
Tanpa terasa seminggu berlalu. Perpisahan pasti terjadi, meskipun hanya untuk sementara. Alona terasa berat melepas kepergian suaminya untuk kembali bekerja.
Meskipun tidak tinggal sendirian di rumah. Tapi tetap saja rasa hampa dan kesepian akan menyiksanya. Rindu akan menjadi sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Ketika bertemu akan menjadi moment yang sangat penting dan berharga.
Alexander berlutut di hadapan Alona. Ia memegang perut istrinya sebelum pergi ke kota J. "Sayang..., ayah pergi ya. Jaga baik-baik ibumu. Ayah akan kembali seminggu lagi." Ucapnya sambil tersenyum.
Alexander berdiri dan mencium seluruh wajah istrinya. Kemudian ia mencium bibir Alona dengan hangat, lalu berkata. "Jangan menangis.... Aku akan pulang sabtu dan minggu sesuai permintaan mu." Katanya meyakinkan. Sementara Alona hanya diam memasang wajah cemberut.
Alona memeluk suaminya sangat erat. "Ayolah Alona sayang...." Desah Xander sedikit kesal dan gemes melihat tingkah istrinya. "Lepaskan pelukanmu. Aku tidak bisa pergi kalau kamu memelukku seperti ini. Aku bukan akan pergi berperang. Aku hanya bekerja dan akan pulang setiap minggunya." Kata Xander.
"Kamu mau aku melakukan apa? agar kamu bisa melepaskan pelukannya." Tanya Alexander saat merasakan pelukan istrinya semakin erat seperti cengkraman gurita.
"Sayang...." panggil Alexander lembut untuk meluluhkan hati istrinya sambil menepuk punggungnya.
"10 menit saja...." Pinta Alona.
Beruntungnya Alexander selalu mempersiapkan kepergiannya satu jam sebelum jadwal keberangkatan. Drama dengan istrinya pasti membutuhkan waktu setidaknya 45 menit sebelum pergi berpisah, drama akan selalu seperti itu sebelum ia pergi kemana pun. Dia tahu sifat istrinya manja dan tidak mudah berpisah dengan orang yang dicintainya. Sifat Alona wanita keras dan manja di luar. Akan tetapi, ia sangat lembut dan rapuh di dalam. Oleh sebab itu, Alexander tidak pernah berkata kasar saat bersama istrinya. Sekalipun Alona salah, dia yang akan meminta maaf terlebih dahulu. Alona wanita dengan gengsi tinggi. Merendahkan harga diri di depan istrinya merupakan suatu bentuk kasih sayang Alexander yang terdalam. Kunci utama keluarga harmonis adalah komunikasi yang baik, pesan ayahnya saat Alexander beranjak dewasa. Alexander selalu memperlakukan istrinya dengan lembut sama seperti ayahnya memperlakukan ibunya.
Mengalah bukan berarti kalah. Merendah bukan berarti hilang martabat....
Alexander tetap menjadi pemimpin di dalam keluarga. Ia tetap akan marah jika istrinya salah. Namun, tetap dengan kata-kata yang lembut dan mudah dimengerti istrinya.
"Sayang sudah selesai." Alexander mengingatkan istrinya.
"Beri aku discount tambahan 5 menit lagi." Jawab Alona manja sambil tersenyum, dengan tarikan nafas panjangnya.
Alexander sudah paham jika 10 menit pasti akan menambah 5 menit lagi. Dia tidak berubah....
"Baiklah. Aku pebisnis yang sangat baik selalu memberikan discount ataupun hadiah." Jawab Alexander. "Apa, Kamu juga ingin hadiah?" Tanya Alexander.
"Mulutmu sangat manis...." Jawab Alona. "Aku ingin hadiah, tapi pasti kamu tidak akan memberikannya saat ini"
"Kamu saja belum mengatakannya. Bagaimana aku bisa tahu? bisa atau tidak memberikanya padamu."
