
Petugas kepolisian sudah mengepung di perumahan kosong bukit duri. Ada sekitar 20 petugas kepolisian. Semua sudah siap di posisi masing-masing, menunggu kedatangan Diana Maringka.
Ban mobil berdecit sangat kuat saat Diana menghentikan laju mobilnya di lapangan luas, tepat di depan gedung bukit duri. Diana segera keluar dari dalam mobil. Baru sebentar ia menginjakkan kakinya ke aspal jalanan. Suara lantang dan menakutkan langsung mencegah pergerakannya. Suara itu berasal dari pengeras suara, letaknya tepat di depannya.
"Angkat tangan!" Teriak petugas kepolisian sambil mengarahkan sepucuk pistol ke arah Diana dari kejauhan.
Melihat itu, Diana langsung mengangkat tangannya. Ia tidak ada pilihan selain mengikuti perintah.
"Anda kami tangkap dengan tuduhan mencoba melarikan diri."
Dengan muka datar, Diana tetap diam dan tenang.
"Kami sudah menyelidiki semua kasus Nyonya Diana. Anda terlibat dalam kelompok pengedar narkoba terbesar di kota ini. Anda sudah menjadi target kami sejak lama. Namun baru kali ini kami bisa mengungkapkan semua bukti kejahatan Anda bersama David Moyes sang Raja Kegelapan."
Diana tidak bisa berkutik. Kali ini riwayatnya sudah hancur, semua sudah berakhir. Suaminya sudah menceraikannya sebulan yang lalu. Tidak ada lagi orang yang bisa menyelamatkannya.
"Minggir!" Teriak Diana memberontak mencoba untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tangan Diana dengan cepat menggambil pistol di pinggangnya. Ia sudah mengambilnya dari dalam mobil David Moyes untuk berjaga-jaga. "Minggir! atau aku akan menembak pria di belakangku.
Diana melihat Alan keluar dari mobil di belakangnya. Pria itu sudah mengikutinya dari pertama kali ia masuk ke dalam mobil tahanan.
Alan tersenyum sambil menopangkan tangan ke mobilnya. "Lakukan jika Kau punya kemampuan Diana."
"Nyonya Diana. Kami ingatkan agar Anda tidak bertindak bodoh! Kami akan menembak anda di tempat, jika Anda bersikeras membahayakan nyawa orang lain."
Kepala pimpinan operasi penangkapan Diana memberikan peringatan keras.
Diana tidak bergeming. Ia semakin menjadi, ingin menuntaskan misinya. Meskipun dia akan mati, setidaknya ia bisa membunuh orang lain terlebih dahulu.
Diana berbalik arah menghadap Alan. Platuk pistolnya sudah ia tarik, siap menembak Alan.
"Dor!" Suara tembakan menggemah ke seluruh penjuru udara di lapangan luas itu.
Diana dengan cepat terjatuh tersungkur dengan bagian depan menghantam asapal. Ia terkena tembakan dari atas gedung. Sebuah helikopter melintas, segera setelah itu.
Diana merasakan dadanya sangat sakit, akibat peluru yang menembus dadanya. "David Moyes! Kau pria brengsek!" Ucap Diana sebelum memutus nyawanya. Diana tahu, anaknya Davis Moyes tidak akan mengkhianatinya.
David Moyes tidak akan membiarkan seseorang menghancurkan dunianya. Diana telah tertangkap. Dia tidak ingin Diana membocorkan rahasia dunia hitamnya. Oleh karena itu ia memberikan perintah untuk membunuh Diana. Mungkin anaknya Davis Moyes, tidak akan memperhatikan itu. Namun berbeda dengannya. Meskipun Diana pernah menjalin asmara dengannya, itu semua tidak berarti.
David Moyes adalah ayah dari Alvaro dan Davis Moyes. Alvaro dan Davis merupakan kembar tidak identik. Alvaro dibawa oleh Diana. Sementara Davis dibesarkan oleh David dan diisolasi di istana dark Heaven.
Semua itu adalah rahasia masa lalu Diana dan David Moyes. Demi ambisinya, Diana berselingkuh dan melahirkan anak kembar. Untuk menutupi keburukannya, ia berbohong, mengatakan bahwa anak yang ia kandung adalah anak Jaya Nugroho. Masalah itu, hanya diketahui oleh, Diana, Davis, dan David.
Berhubung rahasia anaknya sudah diketahui oleh orang lain. David bergerak cepat meninggalkan kota J setelah memastikan Diana sudah tidak bernyawa. David mengetahui rencana Diana dan anaknya lewat mata-matanya. Dan ia menyabotase semua rencana itu.
Sisi lainnya....
Michael berhasil menemukan keberadaan Alona di istana dark heaven lewat bantuan agen BBC. Agensi pemberantas kejahatan di dunia hitam. Michael sudah lama bergabung di sana menjadi pimpinan pusat misi pemberantasan kejahatan.
