Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kekacauan di rumah kaca


__ADS_3

Alona masih saja berdiri di depan pintu rumah. Wanita itu terpaku menatap tumpukan bunga mawar hasil panennya.


Semua tenaganya sudah terkuras habis untuk memanen bunga mawar.


Kesadaran Alona selalu saja hilang saat menatap bunga mawar di depannya. Tangannya seperti gatal ingin memetik lalu memajangnya di ruang tamu atau kamarnya.


"Alona!," Xander berteriak memanggil wanita itu.


"I-iya, aku akan segera kesana."


Alona berlari menyusul langkah kaki Xander.


Saat tiba di dekat pria itu, di lantai bawah rumah kaca, Alona menatap wajah Xander. Tatapan matanya sangat serius. "Xander di mana ularmu!?, aku akan pergi setelah memberinya makan."


Xander spontan menoleh ke arah Alona. Tatapan matanya gelap. Pria itu tersenyum menyeringgai. " Pulang saja, ularku tidak nafsu makan saat melihatmu."


"Bagaimana ularmu tidak memiliki nafsu makan. Aku saja belum bertemu dengannya." Alona mengoceh tanpa mengetahui maksud tersembunyi di dalamnya.


Xander mengernyitkan alisnya. Giginya gemeletuk. Tangannya sudah terkepal menahan emosi. "Pergi saja Alona!, ularku menjadi stres karena mu."


"I-iya aku akan pergi, tidak akan menemui ularmu, tidak akan memberinya makan. Aku tidak bertanggung jawab jika ularmu mati kelaparan."


Alona berjalan menaiki anak tangga. Wanita itu mencari tas dan kunci mobilnya. Alona membalikkan setiap benda di atas kasur. "Dimana kunci mobilku, tasku juga tidak ada."


Kasur itu sudah hancur seperti kapal pecah. Semua benda sudah berserakan. Alona melempar semua bantal, guling, selimut ke lantai.


Meja kecil di samping tempat tidur sudah jungkir balik akibat ulah Alona mencari tas dan kunci mobilnya.


Alona turun lagi ke lantai bawah, "Xander kunci mobil dan tasku di mana?, apa Kau melihatnya?." Alona bertanya pada Xander.


Waktu itu Xander sedang berdiri melihat ke arah luar kaca. Selain pekarangan bunga mawar ia juga memiliki pekarangan buah-buahan dan sayur-sayuran. Xander memandang pekarangan itu.


Saat Alona memanggilnya ia tengah setengah sadar, untuk sesaat ia menoleh lalu membalikkan badannya "Mana aku tahu kunci dan tasmu ada di mana, aku bukan pembantu atau asistenmu." Xander berbicara acuh tak acuh.


Xander jangan bercanda denganku aku ada kelas jam 10 pagi.


Alona melihat saku celana Xander. Di kedua sisi terdapat benjolan cukup besar. Alona menatap benda itu cukup lama. Pikirannya sudah berlari kemana-mana. Ada rasa curiga saat melihat tonjolan itu.


"Xander, aku akan memeriksamu, Kau selalu saja berbohong padaku."


"...." Xander terdiam tanpa mengatakan sesuatu.


Alona berjalan menghampiri pria itu.


Tanpa persetujuan Xander, tangannya mulai meraba-raba setiap tubuh pria itu. Alona terlihat seperti petugas keamanan bandara. Mulai dari atas sampai bawah tanpa terkecuali Alona memeriksa pria itu inci demi inci. Saat pemeriksaan bagian celana, Alona berjongkok di hadapan Xander. Tangannya dengan cepat masuk ke dalam saku bagian kiri, ia menarik semua isi di dalamnya. Usahanya tidak membuahkan hasil, lalu wanita itu memeriksa saku bagian kanan. Tangannya masuk semakin dalam ia merasakan ada tonjolan sangat besar. Alona menarik benda itu tapi tidak bisa keluar. Dalam pikiran wanita itu ia sudah menemukan sesuatu seperti harta Karun, tapi, kenapa benda itu tidak dapat di tarik ke luar. Alona sudah berusaha berulang kali menarik benda itu tapi tetap saja gagal. "Xander benda apa ini, aku tidak bisa menariknya. Aku sudah mencobanya berulang kali tapi tidak bisa di keluarkan."


"Alona!, Kau selalu memancing amaraku."


Xander sudah geram karena ulah Alona. Pria itu sudah mempertahankan harga dirinya mati-matian. Tapi wanita itu mempermainkan benda miliknya seperti mainan anak-anak. Xander sudah menahan sekian lama. Benda miliknya sudah mengeras akibat pegangan wanita itu.


