
Alona yang telah dikuasai oleh amarahnya berlari ke arah Xander.
Tangannya yang sudah terkepal, ia arahkan ke arah pria itu. Ia siap untuk memukulnya. Alona terlihat seperti seekor kucing yang sedang lapar di beri makan oleh majikannya tapi ingin di rebut oleh kucing lain. Matanya waspada dan terus mengawasi, ia siap menerkam dan mencakar musuhnya.
"Buk!" Sebuah pukulan mendarat di dada Xander. Ia tidak merasakan sakit ataupun ngilu. Xander tidak bergerak dan bergeser sedikitpun, badannya masih berdiri tegap di posisinya semula.
Tangan Alona terasa sakit akibat memukul dada Xander yang berotot. Ia tidak menyangka tangannya akan merasakan sakit yang luar biasa. Ia mendesis kesakitan. Alona memasang wajah poker untuk menjaga citranya.
"Sudah puas!? atau mau memukul di bagian lain?" Pria itu tersenyum simpul mengejek Alona.
"...." Alona tidak bersuara ia hanya menunduk, membenamkan wajahnya.
"Kau terlihat sangat lucu hari ini, berpakaian hitam. Memangnya Kau mau pergi ke pemakaman?"
"Iya, Aku memang akan pergi ke pemakaman. Pemakaman, X-A-N-D-E-R. Aku dengar, semasa hidupnya ia sangat terkenal dengan sebutan serigala yang sangat bengis! Bisakah Kau menunjukan letak pemakaman itu, Tuan? Aku tersesat!"
Alona sengaja mengeja nama Xander untuk memprovokasi nya. Ia menyilangkan tangan kirinya di perut sedangkan tangan kanannya ia topangkan ke dagunya, dan ia tersenyum seperti tikus mengerjai kucing. Alona tidak tahu jika Xander akan mengikuti permainan yang di mulai olehnya.
Tidak ada yang bisa memprovokasi Xander selain tentang masa lalu keluarganya. Xander mempunyai seribu muka untuk berdebat dengan orang lain. Jika orang api maka ia akan menjadi air, begitu sebaliknya. Ia akan mencari titik lemah lawan untuk mematikannya.
Xander nemutar dan mengelilingi tubuh Alona. Ia berhenti dan memeluk Alona dari belakang. Ia berbisik tepat di telinganya dengan suara yang lembut dan lantang.
"Baiklah, Nona. Aku akan menunjukkan letak pemakaman itu. Di sini terkenal dengan pemakaman keramat, hantunya sangat jahat dan biasa menampakan diri dengan wajah yang menyeramkan . Oh satu lagi, hantunya sedikit cabul!"
"...." Cabul? tubuh Alona menegang dan berkeringat dingin mendengar Xander menjelaskan hantu cabul. Ia ingin berlari sejuh mungkin mencari lobang yang dalam dan membenamkan tubuhnya. Ia ingin menjadi seekor trenggiling menggulung tubunhya seperti bola.
"Aku takut! Nanti Kau menyesalinya, Nona!"
Xander memberikan penjelasan yang ambigu tentang ketakutan yang ia maksud.
Mungkinkah itu takut karena pemakaman yang menyeramkan?
Atau takut akan hantu yang cabul itu?
Tangan Alona yan sudah terasa dingin di gengam oleh Xander.
Rasa hangat dari tangan pria itu membuat jantung Alona memompa semakin cepat. Ia baru pertama kali merasakan genggaman tangan pria itu. Alona merasa nyaman dan seperti akan melayang di udara. Getaran di hatinya sama seperti saat ia melihat Alvaro, kekasihnya.
"Alona, stop! Kamu harus bangun, sadarlah! Dia bukan Varomu." Alona terus mengingatkan pikiranya yang sudah mulai berfantasi pada pria itu.
Xander memegang tangan Alona, ia memutar badan wanita itu 360°. Rambutnya yang di ikat cepol ia lepaskan. Rambut itu melayang-layang di udara, wangi shamponya memberikan rasa yang penuh ketenangan.
Pria itu membelai pipi Alona, belaiannya lembut seperti bulu angsa bagian dalam. Kemudian tangannya memegang dan mengankat tubuh Alona ke udara Seperti melempar bayi.
Alona yang berputar-putar merasa pusing dan lemas. Wajah cantiknya berubah menjadi pucat pasi. Ia hanya pasrah mengikuti setiap gerakan Xander.
__ADS_1
"Kita sudah melakukannya. Apakah Kau menikmatinya?"
"Maksudmu?"
"Iya. Kau akan menjadi pasangan menariku malam ini."
