Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kisah pilu Diana....


__ADS_3

Diana tidak tahan melihat penderitaan anaknya. Wanita itu begitu peduli, sampai-sampai ia pun ikut menyusul ke kota F.


Sampai di Rain hotel Diana langsung menuju kamar anaknya.


Kebetulan kamar itu tidak di kunci. Sehingga, ketika Diana memegang gagang pintu kamar Alvaro, pintu itu langsung berderit terbuka secara perlahan.


Diana berlari menghampiri anaknya yang tengah terduduk di sofa bermuatan satu orang. Duduk bersandar mendongakkan kepalanya. Mata Alvaro sayu menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Kedua tangannya terkulai di kedua sisi sandaran tangan sofa. Alvaro seperti orang yang tidak punya keinginan untuk hidup. Badannya lemas seperti tanpa tulang. Waktu itu, Alvaro tengah bergelut dengan pikirannya yang sudah tidak menentu. Satu hal yang pasti, hanya nama gadis itu di dalam pikirannya. Alona, cintanya sampai saat ini.


Seperti inikah rasanya putus cinta? aku pernah putus sebelumnya, tapi tidak sesakit ini.


Kehilangan itu berat sekali rasanya!


Aku tidak sanggup dengan semua ini ....


Kembali padaku Sayang.... Aku mohon?!


Kembali padaku Alona. Kamu cintaku.... Hanya Kamu satu-satunya.


Diana meraih tangan anaknya kemudian terduduk di lantai, dan, menyenderkan kepalanya di paha Alvaro yang tengah duduk di sofa. "Nak, jangan seperti ini. Mama sangat sakit melihatmu terlihat sangat menyedihkan. Mama akan membantumu mendapatkan cinta yang kamu mau."


Alvaro tetap diam. Hanya tangannya saja yang bergerak merespon keberadaan Mamanya. "Varo, jika benar cucu Mama yang sedang di kandung Alona. Mama bisa membantumu merebutnya kembali. Katakan sesuatu Sayang? hati Mama sangat terluka melihat keadaan mu seperti ini."


"Ma, Aku menginginkannya." Jawab Alvaro dengan suara paraunya.


"Baik, Mama akan membuat Alona kembali padamu." Jawab Diana dengan yakin.


Mata Diana berkaca-kaca. Kenapa nasib anaknya hampir sama sepertinya? tidak bisa bersama dengan orang yang dia cintai. Walaupun berbeda kasus permasalahan.


Menyaksikan anaknya seperti itu, membuat Diana mengenang cinta masa lalunya. Cinta sejati tidak akan terpisahkan pada masanya. Meskipun pada akhirnya cinta itu kandas karena tidak di restui oleh orang tua dari kedua belah pihak.


Diana ikut terbenam, bersama Alvaro. Mengingat kenangan manis saat ia berumur 20 tahun.


Saat itu, ia tengah menjalin kasih dengan ayahnya Alona. Ardhi Raharja. 3 tahun menjalin hubungan serius dan harmonis.


Mereka menikmati hari-hari yang menyenangkan. Meskipun Ardhi memiliki mobil namun mereka lebih memilih berjalan menyusuri jalanan kota, bergandengan tangan, tersenyum dan tertawa sambil mengobrol pulang dari universitas dan berpisah di persimpangan jalan naik angkut menuju rumah masing-masing. Ardhi pria romantis. Setiap akhir pekan, mereka selalu pergi berlibur ke luar kota menikmati pemandangan indah dan asri. Jika cuaca buruk mereka menghabiskan waktu pergi makan dan minum di kedai roti bakar kesukaan mereka. Kedai roti bakar Samhuri menjadi saksi bisu kisah cinta mereka berdua.


Umur 23 tahun Diana dan Ardhi lulus kuliah. Mereka berencana menikah. Ardhi duduk di sofa dengan Mama papanya duduk menikmati teh sore hari. Ardhi meminta restu kepada orang tuanya. "Ma, Pa, aku ingin menikah dengan Diana." Ungkap Ardhi pelan.


"Apa?" Kedua orang tua Ardhi kaget secara bersamaan. "Tidak, kami tidak setuju. Kamu sudah di jodohkan dengan Arumi anak teman bisnis Papa." Jawab ibunya Ardhi. "Mama tidak menyukai keluarga Diana. Mereka tidak satu level dengan kita Di..."


