Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kecewa!


__ADS_3

Dunia seakan runtuh, alam beserta isinya seperti akan lenyap tanpa sisa.


Alvaro kehilangan kendali. Pria itu marah seperti induk harimau yang direbut anaknya oleh seorang pemburu. Semua barang yang ada di depan matanya ia lemparkan. Ruang kerja itu seperti layaknya kapal pecah, hancur berantakan. Matanya terpejam memikirkan berita itu. Ruangan itu luas dan sejuk tapi terasa pengap seperti penjara bawah tanah. Alvaro menyenderkan badannya di kursi putar, matanya masih terpejam, tangannya sedikit memijat keningnya yang sudah terasa berat. Pikirannya melayang-layang memikirkan kekasihnya Alona.


Alvaro Kau pria lucu! cintamu seperti mainan baginya, sementara Kau mati-matian mencintainya.


Lepasakan dia! masih banyak cinta untukmu di luar sana.


Permpuan cantik tidak cuma satu, Kau tampan, sekali lirik saja akan ada banyak gadis bersedia melepaskan pakaiannya di depanmu.


Tinggalkan dia! bumi luas, akan ada Alona lain menunggumu.


Pikiran di kepalanya terus mangatakan bahwa dia harus kuat dan meninggalkan Alona yang telah mengkhianati cintanya.


"Tidak, Varo. Cintamu tulus dan murni hanya untuknya, sebelum kamu tahu apa alasannya kau harus tetap tenang." Alvaro membuka matanya yang terlihat sedikit merah dan ber-air.


Pikiran kalutnya masih terasa membayangi otak dan alam sadarnya. Alvaro mengingat ketika ia membuka ponselnya pertama kali. Pesan yang ia harapkan dari kekasihnya, Alona, ternyata notifikasi berita bisnis, seputar pernikahan bisnis milik keluarga kaya di kota J. Bukan berita pernikahan itu yang membuatnya marah. Tapi, Alona, kekasihnya tega bermain api, pergi dengan lelaki lain, bahkan seluruh penduduk kota tahu dengan jelas.


Hati Alvaro untuk Alona sekarang terasa sakit, seperti tercabik-cabik oleh gigitan segerombolan ikan piranha. Hatinya hancur berkeping-keping, seperti tanpa sisa untuk wanita itu.


Semua bukti terlihat sangat jelas berupa foto di berita elektronik. Mungkin, jika itu tulisan, ia bisa menyangkal kebenarannya.


Matanya tidak buta. Ia melihat dengan jelas setiap foto yang ditampilkan di isi berita itu.


Foto pertama, Alona tersenyum menatap wajah Xander dan memegang tangannya dengan sangat erat saat memasuki ballroom hotel.


Foto ke-dua, Xander dan Alona menari di acara pernikahan.


Foto ke-tiga, Xander mencium Alona dengan sangat intim.


Masih banyak foto yang menghiasi layar ponselnya, tapi, Alvaro nemilih menutup berita itu agar dadanya tidak terasa semakin sesak.


Alona Kau benar-benar membuatku kecewa!


Apa kurangnya aku di matamu Alona!?


Apa karena dia kebih kaya dan berkuasa?


Apakah Kau menyukai pria yang lebih kaya dariku?


"Alona!?"

__ADS_1


Alvaro berteriak memanggil nama kekasihnya, ia menendang meja dan bangkit dari kursi putarnya. Pria itu berjalan mondar-mandir di depan meja kerjanya.


Ingin menangis, tapi gengsi!


Ingin teriak tapi tidak ada orang yang akan meresponnya!


Keringat sudah membasahi seluruh badannya, kemaja putih yang dikenakannya basah seperti cucian belum kering.


Tangannya ia kepalkan dan meninju meja kerjanya. Kaca di atas meja itu retak seribu. Darah cair dan berbau amis menetes secara perlahan dari buku-buku jarinya.


"Tut..., tut...,tut...." Bunyi sambungan telepon.


Alona! Kau kemana saja!?


Angkat telepon ku, Alona!


15 kali panggilan tak terjawab, Alona???


