Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Di luar dugaan Diana!!!


__ADS_3

Diana telah mengatur semua rencana dengan matang. Dia sudah memastikan semuanya, termasuk cara mengatasi semua kemungkinan kegagalan rencana yang akan terjadi. "Alan aku ingin melihat bagaimana reaksimu saat melihat video yang ku kirim!" Ucapnya dalam hati.


Video itu hanya sebuah ilusi nyata. Diana sudah membayar seorang ahli video game 3D. Dark sang ahli itu, sudah membuat video sangat mirip dengan Alona. Mulai dari suara, wajah dan bentuk tubuh. Dia bisa menghasilkan video nyata tersebut hanya dengan melihat unggahan video dan foto Alona di sosial media.


Video Alona benar-benar terlihat nyata di pandang dari sudut orang awam. Bahkan ahli IT bisa terkecoh jika tidak memiliki kecermatan dalam penelitiannya.


Diana sudah tahu kelemahan Alan. Oleh sebab itu Diana membayar seseorang untuk membuat video Alona telah di culik. Semua itu ia lakukan untuk menekan agar Alan tidak berkutik dan langsung menurut dengan rencananya.


Setelah mengirim pesan video, Diana lantas pergi ke Royal building. Dia menunggu kedatangan Alan sambil duduk di kursi kayu.


Diana sudah menyiapkan segalanya. Mulai dari pemantauan CCTV perusahaan milik Alan terutama di dalam ruangan Alan bekerja dan CCTV di tempat umum dan jalan raya. Hal itu di maksudkan untuk memantau pergerakan Alan saat pergi ke Royal building.


Pemadaman jaringan telekomunikasi dilakukan untuk memperburuk keadaan, agar tidak memberikan ruang bagi Alan untuk menghubungi pihak kepolisian dan orang penting lainnya. Sehingga kecil kemungkinan Alan akan membuat keributan.


Diana tertawa terbahak-bahak memikirkan ia berhasil melakukan misinya. Alan mati tepat di depan matanya. Ia sudah menunggu selama 15 menit. Namun Alan belum juga datang. Seketika itu ia tersadar dari khayalan nya.


Hati yang mulanya senang kini menjadi suram dan bergemuruh penuh kebencian. Ia memaki pria di sampingnya. "Di mana dia?!" kenapa dia belum sampai, sampai detik ini?! apa kalian mempermainkan aku?!"


Toni sebagai pemegang kendali penuh terhadap rencana itu langsung menjelaskan. "Bos kita sudah melihat secara bersama-sama bahwa Tuan Alan sudah pergi menuju Royal building, bukan?"


"Lalu ke mana dia sekarang!?" Tanya Diana semakin marah tidak sabaran. Dadanya sudah kembang kempis menahan emosi.


"Saya akan melihat dan memastikannya lagi bos," jawab Toni ketakutan.


Toni pergi ke ruangan di samping, bersebelahan dengan tempat Diana menunggu Alan. Ia membuka pintu ruangan itu. "Cek CCTV di sekitar gedung ini, yang sudah di pasang sebelumnya." Perintah Toni pada dua orang hacker di dalam ruangan itu.


"Segera bos!" Jawab kedua orang itu.


Diana kembali memaki saat Toni kembali ke arah nya tanpa memberikan informasi yang ia inginkan. "Kalian tidak berguna. Mengurus satu orang saja tidak becus. Percuma aku membayar mahal kalian." Diana bangkit dari kursinya pergi ke ruangan di samping untuk memastikan sendiri. "Kalian semua bodoh! untuk apa otak kalian itu? jika tidak di pakai?!" Umpatnya.


Diana memukul pintu dan berkata pada Juni dan Rafi. "Segera cek semua CCTV! aku ingin melihat di mana dia sekarang?!"


Semua terjadi di luar dugaan Diana. Kini ia semakin marah dan emosi menyaksikan kegagalan rencananya. Namun ia tetap berusaha untuk tetap bertahan sampai titik akhir.


*****


Sisi lain....


Alan pria yang cerdas. Kali ini dia tidak akan pernah tertipu lagi. Saat ia mendapatkan Kiriman video dari Diana Maringka. Alan membuka video itu, raut wajahnya seketika menjadi cemas dan lesu. Tapi semua itu hanya berpura-pura. Setelahnya Alan segera berkemas, ponsel dan laptop-nya ia bawa. Tidak lupa pula ia berpura-pura menyiapkan dokumen pemindahan saham dan barang bukti kejahatan Diana. Gerakannya sengaja di perjelas pada tangkapan CCTV. Dia tahu CCTV di perusahaaanya sudah di awasi oleh Diana. Karena lampu pendeteksi sorotan CCTV yang biasanya merah sudah berubah menjadi biru. Alan sudah memasang pendeteksi hacker pada CCTV tersebut. Dan, hanya ia yang tahu.


