Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Aku ingin kembali


__ADS_3

"Kak aku ingin kembali" Miller memberanikan diri.


Xander memijit tengkuknya. "Miller kakak sudah mengatakan berapa kali denganmu, jangan pernah kembali."


"Kak, aku hanya ingin melihat pemakaman ayah,ibu, dan kakak cuma sebentar saja. Aku akan pulang 3 atau 6 bulan lagi." Miller berbicara cepat tanpa bernafas mengungkapkan keinginannya.


"Miller...," Xander memberi peringatan.


"Kak aku tahu, Kakak pasti ingin mengatakan Miller jika kau ingin menjadi seorang dokter tetaplah disana. Jangan pernah kembali."


Xander tersenyum, "Miller Kau tahu konsekuensinya jika Kau kembali."


"Kak aku bukan anak kecil lagi. Aku bahkan lebih tampan dan tinggi dari kakak sekarang. Aku bisa merebut pacar kakak jika ia melihatku di sampingmu."


"Kau terlalu percaya diri Miller. Tidak ada yang mau dengan pria gemuk sepertimu."


"Kakak saja yang tidak pernah menggunakan sosial media. Sehingga kakak tidak pernah melihat ku yang tampan saat ini. Aku tidak lagi gemuk seperti dulu." Miller merajuk.


" Oh!, ya!?" Xander berpura-pura terkejut.


"Tidakkah kakak merindukanku!?" Miller merayu kakaknya.


"Pulanglah," Xander memberi izin dengan terpaksa. Jika dipikir-pikir dia juga merindukan adiknya. "Hanya dua hari tidak lebih."


"Terima kasih Kakak. Kau sangat baik. Aku senang bisa pulang walaupun cuma dua hari. Bagiku itu sudah cukup."


Miller Kau sangat pandai merayu. Xander menggoda adiknya.


"Oh!, kakak. Aku tidak pandai merayumu. Aku hanya pandai merayu seorang wanita." Setelah selesai berbicara Miller langsung mematikan sambungan teleponnya.


Xander tertawa mendengar adiknya berkata seakan ia berpengalaman dengan seorang wanita. "Anak itu, tidak pernah berubah sejak dulu."


Semenjak Alona membawa mobilnya. Ia tidak pernah pulang ke rumahnya. Xander menginap di kantor sekaligus rumah keduanya di lantai paling atas Golden hotel.


*****


Jam sepuluh pagi Alona mendatangi Golden hotel. Ia sudah mempertimbangkan kedatangannya. Alona sudah tahu jika datang ke rumah pria itu akan sangat merepotkan ia harus melakukan serangkaian pengecekan keamanan dari petugas keamanan rumah Xander. Selain itu, Xander belum tentu ada di rumah. Pilihan tepat mengantarkan mobil itu ke hotel milik Xander. Ia juga tidak akan repot mendapatkan taxi untuk pulang.


"Pagi" Alona menyapa Anita.


Pagi No-nona. Anita membalas sapaan Alona.


Wanita itu terkejut melihat Alona yang datang secara tiba-tiba. Ia kemudian tersenyum ramah ke arah Alona. Anita menatap Alona seperti melihat makanan kesukaannya. Ia kemudian bergumam di dalam hati memuji wanita di depannya itu "Calon Nyonya muda ternyata benar-benar sangat cantik meskipun tanpa memakai makeup."

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" Anita bertanya. "Nona-"


"Alona" Alona menyebutkan namanya.


"Ya. Nona Alona, ada yang bisa di bantu."


Alona memberikan kunci mobil pada Anita. "Tolong berikan pada bosmu" Alona langsung ke tujuan utamanya datang ke sana.


Tapi, Nona. Aku tidak berani. Sejak kemarin bos selalu marah-marah. Anita berbicara pelan sembari mendekatkan diri ke arah Alona.


"Um...," Alona sedikit berfikir. Dia sangat tahu tentang sifat asli pria itu saat marah. Pria itu tidak akan segan mematahkan kaki atau tangan orang lain. Mungkin juga tidak segan membunuh orang dengan kejam.


"Aku juga tidak punya kartu akses untuk masuk ke lantai atas." Alona merasa menyesal.


"Nona tidak usah khawatir. Aku akan membantumu." Anita seketika sangat bersemangat. Baginya membantu calon Nonya muda sungguh suatu berkah tak ternilai harganya. "Tunggu sebentar, Nona"


Anita menyambungkan telepon ke salah satu petugas hotel. "Ibnu, tolong ke bagian resepsionis sebentar. Sangat penting!, tamu sedang menunggmu sekarang."


"Baik" Ibnu dengan cepat menuju meja resepsionis.


"Anita!, ada apa Kau memanggilku."


Anita memberi kode kepada Ibnu agar berbicara sopan.


Anita membuka pembicaraan terlebih dahulu. "Ibnu tolong antarkan Nona Alona ke kamar bos."