Aku sudah menelponmu lebih dari 15 kali Alona, angkat!"


Pria itu berteriak di dalam ruang kerjanya, seperti mencaci makai seorang pencuri.


Malam terasa sangat lama menjemput pagi seperti se-abad lamanya, menanti kabar dari kekasihnya,Alona. Belum jelas, hatinya seperti abu-abu, percaya pada kekasihnya Alona atau percaya pada berita elektronik?


Alvaro menyalakan layar ponselnya dan mencari nomor telepon rumah Alona.


Panggil, Alvaro mengusap layar ponselnya.


Tut..., tut..., tut...


"Halo Bi, ada Nona Alona?"


"Maaf, Tuan Varo, Nona Alona belum pulang sejak tadi sore."


"Bi, sebelum pergi, apakah Alona titip pesan?"


"Tidak Tuan, tapi Nona Alona sepertinya sangat terburu-buru."


"Oke Bi, terima kasih. Jika Nona sudah pulang, tolong kabari aku."


"Iya, Tuan. Saya akan kirim pesan nanti, jika Nona sudah pulang.

__ADS_1


Alvaro memutus sambungan teleponnya.


Hatinya kembali bergejolak mengetahui bahwa kekasihnya tidak ada di rumahnya. Alona Kau seperti menampar tepat di mukaku mengunakan kotaran hewan!


Kau bahkan tidak ada di rumahmu selarut ini. Kau sudah berubah, bukan Alona yang dulu.


Bam, pria itu membanting pintu ruangan kerjanya. Alvaro memutuskan keluar mencari Alona. Alvaro masih merasa khawatir dengan keselamatan kekasihnya meskipun ia telah di khianati secara nyata.


Sisi lainnya....


Alona menagis dan menggelengkan kepalanya.


Xander mendekati wanita itu. Wajahnya masih sama tidak berubah sama sekali.


"Xander, hentikan semua kegilaanmu itu"


"Kau milikku malam ini, lalu, bagaimana caraku melepaskan mu Sayang. Aku menginginkanmu, sangat menginginkanmu!"


Xander benar-benar seperti serigala berwujud manusia. Pria itu tidak pernah gentar membalaskan dendamnya. Dendam masa lalunya seperti telah mendarah daging di tubuhnya yang atletis.


"Alona sayang, bersikap baiklah malam ini, aku akan bermain cantik..."


"Xander, Kau telah melakukannya berkali-kali padaku! apakah hatimu memang terbuat dari batu?" Alona mengacungkan jari telunjuknya ke arah pria itu. Tatapan matanya sama seperti Xander, mematikan mangsa dengan sekali pukul. "Hewan juga memiliki dendam tapi tidak sepertimu Xander."


"Teruslah katakan itu padaku, aku bukan manusia. Mungkin, aku memang hewan buas seperti yang kau katakan itu."


"Xander, kakakmu pasti kecewa dengan perbuatan mu padaku. Kakak mu juga seorang wanita. Harusnya, jika kau mencintai kakakmu Kau tidak akan melakukannya pada ku!?"


"Alona!? Beraninya Kau menyebut dan mengungkit masa lalu kakakku? apa yang Kau ketahui tentangnya? Aku akan menunjukkannya padamu suatu saat nanti, bagaimana Kakak ku menderita. Ini belum seberapa Alona!"


Alona tersenyum ke arah Xander, lalu ia bangkit dari tempat tidur dan menantang pria itu secara terang-terangan.


"Xander sepertinya kau akan puas jika sudah menghancurkan ku sampai ke titik akhir. Aku benar, kan?"


Alona diam sejenak mengambil napas dan melanjutkan kata-katanya.


"Lakukan!" Alona memerintah pria itu. Gaunnya yang seksi dan elegan ia buka secara perlahan.


Pria itu mengangkat kepalanya yang tertunduk, lalu ia melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu. Tatapanya kosong, ia belum sadar dengan tindakan Alona yang sedang membuka bajunya.


Alona berjalan secara perlahan mendekati Xander.

__ADS_1


"Lakukan seperti yang Kau inginkan, Xander!"


Alexander, "...!!!"


__ADS_2