Alan pergi meninggalkan ruangan kerjanya menuju lantai parkir bawah tanah. Ia menggunakan mobil dinas perusahaannya untuk mengelabui para wartawan yang sudah berkumpul di depan pintu kantor.


Alan benar-benar pergi meninggalkan kantornya. Namun ia tidak pergi ke royal building melainkan hanya keluar untuk mengecohkan Diana. Ia melewati jalan yang mempunyai CCTV menuju royal building. Ketika ada jalan sepi ia menepikan mobilnya.

__ADS_1


Memanfaatkan waktu, Alan menghubungkan ponsel ke laptop-nya untuk mentransfer rekaman video menggunakan kabel USB. Alan sempat percaya pada video itu. Ia merasakan detak jantungnya hampir berhenti seakan dunia sudah berakhir. Namun, kejahatan tidak akan bisa menang. Itu sudah menjadi takdir sejak dulu. Kejahatan akan selalu kala dengan kebaikan.


"Diana Kau manusia ular! terkutuk!" Maki Alan.


Alan tidak habis pikir jika Diana hanya mengatur siasat jahatnya. Adiknya tidak di culik. Video itu hanya gambar ilusi saja. Meskipun ia lulusan bisnis manajemen tapi ia sedikit mengerti tentang IT.


Kepala Alan sedikit pusing merasakan sakit luar biasa di kepalanya. Selama kepulangannya ia kurang tidur, sehingga sering mengalami pusing seperti akan pingsan. Ia kemudian menundukkan kepalanya ke kemudi mobil untuk merilekskan tubuhnya.


Alan perlahan memejamkan matanya. Ia sudah tidak tahan menahan rasa sakit tersebut. Tanpa sadar ia tertidur selama 5 menit.


Bayangan keluarga bahagianya terlintas di memorinya saat ini. Semua kembali berputar....


Ayah dan ibunya seperti melambaikan tangan ke arahnya mengajaknya pergi. Sementara Alona menarik tangannya agar tidak pergi.


Kening Alan sudah di banjiri keringat dingin. Ia kemudian tersadar dari mimpinya. "Mimpi buruk lagi..." Gumam Alan.


Mimpi itu selalu datang saat ia tertidur selama masa pemulihan, kini terulang lagi. Adiknya Alona yang selalu datang di akhir mimpinya agar ia bertahan dan berjuang untuk hidup normal kembali.


Alan memijat kepalanya yang terasa pusing. "Diana kita lihat siapa yang akan menang?!" Kata Alan dengan tatapan penuh kebencian.


Alan membuka jas-nya. Kini ia hanya mengenakan kemeja dan celana panjangnya. Setelah itu, ia mengenakan masker penutup hidung dan memakai topi baseball. Sebelum turun Alan meninggalkan ponsel di dalam mobilnya untuk menghilangkan jejak. Alan hanya membawa laptop dan barang bukti.


Tidak berlama-lama, Alan menghentikan taxi menuju Golden Hotel. Ia ingin menemui Alexander....


"Maaf..., Tuan siapa?" Tanya Anita sedikit ketakutan melihat pria di depannya menggunakan masker. Anita takut jika di depannya adalah seorang *******.


Alan memperlihatkan kartu namanya sama seperti saat ia di cegat oleh penjaga keamanan di pintu utama.


"Alan Ruby Raharaja!" Kata Anita menyebutkan nama lengkap yang tertera di kartu nama tersebut. Anita seketika menutup mulutnya karena terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu orang penting dan paling tampan menurut majalah popular.


"Emmm...." Jawab Alan.


"Tapi-, Tuan.... Bisakah Tuan membuka masker sebentar. Saya hanya mematuhi prosedur kerja." Kata Anita sedikit ragu sekaligus curiga.


Alan membuka maskernya, memperlihatkan wajah tampannya. "Apa Kau juga ingin melihat KTP-ku?" Tanya Alan sedikit menyindir.


Anita tersenyum ramah. Namun di dalam hatinya menjerit ketakutan. Di kota J tidak ada yang tidak tahu siapa itu Alan. Dia adalah penerus Raharaja Industry. Kekayaan perusahaannya nomor satu di kota J. Dengan menjentikkan jarinya saja Alan bisa melenyapkan seseorang dari kota itu.


"Maafkan aku Tuan. Mataku tidak jeli. Tuan bisa menghukumku." Kata Anita sangat tulus.


"Tidak perlu," jawab Alan. "Tunjukkan padaku di mana Alexander sekarang. Ada hal penting yang saya harus selesaikan bersamanya."


"Petugas kami akan mengantar Tuan Alan ke ruangan Tuan Alexander." Jawab Anita sedikit membungkukkan badannya.

