
Ketika Alexander kembali dari dapur, Alona tengah duduk di sofa panjang berselonjoran dengan punggung menyender menggunakan bantal di belakangnya. Alona langsung merespon saat Xander berbicara dan tersenyum ke arahnya. "Sayang kenapa kamu lama sekali? apa kamu kerepotan?" Bersamaan dengan itu, Alona mengatur posisi duduk agar Xander bisa duduk disampingnya.
Melihat Alona sudah berpindah posisi dari kasur ke sofa, Xander pun ikut duduk di sampingnya. Nampan yang berisi susu serta roti bakar kacang dan coklat ia letakkan di atas meja di depan sofa. "Tidak sama sekali." Jawab Xander. "Maafkan aku membuat mu lama menunggu. Ini pertama kalinya aku menyeduh susu. Jadi aku perlu melihat cara menyeduhnya."
"Kalau kamu kerepotan Aku bisa melakukannya sendiri. Aku bukan wanita lemah yang harus berbaring di atas tempat tidur sepanjang waktu. Aku tahu kamu pasti lelah bekerja seharian di kantormu" Jawab Alona.
"Sayang..., seorang ratu tidak pantas bekerja. Aku sebagai seorang pelayan mana berani membiarkan ratu nya bekerja."
Alona memicingkan matanya. Ia merasa terganggu dengan kata-kata Xander. Dia bukan wanita manja seperti seorang ratu. Meskipun dia hamil dia bukanlah wanita cacat. Pria itu terlalu berlebihan menyayanginya. "Alexander apa kita hidup di zaman kerajaan?"
"Sayang, dengarkan aku.... Seorang pria yang mencintai kamu tidak akan membiarkan kamu kelelahan. Meskipun aku di kantor menjadi seorang bos, di hormati ribuan orang. Tapi, di rumah kamulah bos-nya dan Kamu juga seorang ratu di rumah ini. Kamu cukup mengurus bayi di dalam perutmu di siang hari dan bayi besarmu di malam hari."
"Sayang... apa maksudnya bayi besar? aku tidak mengerti maksudmu? apa itu semacam bayi untuk pancingan mendapatkan anak? tapi bukankah aku sudah hamil, lalu untuk apa bayi besar?"
Wajah Xander menghitam. "Ya aku tadinya berpikir menginginkan bayi besar. A-aku lupa jika kita sudah punya...." Ucap Xander sambil menggaruk kepalanya.
"Apa dia tidak bisa berpikir sedikit saja?! apa itu bayi besar? apa iya aku harus mengatakannya secara terbuka bahwa itu aku." Gumam Xander dengan suara pelan seperti berkumur-kumur.
Alona menoleh ke arah Xander. Mendengar pria itu bergumam tidak jelas ia lantas menepuk bahunya. "Sayang apa yang sedang kamu bicarakan, aku tidak bisa mendengarmu!?" Tanya Alona.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa pulang setiap hari." Jawab Xander kelimpungan. Bersamaan dengan itu ia menyodorkan segelas susu ke arah Alona. "Minumlah susunya selagi hangat."
Alona meraih susu dan meminumnya tanpa bertanya lagi....
"...Dan roti ini, kamu bisa memakannya kalau kamu merasa lapar. Aku bisa membuatnya lagi untukku sendiri, yang penting nutrisimu terpenuhi." Kata Xander.
Alona yang sedang meminum susunya melambaikan tangan ke arah Xander. Ketika selesai ia berkata. " Tidak usah, roti itu untukmu saja. Segelas susu ini sudah cukup sampai jam 7 malam." Kata Alona.
"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi. Apa kamu ingin mandi dengan busa dengan wangi aromaterapi bunga mawar kesukaanmu?" Tanya Xander.
"Tidak perlu. Sudah terlalu sore... Aku langsung mandi saja." Kata Alona menolak.
"Oke! Aku akan mengambilkan handuk untukmu." Jawab Xander.
15 menit kemudian Alona keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono berwarna putih. "Sayang aku sudah selesai.... Kamu bisa mandi sekarang." Teriak Alona pada Xander yang sedang bermalas-malasan tidur di sofa dengan TV menyala.
Alona segera berganti pakaian menggunakan gaun tidur panjang dengan lengan pendek. Wanita itu geram saat mendapati Xander masih bermalas-malasan tidur di sofa. "Alexander apa kamu tidak akan mandi?"