Michael juga pernah mengintai keberadaan kelompok David Moyes. Namun semua rencana di gagalkan oleh Alvaro yang melihat mereka saat sedang beraksi di pantai, tepatnya di Melati Resort.
Michael sudah melumpuhkan ingatan Alvaro untuk menutupi semua identitas asli seluruh agen yang ikut andil dalam operasi itu. Dia memberikan cairan amnesia-nya.
Michael memasang headset bluetooth-nya.
"Alexander..., aku sudah berhasil menemukan keberadaan Alona. Istana dark heaven, tolong cek ada CCTV di pasang di seluruh ruangan atau tidak. Aku ingin Kau melihatnya."
"Aku akan melihatnya." Jawab Alexander di ujung sambungan telepon.
Michael tetap menunggu di dalam mobilnya.
"Kak Michael, sesuai dugaanmu, semua ruangan di lengkapi CCTV yang bisa berputar 360°. Apa rencanmu." Tanya Alexander.
"Aku akan masuk ke dalam. Aku ingin Kau meretas CCTV itu dan mengawasi pergerakanku untuk menyelamatkannya."
"Oke, tunggu 10 menit aku akan meretasnya tanpa sepengetahuan pemantau keamanan di sana."
"Emmm, aku tunggu. Segera lakukan! kita tidak punya banyak waktu." Jawab Michael yang sedang berada di dalam mobil sambil mengintai pergerakan orang dari luar istana dark heaven.
"Kak Michael. Kakak bisa masuk dari samping rumah, disana tidak ada penjaga. Selain itu Kakak cukup memanjat tembok, naik ke atas atap dan masuk ke dalam di lantai dua."
Michael memakai jaket anti peluru dan segera bergegas masuk ke dalam rumah.
"Di mana ruangan Alona."
"Kakak belok kekiri arah jam 10. Di sana ada ruangan. Alona ada di sana."
"Oke..."
__ADS_1
"Kak berhenti sebentar, ada penjaga sedang berkeliling. Kakak bersembunyi di balik tiang di tengah ruangan. Mereka tidak akan bisa melihat Kakak."
"Apa mereka sudah pergi?"
"Sudah, Kakak langsung berlari dengan cepat. Ada penjaga yang akan lewat di dekat tiang."
Michael langsung berlari tanpa rem menuju kamar di depannya.
"Krek!" Pintu di buka dari luar.
Alona menoleh, matanya dengan cepat mengenali pria yang datang.
Michael melemparkan satu pistol ke arah Alona. Alona dengan cepat menagkap pistol itu.
"Beruang kutub! semenit saja Kau terlambat menyelamatkan ku, tamatlah riwayatmu." Umpatnya sekaligus mengancam.
"Kalau Kau ingin marah. Marah saja pada Tuanmu Alexander dia yang punya ide seperti itu. Aku tidak ikut campur sama sekali." Balas Michael santai. "Lagipula Kau tidak ingin pasienmu mati, Kan? Kau sudah di sumpah untuk menyelamatkan pasien mu terlebih dahulu."
"Heh!" Dokter Risma menyunggingkan senyuman berbahaya.
"Aku bisa membantumu memarahi nya. Bahkan dia juga bisa menghormati mu seperti seorang ratu kekaisaran Romawi kuno." Saran Michael.
Dokter Risma menggelengkan kepalanya.
"Tidak percaya!?" Kata Michael sambil tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya.
"Kau bisa melakukan semua itu. Menikahlah denganku."
Dokter Risma terdiam membeku.... Ia berpikir bagaimana bisa pria di depannya, melamarnya dalam keadaan genting seperti ini.
Wanita itu sudah mengetahui bahwa sifat Michael tidak pernah berubah sejak mereka bersama dalam satu agensi di BBC.
BBC agensi rahasia yang bekerja sama dengan pemerintah untuk mengumpulkan informasi kejahatan suatu geng mafia sampai kejahatan di belahan bumi manapun.
"Kak Michael, cepat keluar!"
Suara Alexander dari sambungan telepon menghentikan kecanggungan diantara kedua orang di dalam kamar itu.
"Alexander apa kau ingin membunuh Davis Moyes yang sudah memperkosa Kakakmu? Aku akan menembaknya untukmu." Tawar Michael.
Setelah mengetahui bahwa Alan bukan pelaku pemerkosaan Kakaknya. Alexander memutuskan memutar CCTV di rumah lamanya. Ia ingin tahu siapa pelaku sebenarnya, pelaku yang telah memperkosa Kakaknya pada malam itu. Dalam rekaman CCTV di teras rumah, Davis Moyes membuka topeng cetaknya yang menyerupai Alan. Topengnya sangat mirip seperti aslinya.
