
Golden Hotel lantai 30, malam hari. Xander merebahkan badannya di kursi ayun dengan tangan kanannya menopang ke pipi kirinya. Matanya menatap kosong ke arah pemandangan malam kota J. Pria itu membayangkan kejadian lima tahun lalu. Kejadian awal mula yang mengakibatkan kehancuran keluarganya.
Pada malam gelap tanpa cahaya bulan. Hujan lebat sedang mengguyur kota D. Datang 5 petugas kepolisian membawa surat perintah penangkapan. Polisi itu menjemput paksa ayahnya seperti seorang *******. Saat itu mereka sekeluarga sedang menikmati makan malam bersama-sama. Malam di mana terakhir kalinya mereka berkumpul sebagai keluarga kaya, terpandang, dan harmonis.
Audrey McQueen, menjerit histeris ketika suaminya di tahan pihak kepolisian. Michelle dan Miller merasa ketakutan. Xander memeluk kakak dan adiknya. Michelle dan Miller menagis memanggil ayahnya. Hanya Xander yang terlihat tegar selayaknya pria dewasa.
Xander mengejar ayahnya yang sudah di giring masuk ke mobil polisi. "Ayah!, aku akan menyelamatkanmu."
Masuklah Nak, jangan khawatirkan ayah. Jaga ibu dan saudaramu." Nandra mencoba tegar dan tersenyum ke arah Xander.
Keesokan harinya Xander menghubungi pengacara ayahnya dan seluruh pengacara terkenal di kota D. Dari sekian banyak pengacara yang ia hubungi tidak ada yang bersedia membela ayahnya termasuk pengacara hukum rumah sakit milik ayahnya sendiri.
Ayah Xander seorang dokter spesialis bedah saraf sekaligus pemilik rumah sakit Kasih Umat. Rumah sakit Kasih Umat sangat terkenal dan berada di puncak pada masa itu.
Demi menunjang kebutuhan obat-obatan yang berkualitas dan bermutu tinggi untuk rumah sakit Kasih Umat. Ayah Xander bekerja sama dengan perusahaan Raharja Industry. Perusahaan farmasi yang sudah terbukti dengan khasiat obatnya dan lengkap menyediakan berbagai macam obat-obatan. Bukan hanya itu, alasan Nandra memilih Raharja Industry. Ia mempertimbangkan dengan memilih Raharja Industry sebagai partner maka segala macam obat-obatan, alat medis lainnya bisa terpenuhi dengan mudah karena sudah terintegrasi. Perusahaan itu di bawah naungan ayah Alona dan yang bertanggung jawab atas kerjasama itu adalah kakaknya Alan Ruby Raharja.
Tiga bulan menjalin kontrak kerja sama semua berjalan lancar. Memasuki bulan ke empat banyak hal-hal di luar standar operasional prosedur terjadi, mulai dari pengiriman obat terlambat, pengepakan cacat dan kelalaian lainnya. Hal itu terjadi tanpa sepengetahuan ayah Xander. Tidak berselang lama dari kejadian itu. Nandra Utama sang ayah telah di fitnah melakukan kecurangan menggunakan obat terlarang untuk pasien rumah sakit. Penggunaan obat itu mengakibatkan semua pasien tidak terkecuali anak dan bayi baru lahir terkontaminasi obat terlarang. Kejadian itu gempar ke seluruh penduduk kota. Lebih dari setengah tahun layar televisi memberitakan tentang kejahatan ayahnya. Semua keluarga pasien marah dan melakukan gugatan kepada ayahnya sebagai pemilik sekaligus orang yang bertanggung jawab penuh pada rumah sakit kasih umat. Mereka meminta pertanggung jawaban dan kompensasi kerugian. Bukan hanya itu keluarga pasien melakukan aksi demo meminta keadilan atas keluarganya. Mereka meminta pemerintah turun tangan untuk menghukum ayahnya. Menghukum seberat-beratnya.
Hari demi hari persidangan ayahnya terus berjalan, semua bukti terus mengarah kepada kesalahan ayahnya. Tidak ada yang mau bersaksi untuk meringankan hukuman ayahnya.
Sementara pihak perusahaan Raharja Industry terus menyangkal bahwa mereka tidak bersalah. Mereka tidak bertanggung jawab dengan kejadian itu. Mereka terus memberikan bukti palsu untuk menutupi kesalahan perusahaannya.
