
Pertarungan antara kutub utara dan kutub selatan telah usai. Sisa pertengkaran semalam tidak bisa terelakkan, masih terasa membekas seperti sebuah kenangan lama, tidak bisa usang walaupun telah melalui dimensi waktu yang cukup lama. Kini, perkelahian yang lain mulai muncul kepermukaan, hingga membuat suatu perdebatan cukup rumit dan terasa alot.
Embun dan cahaya matahari saling bekerja sama menciptakan suasana hangat di pagi hari. Kehangatannya membuat semua orang terbangun dengan suka cita luar biasa. Namun, berbeda dengan pasangan muda kali ini. Mereka memulai pagi hari dengan sebuah pertengkaran kecil yang membuat mereka saling jatuh ke dalam cinta yang lebih dalam tanpa mereka sadari.
Alona terbangun dari tidur lelapnya. Ia meringis menahan rasa sakit di tubuhnya. Terutama di bagian organ intimnya. Suaminya menyiksanya semalaman, tidak membiarkannya tidur dengan nyenyak. Mendengar Alona mendesis merasakan sakit, Xander ikut bangun memicingkan matanya menatap ke arah Alona. "Di mana yang terasa sakit?" Tanya Xander menggoda. Sementara tangannya sudah menjama ke seluruh tubuh Alona. "Apa di sini?" Tanyanya saat tangannya berhenti di area organ intim Alona.
"Alexander bisa tidak?! tangan mu itu tolong di kondisikan letaknya." Cecar Alona.
"Harus aku letakkan di mana?" Tanyanya dengan muka datar tanpa rasa bersalah.
"Alexander!" Alona berteriak saat tangan suaminya semakin menjadi menjama di bagian dadanya. "Aku kutuk kamu jadi---"
"Suamimu seumur hidupmu. Dengan senang hati aku akan menerima kenyataan itu." Selah Xander sebelum Alona selesai mengucapkan kata-katanya.
Alona menggertakan giginya. Tidak menyangka bahwa suaminya akan menjadi sangat menyebalkan. Alona kembali melontarkan kata-katanya yang sempat tertunda.
"Aku akan mengutukmu--"
"Menjadi ayah dari anak-anak mu. Itu lebih bagus." Selah Xander lagi. "Lagipula tingkat kesuburanku sangat bagus kamu bisa saja melahirkan 100 bayi untukku semasa hidupmu Sayang..."
"Dasar Kau pria tidak tahu diri rupanya. Selalu ingkar janji!" Maki Alona.
"Pria memang selalu seperti itu. Kamu saja yang mudah di bodohi dengan kata-kata manisku. Pria selalu ingkar janji jika sudah di atas ranjang. Terlebih lagi jika sudah tidur di samping istrinya. Mereka akan menjadi serigala kelaparan." Bisik Xander di telinga Alona sambil menggigit kecil telinga itu.
"Aku menyesal menelan mentah-mentah kata-kata manismu Alexander!" Gumam Alona.
"Tidak ada gunanya kamu menyesal. Kamu itu sudah aku stampel untuk menjadi istriku selamanya." Jawab Xander.
"Heh..., kalian pria sama saja, brengsek!" Kata Alona sambil menggertakan gigi dan membalikkan badannya membelakangi Xander.
"Sayang..., makanya jadi wanita itu harus jual mahal. Wanita seperti kalian ini muda sekali terkena rayuan gombal pria. Tapi, tenag saja aku bukan pria seperti itu. Aku pria bertanggung jawab meskipun suka ingkar janji di ranjang dengan istriku." Jawab Alexander sambil tertawa bercanda.
"Ide bagus! besok aku ingin melihat kamu meneteskan air liur seperti ****** melihat tulang dari kejauhan, dan, seperti kucing liar sedang kelaparan ." Balas Alona.
"Oh..., besok kamu menginginkan permainan gaya kucing dan ******, betul, kan Sayang?" Tanya Xander mengalihkan pembicaraan. "Baiklah permintaan mu aku kabulkan." Katanya kemudian.
Alona bangkit berdiri dari kasurnya. Bantal guling ia lemparkan ke arah Alexander. "Aku akan tidur di kamar Kakak. Tidur bersamamu bisa membuatku gila!" Celetuk Alona.
"Sayang..., ayolah jangan marah seperti itu. Marahmu itu semakin membuat aku jatuh cinta padamu. Kau semakin menarik dan semakin cantik." Ucapnya tulus namun terdengar bercanda.