"Emm..." Pria itu hanya besura tanpa bergerak sedikitpun.
Melihat kondisi itu, Alona mendekati Xander di sofa dan mematikan TV. "Sayang... mandilah apa kamu ingin memelihara kuman di badanmu?"
"Emm..." Pria itu hanya merubah posisi membelakanginya.
"Alexander!!!" Alona berteriak. "Bangun! segera mandi! atau aku akan memandikanmu!" Perintah Alona.
__ADS_1
"5 menit lagi... Aku sedikit mengantuk, oke! Honey..." Kata Xander dengan suara parau nya.
Alona bersedekap di ujung kaki Xander. "Lima menit, jika kamu belum bangun aku akan menyiramu dengan air." Jawab Alona sambil menekuk wajahnya.
"Oke, oke, oke, aku akan mandi sekarang. Kamu sangat cerewet." Kata Xander dengan mata masih terpejam dan tangannya mengambil handuk di sandaran sofa.
*****
Disisi lain....
Rain Hotel, hotel bintang lima kota F. Lantai 50, lantai teratas. Rain Hotel terkenal dengan bangunan interiornya yang canggih dan serba modern.
Alvaro bertelanjang dada berdiri tegak memandang ke luar jendela. Otot perut dan dada bidangnya bergerak mengikuti aliran nafasnya. Pria itu hanya mengenakan celana jeans berwarna hitam dengan ikat pinggang terbuat dari kulit asli berwarna sama dengan celananya.
"Alona!!!" Alvaro berteriak kemudian menjambak rambutnya dan terduduk di lantai. "Kemana Kamu pergi Sayang?!"
Bola mata Alvaro berubah menjadi merah dan berkaca-kaca. Air matanya sudah nampak ingin turun namun ia tahan. Ingatan pria itu di penuhi dengan memorinya bersama Alona kekasihnya. Alona yang selalu tersenyum manis menyapanya. Alona yang selalu mencium pipinya dengan lembut di saat mereka bertemu. Alona yang selalu membuatkan kue dan makanan kesukaannya.
Sekarang! tidak ada yang tersisa. Hanya kenangan manis yang ia miliki bersama wanita itu. Alona-nya sudah di rebut orang lain.
Tidak! aku tiadk akan membiarkan orang lain merebutnya dariku. Dia milikku sejak dulu. Hanya aku yang bisa bersamanya.
Alona! Kamu bisa menikmati waktu indah bersama pria itu sekarang. Tapi... itu hanya sesaat.
Aku akan datang merebutmu kembali....
Kamu milikku dan akan tetap seperti itu sampai aku mati. Bahkan dunia dan seisinya hilang pun, tidak ada yang berhak atas dirimu kecuali aku Alvaro Maldini Nugroho.
Alvaro berdiri membanting vas bunga disampingnya. Vas bunga itu terbuat dari tanah liat nomor satu di kota F yang berharga puluhan juta. "Prank!"
Gerakan pria itu membabi buta menghancurkan isi kamarnya. Ruangan kedap suara membuatnya semakin menjadi melakukan kegilaannya menghancurkan seluruh barang di dalam kamar itu.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar menyadarkan Alvaro dari kegilaannya. Alvaro membelakangi pintu masuk tanpa melihat siapa yang datang. "Masuk!" Teriak Alvaro dengan nada beringas.
Masuk dua orang pria berbadan kekar dengan wajah ketakutan saat melihat kamar berantakan seperti kapal pecah. Mereka menundukkan kepalanya lalu berkata. "Maaf Bos. Kami belum berhasil menemukan Nona Alona."
Alvaro yang sudah mulai tenang kini amarahnya kembali memuncak. "Bodoh!!!" Alvaro membalikkan badannya lalu menunjuk kedua orang yang sedang berdiri di depannya. " Apa kalian ingin kehilangan pekerjaan ini?" Teriak Alvaro.
"Tidak bos..." Jawab Adi dan Raka serentak.
"Mencari seorang wanita saja kalian tidak becus! aku akan memecat kalian. Mulai sekarang enyah dari sini!"
"Jangan bos. Kami akan berusaha lagi menemukan Nona. Kami janji Bos."
"Pergi! cari dia! jangan temui aku jika kalian tidak menemukannya. Aku benar-benar akan memecat kalian jika tidak berhasil."
__ADS_1
"Baik bos. Kami tidak akan gagal."