"Alona cepat singkirkan tanganmu itu. Atau ularku benar-benar akan memakanmu."

__ADS_1


Setelah sekian lama, Alona tersadar dari perbuatannya. Saku celana itu sobek dan ia memegang benda terlarang milik seorang pria.


Tangan yang memegang benda itu seketika menjadi kaku. Tidak berani bergerak. Alona dengan segala kekuatannya menarik tangannya keluar.


Alona menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Xander. Wanita itu beranjak berdiri, dan memundurkan tubuhnya satu langkah ke belakang.


Ketika kakinya akan melangkah ke belakang. Ada sedikit genangan air di pijakannya. Alona berteriak dan menarik baju bagian depan Xander. Mereka berdua jatuh di atas sofa dengan posisi Alona di bawah.


"Alona apa kau dilahirkan sebagai wanita penggoda!?."


Alona masih bergulat dengan pikiran kosongnya.


Akan tetapi wanita itu sudah menjadi gugup. Tidak tahu harus berbuat apa!?


Alona karena Kau sangat senang menggodaku, aku juga akan berbaik hati menerima godaanmu. "Alona sayang, kita harus mulai dari mana!?, kaki, tangan, atau...." Xander melirik bagian dada Alona.


Alona menutup dadanya lalu mendorong pria itu, "dasar cabul!."


Alona menarik dirinya dari sofa itu. Ia meninggalkan Xander sendirian di atas sofa dengan posisi mencium sofa.


Xander membalikkan badannya. "Lelucon macam apa itu!?"


Aku sebagai Korban tapi kenapa aku yang di salahkan!?


Xander memejamkan matanya, menunggu Alona pergi meninggalkannya. Ia harus terlihat berwibawa, tidak boleh menghancurkan kehormatannya di depan wanita itu.


Alona berjongkok di samping sofa tempat Xander tidur. " Xander boleh aku pinjam mobilmu!?, sebentar saja."


"Tolong Xander, aku akan patuh padamu tidak akan lagi berbuat hal-hal yang membuat mu marah terutama ularmu aku benar-benar tidak akan menemuinya."


Alona meraih tangan Xander. " Xander tolong aku, aku bisa terlambat jika tidak jalan dari sekarang."


Alona kembali berfikir mencari cara membangunkan pria itu. "Aku ingat sekarang, kata Kak Alan, membangunkan pria itu cukup menciumnya saja."


"Tapi apa itu boleh di lakukan!?," Alona kembali berfikir dengan rencananya. "Bagaimana jika dia marah lagi padaku!?"


Alona kembali bergumam dalam hatinya. "Cium tidak?,cium tidak?,cium...."


Alona mencium kening Xander. Saat ia mencium pria itu, Xander membuka matanya. Mata mereka saling menatap. Alona setengah kaget seperti terpergok mencuri dari pria itu. Mata Alona berkedip mencoba menerka keadaan. Alona tersenyum dengan sejuta makna di dalamnya. Wanita itu benar-benar melakukan apa yang di katakan kakaknya. "Xander, emm..., kata Kakak ku jika ingin membangunkan pria maka cukup menciumnya saja. Ternyata itu berhasil, kau bangun."


"Apa aku sangat baik melakukannya!?


Kau sangat cepat bangun." Alona mencoba menjelaskan dengan segala tingkah polosnya.


"Alona jika Kau ingin lebih cepat membangunkan seorang pria Kau harus mencium bibirnya." Xander menyarankan dengan penuh siasat licik.


"Benarkah!?, Alona menjawab Xander dengan sangat antusias. "Tapi, kakak ku tidak pernah bilang seperti itu." Alona kembali berfikir, saat kakaknya memberi tahu tentang itu.


"Sangat benar, apa kau mau mencobanya Alona sayang?, aku akan berpura-pura memejamkan mataku. Lalu Kau bisa menciumku." Xander membenarkan pernyataannya. Pria itu tersenyum dengan segal tipuan muslihatnya.


Alona menggelengkan kepalanya. Alona kemudian menyentuh bibir merah alaminya. "Tidak!, itu tidak benar. Kau mencoba membodohiku Xander."

__ADS_1


Alona beranjak berdiri, " di mana kuncinya Xander!?"


"Bangunkan aku dulu baru aku memberikan kuncinya." Xander berpura-pura memejamkan matanya.


"Xander!," Alona berteriak.


Aku sedang tidur jadi tidak bisa mendengarmu. Xander membalikkan badannya membelakangi Alona.