"Simpan saja kata-kata manismu Alexander. Itu tidak akan berpengaruh terhadap ku. Kau itu tidak ada bedanya dengan pria mesum lainnya...."
"Sayang..., jangan seperti itu. Aku memang pria menyebalkan. Tapi, kita bisa berbaikan setelah bertengkar."
"Kali ini berbeda.... Kau harus di beri pelajaran biar sikap mu menjadi benar."
Alona membuka lemari pakaian dan meraih kimono tidur. Ia segera mengenakannya dan pergi keluar kamar.
"Sayang..., jangan tinggalkan aku." Kata Xander sambil menekuk wajahnya tidak senang. Bagaimanapun dia hari ini benar-benar sudah melampaui batas. Alexander ingin mengejar Alona. Namun, ia sadar bahwa dia tidak mengenakan sehelai pakaian. Punggung dan dadanya juga penuh merah akibat cakaran dari kuku istrinya.
"Kakak..., buka pintunya." Rengek Alona mengetuk pintu kamar kakaknya.
Alan yang dari semalm tidak bisa tidur mendengus kesal dibangunkan oleh adiknya. "Kenapa?" Tanya Alan malas dengan mata setengah terpejam menahan kantuk.
"Aku ingin tidur di kamar Kakak." Jawab Alona.
"Apa?!" Teriak Alan kaget. Pria itu langsung membelalakkan matanya tidak percaya. "Apa maksudmu?" Tanya Alan langsung mengedarkan pandangannya menelusuri setiap inci tubuh adiknya.
"Iya. Aku ingin tidur sama Kakak. Biasanya juga boleh." Kata Alona manja.
"Tidak bisa!" Jawab Alan sarkastik.
"Kakak..., hari ini saja sampai siang." Pinta Alona.
"Hais, Dek...., Kamu itu udah nikah ya. Bukan anak kecil lagi. Meskipun kamu sedang marahan begitu, tetap saja kamu harus tidur dengan suamimu. Keluar sana! kamu berdua sudah mengganggu ku semalam, tidak bisakah kalian membiarkan aku tidur tenang sebentar saja." Gerutu Alan.
Alona langsung mendorong tubuh Alan dan masuk ke dalam kamar. "Terserah padamu. Jika kau benar-benar kakakku maka biarkan aku tidur di sini."
"Alona, keluar kataku! Kakak tidak mau ya jadi orang ketiga di antara kalian."
__ADS_1
"Memang Kakak selingkuhan aku, orang ketiga!" Kata Alona acuh tak acuh.
Alan memilih mengalah. Kantuk di matanya membuat Alan lebih memilih tidur dibandingkan berdebat dengan adiknya sendiri. Alan juga berpikir, adiknya memang terlalu dini untuk menikah. Jadi dia sedikit maklum. Alan tidak menyangka akan di tinggal menikah lebih dulu. Meskipun sebelumnya Alan dan Alona suka tidur di kamar yang sama, namun sekarang semua sudah berbeda, adiknya sudah menikah. Dia tidak ingin menebar perselisihan antara dia dan adik iparnya. Alona dan Alan memang sangat dekat. Mereka saat berjalan di luar terlihat seperti berpacaran, bukan saudara. Buktinya banyak orang mengganggap Alan dan Alona berpacaran karena mereka tidak terlihat seperti saudara kandung pada umumnya. Mereka tidak memiliki kemiripan sedikitpun. "Sudah tidur sana. Kakak akan tidur di luar saja.Tidur di raung tamu." Jawab Alan kesal karena tidurnya sudah di ganggu.
"...." Alona sudah tidur nyenyak di atas kasur.
Sementara Alexander murung di dalam kamar di tinggalkan istrinya merajuk. Alexander merasa haus. Dia memutuskan pergi ke dapur meminum segelas air hangat. Awalnya Alexander berencana untuk berolahraga kecil di depan rumah. Namun, saat melihat kakak ipar nya tidur di atas sofa antena iblis di kepalanya mulai menyala terang. "Alona tidur sendirian di kamar...."Gumam Xander dalam hati.
Pria itu dengan cepat melangkahkan kakinya mengendap-endap masuk ke kamar di mana Alona tidur. "Sayang..., aku datang." Teriak Alexander girang di dalam hatinya.
Alona dan Xander tidur di kamar dengan nyaman. Alona tidak melakukan keributan saat tangan Xander memeluknya. Dia pikir kakaknya sedang merindukannya. Jadi dia membiarkannya saja. Lagipula dia dan kakaknya memang selalu dekat bagaikan perangko.