"Sudah pergilah..." Kata Alona tidak ingin berlama-lama lagi. Dia takut akan menagis saat punggung suaminya menjauh pergi. "Jangan lupa kirim aku video dan fotomu. Mana tahu kamu sedang bersama wanita!" Sindir Alona.
"Dan, satau lagi. Jangan macam-macam. Aku memiliki 1000 mata di sampingmu." Ancam Alona.
Alexander tertawa dan menggelengkan kepalanya. Dia saat ini, ia seperti seorang tawanan penjara, namun, bebas berkeliaran. Dia tidak lebih dari orang jahat sedang dalam buronan....
__ADS_1
*****
Di ruang tamu....
Alona, Bibi Ani, dan Dokter Risma duduk di sofa. Akan tetapi, mereka sibuk dengan dunianya masing-masing.
Alona duduk di sofa samping Bibi Ani. Sedangkan Dokter Risma duduk di sofa sendirian bermuatan satu orang.
Bibi Ani sedang sibuk dengan laptop-nya. Pandangan matanya tidak berkedip sedikitpun. Entah apa yang di kerjakkannya, Alona pun tidak tahu.
Sementara Dokter Risma sedang sibuk menyiapkan menu sarapan untuk Alona selama satu minggu. Mulai dari susu, sayuran, daging, ikan, kacang-kacangan. Dokter Risma mencatat semua kandungan gizi di dalamnya. Sesekali ia akan bergumam sendiri, seperti suara ribut dari serangga.
Berbeda lagi dengan Alona. Wanita itu terlihat senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. Ia tengah sibuk bertukar gambar dan pesan dengan suaminya.
Alona sedikit kesal dan bosan saat suaminya mengakhiri pesan mereka, karena ada jadwal meeting.
Alona melihat ke arah Dokter Risma yang sedang bersander malas di sofa. Sepertinya pikiran wanita itu sedang berkelana ke suatu tempat.
Alona menoleh ke arah Bi Ani. "Bi sedang apa?" Tanya Alona penasaran.
"...." Hening tanpa ada tanggapan.
"A-Ayam Kodok!" Jawab Bi Ani tergagap kaget memegang dadanya. Hampir saja jantungnya terasa akan lepas. Bibi Ani menarik nafas cukup panjang dan menyenderkan punggungnya ke sofa.
Alona tertawa geli melihat reaksi pertama Bibi Ani. "Hahaha..."
Bibi Ani terkulai lemas. "Nyonya hampir saja membuat jantung Bibi copot!" Katanya dengan nafas terengah-engah. "Ada apa? Nyonya memanggil Bibi?" Tanya Bi Ani sambil menoleh ke arah Alona dengan bibir sedikit pucat dan wajah di penuhi keringat dingin.
Tawa Alona masih tersisa. Namun ia segera menghentikannya saat melihat wajah Bi Ani yang sangat pucat. "Maafkan aku Bi, tidak sengaja." Ucapnya. "Aku hanya bertanya, Bibi sedang apa? dari tadi aku perhatikan Bibi sangat sibuk, sampai-sampai aku bertanya Bibi tidak menjawab." Jelas Alona.
"Bibi sedang cek rekaman CCTV di rumah." Jawab Bi Ani serius.
"Oo...." Jawab Alona. Alona kembali berpikir sambil melihat-lihat keterampilan Bibi Ani mengetik cepat. Alon mengingat sesuatu. Dia ingat Alvaro memasang CCTV di kamarnya untuk mengawasi semua gerak-geriknya di kamar setelah kejadian Alona ingin kabur dari sana. Kemudian Alona menepuk paha Bi Ani. "Bi..., apa CCTV bisa di retas?" Tanya Alona.
Bibi Ani tidak kaget lagi. Tapi ia menatap Alona dengan seribu makna. "Maksud Nyonya?"
"Aku ingin memastikan sesuatu yang penting. Jika CCTV bisa di retas tentu saja hal penting itu bisa aku pecahkan dengan mudah." Jawab Alona dengan tatapan serius pada Bi Ani.
"Itu hal gampang.... Serahkan saja pada Bibi."Jawab Bibi Ani sedikit menyombongkan dirinya. "Nyonya ingin meretas CCTV siapa?" Tanyanya.