Alona mondar-mandir berjalan dengan sesekali menghentakan kakinya ke lantai. Mata kucingnya melirik ke segala arah. Matanya sangat jeli melihat setiap sudut ruangan, hal terkecil pun tidak luput dari perhatian matanya. Sekali lagi Alona melihat punggung pria itu. Saat matanya turun ke bokong pria itu. Mata Alona seketika berkilauan, matanya seperti terdapat bongkahan berlian di dalamnya. "Kunci mobil, sayangku aku menemukanmu."


Alona sedikit mengendap-endapkan badannya. Kakinya perlahan berjalan ke arah pria itu. Tangannya sangat hati-hati mengambil kunci di saku celana belakang Xander. Saat yakin kunci sudah di genggamannya Alona berlari sangat cepat keluar dari rumah.


Xander memegang bokongnya. Saat ia menyentuhnya tidak ada lagi kunci mobilnya.


"Alona!" Xander berteriak memanggil wanita itu.


Dari luar rumah terdengar suara mobil menyala. Alona membuka kacanya dan melambaikan tangan pada Xander. Alona menginjak gas dan melaju dengan kecepatan penuh.


Xander mengejar mobil wanita itu. "Alona!, berhenti. Aku akan mematahkan kakimu jika Kau terus pergi." Tidak terima dengan perlakuan wanita itu. Ia mencari ponselnya dan menelpon bagian keamanan. "Hentikan mobil hitam milikku, atau kalian akan mendapatkan gaji terakhir bulan ini."


"B-baik, Tuan." Penjaga keamanan itu tergagap menjawab perintah tuannya.


Setiap penjaga keamanan menanti kedatangan mobil hitam itu. Tubuh mereka berdiri di sepanjang pintu gerbang. Ada sekitar lima orang penjaga keamanan menghadang jalan keluar.


Alona dengan senyum sumringah mengendarai mobil hitam. Wanita itu memperlakukan mobil itu seperti miliknya sendiri.


Alona menatap heran saat akan keluar pintu gerbang. Alona menurunkan kaca mobilnya dan menyapa petugas keamanan itu. "Halo paman tolong buka pintu gerbangnya. Aku ingin keluar." Nada bicara Alona sangat lembut saat berbicara pada penjaga keamanan."


Penjaga keamanan yang berdiri di tengah menjawab dengan nada lantang dengan ekspresi wajah datar seperti robot. "Tidak bisa!, Tuan memerintahkan kepada kami agar menahan mobilnya."


Alona geram, sampai kulit kepalanya terasa panas seperti akan terbakar saat itu juga. "Jadi kalian ingin aku pecat!." Alona mengancam petugas keamanan.


Penjaga keamanan yang berdiri di dekat mobilnya menjawab. " Maaf, Nona. Kami hanya mengikuti perintah Tuan.


Alona memulai aksinya. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. "Paman, aku kekasihnya, bukan hanya kekasih tapi aku tunangannya paman. Kami sedang bertengkar. Kau bisa melihat tanganku di cakar oleh-nya."


Alona memperlihatkan bekas luka ditangannya. Goresan itu terlihat seperti cakarran kuku. Alona memanfaatkan luka ditangannya. Luka itu ia dapat saat memetik bunga mawar.


"T-tapi ,Nona" Penjaga keamanan itu ingin menyangkal lagi.


Alona menagis sangat kencang hingga semua petugas keamanan menjadi tegang. "Aku hanya ingin pergi ke rumah sakit untuk mengobati lukaku tapi kalian mala menghalangi ku. Aku akan melaporkan kalian ke polisi." Alona kembali mengancam petugas keamanan itu. Ancamannya terlihat sangat nyata, tidak bermain-main.


Petugas keamanan langsung bereaksi mendengar kata polisi. Mereka tidak ingin mendekam di penjara. Lebih baik di pecat dan mencari pekerjaan baru.


Pimpinan penjaga keamanan langsung memberi perintah pada bawahannya. "Bukakan pintu untuk Nona, segera!"


Alona menghapus air matanya. Seulas senyum kemenangan terlihat di wajahnya. "Terima kasih, Paman."


Semua petugas keamanan menundukkan kepalanya ke arah Alona. "Hati-hati,Nona."


Setelah kepergian wanita itu, petugas keamanan menelepon Tuanya. "Tuan, Nona sudah pergi. Nona bilang dia adalah tunangan Tuan dan ingin pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka di tangannya akibat..., C-cakaran Tuan." Petugas keamanan itu sedikit terbata-bata saat memberikan penjelasan pada tuannya.

__ADS_1


Apa!?


"Kalian membiarkannya pergi!, sudah ku katakan hentikan. Apa kalian tuli!?." Xander berteriak pada petugas keamanan dan menutup sambungan telepon.


__ADS_2