Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Maafkan aku Sayang...


__ADS_3

Badan Alexander yang terasa tegang seketika berubah menjadi rileks saat memeluk Alona. Pikiran kusutnya sudah hilang saat melihat Alona di sisinya. Alexander tidak bisa memaafkan dirinya sendiri bila terjadi sesuatu pada Alona-nya.


Pelukan Xander kian erat memeluk Alona. Xander takut Alona hilang saat pelukannya lepas. "Sayang, berhentilah bermain-main di luar. Kamu tahu rasanya jantungku seperti akan lepas saat mendengarmu dalam bahaya. Tidak bisa kamu sedikit peduli padamu dan bayi kita saat ini. Kamu tahu!? Alvaro dan ayahnya sudah mencarimu ke seluruh penjuru kota F dan kota lainnya. Aku bukan membatasi pergerakanmu. Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu dan bayi kita. Aku membeli villa di tengah kota dengan taman yang luas seperti ini hanya untukmu, agar kamu tidak bosan tinggal di rumah untuk sementara waktu."


Xander menghela nafas panjang dan melanjutkan kata-katanya. "Kamu tahu dari tadi aku tidak bisa bernafas. Apa kamu ingin menyaksikan jantungku berhenti berdetak saat ini!?" Tanya Xander.


Alona membenamkan kepalanya pada dada bidang Xander. Tangannya memeluk pria itu dan meneteskan air mata karena terharu mendengar kata-kata Xander. "Maafkan aku sayang..., lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi."


Alexander melepaskan pelukannya dan memperhatikan setiap inci tubuh Alona. "Apa ada yang terluka!?" Tanya Xander sambil memutari badan Alona.


"Aku tidak terluka Sayang.... kamu bisa lihat aku baik-baik saja. Aku wonder woman!" Jawab Alona sambil tertawa menatap Xander.


"Oh! begitu! jadi kalau kamu wonder woman kamu bisa pergi ke manapun dan menjadi sombong." Jawab Xander.


Alexander dibuat kesal dengan kekonyolan Alona. Xander geram saat ia berkata serius, namun wanita di depannya justru bercanda! malah wanita itu masih sempat tertawa di kala jantungnya hampir berhenti berdetak. Xander lantas menggendong Alona berjalan menuju kamar atas untuk mengadili perbuatan wanitanya. "Alexander turunkan aku." Teriak Alona. "Apa kamu tidak malu di lihat orang lain."


"Untuk apa aku malu. Ini rumahku! Kalau mereka tidak suka! silahkan tutup mata dan telinga." Jawab Xander.


Tukang kebun yang sedang memotong pohon bonsai di depan rumah tertawa geli melihat tingkah Alona dan Xander. Sementara Bibi Ani tersenyum mengintip dari balik pintu kaca kamarnya. "Aku seperti ingin kembali menjadi muda" Ucap Bi Ani dalam hati.


Bibi Ani mendongak menahan air mata yang akan jatuh teringat suami tercintanya. "Seandainya saja suamiku tidak mengalami kecelakaan di kapal laut, mungkin dia masih hidup sampai saat ini. Ah! Anak muda membuat ku cemburu saja." Kata Bi Ani sambil menarik tirai menutup kaca kamarnya.


"Harus bagaimana aku menghukum mu Alona!?" Teriak Xander kesal.


"Kenapa kamu ingin menghukumku?" Jawab Alona sambil memainkan mata dan melingkarkan kedua tangannya di leher Xander.


"Karena kamu tidak mau mendengarkan kata-kataku." Jawab Xander dengan ekspresi muram seakan memiliki tanduk di atas kepalanya.


Alexander meletakkan Alona di atas kasur dan menggigit telinga istrinya. Bersamaan Xander juga menggelitik kaki perut dan ketiak Alona. Alona tertawa renyah dan sangat garing bahkan terdengar sampai ke luar rumah. Badannya pun ikut bergerak-gerak tanpa mengingat ada bayi di dalamnya. Alona tidak kuat menahan kegelian saat Xander menggelitik bagian sensitif tubuhnya. "Sayang..., hentikan..., haha, Alexander! hentikan kataku..., hahaha, aku tidak bisa bernafas..., hahaha, cukup! Alexander!"


"Apa Kau masih berniat keluar rumah tanpa izinku?" Tanya Xander dengan muka muram.


"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak akan melakukannya lagi." Jawab Alona. "Aku akan patuh pada suamiku mulai dari sekarang."

__ADS_1


Alona lebih baik merasakan hukuman 100 tamparan di wajahnya dibandingkan harus menahan geli saat jari-jari menggelitik di seluruh tubuhnya.


"Bagus! kalau kau sudah mengerti. Kalau sampai terjadi di lain waktu, aku akan menghukummu lebih dari ini." Ucap Xander.


"Au...!" Alona memegang perutnya.


Muka Xander yang awalnya marah berubah menjadi panik melihat Alona meringkuk memegang perutnya. " Kenapa sayang!? apa yang terjadi pada perut mu" Tanya Xander.


"Perutku sakit..." Jawab Alona dengan menelentaangkan badannya dan meliuk-liuk menahan sakit.


"Bagian mana yang sakit?" Tanya Xander.


"Di sini" Jawab Alona sambil menunjuk perut bagian kiri bawahnya.


