alvaro di rumah sakit. Ia tertidur nyenyak dengan damai tanpa memikirkan beban apapun.


Xander memutuskan pergi ke rumah lamanya tidak mengantarkan Alona ke rumah sakit. Jarak tempuh Kota J ke kota D cukup lama, diperlukan waktu 2 jam dengan menggunakan jalan bebas hambatan.


Rumah lamanya tidak pernah ia jual. Meskipun ibunya sudah memberi izin untuk menjual rumah itu. Xander bertahan hidup menggunakan deposito miliknya.Ia baru menyadari memiliki deposito di bank cukup besar setelah ia di tolok berulang kali saat mencari pekerjaan. Hal itu ia dapatkan dari uang saku sekolahnya. Ketika dulu ia masih sekolah ibunya selalu memberinya uang saku yang berlimpah mungkin bila di belikan barang ia bisa membeli mobil tiap bulannya. Hanya saja jiwa enterpreneurnya sudah tertanam sejak ia kecil tidak suka menghambur-hamburkan uang. Sebagian uang jajannya ia belikan saham di perusahaan kecil dengan potensial keuangan yang kuat dan terus maju. Selebihnya ia tabung di bank menjadi deposito. Semua ia daftarkan atas nama ibunya dan ibunya sangat membantu untuk itu.


Sejak kematian ayah, ibu, dan kakaknya. Xander mengirim adiknya Miller pergi bersekolah ke luar negeri. Ia tidak mau adiknya putus sekolah seperti dirinya sendiri. Luar negeri pilihan tepat karena tidak akan ada yang tahu identitas adiknya.


Sementara adiknya bersekolah Xander sibuk berjualan. Menjual barang apapun yang bisa ia jual. Awal kisah suksesnya menjadi seorang pengusaha pemilik hotel terbesar di kota J dan telah terintergrasi dengan beberapa cabang hotel lainnya berawal dari nekat. Ia menyusun sebuah proposal usaha. Ia memberanikan diri menemui pengusaha kaya yang sudah tua dan rentah untuk mengajukan proposalnya. Dalam waktu tiga tahun ia telah melampaui target titik impas pengembalian modal usaha yang awalnya di perkirakan lima tahun, hal ini tentu lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Sehingga ia sudah terbebas dari hutangnya dan bisa leluasa mengendalikan usahanya sendiri.


*****


"Kau sudah bangun?" Xander berjalan dari luar kamar ke arah Alona.


"Emm...." Alona mengganggukan kepalanya tanpa ekspresi apapun diwajahnya "Kau membawaku ke mana Xander?, lalu kamar ini kamar siapa?"


"Jangan khawatir, ini kamar Kakakku, aku sedang merindukannya."


"Kenapa Kau tidak mengantarkan ku ke rumah sakit?, sudah ku katakan aku ingin ke sana." Alona mulai emosi.


"Apakah aku terlihat bodoh, bagaimana bisa aku mengantarmu untuk berduan bersama pria lain." Xander cemburu. "Alona saat ini aku kekasihmu. Jadi aku tidak akan mengizinkan Kau bersama pria lain."


Alona tertawa terbahak-bahak sampai busungnya terasa sakit menahan tawa yang tidak tertahankan, "Xander sejak kapan aku menjadi kekasihmu?" Alona menunjuk mukanya sendiri menggunakan jari telunjuknya yang ramping.

__ADS_1


"Sejak saat ini Alona sayang...!" Xander mengertakan giginya karena marah.


Alona terdiam menggigit bibir bawahnya. Melihat mata Xander berubah seperti mata ular tidak berkedip terus melotot membuat bulu kuduknya bergidik ngeri.


Apa yang harus aku lakukan. Apa aku membuat kesalahan lagi?, Alona terdiam untuk sesaat. Lalu ia memanggil pria itu namun tetap dengan kecanggungan yang ia miliki. "Xander, maaf aku tidak bermaksud mentertawakanmu. Hanya saja itu terdengar lucu" Alona menggaruk kepalanya.


Tidak ada bedanya penjelasan Alona. Justru itu membuat keadaan lebih buruk lagi. Hal Itu sama saja ia mengatakan bahwa ia benar-benar menertawakan Xander secara sengaja, yang berbeda hanya cara pengucapannya saja.


Xander mengepalkan tangannya kemudian pergi meninggalkan Alona sendirian di kamar kakaknya.


Alona merasa bosan, ia sudah puas beristirahat, tidurnya sudah cukup. Ia berjalan memutari seluruh ruangan itu. Ia melihat setiap barang yang tertata rapih. Semuanya unik dan memiliki nilai seni tinggi. Mata Alona terhenti saat melihat nakas meja di sudut ruangan yang hampir tertutup tirai. Alona melangkahkan kakinya ke sana. Saat ia menarik meja itu tirai terbuka lebar. Di balik tirai terdapat pigura besar seorang pria dan wanita. Alona terkejut membelalakkan matanya, "Kakak." Alona menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Apa maksud semua ini? mungkinkah telah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui? Alona mundur selangkah, kemudian ia mendorong meja itu lagi ke posisi semula. Alona mulai membuka satu persatu laci di meja itu. Ada sebuah buku berwarna biru muda sepertinya itu buku harian. Alona membukanya satu persatu setiap halaman tidak Alona lewatkan. Semua halaman berisi foto kakaknya dengan wanita itu dengan kata-kata romantis. Halaman terakhir Alona membacanya secara perlahan. "Xander maafkan Kakak yang tidak bisa bertahan. Jangan salahkan dia. Aku yang memilih jalan ini." Belum selesai Alona membaca semuanya. Xander naik ke atas, membuat Alona kaget dan menghapus air matanya.


"Apa yang Kau lakukaan!?" Xander bertanya.


"Tidak ada. Aku hanya bosan." Alona menundukkan kepalanya dan diam-diam menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya.


"Cepat turun, makan malam sudah siap"


Alona hanya menganggukan kepalanya, dan berdiri tegak. Ia berdiri menunggu Xander keluar. Ketika punggung Xander tidak terlihat Alona segera memasukkan buku ke dalam tasnya.


Saat makan malam Alona tidak tahan untuk bertanya. "Di mana Kakakmu? aku tidak melihatnya dari tadi."


Xander meletakkan sendok dan berhenti mengunyah makanannya. Ia menatap Alona seperti penjahat tanpa mengatakan sesuatu.


"Apakah tidak ada orang di rumah ini?" Alona kembali bertanya.


Xander kembali menatap wanita itu. Kali ini pandangan matanya seperti akan membunuh Alona.


Alona terdiam melihat Xander menatapnya tajam. Tidak bisa tersenyum ataupun berbicara. Ia memberanikan diri lagi untuk bertanya. "Em..., Xander kenapa di kamar kakakmu ada foto Kakakku!?"


Xander langsung naik darah dan menggebrak meja makan. "Prank" Semua piring dan isinya jatuh berhamburan. Alona duduk membeku di kursinya.

__ADS_1


Xander kemudian berdiri menarik dagu Alona menghadap ke arahnya. Mata mereka saling menatap tanpa satupun yang mengalah "Apa mulutmu tidak bisa diam, Alona?"


"....!!!"


__ADS_2