"Tidak perlu, Kakak cepat keluar dan bawa dokter Risma dari sana. Aku sudah mengiirimkan helikopter. Aku akan menjatuhkan bom di atas rumahnya."
"Kerja bagus adikku. Kau sangat efisien dalam menyelesaikan masalah." Puji Michael.
Michael segera menarik tangan dokter Risma. Mereka berlari dan lompat dari atap rumah.
"Cepatlah landak! kita akan ikut mati konyol jika tidak bergeegas." Katanya sambil memegang tangan dokter Risma dengan sangat erat, takut wanita itu tertinggal darinya.
Napas Michael dan Dokter Risma saling sahut-sahutan. Mereka bernapas tersengal-sengal. "Masuk!" Perintah Michael.
"Alexander aku dan Risma sudah menjauh dari rumah Davis Moyes. Ledakan sekarang!" Perintahnya.
"Bam!, bam!, bam!," Rumah Davis Moyes hancur seperti butiran debu. Tidak ada sedikitpun tersisa saat bom di lemparkan tepat di atas rumahnya.
Dokter Risma melepas topeng cetak di wajahnya. "Aw, sakit sekali" Rintihnya.
Michael tersenyum menyaksikan dokter Risma kesakitan melepas topeng di wajah dan bungkusan di perutnya. "Aku pikir Kau sudah cocok menggandung seorang bayi. Kau tidak terlihat sedang berakting."
"Tuan Michael hentikan kata-kata mu itu. Bahkan seorang artis saja tidak akan membahayakan nyawanya dalam berakting. Kau harus membayar lebih untuk ini."
"Sudah ku katakan menikah lah dengan ku."
Dokter Risma melemparkan topeng wajah dan perut palsunya ke arah Michael. Ia memalingkan wajahnya dan tersenyum malu-malu. "Aku akan menerima mu, asalkan Kau melamar dengan kembang api di puncak gunung Semeru." Jawabnya samar-samar.
-
Sore ini Amor mengunjungi Alvaro di penjara. Ia sudah membebaskan Alvaro dengan uang jaminan. Amor akan membawa Alvaro ke nageri kangguru. Amor bersedia merawat Alvaro yang sudah di diagnosa mengidap penyakit kejiwaan, bawaan dari lahir. Mereka akan menikah dan akan tinggal selamanya di negeri orang lain.
Satu bulan kemudian....
Alan dan Michelle sedang asik memperhatikan tingkah lucu kelima keponakannya di atas kasur khusus bayi.
"Kau terlihat sangat bahagia melihat kelima bayi ini?" Tanya Alan pada Michelle.
Michelle menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau Kau tetarik, kita bisa mempunyai satu. Bagaimana?" Alan memberikan penawaran pada Michelle Marya Gunawan.
Michelle memutuskan mencari Kakaknya setelah 5 tahun mengilang. Michelle langsung menghubungi sekretaris Reihan untuk menanyakan keberadaan kakaknya.
Akhirnya ia bisa menemui Kakaknya di kota J. Bukan hanya itu, ia juga bisa bertemu dengan adiknya Alona. Dan tidak disangka-sangka, ia bisa bertemu dengan teman kuliahnya dulu. Alan Ruby Raharaja, mereka sangat dekat saat kuliah bersama di universitas anak bangsa.
"Kau pikir bayi seperti boneka, bisa dimiliki kapan dan di manapun?" Jawab Michelle sambil mendelikkan matanya.
"Aku akan memberikannya untukmu. Itu sangat mudah. Kita hanya perlu mendaftar di KUA saja." Jawab Alan sangat cepat dan santai.
Dokter Risma dan Michael baru saja sampai. Mereka masuk ke dalam kamar bayi. Mereka juga ingin ikut menyaksikan betapa tampannya kelima keponakannya itu.
"Hei, bung. Apakah Kau akan mengambil adikku lagi?" Tanya Michael dari depan pintu. Michael merangkul Dokter Risma, berjalan mendekat ke arah Alan.
"Aish Kau mengacaukan segalanya. Adikmu sudah di curi orang lain dariku. Jadi aku memutuskan untuk mengambil adikmu yang satu lagi. Lagipula Kau sudah memiliki pengganti adikmu." Jawab Alan sambil melihat ke arah Dokter Risma.
"Aku terserah pada adikku saja. Jika ia menginginkan mu. Aku akan setuju." Kata Michael sambil menepuk pundak Alan dan adiknya. "Bukan begitu, Sayang?" Tanya Michael sambil mencubit pipi adiknya Michelle.
Michelle menganggukan kepalanya. "Ya aku akan menerimanya, karena setiap hari dia akan mengirimkan pesan tidak bermutu jika aku tidak bersamanya. Itu sangat membosankan." Keluh Michelle pada Alan yang tidak henti-hentinya mengirim puisi cinta setiap satu jam sekali saat mereka sedang berjauhan.
