
Peringatan dan umpan perdamaian telah Diana semai sejak kemarin. Namun pihak musuh tidak bergeming hingga membuat Diana geram. Genderang perang dari Diana telah resmi di pukul. Pertarungan tidak lagi dapat terelakkan....
Semua pasukan sudah siap dengan kemampuan masing-masing. Mereka hanya menunggu waktu untuk melakukan eksekusi. Menunggu perintah agung dari Diana Maringka, selaku sang penguasa.
Langkah Diana selalu cepat dan efisien dalam menyelesaikan masalah. Baginya Alan hanyalah seekor semut. Bukan seseorang yang bisa mengalahkannya.
Diana masuk ke dalam mobil ketika Sang sopir membukakan pintu mobil dengan posisi tubuh sedikit membungkuk mempersilahkan Nyonya-nya masuk ke dalam mobil.
"Nyonya Diana, ingin di antara ke mana?" Tanya Sang sopir pada Diana saat ia sudah memegang kemudi mobil.
"Pergi ke Maringka desain interior." Jawab Diana. "Cepat!" Tegasnya kemudian.
Mobil melaju perlahan dan semakin cepat meninggalkan rumah tahanan menuju Maringka desain interior...
Diana duduk bersandar di kursi penumpang. Tangan lentiknya sangat cepat melakukan panggilan telepon. "Lakukan semua sesuai rencana!" Ucapnya di sambungan telepon dengan raut wajah menakutkan seperti dewi kematian dari alam kegelapan.
"Baik Bos!" Jawab pria di ujung sambungan telepon. "Semua sesuai rencana," lanjutnya.
"Bagus!" Kata Diana sambil tersenyum sinis.
Tidak berselang lama Diana mengakhiri panggilan teleponnya. Kekacauan pun terjadi sesuai prediksi....
Saluran televisi swasta, hot news memberitakan susu penambah nafsu makan untuk anak dan lansia yang merupakan produk baru dari Raharaja Industry terbukti positif mengandung bakteri campylobacter. Padahal produk tersebut baru saja beredar selama kurang dari 24 jam.
Pusat layanan konsumen Raharja Industry diserang ratusan hingga ribuan panggilan telepon suara konsumen. Semua penelepon memiliki keluhan yang sama. Mereka ingin meminta ganti rugi atas produk baru yang mereka konsumsi. Susu Healty tersebut telah mengakibatkan anggota keluarganya keracunan parah bahkan sampai ada yang meninggal. Mereka sudah kompak untuk menuntut sampai ke penggadilan.
Keadaan di seluruh rumah sakit yang menjalin kerjasama dengan Raharja Industry diserang ratusan pendemo. Semua petugas medis terlihat sibuk, berlari ke sana kemari untuk menangani pasien-pasien yang keracunan akibat mengkonsumsi susu tersebut.
Susu healty merupakan produk yang di ciptakan oleh Alan sendiri. Ia menciptakan susu itu sebagai bentuk untuk memperluas jaringan bisnis. Produk tersebut telah lama di lakukan pembuatan sebelum ia terkena tembakan. Dan, baru di jual khusus untuk rumah sakit setelah ia kembali. Susu Healty di berikan secara gratis sebagai sampel sekaligus promosi launching produk. Sehingga banyak anak dan lansia terkena dampak yang cukup parah.
Diana sangat pandai memanfaatkan situasi tersebut. Dan, tentu saja itu merupakan kerjasamanya dengan Adam. Karena Adam lah yang tahu pasti keadaan di dalam perusahaan sebagi orang dalam.
Diana sedang asik menonton televisi di ruang kerjanya menyaksikan kekacauan yang telah ia rencanakan.
Sementara pada waktu bersamaan, di kantor Raharaja Industry telah di kelilingi puluhan wartawan untuk meminta tanggapan langsung dari Alan selaku CEO dari Raharaja Industry.
Alan terduduk lemas di kursinya. Belum sempat ia bernafas untuk memperbaiki keuangan perusahaannya. Namun, masalah baru sudah datang menghampirinya.
__ADS_1
Ponsel Alan berdering cukup kencang hingga membangunkannya dari lamunan panjang.
"Alan semoga hari mu menyenangkan." Kata Diana. "Itu belum ada apa-apanya!" Diana mengingatkan Alan dalam percakapan telepon.
"Apa maumu?!" Tanya Alan langsung ke intinya.
"Kau anak yang sangat pandai Alan!" puji Diana. "Tentu Kau tahu apa maksud ku."
"Aku tidak punya waktu melayani mu Diana! jika ingin beromong kosong sebaiknya Kau pergi ke neraka." Jawab Alan dengan nada meninggi.
"Alan! batalkan keinginan mu untuk menggugatku ke pengadilan dan serahkan semua bukti yang Kau milik." Ancam Diana.
"Mimpi! dalam tidurmu Diana!" balas Alan.
Alan sudah menduga bahwa semua yang terjadi adalah atas ulah Diana.
"Apa kau kira aku tidak bisa melakukan lebih dari ini Alan." Ucap Diana dengan suara lembut namun tersirat niat jahat mengancam.
"Diana! jangan melampaui batas. Apa kau pikir aku bodoh. Aku bisa saja mengunggah video itu ke sosial media. Dan, kita lihat siapa yang akan lebih dulu masuk ke dalam penjara." Ancam balik Alan.
