Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Cemburu!!!


__ADS_3

Mobil Michael memasuki area parkir restoran Three M . Dari arah kiri gadis kecil melintas di depan mobil Michael. Ban mobil berdecit akibat rem mendadak.


"Michael!!!" Alona berteriak memegang dadanya. Badannya condong ke depan akibat mobil berhenti mendadak. Beruntung Alona masih mengenakan seat belt. Sehingga hanya jantungnya saja yang berdegup kencang.


Alona menundukkan kepalanya ke bagian depan mobil menopang badannya yang terasa dingin dan gemetar seperti kelaparan.


"Aku seperti menabrak seseorang." Kata Michael dengan tatapan kosong ke depan.


"Apa!?" Alona menoleh ke arah Michael kaget dan langsung menghambur ke luar dari mobil. Alona melihat ke depan mobil untuk memastikan keadaan.


Depan mobil, Alona menarik nafasnya dan mengeluarkannya perlahan saat melihat seorang gadis kecil sedang memeluk kedua kakinya dengan kepalanya terbenam di lututnya. Alona mendekati gadis kecil itu yang sedang terisak menagis. Alona duduk berjongkok di sebelah gadis itu dan berkata. "Sayang jangan menagis. Ada Kakak di sini." Gadis kecil itu mendongakkan wajahnya ke Arah Alona. Matanya merah dan basah serta terlihat sangat ketakutan. "Tenang Kakak orang baik tidak akan menyakitimu." Kata Alona menenangkan gadis kecil itu sambil memegang pundaknya.


Michael ikut keluar. "Alona apa dia baik-baik saja!?" Tanya Michael ketakutan dengan mukanya sedikit pucat namun aura tampan dan gagahnya tidak goyah sedikitpun mengenakan tuksedo silver metalik.


"Tidak, anak ini tidak sampai tertabrak. Hanya saja dia ketakutan." Kata Alona memberikan penjelasan.


"Syukurlah." Kata Michael sambil bernafas lega.


Anak kecil itu terlihat imut mengunakan gaun berwarna pink dengan bando telinga kelinci di kepalanya, umurnya berkisar 4 sampai 5 tahun. Dari penampilannya, gadis kecil itu terlihat dari keluarga terpandang. Alona menanyakan nama gadis kecil itu. "Sayang siapa namamu." Gadis kecil itu menjawab dengan nada terbata-bata. "Si-Sisy."


"Hai Sisy nama Kakak Alona dan paman ini namanya Michael." Alona menunjuk ke arah Michael memberitahu Sisy.


"Paman!!!" Wajah Michael berubah muram. Kata-kata itu seakan menampar wajah Michael. Bagaimana ia adalah pria tampan dan masih muda. Apa Alona sedang bercanda dengannya. Ingin sekali pria itu mencubit pipi Alona kala ia menyebutnya paman. Tapi pria itu tetap tersenyum saat mata Sisy menatap ke arahnya.


Kemudian, Alona mengendong anak itu dan mengusap punggungnya. "Jangan menagis lagi. Nanti Kakak akan menghubungi orang tuamu ya. Sekarang ikut Kakak makan dulu saja." Kata Alona menenangkan anak itu lagi. Anak kecil itu menganggukan kepalanya tanpa bertanya dan protes dengan keadaannya. "Michael tolong bantu aku menggendong Sisy." Michael segera meraih tangan anak itu, tapi gadis kecil itu memperkuat pelukannya pada Alona. Alona mengerti. "Ok, ok, Kakak yang akan menggendong Sisy."


Alona melangkahkan kakinya di ikuti Michael, berjalan di sampingnya memegang pinggul Alona menuju pintu masuk restoran. Alona ingin memarahi pria itu. Melihat Sisy dipelukaanya membuat Alona mengurungkan niatnya. Belum lagi ia mengenakan sepatu berhak tinggi. Selamat datang Nyonya dan Tuan. Silahkan masuk. Kata pelayan restoran yang berdiri di depan pintu masuk menyapa Alona dan Michael dengan senyuman sumringah.


Benar saja apa yang di pikiran Alona melihat mereka berjalan bertiga membuat orang salah paham. Bahkan pelayan memanggilnya Nyonya bukan Nona lagi.


Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan yang telah di pesan. Berhubung Michael reservasi mendadak ia hanya bisa memesan ruangan best view. Ada sepuluh meja di dalam ruangan itu. Restoran di sana tidak membedakan status. Restoran Three M selalu memprioritaskan konsumen pesan terlebih dahulu.


Alona memangku Sisy di kursinya. Gadis kecil itu sangat patuh di pelukan Alona. "Sisy kamu mau makan apa?"Tanya Alona dengan lembut pada anak itu.


Sisy menggelengkan kepalanya tidak tahu ingin makan apa. Alona bertanya lagi, kali ini ia menyebutkan menu masakan di buku menu. "Bubur ayam, ayam goreng, daging panggang. Apa Sisy tertarik untuk mencoba?"


Sisy menunjuk gambar bubur ayam dengan jari kecilnya. "Baiklah Kakak akan memesannya untukmu." Alona mencubit pipi Sisy yang seperti bakpao. Alona selalu bersemangat saat melihat anak-anak.


Di sisi lain, Michael merasa tersisih. Berharap makan malam romantis malah menyaksikan Alona memperhatikan anak kecil di hadapannya. Michael memencet bel di atas meja memangil pelayan. Pria itu menyuruh pelayan mengambil kursi untuk Sisy. Dia tidak tahan merasa di abaikan.


10 menit makanan sudah tiba dan di hidangkan di atas meja. Alona menyiapkan makanan untuk Sisy. "Sisy bisa makan sendiri kan?" Sisy menganggukan kepalanya.


Alona merasakan hawa dingin di musim panas kala duduk bersama di ruangan itu. Tatapan mata Michael membuatnya bertanya-tanya. " Michael apa ada yang salah denganku." Tanya Alona penasaran karena sejak tadi pria itu menatapnya sinis.


"Tidak ada..." Kata Michael.


"Lalu, apa maksudnya kau memandangi ku seperti itu." Tanya Alona sambil menyantap hidangan makan malam.

__ADS_1


"Aku hanya cemburu!!!" Michael mengucapkan kata-katanya tanpa tersenyum ataupun melihat ke arah Alona. Michael fokus memotong dagingnya di atas piring.


Alona tertawa. "Michael, Michael...!" Alona menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Michael, aku yakin Kau pasti memiliki kekasih yang banyak jika di lihat dari kata-katamu" Alona tersenyum geli.


"Aku tidak memiliki kekasih. Mungkin setelah ini. Apakah yang duduk di depan bersedia."


Alona belum sempat mencerna perkataan Michael, tiba-tiba Sisy menarik gaun Alona. Gadis itu tidak berani bicara. Alona mendekatkan tubuhnya pada Sisy dan bertanya. "Kenapa sayang?, apa Kau menginginkan sesuatu?"


Michael duduk diam bagai patung pajangan di kursi meja itu saat Alona memperhatikan Sisy.


Sisy mendekatkan mulutnya ke telinga Alona dan berkata. "Kakak aku ingin buang air...." Alona tersenyum sambil megusap kepala Sisy. Rupanya anak itu ingin buang air. Pantas saja ia tidak bersuara sejak tadi. "Ok. Kakak akan menemanimu sayang."


"Michael aku akan menemani Sisy ke toilet sebentar." Alona menggendong anak itu agar lebih cepat sampai. Michael tinggal sendirian di meja dan melanjutkan menyantap makan malamnya. Daging yang ia makan terasa seperti potongan sendal karet. Perasaannya saat ini sangat tidak senang. Michael tidak pernah sesulit ini mendapatkan seorang wanita. Banyak gadis-gadis muda tertarik padanya tapi tidak tahu dengan Alona. Kenapa wanita itu sangat susah di tangkap olehnya.


Sepatu Alona sedik bermasalah yang membut kakinya sakit. "Sisy bisa jalan sendiri tidak? kaki kakak rasanya sangat sakit." Alona membungkukkan badannya menurunkan Sisy ke lantai. Sisy sudah tidak kuat dan berlari sangat kencang menuju toilet umum berjarak 2 meter darinya. "Sisy tunggu kakak." Alona mempercepat jalannya. "Au!!!" Alona terpleset di lantai licin. Alona memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit saat tubuhnya mendarat di lantai.


