
Pandangan Alona mulai memudar, matanya memerah, dan perlahan air matanya pun jatuh. "Bukan cinta seperti ini yang aku mau." Kata Alona dalam hatinya yang terasa membeku dengan tangan kanan menghapus air mata di pipinya.
Alona berbalik membelakangi tirai lalu berjalan ke kasurnya. Detik berikutnya, ia melemparkan badannya ke kasur. Alona tidur miring meringkuk memeluk guling yang terasa dingin. "Harusnya aku sadar saat Alvaro dulu berselingkuh dengan mantannya Mitha. Aku jelas-jelas melihatnya berciuman di depan mataku. Mungkin melakukan hal yang lebih dari itu, aku tidak tahu!. Memang setelah itu dia tidak pernah nampak memperhatikan wanita manapun lagi. Cinta dan perhatiannya selalu tertuju padaku."
Air mata Alona tidak berhenti menetes. "Salah hatiku yang selalu ingin di bodohi. Terlalu mencintai seseorang yang tidak bisa di bilang mencintaiku dengan tulus." Alona tertidur dalam keadaan hatinya yang hancur."
Bibi Asih yang menyaksikan perkelahian antara Alona dan Alvaro langsung memberitahu Amor lewat SMS. "Nona Amor, Nona Alona dan Tuan bertengkar sangat hebat. Aku memiliki videonya jika Nona ingin lihat, tapi..., tentu ada imbalannya."
"Kirimkan!!!" Balasan SMS dari Amor. "Aku akan memberikanmu hadiah...." Tulisnya lagi di akhir pesan.
"Baik Nona." Jawab SMS Bibi Asih lagi.
Pagi hari, perut Alona berbunyi cukup kencang. Ada sedikit mual namun ada rasa lapar yang tidak bisa terelakkan. Alona turun dan pergi ke dapur, memasak makanannya sendiri.
Bibi Asih datang dari kamar belakang lantai satu. Mencium wangi masakan Alona membuat Bibi Asih bergegas pergi ke dapur untuk menghentikan Alona memasak. Bibi Asih tidak ingin terkena masalah karena membiarkan Alona menyentuh dapur. Alvaro sudah mengingatkannya untuk tidak membiarkan Alona memasak. Bibi Asih berjalan dan berhenti tepat di samping Alona lalu mengambil alih sendok penggorengan dan berkata. "Non, biar aku saja, nanti Tuan memarahi ku."
Alona menoleh ke arah Bibi Asih. "Tidak perlu Bi aku bisa sendiri." Kata Alona dengan suara yang sedikit serak akibat menagis semalam. Kesedihannya masih terlihat dari wajahnya yang pucat dan bibirnya yang mengering.
Bibi Asih terus memaksa, akhirnya Alona mengalah dan duduk di kursi makan menunggu udang goreng tepung saus tomat
matang. "Bi tolong cepat sedikit aku sudah kelaparan." Kata Alona dengan menopangkan tangan ke pipinya.
"Ya Non sebentar lagi selesai." Jawab Bibi Asih tersenyum menoleh ke arah Alona dan tangannya tetap mengaduk udang tepung dengan sausnya di wajan penggorengan.
Kepala Alona mulai pusing. Tiba-tiba air matanya keluar secara perlahan tanpa aba-aba. Alona kebingungan. "Ada apa dengan dirinya? mudah menaggis! lalu tersenyum. Aku bukan gila, kan?"pikirnya dalam hati.
Bibi Asih sudah menyajikan makanan di atas meja. Sementara Alona memijat keningnya yang terasa pusing. "Bi tolong ambilkan obat di kamar ku, aku lupa membawanya saat turun tadi."
"Baik Non." Jawab Bi Asih. Bibi Asih langsung pergi mengambil obat.
Alona bersiap menyantap makanannya di atas meja. Baru sesuap lambungnya sudah menolak. Alona berlari ke wastafel dan memuntahkan makanannya. Bibi Asih yang sudah turun langsung menghampiri Alona yang tengah muntah. "Non..., ada apa?" Tanya Bi Asih. Bi Asih lantas menepuk dan memijat tengkuk Alona.