****
Jam 08:00 pagi, Alona terbangun lagi dari tidurnya.
"Kamu?!" Teriak Alona kaget saat mendapati Alexander di sampingnya.
"Iya ini aku." Katanya
"Dimana Kakak?" Tanya Alona.
"Entah! aku tidak tahu!" Alexander memperlihatkan wajah datarnya.
"Jangan bilang kamu mengusirnya Alexander!"
"....!!!" Alexander terdiam. Bagaimana dia bisa mengusir kakak iparnya. Bisa di pecat menjadi adik ipar pikirnya.
"Sayang..., kita berbaikan ya. Kita tidak bisa seperti ini terus." Rayu Alexander.
"Tidak! aku masih marah denganmu."
"Bagian mana yang masih marah?" Tanya Alexander.
"Alexander! bisa diam tidak!? aku pusing mendengar suaramu terus menerus!"
"Sayang..., aku minta maaf" Alexander menarik badan Alona dan memeluknya erat. "Terserah padamu mau menghukumku seperti apa. Asal jangan diam kan aku, jangan anggurin aku, jangan cuekin aku."
"Kakak mau ke mana?" Tanya Alona saat melihat kakaknya membereskan semua barang miliknya.
"Pulang...." Jawab Alan singkat.
"Kenapa Kakak pulang? aku kan masih merindukan Kakak."
"Aku tidak mau jadi racun nyamuk bakar di sini. Kamu bisa pulang ke rumah bila masih merindukan aku." Jawab Alan.
"Tapi-, kak?!"
"Tidak perlu khawatir. Kakak akan mengunjungi mu sebulan sekali ke sini. Kakak sudah lama meninggalkan perusahaan. Hari ini kakak harus pulang, dan, menyelesaikan semua masalah di perusahaan."
Alexander bangkit dari tempat tidurnya. "Kak, aku akan mengantarmu pulang." Kata Alexander.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Urus saja adikku yang sangat manja ini. Tolong kamu jaga dia." Kata Alan.
"Kakak tidak perlu khawatir. Aku akan menjaganya" Jawab Xander lembut.
"Jadi bagaimana? kita berbaikan atau tidak?" Tanya Xander pada Alona saat Alan sudah pergi.
"Tidak!" Jawab Alona pasti.
"Ya sudah aku akan pulang ke kota J saja kalau begitu. Tidak ada gunanya aku di sini. Bibi Ani dan Dokter Risma akan menemanimu." Kata Xander mencoba mengoyahkan hati istrinya.
"Selangkah saja Kamu berani pergi keluar dari kamar ini. Jangan harap kamu bisa menemuiku lagi." Balas Alona.
Alexander tersenyum penuh kemenangan. Wajahnya kembali berseri-seri. Istrinya itu wanita yang sangat unik. Gengsinya sangat tinggi. Tapi, Alexander sangat menyukainya. Alona-nya selalu berhasil membuat hatinya hangat dan penuh cinta.
"Jadi..., apa kita bisa melakukannya lagi?" Tanya Xander menggoda.
"Sayang....?!" Alona mendelikkan matanya. "Apa kamu benar-benar bosan hidup?"
__ADS_1
Alexander dengan cepat menarik istrinya ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya. Mereka kembali menjadi pasangan mesra lagi, seperti sediakala....
*****
Alan tiba di perusahaan Raharaja Industry pukul 13:00, saat jam makan siang berakhir.
Semua karyawan kelimpungan mendapati bos-nya datang secara mendadak.
Sekretaris pribadinya juga ikut merasakan sibuk luar biasa.
"Di mana laporan keuangan trimester pertama dan kedua. Aku ingin melihatnya, sekarang!" Perintah Alan pada sekertaris-nya.
Sekretaris Robin dengan cepat menyerahkan laporan keuangan yang di minta Alan. "Ini Tuan." Jawab Robin sambil menyerahkan hasil laporan keuangan dengan tangan bergetar karena takut.
Baru saja membalik halaman pertama. Alan sudah memaki sangat nyaring. "Apa-apaan ini? kenapa pengeluaran perusahaan membengkak seperti ini?" Tanyanya.
"....!!!" Robin terdiam menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Panggil bagian keuangan, se-ka-rang!" Teriak Alan dengan wajah marah.
"Baik, Tuan." Jawab Robin sedikit ketakutan.
5 menit kemudian datang seorang wanita masih muda menemui Alan.
Alan menatap aneh ke arah wanita itu. "Sejak kapan kepala keuangan ganti?" Tanya Alan keheranan.