2 Menit berlalu tubuh Alona juga tidak jatuh ke lantai. Ada sesuatu yang menahan di pinggulnya. Tubuh Alona mengambang di udara. Perlahan Alona membuka matanya. Pandangan matanya tertuju pada pemilik mata coklat di depannya. "Xander!" Alona segera memperbaiki tubuhnya dari tangan pria itu. Alona ingin segera pergi. Tidak ingin terjebak dalam situasi yang memalukan bersama pria itu lagi.


"Alona...." Suara Xander lembut saat memanggil nama Alona. Namun kata yang ingin ia ucapkan terhenti saat Sisy keluar dari toilet berlari ke arah Alona. "Sayang sudah selesai...." Tanya Alona memastikan. Sisy menganggukan kepalanya.


Xander tertegun menatap anak kecil itu. Gadis kecil itu sangat mirip dengan kakaknya saat kecil dulu. Xander ingat karena foto masa kecil kakaknya sangat banyak tersimpan di dalam lemari rumahnya. "Kak Michelle..." Kata Xander memanggil nama anak itu.


Alona menoleh ke arah Xander. "Apa maksudnya?, apa Xander mengenal anak ini" Tanya Alona dalam hatinya.


"Alona..., katakan anak siapa yang sedang bersamamu."


Kaki Alona baru melangkah, muncul seorang wanita berlari memanggil nama anaknya ke arah Alona. "Sisy...!!!" Wanita itu berpenampilan elegan mengunakan gaun hitam selutut tubuhnya sedikit gemuk. "Sisy, nak kamu ke mana saja. Mama sangat cemas melihatmu tidak ada di ruangan makan" Sisy segera berpindah memeluk ibunya. Wanita itu membungkukkan tubuhnya. "Terima kasih Nona. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada anakku bila tidak ada kamu."


Mata wanita itu penuh kesedihan memeluk anaknya. "Maaf merepotkanmu."


Alona tersenyum menyambut ucapan wanita itu. "Sama-sama anakmu sangat menggemaskan aku tidak merasa kerepotan sama sekali."


Xander berjalan ke arah Alona dan merangkul pundaknya. Mau tidak mau Alona hanya diam. Dan Xander memanfaatkan itu.


Wanita yang sedang menggendong Sisy tersenyum menatap Alona. "Rupanya kalian pasangan muda. Semoga cepat-cepat mendapatkan bayi seperti Sisy" Kata wanita itu tanpa malu mengucapkannya.


"Terima kasih Nyonya. Saya juga sudah berusaha tiap malam dengannya." Xander mengucapkan kata-kata itu sangat lancar tanpa rem dan penyaring di mulutnya.


Apa pria selalu tidak tahu malu saat jatuh cinta. Alona mengepalkan tangannya. Mukanya berubah memerah menahan malu akibat ulah Xander.


Alona memaksakan senyum di wajahnya saat Xander memeluknya dari belakang dan memegang perutnya. Pria itu lebih agresif, urat malunya memang sudah putus sejak ia lahir. "Sisy... lihatlah nanti kamu akan punya teman di dalam perut kakak Alona."


Alona sudah tidak tahan dengan semua tingkah Xander. Pria itu sudah melampaui batas. "Maaf Nyonya sumiku memang sedikit tidak tahu malu. Sebenernya aku tidak bermasalah, hanya saja suamiku sedikit payah di ranjang. Oleh sebab itu kami kesulitan mendapatkan bayi." Alona membalas perbuatan Xander. Jika pria itu tidak tahu malu maka Alona lebih tidak tahu malu dari pria itu.


"Sayang bisakah kau tidak membocorkan rahasia ranjang kita pada orang lain." Xander memeluk Alona lebih erat.


"Maaf sayangku." Alona membalikkan badannya dan mengaitakan kedua tangannya di leher Xander. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku pikir, mungkin saja ada yang bisa membantumu memberi obat." Alona melepaskan tangannya dan kembali seperti semula.

__ADS_1


Wanita di depan Alona tersenyum malu mendengar kata-kata Alona. Lalu wanita itu mengeluarkan 2 bungkus obat dari dalam tasnya. Wanita itu meraih tangan Alona dan memberikannya. "Simpanlah, ini untukmu. Aku harus pergi sekarang. Aku sedang terburu-buru. Namaku Raisa, sampai jumpa di lain waktu."