Setelah menjalani persidangan singkat Nandra di jatuhi hukuman mati dan penjara selama dua bulan. Ayah Xander telah di anggap lalai sebagai penanggung jawab rumah sakit dan mengakibatkan lebih dari 1000 orang pasien terancam kesehatan dan kelangsungan hidupnya.
Nandra mendekam di penjara menjalani kehidupan barunya menunggu tanggal hukuman mati.
Keluarga harmonis dalam sekian detik telah berubah menjadi kacau. Keluarga bahagia Xander hancur seperti di landa huru hara masa.
Perusahaan milik ibunya di nyatakan bangkrut akibat pelemahan nilai saham yang terus menerus berlanjut. Semua stockholder menjual saham dengan harga murah. Kasus Nandra berdampak buruk bagi perusahaan ibunya. Seluruh masyarakat kota D tidak memiliki kepercayaan terhadap perusahaan McQueen grup hingga dalam sekejap perusahaan raksasa properti miliki ibunya hancur tanpa sisa.
Xander, ibu dan saudaranya hanya di perkenankan menjenguk ayahnya sekali sebelum hukuman mati.
Hukuman mati ayahnya telah usai. Sejak hari itu ibunya mengurung diri di kamar. Sikapnya aneh kadang tertawa kadang menagis. Sesekali ibunya menjerit histeris, melempar barang ke segala arah.
Andreas Kakak dari ibu Xander datang ke rumah berniat membantu, tapi kedatangannya malah membuat masalah baru. Perusahaan pamannya ikut terdampak dari kasus ayahnya. Kekuatan berita sangat dahsyat dampaknya lebih dahsyat daripada badai datang. Perusahaan pamannya ikut bangkrut. Media memberitakan bahwa perusahaan pamannya ikut terlibat dalam kasus yang menimpa ayahnya. Pamannya di nyatakan bersalah dan di jatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Semenjak itu, keluarga Xander seperti drama di televisi. Layar kaca televisi terus memberitakan tentang sejarah keluarganya sampai tuntas tanpa celah sedikitpun.
Hidupnya bagaikan sebuah pertunjukan drama dengan sejuta episode....
Xander telah menerima semua takdirnya, kehilangan ayah di usia muda. Saat itu ia berumur 18 tahun. Ia harus menjaga ibu dan saudaranya. Xander sudah mengikhlaskan segalanya, mulai dari kepergian ayahnya kehilangan hidup mewah, kehilangan teman bahkan masa depan.
Mencari pekerjaan merupakan aktivitas pertama yang di lakukan Xander setelah ayahnya meninggal. Lebih dari 10 surat lamaran ia kirim ke perusahaan, tapi tidak ada satupun yang menerima lamaran pekerjaan nya karena mereka tidak menginginkan anak penjahat merusak reputasi perusahaan mereka. Xander memutuskan pulang ke rumah dengan raut wajah suram. Sejak ayahnya di tangkap semua pekerja di rumahnya mengundurkan diri. Kakak dan ibunya tidak bisa memasak ataupun sekedar mencuci baju semua pekerjaan itu sebelumnya di lakukan asisten rumah. Oleh karena itu ia membawa sekantong nasi beserta lauknya saat pulang kerumah.
Xander naik ke lantai dua. Ia mengetuk pintu mendengar tidak ada jawaban Xander langsung membuka kamar ibunya. Mulut Xander menganga lebar saat melihat ibunya tergantung di atas pintu kamar mandi. Ia berteriak memanggil ibunya dan segera meraih tubuh kaku ibunya yang tergantung. Ia menaggis untuk kedua kalinya sejak ia lahir. Di lantai keramik putih yang dingin terdapat selembar kertas putih bertuliskan tangan ibunya. "Xander maafkan ibu. Ibu memilih menyusul ayahmu pergi. Jagalah Kakak dan adikmu. Jual rumah ini, tidak ada artinya hidup di rumah besar tapi tidak memiliki apapun. Berjuanglah!, ibu percaya padamu. Ketika kamu sukses nanti balaskan dendam keluarga kita. Ayahmu tidak bersalah. Ibu sudah menyelidiki semua kejadian itu. Ayahmu hanya di jadikan kambing hitam. Ada pihak yang memanfaatkan kasus ayahmu. Ingatlah ibu selalu menyayangi kalian semua."
Michelle dan Miller berlari ke kamar ibunya saat mendengar Xander berteriak memanggil ibunya sangat keras.
Michelle terduduk di lantai di samping ibunya. Wanita itu diam sejenak merasa tidak percaya dengan kenyataan. Air mata sudah membanjiri pipi Michelle. Sementara Miller menggoyangkan badan ibunya berulang kali. Ia mencoba membangunkan ibunya.