"Ma, yang akan menikah aku." Kata Ardhi.


"Kata mama tidak ya tidak Ardhi. Apa kamu tidak bisa mendengar perkataan Ibu?!" Jawab ibunya ketus.


"Pa?" Ardhi menghadap Papanya.


"Papa setuju dengan Mama mu." Potong papanya Ardhi.


Tidak disangka mereka tidak di restui karena perbedaan derajat. Ayahnya seorang tentara dianggap tidak sepadan dengan keluarga konglomerat ayahnya Ardhi Raharja. Sedangkan ayahnya Diana tidak menyukai hidup yang glamor seperti keluarga Ardhi Raharja.


Kisah cinta mereka ibarat sebuah pertunjukan drama berseri. Penuh dengan ujian dan cobaan.


Tiba masanya Ardhi dijodohkan dengan wanita lain, ibunya Alona. Dan.... Diana di jodohkan dengan pria lain, Andreas McQueen.


Mereka terpisah karena sebuah perjodohan. Meski seperti itu, mereka tetap berhubungan secara diam-diam selama satu tahun usia pernikahan mereka.


Mereka berjanji akan menceraikan pasangan masing-masing dan akan menikah secara diam-diam. Namun rencana tingal rencana. Menginjak 2 tahun usia pernikahan masing-masing, Arumi Arunika Gumilar, istrinya Ardhi hamil 2 bulan. Mulai saat itu Ardhi pergi secara perlahan dan hilang selamanya. Pria itu pergi meninggalkan Diana demi Arumi istrinya.


Hanya Diana yang menepati janjinya. Bercerai dengan suaminya Andreas. Dia tidak mencintainya. Kebetulan saat itu perusahaan Andreas sedang dalam proses kebangkrutan yang membuatnya menjadi alasan untuk bercerai.

__ADS_1


Diana bagai punguk merindukan bulan....


Terus terbenam dalam lumpur kesedihan. Bercerai dengan Andreas dan harus menghadapi kenyataan bahwa Ardhi juga ikut meninggalkannya.


Kebahagiaan yang ia nantikan bersama Ardhi seperti sebuah ilusi. Harapannya semua sirna dalam satu pekan.


Setiap hari Diana menagis di kamarnya. Berharap Ardhi datang menemuinya. Tidak apa dia di jadikan yang ke dua, asal dia bisa bersama dengan Ardhi.


Namun, penantiannya juga sia-sia. Pria itu tidak kunjung datang atau sekedar mengirim suratpun tidak.


Dalam kesedihannya Diana pergi ke taman kota di pagi hari. Diana berniat mencari udara segar menghilangkan kepenatan yang menyelimutinya. Di sanalah awal mula pertemuannya dengan Jaya Nugroho. Pria itu sedang lari pagi. Sementara Diana tengah duduk di kursi menanggis meratapi nasibnya.


Melihat Diana menagis, Jaya menghampirinya dan ikut duduk di sampingnya. "Wanita cantik jangan menagis..." Kata Jaya sambil menyodorkan sapu tangan ke arah Diana.


Diana menoleh dan mengambil sapu tangan dari Jaya. Ia mengelap air matanya dan mengeluarkan semua hingusnya di sapu tangan itu. Diana tersenyum menyeringgai. "Kenapa pria sama saja? manis di awal." Ucap Diana pelan.


"Maaf apa kau sudah mencobanya." Tanya Jaya.


Diana kembali tersenyum. Dia tahu maksudnya mencoba, mencoba dengan pria di depannya. "Maaf tidak tertarik..." Ucap Diana pasti.


"Tapi, aku tertarik." Katanya.


"Coba saja kalau punya nyali." Jawab Diana menantang.


"Oke!" Jawabnya singkat.


Seminggu berlalu, Jaya datang dengan kedua orangtuanya. Datang menemui ayahnya untuk melamarnya.


Ayah Diana langsung terkesan dan menyetujui sebuah pernikahannya dengan Jaya tanpa bertanya apapun padanya.


Tanpa perkenalan mendalam mereka menikah satu hari setelah lamaran. lebih cepat dari membalikkan telapak tangan.


