
Melihat kejadian di depan matanya Andra mengeluarkan suara kodenya, tapi mereka tidak mempeduliknya sama sekali. Andra berjalan keluar dari kamar secara perlahan, hampir tidak ada suara dari telapak kaki dan pergerakannya. Ia segera meninggalkan kamar itu dan pergi ke kliniknya.
Mata Alona terpejam merasakan setiap napas hangat dari pria yang dia angap kekasihnya. Ia merasakan sedikit tarikan di dalam hatinya.
Bibir Alona dan Xander sudah sangat dekat hingga sedikit bersentuhan. Xander sudah dapat merasakan dingin di bibir lembut Alona. Ia dengan cepat melumat bibir wanita itu.
"Tidak...! ini bukan ciuman milikinya."
Perasaan ku tidak akan pernah salah, itu bukan dia. Bukan kekasihku Alvaro Maldini Nugroho.
Merasa ada yang tidak benar dengan cimuan itu, Alona mendorong dada pria itu. Tapi, tidak berhasil. Ciuman itu semakin intens dan sedikit brutal.
Xander secara perlahan membaringkan tubuh Alona di kasur, ia terus menciumnya dengan lembut.
Alona merasa semakin terancam oleh pria itu. Ia menggigit bibirnya dengan sangat kuat hingga ciumannya sudah terasa asin. Pria itu sudah terhipnotis oleh nafsu birahinya, ia tidak peduli dengan semua hal-hal yang mencoba menghalanginya.
Tangan Xander mulai membuka kancing baju Alona satu persatu. Nafsunya sedang berada di puncak, ia merasakan hangat di seluruh tubuhnya.
"Ting tong..., ting tong..., ting tong..."
Xander masih tidak peduli mendengar bel terus berbunyi. Alona sedikit menggantungkan harapannya pada orang yang memencet bel, ia berharap agar orang itu bisa menghentikan Xander.
Lagi-lagi keberuntungan bukan miliknya, bel berhenti dan berlalu jadi sepi. Alona kembali menjadi bulan-bulanan nafsu Xander.
Sedikit berbisik di telinga Alona, Ia mencoba merayu dan menggodanya dengan suara yang lembut dan sedikit samar-samar.
"Aku akan membebaskannya, jika Kau memberikanya padaku. Percayalah...!, Aku tidak akan mengingkari janjiku!"
Xander kembali mencium leher dan telinga Alona, membuat Tubuh Alona ikut terbuai oleh rangsangannya.
Hati Alona sakit, sangat sakit seperti tersayat-sayat sembilu. Pria ini benar-benar srigala berwujud manusia.
Tidak puaskah ia sudah melakukannya!?
__ADS_1
Tidak bisakah ia melepaskanya tanpa syarat?
Alona menagis, ingin melawan tapi semua kekuatan sudah hilang!
Xander kembali melakukannya untuk yang kedua kalinya. Ia melakukannya untuk dia sendiri bukan untuk dendamnya. Wanita itu, wanita yang pernah ia cintai secara diam-diam. Dialah Alona, cinta pertama bagi Alexander.
Setengah jam berlalu, Xander merasakan rileks dan tenaganya semakin bersemangat. Ia meraih telepon di sudut ruangan dan menelpon bagian resepsionis.
"Antarkan baju itu, sekarang juga!"
"Baik, Tuan!"
"Siapa yang memncet bel tadi?"
"Saya sendiri ,Tuan. Ada apa Tuan? apa saya melakukan kesalahan?"
"Kau seharusnya tahu, bahwa Aku tidak suka orang yang memncet bel berulang kali!"
"Siapa yang mengatakan itu? Apakah Aku?"
"Maaf, Tuan!" Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Anita lebih baik menghindari kemarahan dari tuannya dari pada ia kehilangan pekerjaannya.
Meskipun Anita tahu dengan benar bahwa tuannya yang mengatakan "Jangan memencet bel lebih dari tiga kali" itu artinya ia sedang sibuk atau tidak mau diganggu oleh siapapun.
"Bagus, jika Kau mengulanginya Aku tidak akan segan-segan memecatmu!"
"Letakan baju itu di atas meja! Kau tidak usah memencet bel. Pintu sudah kubuka otomatis!"
"Baik, Tuan. Aku akan segara mengantarkannya."
Anita berjalan menaiki lift menuju kamar bosnya. Perasaannya sudah kalang kabut, ada cemas, ada takut. Ia memberanikan dirinya masuk ke kamar itu. Ia melihat ruangan itu sudah seperti kapal pecah ada barang berceceran dimana-mana, ia berjalan pelan-pelan menuju meja. Akhirnya Anita berhasil meletakan baju itu dan segera pergi.
__ADS_1
"Akhirnya Aku selamat, jika tidak Aku tidak akan tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini." Anita keluar dari kamar itu dan mengelus dadanya.
Xander segera mengambil baju yang telah ia pesan untuk Alona. Ia memberikannya kepada Alona.
"Bangunlah!, bersihkan dirimu. Bajumu sudah ku siapkan di atas sofa ini"
"...." Alona tidak menjawab, ia hanya melirik letak baju yang diberikan oleh Xander.
Apakah Aku masih pantas disebut manusia?
Apakah Aku hanya dianggap sebagi boneka?
Aku dimainkan, disayang, dicintai dan jika sudah bosan aku dibuang!?
Alona turun dari kasur dengan sedikit sempoyongan ia menuju kamar mandi. Ia menyalakan air di bathtub dan mengatur suhu air panas. Ia memasukan sabun aromaterapi, minyak esensial, garam mandi dan menyalakan lilin aromaterapi.
Alona merendam seluruh tubuhnya, ia merasakan setiap sentuhan air dan merasakan sedikit perih akibat gigitan Xander. Alona memejamkan matanya menikmati wangi lilin. Ia melupakan sejenak kerapuhan hati dan jiwanya. Ia butuh tenaga untuk segera pergi dari sangkar srigala ini.
Memikirkan betapa bodahnya dia yang tidak mengingat apa yang sudah ia lakukan. Ia memancing srigala, tentu dia akan terluka.
Bagaimana Aku begitu bodah tidak bisa mengenali orang lain!?
Mengingat mimpi di dalam tidurnya, Alona berpikir, apakah maksud semua mimpinya!?
Apakah pria itu?, akankah ia ingin membunuh kekasihnya?
Alona semakin cemas!
Keringat di tubuh Alona hilang, semua kesakitan di tubuhnya seakan lenyap diserap air. Ia kemudian bangun dari bathtub. ia segera mengeringkan rambut dan semua tubuhnya.
Alona membuka paper bag, pembungkus baju yang telah di letakan Xander untuknya. Ia membukanya secara perlahan.
Gaun itu terlihat sangat cantik dan angun. Ukurannya sangat pas jika di pakai oleh Alona. Gaun itu sedikit terbuka karena tidak memiliki lengan, kerahnya berbentuk melingkar dan diatas dada terdapat renda transparan. Jika Alona berjalan pasti semua mata lelaki akan tertuju padanya.
__ADS_1
Memakai gaun ini sama halnya dengan memamerkan bentuk tubuhnya, Alona berpikir bagaimana ia bisa keluar dengan gaun seperti itu dengan bekas gigitan Xander.