Xander memegang perut Alona dan mengusapnya.


"Bukan di sana, sekarang pindah ke sini." Kata Alona sambil menunjuk ke bagian perut sebelah kanannya.


"Aku akan memanggil dokter" Kata Xander semakin panik melihat Alona yang berteriak kesakitan. Xander mengeluarkan ponselnya, tapi Alona malah menarik tangan Xander agar tidak melakukan panggilan telepon. "Sayang, aku tidak kuat lagi!" Kata Alona tanpa melepas tangan Xander.


Alona membuka matanya, dan melihat ekspresi ketakutan di wajah Xander. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan. "Au..., Sayang sakit sekali! sekarang beralih ke sini" Alona menunjuk ke arah dadanya.


"Di mana yang sakit, sayang?" Tanya Xander semakin panik bahkan wajahnya sudah di penuhi keringat dingin.


Alona tertawa tidak bisa menyembunyikan bahwa dia sedang berpura-pura.


"Alona!" Xander meggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. " Apa itu lucu!?" Tanya Xander dengan nafas kembang kempis di dadanya.


"Salahmu! kenapa kau menggelitikiku tadi. Sekarang kita satu sama." Jawab Alona tidak mau kalah.


"Apa begitu caramu membalas suami mu. Bagaimana kalau benar-benar terjadi sesuatu pada bayi kita? aku akan menyalahkanmu. Kau orang pertama yang akan menanggung hukuman dariku." Kata Xander masih menyimpan amarah di kepalanya akibat di kerjai oleh Alona.


"Apa kamu lebih peduli pada bayi ku!?" Kata Alona merasa di acuhkan. "Baiklah sebaiknya kau yang mengandung." Jawab Alona merajuk sambil memalingkan wajah dan menyilangkan tangan di atas perutnya.

__ADS_1


"Sayang bukan begitu maksudku...."


"Lalu...!"


"Ok, ok, ok. Aku minta maaf" Jawab Xander memilih mengalah. Bagaimanapun berdebat dengan wanita hamil hanya akan membuang tenaganya.


Alona semakin menjadi. Ia membalikkan badannya membelakangi Xander.


"Sayang..." Xander mencoba membujuk Alona agar berhenti marah padanya. "Aku sudah minta maaf. Apa kamu akan menyiksaku seperti ini."


"...." Alona diam tersenyum dan menahan tawanya.


"Alona..., apa kamu tega membiarkan aku seperti ini!?"


Alona membalikkan badannya menghadap ke arah Xander.


Melihat Alona berbalik badan ke arahnya. Xander tersenyum dan berkata. " Sayang kamu sudah memaafkan ku bukan?"


Alona mendengus dan mengeluarkan kata-kata jahatnya. "Siapa bilang! aku hanya ingin mengatakan bahwa kasur lantai ada di lemari. Kau bisa tidur di lantai atau di kamar tamu."


Seketika Xander terdiam bagai tersiram air es di sekujur tubuhnya. "Alona kau sangat keterlaluan! aku akan mencari wanita lain di luar." Jawab Xander mengancam.


"Silahkan saja! kalau ada yang mau denganmu. Wanita luar sudah pintar! hanya aku yang bodoh bisa menerima pria sepertimu." Kata Alona kembali mengancam.


"Sayang jangan siksa aku seperti ini! aku pulang bukan untuk tidur di lantai atau di kamar tamu."


Alona kembali membalikkan badannya dan melemparkan guling dan bantal ke arah Xander. "Tuan Xander! tolong pelankan suaramu aku ingin tidur siang bersama anakku. Dan malam ini Kau tidurlah di luar. Anakku sedang marah padamu karena Kau membuat hati ibunya terluka."


"Alona!" Teriak Xander dalam hati menahan emosi. Pria itu membawa bantal dan gulingnya ke atas sofa panjang di sudut ruangan. Bagaimanapun dia harus menjaga image-nya di depan asiten rumah dan pekerja lainnya. Oleh karena itu ia tidak pergi ke kamar tamu.


Alexander merasa lelah karena semalaman tidur di lantai di ruang interogasi. Xander juga rela memakai krim wajah untuk menutupi memar di wajahnya. Semua ia lakukan agar Alona-nya tidak khawatir. Xander menatap punggung Alona dan perlahan memejamkan matanya. Alexander tertidur memeluk guling yang di berikan Alona padanya.


Alona menggigit jarinya. Ia tidak bisa tidur walaupun mata sudah mengantuk. "Apa aku keterlaluan pada Xander?" Tanya Alona dalam hati. "Tapi aku tidak ingin dia berbicara seperti itu. Seakan-akan aku bukan ibu yang baik untuk anakku. Aku juga mempunyai perasaan. Terlebih aku sangat menyayangi anak di dalam perutku"

__ADS_1


Alona membalikkan badannya memandag wajah Xander yang tengah tertidur di sofa. Melihat wajah pria itu Alona merasakan ketenangan. "Ah! kenapa aku tidak bisa jauh dari pria itu. Dia seperti obat tidur bagiku. Kenapa aku yang menjadi tersiksa seperti ini!?"


Alona menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan memejamkan matanya agar tertidur walaupun sebentar. Alona butuh tenaga untuk bayi di dalam perutnya.


__ADS_2