"Maaf pak, aku mewakili pak Harto datang kemari. Pak Harto sedang di luar kantor." Jawab sekretaris Marina ketakutan.
"Panggil dia sekarang. Aku akan memecat kalian semua jika dia tidak menghadap kepadaku dalam waktu 15 menit." Perintahnya.
Baru 10 menit saja Alan masuk ke kantornya. Sudah banyak kejanggalan terjadi. Mulai dari penampilan kantor yang semerawut. Dan, yang paling penting laporan keuangan. Banyak pengeluaran yang tidak jelas.
Alan memijat pelipisnya yang terasa pusing akibat kurang tidur di tambah kekacauan di perusahaan. "Siapakan rapat bagian keuangan dan bagian perencanaan anggaran perusahaan." Perintah Alan pada sekertaris-nya.
"Satu lagi..., perintahkan ke seluruh karyawan hari ini tidak boleh pulang sebelum memberikan laporan langsung padaku. Tidak terkecuali." Alan menarik napas kasar kemudian melanjutkan kata-katanya. "Apa aku menggaji kalian dengan selembar daun?!" Maki Alan pada sekertaris-nya.
Robin sudah terbiasa dengan hal itu. Selalu menjadi pelampiasan kekesalan bos-nya.
Dalam ruangan pertemuan.
Alan melemparkan dokumen laporan keuangan ke arah kepala keuangan, Pak Harto. "Jelaskan padaku! apa maksud dari laporan keuangan itu?" Tanyanya.
Harto menundukkan kepalanya tanpa berbicara. Dia kebingungan ingin mulai darimana. "Semua pengeluaran sudah di setujui oleh Bapak Adam... Tuan." Jawabnya sedikit terbata-bata.
"Bagian apa Bapak Adam itu?" Tanya balik Alan.
"D-dia paman anda Tuan. Bapak Adam bertanggung jawab mengesahkan semua anggaran pengeluaran perusahaan. Kami hanya mematuhi perintahnya." Jawab Harto seadanya.
Alan tersenyum menyeringgai mendapati bahwa pamannya mulai berulah. "Pak Karso rancang pengeluaran perusahaan untuk minggu ini sampai pengeluaran trimester pertama dan kedua tertutupi. Jangan ada pengeluaran yang tidak jelas. Aku ingin seefisien mungkin." Perintah Alan pasti dan terikat tanpa ada celah untuk di interupsi.
Alan kembali ke dalam kantornya. Baru hari pertama ia sudah merasa muak dan jengkel. Alan menyenderkan punggungnya ke kursi miliknya. Matanya ia pejamkan untuk meredam amarahnya.
Perusahaan Raharaja Industry adalah perusahaan milik keluarga terbesar di kota J. Kepemilikan saham mayoritas berada di tangn Alona dan Alan. Selain itu tidak ada pemegang saham lainnya. Banyak tawaran datang dari pihak luar. Namun Alan tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan perubahan. Dia tidak ingin menjadikan perusahaannya terbuka untuk umum.
Alan meraih gagang telepon di mejanya. Ia menelepon sekretaris Robin. "Naik! satu menit!" Perintahnya singkat.
"Tuan Alan." Sapa Robin setelah mengetuk pintu.
Alan melemparkan sebuah foto wanita. "Cari informasi terkini tentang wanita itu." Perintahnya. "Sanggup atau keluar!" Alan memberikan ultimatumnya.
"Sanggup, Tuan." Jawab Robin sambil membungkukkan setengah badannya.
Robin menarik nafas yang terasa berat saat keluar dari ruangan kantor bos-nya. Dia sudah mengerti harus berbuat apa. Foto itu segera ia serahkan ke bagian investigasi keamanan perusahaan.
15 menit Robin kembali ke ruangan Alan memberikan hasil investigasi dari keamanan perusahaan. Setumpuk dokumen sudah di susun sangat rapi.
"Tuan..., semua informasi yang Tuan inginkan sudah ada di dalam dokumen ini."
"Letakkan di atas meja. Dan, pergi!" Katanya.
__ADS_1
"Diana Maringka! aku akan menemuimu besok, dan, akan mengejutkanmu hingga Kau tidak bisa berkutik." Ucap Alan saat membaca informasi tertulis di dalam dokumen itu.
"Aku tidak sabar ingin melihatmu mendekam di penjara dan membusuk di dalamnya. Aku lebih senang melihatmu hidup namun tersiksa dari pada melihat mu mati dengan cepat." Gumam Alan.