__ADS_1


Lima menit Alan tiba di ruangan Alexander.


"Alexander...." Panggil Alan sambil memperhatikan Alexander yang tengah sibuk di ruangan kerjanya.


"Kakak?!" Jawab Alexander terkejut. "Kakak kenapa tidak menelponku saja. Aku bisa turun menemui Kakak di bawah. Kalau seperti ini aku terlihat tidak sopan. Aku seperti adik yang tidak patuh dan durhaka." Kata Xander sungkan.


"Aku tidak membawa ponsel. Ponselku sudah di retas oleh seseorang." Jawabnya. "Alexander lihatlah video ini." Kata Alan sambil menyerahkan laptop-nya pada Alexander.


"Kak, apa maksud semua ini?" Tanya Alexander bingung.


"Diana mengirimkan video ini pada ku. Dia mengancamku menggunakan video sampah itu. Tujuannya untuk mengambil saham dan barang bukti kecelakaan ibu dan ayahku." Jawab Alan serius.


"Diana memang wanita yang sangat licik!" Umpat Alexander. Ia tidak mengira Diana akan menggunakan istrinya untuk mendapatkan segala yang ia inginkan. "Apa yang bisa aku bantu dengan semua video ini, Kak?" Tanya Alexander.


"Aku tahu Alona aman di west flores. Tapi, alangkah baiknya jika kita menyewa bodyguard handal dan terpercaya untuk mengawasi Alona di sana."


"Jangan takut Kak. Dokter Risma adalah dokter militer sedangkan Bibi Ani adalah mantan pemimpin pasukan perang. Dia pensiun dini saat suaminya meninggal dunia. Aku sudah memikirkan untuk menambah pengawasan di sana. Aku rasa kita tidak perlu mencari orang lagi. Aku akan menggunakan pasukan inti kuda hitam keamanan perusahaan Utama Grup. Kemampuan mereka sudah tidak diragukan lagi." Jelas Alexander panjang lebar.


Alan menganggukan kepalanya. Ia sudah paham. Alan berdiam diri sejenak. Dia kembali berpikir untuk mencari cara melawan Diana.


Melihat Alan terdiam, Alexander berinisiatif bertanya. "Kak, apa benar semua pemberitaan di televisi itu?!"


"Iya!" Jawab Alan sambil berpikir keras mencari solusi. "Itu semua bagian dari rencana jahat Diana. Kita harus mencari cara untuk melenyapkannya." Jawab Alan.


"Apa Kakak punya bukti? bahwa semua masalah tersebut hanyalah sebuah konspirasi" Tanya Alexander.


"Tentu...." Jawab Alan. "Sekarang pastikan keselamatan dan keamanan adikku terlebih dahulu. Setelah itu aku akan melakukan konferensi pers."


"Kak aku bisa menjamin, kali ini Alona akan aman. Tidak banyak yang tahu daerah sana." Jawab Xander.


"Alan menganggukan kepalanya


Apa jaringan di kantor mu ini aman dari hacker?" Tanya Alan.


"Kakak tidak perlu khawatir. Aku sudah memasang sisitem keamanan." Jawabnya.


"Aku akan mentransfer bukti video pembunuhan ayah dan ibuku serta file produksi susu Healty. Semua file dan kode produksi ada di file pribadiku. Tolong file tersebut Kau letakkan di tempat aman agar kita punya cadangan ketika ia kembali berusaha menghapus video dan bukti di ponselku. Aku tahu pasti mereka memalsukan kemasan dan mengganti barang asli dengan yang palsu. Tapi aku bisa membuktikan asli atau palsu dari kemasannya. Kita harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat. Dan, pastikan agar Kau jangan pulang ke west flores untuk menghindari mata-mata Diana." Kata Alan.


"Oke!" Jawab Alexander. "Selanjutnya apa rencana Kakak?" Tanya Alexander.


"Sekarang aku akan kembali ke Raharja Industry. Kau tidak perlu ikut bersamaku. Aku tidak ingin melibatkan mu untuk sekarang. Tolong pastikan keselamatan adikku. Rencana ku akan sia-sia jika Diana mengetahui keberadaannya." Kata Alan.


Sebelum Alan pergi. Alexander mengucapkan kata-katanya. " Kak, terima kasih sudah mempercayakan Alona padaku. Aku akan selalu menjaganya. Kakak tidak perlu khawatir, aku akan ikut memantau kondisi dari jarak jauh. Aku akan segera datang jika terjadi sesuatu pada Kakak." Alexander menyerahkan ponsel cadangan miliknya. "Ambil ini Kak, aku bisa selalu terhubung di manapun Kakak berada."

__ADS_1


"Terima kasih." Jawab Alan. Segera setelah itu, ia kembali ke Raharja Industry untuk menyelesaikan kekacauan yang telah terjadi.


__ADS_2