Ibnu menganggukan kepalanya. "Baik"


Ibnu menyapa Alona. "Halo Nona Alona, aku Ibnu akan mengantarkan Nona ke tempat Tuan."


Alona tersenyum dan mengikuti Ibnu di belakang.


Saat tiba, Alona tersenyum dan mengucapkan. "Terima kasih, sudah membantuku."


Ibnu menganggukan kepalanya. "Sama-sama Nona. Senang melayani Nona." Ibnu tersenyum dan pergi.


Alona memencet bel berulang kali....


Bunyi bel itu membuat Xander naik darah. "Siapa?, berani-beraninya memencet bel berulang kali. Dia pikir aku tuli!?"


Alona memencet bel lagi dan menyenderkan badannya di tepi pintu karena sudah bosan menunggu. Jika tidak karena ponselnya rusak Alona tidak akan repot-report datang menemui pria itu lagi.


Xander membuka pintu dan bersiap-siap memaki orang yang datang. "K-kau!" Xander terkejut.

__ADS_1


Ya. Alona menjawab acuh tak acuh.


"Nona Alona," Xander memanggil wanita itu. "Sepertinya sangat penting Kau menemuiku di sini. Apa Kau merindukanku!?" Xander mulai berulah.


"Jangan terlalu percaya diri. Mana mungkin aku merindukan serigala bengis. Aku hanya menyukai kucing yang imut dan lucu tidak sepertimu." Alona memalingkan wajahnya seakan-akan ia tidak berniat menemui pria itu.


Xander menarik tangan Alona masuk kedalam lalu ia menutup pintu.


Alona terkejut saat di tarik masuk oleh Xander. "Apa yang Kau lakukaan!?" Alona bertanya penuh selidik.


Sssssssscht. Xander meletakan jari telunjuknya di atas bibir Alona. Pria itu menekan tubuh Alona hingga menempel ke dinding.


Alona terdiam dan mngerjapkan matanya berulang kali.


Xander mendekatkan wajahnya ke arah Alona. Kening keduanya sudah beradu. Pria itu juga menarik dagu Alona dan bersiap menciumnya.


Di tengah ketegangan antara Xander dan Alona. Bel pintu berbunyi sangat nyaring.


Alona tersadar dengan sejuta kecanggungan. Sementara Xander mengepalkan tangannya. Sedikit lagi ia bisa merasakan kehangatan bibir wanita itu yang membuat ia ketagihan. Sejak berpisah ia sangat merindukan aroma wanita itu. Merindukannya seperti tak ingin berpisah lagi.


Tangan Xander membuka pintu. Tatapan matanya tajam seperti akan mengiris mata yang memandangnya. "Ada apa!?" Xander bertanya pada pria berbaju merah. Pria itu tidak berani menatap langsung bosnya. Ia menundukkan kepalanya. "M-maaf Tuan, Nona meninggalkan ini." Ibnu menyerahkan kunci mobil milik Xander yang tertinggal di atas meja resepsionis.


Xander mengambil kunci itu dan segera mengusir Ibnu pergi. "Cepat pergi. Kau pengganggu!, menyebalkan." Xander kembali mengumpat. Ia menekankan kata penganggu menyiratkan bahwa ia hanya ingin bersama kekasihnya.


Ibnu membeku mendengar kata-kata bos-nya. Semua orang juga tahu bahwa ia akan mengganggu jika sepasang kekasih sedang berduaan.


Melihat Ibnu datang Alonapun ingin ikut pergi keluar. Tidak ada alasannya untuk tetap tinggal.


Xander yang melihat Alona ingin pergi langsung menarik wanita itu dan menciumnya. Tidak peduli bawahannya melihat atau tidak. Ia tidak malu ataupun merasa canggung.


Xander lepaskan aku. Alona menampar pipi Xander dengan sangat kuat.


"Alona!," Xander meggertakkan giginya. Tangannya menatap pipinya yang terasa panas akibat tamparan wanita itu. Pipinya mati rasa.


Ia menarik wanita itu dan membopongnya. Xander melemparkan badan Alona di atas sofa di ruang utama kamarnya. "Xander, hentikan!" Alona menggelengkan kepalanya.


Xander tidak bergeming mendengar peringatan Alona. Ia mala semakin menekan tubuh wanita itu.


Semakin terancam dan takut Alona mendorong badan Xander agar melepaskannya."Xander aku akan menikah!, jangan ganggu aku lagi."


"Teng!" Kepala Xander seperti di pukul menggunakan balok kayu. Kepalanya terasa akan pecah mendengar kata-kata Alona akan menikah.


Xander melepaskan wanita itu dan berteriak. "Pergi!" Xander menarik tangan Alona hingga wanita itu berdiri tegak. Kemudian Xander dengan seluruh kekuatannya ia mendorong tubuh Alona mendekati pintu keluar kamar.

__ADS_1


Sebelum pergi Alona masih sempat mengucapkan rasa terima kasih karena sudah meminjam mobil. "Terima kasih" Alona menoleh ke arah Xander dan pergi dengan langkah besar.


__ADS_2