Harusnya aku lenyapkan saja semua keluargamu Ardhi. Kecelakaan mobil itu, aku yang mengaturnya. Aku yang menyebabkan kalian berdua mati. Kalian berdua pantas mati Ardhi!


Tunggu....


Alan anakmu juga pasti mendapatkan gilirannya.


Sementara putrimu Alona. Aku akan menyiksanya di rumahku sendiri.


Diana mengoyangkan kaki Alvaro. "Varo bangun. Jika kamu menginginkan Alona kembali, kamu harus melenyapkan penyebab dia pergi darimu. Kalu kamu seperti ini, kamu hanya akan membuang waktumu sia-sia."


Alvaro bangkit dari sandaran sofa. "Apa yang harus aku lakukan Ma? agar Alona kembali?"


"Cari kelemahannya." Kata Diana. "Seorang ibu tidak akan pernah sanggup berpisah dari anaknya. Kamu bisa merebut anak itu darinya. Untuk sementara waktu biarkan dia berkeliaran dengan aman. Varo kembalilah bekerja dan tingkatan perusahaanmu, saat kamu di puncak tidak ada yang akan berani menghalangimu."


"Ma, bagaimana jika itu tidak berhasil?" Tanya Alvaro.


"Pasti berhasil." Ucap Diana meyakinkan.


"Ma, apa Mama tahu Alona di mana? apa benar Alona bersama pria itu?" Tanya Alvaro.


"Mama tidak yakin. Kita lupakan dulu rencana kita dengan Alexander. Tidak ada gunanya memasukkan dia ke dalam penjara saat ini. Mama akan perlahan menghancurkan titik tumpuan pria itu. Dia menginginkan Alona mu. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, Mama punya rencana dengan usahanya. Perusahaan miliknya, Mama akan menghancurkannya secara perlahan. Wanita tidak akan mudah bertahan dengan pria yang tidak memiliki apapun." Ucap Diana dengan wajah berapi-api.


Pencarian Alona di hentikan untuk sementara waktu. Semua kembali ke kota J. Alvaro hanya menyisahkan 5 orang secara diam-diam untuk mencari keberadaan Alona.


Alvaro memulai bisnis barunya. Memuali bisnis properti sama seperti ayahnya yang membangun perumahan elit di seluruh kota terbesar. Sebagai anak muda Alvaro lebih memilih membangun apartemen di pusat kota di seluruh penjuru ngeri. Menurut Alvaro anak mudah zaman sekarang lebih menyukai tinggal di apartemen di banding perumahan. Selain itu banyak pebisnis lebih memilih tinggal di apartemen untuk mempermudah mobilitas perjalanan bisnisnya. Alvaro bertekad dalam dua tahun dia sudah menduduki posisi pertama di setiap kota. Mengibarkan sayapnya sendiri. Karena dia menyadari melawan cinta dengan kekerasan akan sia-sia. Lebih baik memiliki kekuatan finansial. Alona-nya akan dia dapatkan kembali dengan mudah. "Alexander aku akan datang, mengambil hak ku kembali" Ucap Alvaro di dalam kantornya.


*****

__ADS_1


Villa bukti Merindu, jam 09 pagi. Di kamar tamu lantai satu.


Alona duduk di depan kaca hias. Gaun berwarna putih sudah melekat di tubuh Alona. Gaun pengantin itu sangat pas dengannya. Lengannya model sabrina, di lehernya sudah di pasang sebuah kalung, melingkar sempurna, mempercantik tulang selangkanya.


Alona tersenyum saat Marni memoles wajahnya. "Nona sangat cantik." Goda Marni saat memakaikan lipstik di bibir Alona. "Aku malu meminta bayaran untuk pekerjaan kali ini. Aku hampir tidak bekerja sama sekali. Nona benar-benar cantik alami. Tanpa aku memoles apapun Nona sudah terlihat menawan." Goda Marni lagi.


Bi Ani yang menunggu Alona di samping langsung menghentikan Marni. "Marni..., jangan menggodanya. Jika Kau malu untuk meminta bayaran, tanganku sangat bersedia menerimnya" Kata Bi Ani sambil tersenyum.


"Jangan serakah seperti itu Bibi. Aku butuh uang untuk anakku makan dan sekolah" Jawab Marni bercanda, namun terlihat serius.