Alona berkumur-kumur dengan air lalu menyeka mulutnya. "Aku tidak tahu Bi. Mungkin maag ku kambuh, sejak kemarin aku tidak makan tepat waktu." Kata Alona mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Nona Alona sebaiknya duduk di kursi saja. Bibi akan mengambil minyak kayu putih di kotak obat. Sepertinya Nona juga masuk angin, Bibi akan memijat punggung Nona dengan minyak kayu putih." Ucap Bi Asih menunjukkan sikap empati pada Nonanya.
Alona duduk tanpa membantah, menunggu Bi Asih memijat punggungnya.
Karena merasa pusing yang tidak tertahankan. Alona berdiri berniat pergi ke kamarnya. "Bi aku akan pergi ke kam---" Belum sempat ia mengucapkan kamar, Alona terjatuh ke lantai.
Mendengar suara berisik dari dapur Bibi Asih langsung berlari. "Nona Alona!!!" Teriak Bi Asih. "Non, Non, Nona bangun." Bibi Asih menepuk-nepuk pipi Alona. "Bagimana ini!? aku harus menelepon Tuan."
Kebetulan saat itu Alvaro sudah di depan pintu utama. Mendengar kegaduhan dan suara teleponnya berdering. Ia langsung berlari dan mengabaikan telepon masuk. "Bi ada apa!?" Tanya Alvaro saat melihat Alona sudah terkapar di lantai dan segera meraih tubuh Alona.
Bibi Asih menagis dengan suara yang sesenggukan ia berkata. "Tuan, Nona Alona pingsan. Ta-tadi Bibi sedang mengambil minyak kayu putih di kotak obat. Setelah itu Bibi kembali ke dapur mendapati Nona sudah di lantai."
Alvaro memeluk Alona. Hatinya sangat sakit mendapati kekasihnya pingsan lagi. "Sayang..., kamu kenapa!?" Tanya Alvaro dengan mata berkaca-kaca. "Bi tolong bilang sopir untuk menyiapkan mobil aku akan membawa Alona ke rumah sakit.
"Baik Tuan." Bibi Asih pergi dengan wajah panik dan linglung memanggil sopir.
*****
Dokter Kevin duduk di kursinya. Sikapnya sangat gagah dan bersahaja. Raut wajahnya terlihat ramah dengan senyuman saat berbicara dengan Alvaro. "Tuan Alvaro Maldini Nugroho." Dokter kevin menyebutkan nama Alvaro secara lengkap yang tertulis di data pasien sebagai penanggung jawab. "Aku ingin bertanya apa hubunganmu dengan wanita yang aku periksa tadi."
"Dia kekasihku." Kata Alvaro menjelaskan.
Dokter Kevin tersenyum menatap Alvaro. Ia lalu menjulurkan tangannya memberikan ucapan selamat. "Selamat anda akan segera menjadi seorang ayah."
Alvaro tertegun. Otaknya sedang memeroses sangat berat mengenai yang di ucapkan dokter Kevin padanya. Hatinya sangat sakit bagi tersambar petir. Untuk menutupi kegundahan hatinya Alvaro tersenyum menjabat tangan dokter Kevin. "Terima kasih dokter Kevin. Aku akan menjadi seorang Ayah sebentar lagi." Ucap Alvaro dengan muka riang menunjukkan kegembiraan hatinya.
Dokter Kevin memberikan hasil tes medis Alona kepada Alvaro. "Jaga baik-baik kekasihmu. Wanita hamil moodnya sering berubah-ubah. Tuan Alvaro harus memperhatikan segala sesuatu mengenai kesehatan ibu dan janin di kandungan."
Alvaro mengganggukan kepalanya tanda ia menggerti. " Dokter Kevin terima kasih sudah memberikan saya arahan untuk menjaga kekasih saya Alona. Bolehkah dokter Kevin merahasiakan kehamilan ini padanya. Kami akan segera menikah. Aku tidak ingin membebaninya nanti. Setelah menikah aku sendiri yang akan menyampaikannya."
"Tidak masalah...," jawab dokter Kevin.