"Hahahahaha!!!" Diana tertawa terbahak-bahak mentertawakan Alan. "Sayangnya semua itu hanya khayalan mu saja Alan. Lihat video yang ku kirim padamu." Ucapa Diana dan langsung mematikan teleponnya.
Alan seketika itu menjadi binggung dan panik. Adiknya Alona..., "bagaimana semua itu terjadi." Keluhnya dalam hati. "Bukankah Alona ada di west flores?!" Imbuhnya.
Detik berikutnya, pesan baru masuk. "Bawa semua bukti dan surat kontrak pemindahan saham mu. Datang dalam waktu 15 menit ke gedung lama royal building. Jika tidak ucapkan selamat tinggal pada adikmu." Kata Diana dalam pesan singkatnya.
Ketika pesan telah terbaca oleh Alan, semua jaringan telepon seluler dan telepon kantor di seluruh kota J menjadi hilang signal. Alan tidak bisa melakukan panggilan pada siapapun untuk memastikan keberadaan adiknya.
Alan semakin perustasi. Tidak ada waktu baginya untuk meminta bantuan pada siapapun. Alan sangat ketakutan! dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Pikirannya hanya di penuhi keselamatan adiknya.
Alan segera berlari menuju lantai parkir. Alan menggunakan mobil dinas kantor agar para wartawan tidak mengepungnya.
15 menit Alan tiba di royal building dengan napas tersengal-sengal. " Di mana adikku!?" Tanya Alan saat memasuki bangunan lama tidak berpenghuni itu.
Pria berbadan kekar dan bermuka sangar berkata. "Silahkan Tuan masuk, bos sudah menunggu." Katanya dengan suara bass-nya.
Diana sudah menanti kehadiran Alan. Wanita itu duduk di kursi kayu. Ia menggunakan sepatu boots berwarna hitam serta gaun selutut dan di lehernya di lilit syal bulu domba pirang. Kaki kanan nya menyilang ke atas. Lipstick merah hatinya menambah aura membunuhnya. Ia tersenyum menyambut kedatangan Alan. "Serahkan buktinya!" Minta Diana dengan tangan terulur ke arah Alan.
__ADS_1
Diana memang sudah mengatur siasat sejak Alan mengancamnya. Diapun sangat cepat tiba ke lokasi royal building setelah dari Maringka desain interior. Jaraknya memang tidak jauh.
"Di mana adikku!?" Tanya Alan untuk memastikan keselamatan adiknya.
Diana menyalakan tablet 10 inci-nya. Video berputar memperlihatkan Alona dengan posisi yang sama seperti terakhir kali ia melihat di video sebelumnya. "Selama Kau menepati janjimu adikmu akan selamat." Jawab Diana.
"Toni!" Panggil Diana pada pengawal pribadi rahasianya. "Periksa seluruh pria di depanku! ambil semua barang-barang yang menempel di badannya." Perintah Diana.
"Bersih bos...." Jawab Toni ketika selesai memeriksa badan Alan.
"Diana melemparkan pulpen dari dalam tasnya. Segera tanda tangan dokumen di atas kertas ini. Kau tidak akan melakukan penuntutan terhadapku karena apa yang menimpa kedua orang tuamu adalah murni kecelakaan." Ucapnya. "Cepat!!!" Perintahnya lagi.
Alan tidak berpikir panjang. Dia memang belum mempersiapkan dengan matang untuk melawan kegilaan wanita ular itu.
"Cepat!" Perintah Diana lagi.
Alan melemparkan semua bukti ke arah Diana dan mencibir. "Kau bisa menang kali ini Diana. Tapi, besok aku akan menghancurkan mu."
Secara bersamaan, Alan menandatangani surat pemindahan saham dan surat pernyataan dirinya bahwa tidak akan melaporkan kecelakaan ayahnya.
"Di mana adikku!?" Tanya Alan saat selesai menyerahkan semua syarat dari Diana.
Segera setelah itu, Diana kembali tertawa. "Habisi Dia!" Perintah Diana pada kedua pria yang berdiri di belakangnya.
"Diana!" Teriak Alan. "Di mana Kau sembunyikan adikku Alona?!" Tanyanya dengan perasaan semakin terpuruk.
Alan bisa menerima jika Diana hanya ingin melukainya. Tapi tidak untuk adiknya Alona. Dia adalah satu-satunya harapan baginya untuk semangat hidup.
Diana duduk santai di kursinya. Ia ingin menyaksikan kematian Alan di depan matanya.
Sementara, Kedua tangan Alan sudah di pegang di kedua sisinya. Toni mengepalkan tangannya dan memberikan pukulan beruntun di wajah Alan. Tidak lupa pula kaki Alan ia tendang berulang kali.
Tubuh Alan yang masih lemah setelah terkena tembakan dengan mudah jatuh ke lantai. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya. Seluruh wajahnya sudah bengkak melebihi di gigit oleh segerombolan lebah madu.
Alan perlahan memejamkan matanya. Ia sudah tidak tahan menahan rasa sakit tersebut.
Bayangan keluarga bahagianya terlintas di memorinya saat ini. Semua kembali berputar....
__ADS_1
Ayah dan ibunya seperti melambaikan tangan ke arahnya mengajaknya pergi. Sementara Alona menarik tangannya agar tidak pergi.
"Tinggalkan dia." Ujar Diana saat melihat Alan yang sudah tidak berdaya.