"Itu namanya usaha seorang pria sejati ingin mendapatkan pujaan hatinya." Jawab Alan dengan percaya diri.
"Sudahlah kita lupakan itu." Kata Michael. Michael memeluk Alan. "Akhirnya kita berkumpul bersama menikmati hidup yang bahagia."
Dokter Risma, Michelle, dan Alan, menatap aneh ke arah Alona dan Alexander. Mereka secara bersamaan-sama mengangkat kedua bahunya dan saling memandang satu sama lain.
"Biarkan mereka menikmati waktu bersama. Lagipula mereka pasti lelah merawat lima bayi secara bersamaan." Kata Michelle pada semuanya yang merasa risih dengan keromantisan yang di tunjukan Alexander pada Alona.
Alexander sedang sibuk memijat pundak istrinya yang sedang duduk di sofa sudut ruangan kamar bayi. Mereka sedang tenggelam dengan dunianya sendiri. Meskipun mereka berada di dalam ruangan yang sama dengan Kakaknya Michael dan Alan. Alona dan Alexander tidak peduli sama sekali. Mereka bahkan sedang asik bercanda gurau seperti pasangan baru menikah.
"Sayang, kaki sebelah kananku sakit akibat terlalu lama berdiri." Kata Alona sangat manja. "Tolong Kamu pijat sebentar."
Michael dan Alan sedang sibuk mencari nama untuk kelima pangeran kesayangan mereka.
Suara keempat orang lantas merusak suasana romantis Alona dan Alexander.
"Marcell, Mark, Marco, Matthew, Martin" Saran Michael memberikan nama untuk keponakannya.
"Tidak!" Bantah Alan.
"Axelle, Adrian, Aiden, Arza, A---"
"Tidak bisa!" Potong Michael. "Aku juga berhak memberikan nama pada kelima keponakanku.
"Kakak ini seperti anak kecil saja. Aku akan menuliskan semua nama yang kalian inginkan. Aku akan menggulungnya dan memasukkan ke dalam botol. Dokter Risma Kau bisa mengocok botol dan menumpahkan satu persatu kertas yang ada di dalamnya. Lima nama pertama yang keluar dari botol akan di putuskan menjadi nama keponakanku. Tidak ada yang bisa mengganggu keputusan ini termasuk orang tuanya."
Michelle memberikan saran masuk akal dan tidak akan membuat keributan lebih panjang antara kedua pria di hadapannya itu.
"Sayang apa perutmu masih sakit?" Bisik Alexander pada Alona. "Bisakah kita melakukannya saat ini?"
"Tidak!" tolak Alona dengan wajah memerah karena marah.
"Ayolah, aku sudah menahanya lebih dari 3 bulan. Aku sudah tidak kuat sayang."
Alexander dengan cepat mengendong Alona, membawanya ke dalam kamar Mereka di samping kamar bayi.
"Sayang, aku sungguh sangat merindukanmu. Wangi bunga di tubuhmu. Aku merindukan segalanya darimu." Rayu Alexander dengan tangannya sudah berkeliaran di seluruh inci tubuh Alona.
"Alexander, Kakak sedang ada di rumah. Mereka bisa mendengar kita. Apa Kamu tidak bisa menahannya sampai malam nanti." Saran Alona.
"Tidak bisa!" Jawab Alexander dengan keringat sudah bercucuran di sudut rambutnya.
AC di dalam kamar itu belum sempat ia nyalakan saat masuk. Bahkan pintu kamar saja tidak di kunci olehnya.
"Sayang, kunci pintunya terlebih dahulu." Ucap Alona.
"Tidak perlu, tidak ada orang bodoh yang akan langsung masuk ke dalam kamar suami dan istri." Jawab Alexander sangat yakin.
"Tapi---"
Alexander dengan cepat mencium bibir istrinya. Dia sudah tidak tahan dengan ocehan Alona. Alexander dengan cepat melepaskan semua pakaiannya. Ia kemudian semakin brutal menindih Alona. Hari ini ia sangat bergairah untuk menuntaskan permainan panasnya.
Detik berikutnya, pintu kamar di dorong sangat kuat dari luar.
"Kakak! aku pulang!" Teriak Miller sangat bahagia dengan senyum merekah menghias di wajah tampannya. Ia sengaja tidak memberikan kabar bahwa ia akan pulang. Miller ingin memberikan kejutan pada Kakak dan Kakak iparnya.
Seketika Miller membeku menyaksikan pemandangan di depan matanya. Baru kali ini Miller menyaksikan secara langsung seorang pria dan wanita bermainan permainan yang sangat memalukan baginya karena belum menikah.
__ADS_1
Alona, Alexander, "...!!!"
"The End"