*****
__ADS_1
Perjalanan pulang dari rumah sakit, Alvaro terus memeluk Alona di kursi belakang. Ia sangat memperhatikan wanita itu. Melihat muka Alona yang pucat Alvaro mengecup kening Alona. Sementara Alona kebingungan melihat Alvaro sangat hangat hari ini. Alona sedikit berenergi setelah di berikan infus di rumah sakit. "Varo aku sakit apa." Tanya Alona dengan perasaan curiga.
Alvaro tersenyum menatap Alona. " Dokter bilang kamu kelelahan. Kemarin aku kan, sudah bilang jangan lupa makan sayang..., kamu tidak mendengar kata-kata ku..." Jawab Alvaro.
Alona menarik badannya dari Alvaro. Ia duduk di pinggir menghadap ke luar jendela. Alona merasa canggung dekat dengan Alvaro setelah terjadi pertikaian kemarin. Alona menarik nafas dan mengeluarkannya berulang kali.
*****
Malam hari di yellow residence.
Alona membaringkan badannya tidur di kasur. Datang Alvaro membawa nampan berisi nasi beserta lauknya. Alvaro duduk di pinggir kasur membangunkan Alona. "Sayang bangun..., kamu harus makan walaupun sedikit."
Alona menggelengkan kepalanya dan duduk bersandar di kepala ranjang tidur. Alona tidak merasa lapar, ia hanya merasa ingin memakan cemilan manis dan dingin. Alona menepis tangan Alvaro ketika sesendok nasi menghampiri mulutnya. Alona kemudian menutup hidungnya karena bau menyengat bumbu masakan membuatnya mual. "Varo aku ingin es krim stroberi dan roti bakar coklat mentega" Ucap Alona dengan wajah lesu.
Alvaro meletakkan nampan di atas meja dan memberikan susu hamil untuk Alona. "Aku akan membelinya untukmu, sebelum itu kamu harus meminum susu ini dulu." Kata Alvaro membujuk Alona. Susu itu Alvaro sendiri yang menyeduhnya, tentu tidak ada yang tahu selain dirinya.
Alvaro memesan es krim stroberi dan roti bakar coklat mentega lewat aplikasi pesan antar. Tidak lama pesanan sampai dan Alona langsung memakannya dengan lahap. Alvaro memberikan air hangat untuk Alona minum setelah makan roti dan es krimnya.
Sehabis makan, Alvaro menyiapkan sikat gigi dan handuk untuk Alona. " Sayang sikat gigi sebelum tidur. Aku sudah menyiapkannya untukmu."
Alona menatap Alvaro cukup lama sebelum merespon. "Ada apa dengannya hari ini? sangat perhatian" Ucap Alona dalam hati.
Alona bangkit berdiri pergi menyikat giginya. Alvaro mengikutinya berdiri menopang badannya di dinding samping wastafel. Setelah itu, Alona duduk di kasur dengan pandangan ke TV yang sedang menyalah, menonton film kartun kesukaannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Alvaro meraih remot TV memencet tombol power off. " Tidurlah sayang...." Kata Alvaro sambil mengusap kepala Alona duduk di kursi samping tempat tidur. "Aku akan tidur di sofa menemanimu di sini."
Alona hanya mengganggukan kepalanya dan berbaring di tempat tidur membelakangi Alvaro.
Alona sudah tertidur pulas. Hanya suara nafasnya yang terdengar. Alvaro berdiri meninggalkan sofa beralih tidur di samping Alona tidur.
Alvaro memeluk Alona dari belakang dan menutup hidung Alona menggunakan sapu tangan yang sudah di beri obat bius. Alona tentu tidak akan bangun sampai pagi.
Alvaro mengambil sebuah kotak di bawah tempat tidur. Ia telah meletakkan alat itu secara diam-diam saat Alona sedang makan cemilannya. Alvaro tersenyum menatap alat itu. Alvaro kembali naik ke atas kasur. Perlahan Alvaro membelai pipi Alona, kemudian tangannya mulai membuka kancing bajunya dan melepaskannya. Alvaro mendekatkan wajahnya pada Alona dan mencium bibir wanita itu. Kemudian Alvaro berbisik di telinga Alona. "Alona kamu sangat cantik malam ini. Kamu hanya akan menjadi milikku sayang."
__ADS_1