__ADS_1
Xander tertegun, pikirannya sudah hilang melayang hanya pembalasan dendam yang tertanam di benaknya.
Xander meremas surat itu, tangannya menghantam keramik lantai. Seluruh tubunhya sudah dibanjiri keringat. Ia tidak dapat membedakan antara keringat dan air mata yang membashi wajahnya. Ibu aku berjanji akan membalaskan semuanya.
Belum sempat Xander mengangkat tubuh ibunya ke atas kasur. Suara pintu utama rumah di hantam sangat kuat. Michelle keluar!, suara pria memanggil nama kakaknya sangat keras.
Michelle sontak kaget mendengar namanya di panggil. Ia menghapus air mata di pipinya. Michelle beranjak berdiri dengan pandangan kosong.
Kakak jangan keluar. Xander menghentikan langkah kakaknya.
Michelle mengangguk mengerti. "Tolong temui dia katakan bahwa kakak tidak ada."
Xander membopong ibunya dan meletakkannya di atas kasur hangat di dalam kamar itu. Ia kemudian turun ke bawah menemui pria yang berteriak memanggil nama kakaknya.
Alan duduk di sofa ruangan tamu. Mata indahnya di tutupi kaca mata hitam. Ia mengenakan mantel biru terang dengan celana jeans berwarna hitam ketat, sangat cocok dengan fitur tubuhnya yang atletis. Kakinya ia naikkan ke atas meja. Sepatu kulit berwarna hitan berkilau memantulkan cahaya terang. Pengawal berbaju serba hitam berdiri tegap di samping dan belakang menjaganya seperti seorang raja.
"Apa yang Kau inginkan." Xander bertanya dengan amarah yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Alan tersenyum sinis menatap Xander. "Di mana kakak mu?"
"Pergilah!" Xander mengusir Alan seperti pengemis. "kakakku tidak ada di rumah."
Alan melambaikan tangannya ke arah pengawalnya. Delapan orang segera menganggukan kepala dan menggeledah seluruh sudut ruangan.
Dua orang pengawal tetap berdiri tegap di samping menjaga Alan.
Pengawal dengan cepat mengeledah seluruh kamar di lantai dua.
Miller di sekap di dalam kamar mandi ketika mencoba menyelamatkan kakaknya.
Michelle berteriak saat di tarik paksa menuruni anak tangga oleh dua orang pengawal Alan. "Lepaskan aku!, apa yang kalian inginkan."
"Lepaskan dia." Alan berdiri menghampiri Michelle.
Tangan kekar Alan menarik dagu Michelle menghadap ke arahnya. "Michelle apa hakmu meninggalkanku!?"
Michelle menepis tangan Alan dan memalingkan wajahnya. Michelle tersenyum mengejek. "Alan pergilah, aku tidak ada hubungan lagi denganmu."
"Michelle jangan kira aku tidak tahu Kau meninggalkanku demi menikah dengan orang lain kan."
Aku mau menikah dengan orang lain atau tidak, itu bukan urusanmu. Kita sudah berakhir. Tidak ada hal baik di antara kita. Seharusnya aku menuruti kata ibuku untuk tidak terlibat hubungan apapun dengan kelurgamu. Kesalahan yang pernah ayahku lakukan adalah bekerja sama dengan perusahaan milik ayahmu.
Michelle aku tahu keluargaku salah. Aku tidak dapat membantumu. Kau tahu bahwa aku sedang menyelesaikan studi akhirku selama dua bulan di luar negeri. Aku tidak mengetahui apapun. Keluargaku tidak memberitahuku sedikitpun tentang kasus ayahmu. Aku terlambat, ketika aku sampai aku langsung pergi ke sini.
Alan semua sudah terjadi. Sekarang pergilah. Tidak penting kau mengetahuinya atau tidak
Demi kedua adikku, aku tetap akan menikah dengan pria pilihanku.
"Tidak!" Alan berteriak. Ia mencengkram tengkuk Michelle dan menciumnya.
__ADS_1
Alan lepaskan aku. Michelle menendang kaki Alan, memberontak dan melepaskan cengkraman pria itu.
Alan membopong tubuh Michelle masuk ke dalam kamar Michelle di lantai dua.
Xander menagis melihat kakaknya di bopong Alan. Ia mencoba melepaskan ikatan di tangannya.
Alan melemparkan tubuh Michelle ke atas kasur dengan kasar.