Adi dan Raka pergi keluar meninggalkan kamar Alvaro. Adi mengeluh, "Kalau bukan karena istriku baru melahirkan tidak mau lagi aku bekerja dengannya. Nona pergi Karena perbuatannya sendiri. Kita yang disalahkan. Harusnya Dia bisa berpikir kenapa Nona pergi!"
" Betul..." Sahut Raka. "Aku kasihan pada Nona Alona, selalu disiksanya tiap hari. Beruntung Nona pergi. Aku memiliki ibu, tidak tega melihat Nona diperlakukan seperti itu."
"Sudahlah, kita cari lagi Nona Alona." Jawab Adi. "Kita hanya bertugas mencarinya saja. Syukur-syukur kita menemukannya di kota ini."
*****
Malam hari di Villa Bukit Merindu.
Alona duduk di balkon kamarnya menyaksikan lampu taman berkelap-kelip menghiasi taman. Sementara Xander sedang sibuk bekerja di dalam kamar.
Alona menikmati pemandangan indah malam hari. Menyaksikan para pekerja yang sedang mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara pernikahannya dengan Xander.
Bibi Ani orang yang paling sibuk. Dialah yang mempersiapkan segala keperluan untuk Alona dan Xander. Baju pengantin pria dan wanita sudah ia siapkan dan di simpan di dalam lemari. Meskipun acara pernikahan sederhana namun Xander tetap menghias panggung seperti pernikahan di hadiri dengan ribuan orang. Dia ingin yang terbaik untuk Alona.
Alona tersenyum memandang pemandangan itu. Besok lusa hari pernikahannya dengan pria idamannya. Di tengah keheningan Alona tersadar saat Xander memanggilnya. "Sayang masuklah di luar sangat dingin." Perintah Xander.
Alona menoleh dan tersenyum ke arah Xander. "Sebentar lagi... Aku sedang melihat orang-orang yang sedang mempersiapkan pernikahan kita." Jawab Alona.
Alexander berjalan ke arah Alona dan menyelimuti wanita itu agar tidak kedinginan. "Sayang apa kamu bahagia dengan pernikahan yang ku siapkan besok lusa?" Tanya Xander sambil memeluk Alona dari belakang.
Alona menganggukan kepalanya. "Lebih dari bahagia." Jawab Alona singkat. "Aku tidak bisa melukiskan bagaimana rasa kebahagiaanku bersamamu saat ini."
"Alona cintamu padaku menghapus seluruh rasa dendam ku. Berikan cintamu dan keturunan yang banyak untukku. I love you more than you know"
Bersamaan dengan itu, kembang api menyala terang di udara. Balon udara bertulisan will you marry me Alona Arunika Raharaja mengudara dengan sempurna dan tepat waktu.
Layar monitor di taman memperlihatkan foto-foto Alona dan Xander kala mereka sedang bertengkar, semua Xander rangkum menjadi sebuah video yang indah untuk di putar berulang kali.
Alona tidak dapat menahan rasa bahagianya. Matanya sudah berkaca-kaca, tawa dan tangis bercampur aduk menjadi satu. "Alexander kapan kamu menyiapkan semua ini?"
"Kejutan...!" Kata Xander bersemangat dengan mata sedikit memerah menahan gejolak kebahagiaan.
Alona berbalik menghadap ke arah Xander dan memegang kedua tangan pria itu. "Terima kasih..., Aku akan selalu menjaga cinta ini untukmu." Jawab Alona dengan linangan air mata di pipinya.
".... Jadi bersediakah Kau menikah denganku Alona? memulai hidup baru denganku sampai akhir hayat kita nanti?"
Alona menganggukan kepalanya. "Iya, aku bersedia bersamamu, menemanimu, sampai akhir hayat kita. Berjanjilah satu hal padaku, kamu akan selalu ada disisiku sampai kapanpun dan di manapun."
Alexander memeluk Alona dengan hangat. "Tentu..." Mereka tenggelam dalam suka cita Kebahagiaan.
Bibi Ani yang menginstruksikan segala rangkaian acara malam itu ikut menagis haru di taman. "Tuan dan Nona pantas mendapatkan kebahagiaan mereka. Aku yang sudah tua seperti ini sangat beruntung bisa menyaksikan momen bahagia seperti ini."
__ADS_1
"Kami juga..." Teriak 10 orang yang ikut andil dalam mempersiapkan acara malam itu.