"...." Alona terperangah tidak percaya mendengar kata-kata Xander. Ia mencubit pipi sebelah kirinya. Sakit! ini nyata, sepertinya dia serius.
"Tidak!, Aku tidak mau."
"Oh! Sepertinya Nona tidak menginginkan permainan secara halus."
"Baiklah, jika Kau tidak mau. Cukup bantu aku mengemas foto itu. Aku ingin mengirimnya ke rumah temanku sebagai hadiah."
"Xander!" mata wanita itu mengelap, kakinya ia hentakan ke lantai. Ia seperti seorang prajurit yang sedang menanti aba-aba dari panglima perang.
"Itu keputusanku, Alona sayang." Aku tidak menginginkannya lagi, sayang kan jika di buang!?"
Pria itu memasukan kedua tangannya ke saku celana.
"Xander!?"
Alona ingin menjambak, memukul, melemparinya dengan batu. Kepalanya seperti akan pecah menghadapi kegilaan Xander yang tak pernah berhenti.
"Sunrise garden Blok A No.10, untuk Alvaro Maldini Nugroho. Aku sangat yakin bahwa temanku, akan sangat menyukai fotomu itu!"
Xander pergi menuju anak tanga dan melambaikan tangannya ke arah Alona.
"Xander!"
"Apakah Kau sangat senang mengacau Kehidupan orang lain?"
"Tentu saja, itu sangat menarik untuk dilakukan."
Alona berlari mengejar Xander yang telah menaiki anak tangga untuk meninggalknya pergi. Ia menarik baju bagian belakang Xander.
Kekuatan kaki Alona ternyata tidak seimbang saat menaiki anak tangga itu. Ia tergelincir dan berteriak. Tubuh Xander berbalik kebelakang secara refleks dan meraih tangan Alona.
Lantai di tangga sedikit licin, saat itu Xander tidak memegang pegangan tangga untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga kakinya terpleset.
Mereka berguling-guling jatuh dari anak tangga.
Alona berada di posisi bawah saat mereka terjatuh di lantai bawah. Napas mereka terengah-engah saling sahut-sahutan akibat terjatuh dari tangga.
Alona merasakan sakit di dadanya akibat tekanan tubuh pria itu.
__ADS_1
Mata Alona membesar melihat tangan Xander yang menekan pas di bagian dadanya.
"Xander! Kau benar-benar cabul!"
Alona meneriaki pria itu seperti bunyi terompet perang.
"Maaf, Nona! Aku tidak sengaja. Aku kira aku sedang memegang squishy... 32 B."
Mata Xander bersinar terang, ia sedikit tersenyum seperti tak bersalah pada wanita itu karena telah memegang kedua dadanya yang besar.
"Xander!" Alona menarik rambut Xander dengan sangat kuat .
"Alona! Kau...."
Xander menarik Alona dan **** badannya.
Alona tidak kehabisan akal melawan kekuatan pria itu. Ia menendang, menggigit, menjambak Xander. Alona berhasil membalikan keadaan, Ia sekarang berada di atas.
Kekuatan seorang wanita tidak sebesar kekuatan pria. Alona yang semula berada di atas sekarang sudah keposisi semula, ia dibawah. Mereka berguling-guling, berulang kali.
Alona dan Xander seperti sedang berada di arena pertandingan gulat yang memperebutkan kejuaraan.
Mantel Alona yang memakai kancing sudah terlepas. Kakinya yang hanya menggunakan hotpants terlihat jelas oleh Xander.
Xander menggendong Alona di bahunya. Raut wajah pria itu seperti seorang algojo yang akan mengeksekusi mati seorang terdakwa. Alona terus memberontak, kakinya menendang-nendang, tangannya memukul belakang Xander.
"Xander, turunkan aku."
"...." Xander terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamar utama di lantai dua.
"Xander turunkan aku."
Xander sedikit menendang pintu itu untuk membuka pintu kamar.
"Bruk...!"
Pria itu menjatuhkan dan membanting badan Alona di atas kasur.
Baju pria itu sudah kusut dan penuh keringat akibat berguling-guling di lantai. Dasi yang melingkar di lehernya ia tarik secara perlahan, dasi itu seperti akan mencekek leher jenjangnya. Satu persatu kancing kemejanya ia buka.
Alona yang melihat pria itu sudah membuka bajunya merasa takut akan kejadian sebelumya. Ia sudah meringkuk di sudut kasur paling atas dekat bantal.
"Xa-Xander, apa yang ingin Kau lakukan?'
Alexander, "...."
__ADS_1