Michelle beringsut menjauh hingga badannya menempel di atas kepala ranjang. "Alan apa yang ingin Kau lakukan!?, menjauhlah dariku." Michelle mengingatkan Alan untuk tidak mendekatinya.
Alan melepas mantelnya. Satu persatu kancing kemejanya ia lepas. Terlihat kulit putih mulus dengan tubuh kekar serta perut berotot seperti pemandangan bukit berbaris rapih di atas pegunungan hijau dan indah.
Michelle tidak ada yang bisa merebutmu dariku. Malam ini aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan.
Michelle menaggis, "Alan jangan lakukan itu."
Alan dengan cepat meraih tangan Michelle ia mengikatnya di atas kepala wanita itu. "Berteriaklah sesuka hatimu. Tidak ada yang akan menolongmu Michelle. Apa yang aku punya tidak ada yang berhak menyentuhnya selain aku."
Michelle menggelengkan kepalanya. Bagaimana ia bisa menjalin asmara dengan seorang yang tidak memiliki hati nurani, bahkan tega menodainya.
Alan menindih tubuh wanita itu, perlahan ia mulai menciumi inci demi inci tubuh Michelle. Tangannya dengan kasar merobek baju Michelle hingga tanpa sehelai benang yang menghalangi kulitnya. Michelle memejamkan mata. Ia enggan melihat tubuh indah miliknya di kotori orang yang sudah menyakitinya. Terlebih ayahnya meninggal karena keluarga Alan. Michelle seperti ikan mati tidak bergerak. Sementara Alan seperti harimau kelaparan. Ia tak henti menghantam tubuh Michelle berulang kali hingga cairan darah keluar dari bagian bawah tubuh Michelle. Michelle berteriak kesakitan menahan tubuh Alan yang terus menerus menekan tubuhnya.
Xander sudah kehilangan kesabaran, ia melepaskan ikatan di tangannya. Kakinya dengan sangat cepat berlari ke arah kamar kakaknya. Belum sampai ia di tangga badannya sudah di pukul berulang kali. Ia terjatuh memeluk lantai. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit di sekujur badannya. Hatinya sakit mendengar setiap jeritan kakaknya. "Kak, maafkan aku yang tidak bisa melindungimu."
Satu jam berlalu Alan meninggalkan rumah itu. Badan kekarnya semakin bertambah energik. Tidak ada raut penyesalan di wajahnya. Ia hanya menampilkan kepuasan dan kemenangan.
Michelle mengedarkan pandangannya menatap seluruh tubuhnya. Ia terlihat menyedihkan. Seluruh badannya penuh warna biru kemerahan. Tidak ada artinya lagi aku hidup. Ayah ibu aku akan menyusul kalian. Aku ingin tidur di samping kalian selamanya.
Xander terbangun dari tidurnya di lantai. Suasana di ruangan itu sepi. Hanya keheningan yang menemaninya. "Kakak!"
Xander berlari dengan kaki terpincang-pincang akibat pukulan yang terus menghantam kakinya.
Xander seperti akan gila, menyaksikan kakaknya sudah tidak bernyawa. Kakaknya terbujur kaku di atas kasur. Mulut kakaknya menggeluarkan busa. Matanya melotot seperti akan keluar.
Kakaknya memilih meninggalkannya dengan meminum satu botol obat tidur.
Xander menangis. Ia mengangkat kepala kakaknya dan memeluknya. "Kak, kenapa Kau meninggalkanku dan Miller!?. Bagaimana aku harus melanjutkan hidupku. A-aku tidak kuat Kak."
Dalam satu hari kehilangan dua wanita yang di cintai. Hatinya lebih sakit daripada putus cinta. Badannya lemas seperti tidak makan berbulan-bulan lamanya.
Xander hanya duduk terdiam di pemakaman umum. Matanya menatap nama ayah, ibu, dan kakaknya. Kini nama itu sudah berpindah ke batu nisan. Meninggalkan kenangan indah dalam sejarah kehidupannya.
Andai saja waktu dapat diputar kembali mungkinkah aku akan selalu bersama mereka. Aku ingin mengulang waktu itu walau hanya sekali. Makan bersama, tertawa bersama....
"Kak" Miller menyentuh bahu Xander. "Ayo kita pulang, hari sudah gelap."
"Eeem...." Xander menoleh dan mengangukan kepalanya.
Suara deringan ponsel menyadarkan Xander dari lamunan panjangnya. Xander mengusap layar ponselnya dan menjawab teleponnya. "Miller ada apa Kau memanggilku?"
__ADS_1