Kali ini giliran Bi Ani menggoda Alona. Sambil menopangkan tangan di dagunya ia berkata. "Senangnya menjadi pengantin baru. Rasanya aku akan di abaikan di rumah ini."


"Bibi jangan menggodaku seperti itu." Alona ikut menimpali.


Marni dan Bi Ani tertawa secara bersamaan melihat wajah malu Alona.


"Marni kapan kau selesai memoles wajahnya. Ada yang sudah tidak tahan menunggu di luar." Tanya Bi Ani.


"Sebentar lagi Bi." Jawab Marni, dengan tangannya tanpa berhenti melukis alis Alona agar terlihat lebih terang dan rapi.


Sejujurnya Alona sangat gugup saat sedang di hias wajahnya. Namun, dengan keberadaan Bi Ani dan Marni membuat Alona sedikit rileks. Sikap hangat kedua orang itu membuat Alona tenang. Pikirannya melayang sejenak memikirkan Xander di luar menunggunya. "Apa dia juga gugup?!" Tanya Alona dalam hati. "Tuhan semoga pernikahan kami berjalan lancar. Semoga tidak ada halangan apapun. Aku dan hatiku sudah mantap memilihnya."


Bi Ani melihat jam yang melingkar di tangganya. "Marni sudah hampir setengah jam kamu belum selesai juga menghias wajahnya. 15 menit lagi kita sudah harus selesai." Tegas Bi Ani mulai khawatir.


"Tenang sedikit Bibi. Aku sudah profesional. Bilang pada pengantin prianya, tidak ada yang akan mencuri pengantin wanitanya."


"Aku bukan khawatir masalah itu. Jam 10 tepat mereka harus menikah." Kata Bi Ani.


"10 menit akan ku pastikan selesai." Jawab Marni.


"Oke. Cepatlah...."


Alona mengambil nafas dalam-dalam melihat jam sudah menunjukkan pukul 09 lewat 45 menit. Ketegangan mulai datang lagi. "Alona tenangkan dirimu oke... Kamu bukan akan melakukan perang dengan orang lain. Kamu akan menikah dan kehidupan bahagia mu sudah menunggu di depan mata." Ucap Alona dalam hati untuk menengkan pikirannya.


"Sudah selesai..." Kata Marni sambil menepuk-nepuk tangannya sendiri. "Bibi lihatlah karya ku sangat menakjubkan bukan?"


Bi Ani segera bergegas. "Sangat cantik..., terima kasih atas bantuanmu Marni." Ucap Bi Ani menuji hasil kreativitas Marni.


"Nona Alona sudah siap?" Tanya Bi Ani.


Alona menganggukan kepalanya.


Alona masuk ke dalam mobil pengantin menuju taman belakang rumah. Di ikuti Bi Ani di belakang mobil Alona.


Mobil tiba di taman belakang. Bi Ani turun dari mobilnya dan segera membukakan pintu mobil untuk Alona.


Alona turun secara perlahan meraih tangan Bi Ani agar tidak goyang. Wanita itu terlihat sangat cantik meskipun terhalang penutup kepala.


Sebelum berjalan Alona mengedarkan pandangannya ke depan. Tidak ada tamu hanya para petugas yang mempersiapkan acara pernikahannya. Di samping jalan karpet merah sudah berdiri sekelompok wanita, 5 orang di kiri dan 5 orang di kanan untuk melemparkan kelopak bunga saat Alona berjalan.


Alona mulai berjalan di karpet merah. di ikuti Bi Ani di belakangnya.


Karepet merah di buat khusus agar Alona bisa berjalan mulus tanpa takut tersandung. Alona tidak di perkenankan memakai sepatu hak tinggi oleh Xander. Pria itu tidak ingin membahayakan bayi di dalam kandungan Alona.


Alona melangkah selangkah demi selangkah menuju Xander di depannya. Alona berjalan mantap menatap ke arah Xander. Dia tersenyum menawan. Alona berjalan di ikuti bunga bertebaran di atas kepalanya. Alona semakin dekat menghampiri pria itu.


Alexander tertegun melihat kecantikan bidadari di depan matanya. Jantungnya semakin tidak karuan. Untuk menutupi kegugupannya, Xander tersenyum dan menarik napas perlahan.


Tangan Xander terulur menyambut Alona ketika Alona sudah sampai di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2