Wanita itu sangat cepat meninggalkan Alona dan Xander. Bahkan Alona belum sempat menyebutkan namanya.


Alona melihat obat yang di berikan oleh Raisa di tangannya. Satu obat kuat dan satu lagi obat untuk penyubur kandungan. Muka Alona menghitam seperti arang. Alona memberikan obat itu pada Xander. Ia meraih tangan pria itu. "Untukmu semoga Kau cepat memiliki anak bersama an*ingmu" Kata Alona dengan suara lantang.


Xander tersenyum penuh kemenangan. "Alona aku akan meminumnya untukmu. Bisakah Kau bekerja sama denganku?"


"Tidak..., terima kasih. Jangan lupa dengan janjimu. Tidak akan menggangguku lagi Xander!" Alona membalikkan badannya dan pergi ke ruangannya dan Michael.


Xander tidak akan pernah setengah-setengah menuntaskan pekerjaannya termasuk urusan cintanya pada Alona. Xander berjalan mengikuti Alona di belakang.


"Michael maaf membuatmu lama menunggu."


Alona menarik kursi dan duduk . Sedangkan Xander ikut duduk di tempat Sisy.


Michael bingung menatap Xander duduk di meja yang telah ia pesan. "Hai," Xander mengulurkan tangannya ke arah Michael. "Aku Alexander kekasihnya Alona."


Di saat bersamaan Michael dan Alona menatap ke arah Xander. Alona yang baru sadar bahwa Xander mengikutinya diam bagai tersambar petir.


Michael cukup terkejut. Dia hanya tahu jika Alona kekasihnya Alvaro. Apa dia salah saat melakukan penyelidikan. Tidak mungkin!!!


Michael menyambut tangan itu dan menyebutkan namanya. "Michael, teman spesial Alona"


Kedua pria itu saling menatap tajam seperti ayam jantan yang sedang mengikuti pertandingan.


Alona hanya diam, tidak mempedulikan kedua pria di depannya. Apakah bertengkar atau berselisih Alona tidak peduli.


Kecanggungan cukup lama melanda di meja itu hingga akhirnya pelayan datang membawa makanan penutup. Suasana tegang mulai mencair. Pelayan terkejut melihat Xander yang tengah duduk. "Tu-Tuan" Xander melambaikan tangannya agar tidak mempedulikan keberadaannya. Pelayan itu pergi setelah menyajikan makanan.


Michael mengacak-acak makanan di piringnya hingga menimbulkan suara sendok beradu. Sementara Xander menarik piring di depan Alona karena ia tidak punya makanan di depannya. Alona yang sedang memasukan makanannya ke mulut diam dan mendelikkan matanya. "Sayang aku bantu kamu makan saja." Kata Xander dengan sangat baik dan hangat. Alona ingin menarik piringnya lagi, tapi Xander malah menggenggam tangan Alona.


Dua pria dan satu wanita di meja makan yang sama. Kedua pria sedang memperebutkan Alona. Sementara hati Alona masih tetap sama, tidak goyah.


Xander mengambil sendok dari tangan Alona dan memotong kue menjadi beberapa bagian kecil lalu ia menyuapkan pada Alona. "Sayang..., buka mulutmu." Alona membuka mulutnya. Michael menyaksikan semua ke intiman antara Alona dan Xander.


Alona tidak senang dengan sifat Michael oleh karena itu ia lebih baik menjauh darinya. Tidak rugi juga hari ini bertemu dengan Xander. Walaupun setelah ini ia harus menendangnya juga.


Makan malam selesai. Michael menarik tangan Alona. Bahu Alona terangkat sedikit saat di tarik. "Alona ayo, aku akan mengantarkanmu pulang."


"Tidak!" Xander menyela. "Alona akan pulang bersamaku. Benar kan sayang?"


"Aku yang bersamanya ke sini. Jadi aku yang akan mengantarkannya pulang." Kata Michael.


"Xander aku akan pulang bersama Michael. Arah rumah kami sama. Dia tetangga di dekat rumahku."


"...." Xander diam memikirkan rencana.

__ADS_1


__ADS_2