__ADS_1
"A-aku ingin meretas CCTV---" Alona sedikit ragu ingin mengatakannya. Takut Bibi Ani salah paham padanya. Karena masalah itu sangat tabu. Alona ingin meretas CCTV di dalam kamarnya di Yellow Residence. Jika memang benar Alvaro melakukan hubungan intim dengannya pada malam itu, tentu akan sangat memalukan. Terutama rekaman CCTV-nya pasti akan menampilkan perbuatan tidak terpuji itu dengan jelas.
Bibi Ani menunggu Alona cukup lama untuk menyelesaikan kata-katanya dan mencoba asal tebak. "Apa Nyonya ingin mengawasi Tuan di kantor?" Tanyanya.
Alona menggelengkan kepalanya. "Bukan...." Jawabnya sedikit lesu. "Apa Bibi bisa menyimpan rahasia?" Tanya Alona memastikan.
"Tentu!" Jawab Bi Ani. "Bibi selalu menjaga kerahasiaan semua klien Bibi sesuai bayaran." Lanjutnya bercanda.
Alona menggenggam tangan Bibi Ani. "Bi, aku mohon tolong aku."
"Katakan saja..., Nyonya tidak perlu sungkan dengan Bibi. Bibi akan bantu Nyonya sampai tuntas." Ucapnya dengan tulus.
"Bi Aku ingin meretas CCTV kamarku di Yellow Residence. Tapi, tolong Bibi jangan lihat gambarnya saat video sedang di putar. Aku yang akan melihatnya sendiri." Kata Alona dengan wajah bercampur aduk.
Bibi Ani menganggukan kepalanya. Dan, Alona segera menarik Bibi Ani ke dalam kamar.
Dokter Risma sudah tertidur nyenyak di sofa. Mereka pergi tanpa membangunkannya
Di dalam kamar Alona.
Suasana terasa panas walaupun hari mendung. Alona tidak dapat menunggu dengan tenang. Keningnya tanpa terasa mengeluarkan butir keringat dingin. Ia berjalan mondar-mandir menunggu hasil. Sedangkan Bibi Ani sibuk mengetik di keyboard laptop-nya. Pandangannya fokus ke layar. Gerakannya sangat cepet dan terampil seperti sudah sangat berpengalaman.
"Nyonya selesai!" Kata Bi Ani bersemangat, setelah berkutat dengan laptop-nya selama 30 menit.
Alona tersadar dan segera melihat layar laptop yang menampilkan layar CCTV di rumah Yellow Residence.
"Nyonya ingin melihat hasil rekaman CCTV nomor, tanggal, bulan, jam dan menit berapa?" Tanya Bi Ani detail tanpa tersisa sedikitpun.
"Nomor sepuluh, tanggal 22 September pukul 22:00" Jawabannya yakin. Alona masih mengingat saat acara TV kesukaannya selesai tayang pukul 22:00, setelah itu ia langsung tidur.
"Ok!" Jawab Bi Ani. "Nyonya bisa melihatnya sendiri. Bibi sudah mengunduh sampai esok harinya. Jadi Nyonya bisa mempercepat video yang tidak penting. Bibi akan pergi keluar sekarang." Kata Bi Ani sambil beranjak pergi.
"Terima kasih Bi atas bantuannya." Jawab Alona sambil tersenyum.
Bi Ani keluar dari kamar. Sementara Alona sudah mulai melihat hasil rekaman CCTV.
Alona sudah mempersiapkan semua mentalnya untuk melihat semua hasil rekaman video.
Alona akan menerima semua kemungkinan yang terjadi. Dia tidak akan menagis ataupun menyesal. Ia mengatur nafasnya yang mulai terasa berat saat melihat Alvaro naik ke atas kasur. Alona menghentikan sejenak video yang sedang berputar. "Kamu harus melihatnya sendiri Alona. Kamu harus meyakinkan dirimu sendiri. Dengan begitu kamu tidak membutuhkan tes amniosentesis." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1