
Xander selalu saja terbawa emosi saat mendengar kata kakaknya di ucapkan. Tidak tahu mengapa tapi itu seperti sesuatu yang sudah melekat di dalam jiwanya. Ketika kata itu di sebut di dalam otaknya langsung merespon seperti sirene bagi dirinya. Ia selalu saja begitu. Tidak ada cara yang bisa menghentikannya kecuali melepaskannya dengan kemarahan yang memuncak.
Alona dan Xander masih bertahan saling menatap mata. Tidak ada tanda-tanda mereka akan berhenti. Pandangan mata mereka seperti kucing dan tikus. Kucing terus mengintai pergerakan tikus sedangkan tikus berusaha mencari cara menghindari terekaman kucing . Alona sebagai tikus sedangkan Xander sebagai kucing.
Setelah sekian lama mereka saling memandang, Alona memutuskan rencananya. Alona tersenyum menyeringgai tanpa mengalihkan pandangan matanya pada Xander. "Apa aku salah jika bertanya sesuatu padamu Sayang...!?" Alona melantunkan kata-kata lembutnya yang memiliki seribu arti tersembunyi. "Aku berhak tahu dia kakakku. Benarkan sayang?" Alona menekan keingin tahuannya.
"Lebih baik diam jika kau tidak tahu apa-apa." Xander mencengkram dagu Alona semakin kuat hingga Alona merasa kesakitan. Xander seperti kucing sedang kelaparan mendapatkan seekor burung di depannya. Ia ingin segera menghabiskan mangsa itu.
Alona tetap diam, tidak bergerak sedikitpun. Ia sangat penurut. Ia bukan tidak berani melawan Xander yang sedang marah padanya. Hanya saja ia ingin memantau pergerakan lawan. "Aku tidak tahu apapun. itu sebabnya aku bertanya. Aku tidak tahu jika pertanyaan itu bisa membuatmu marah." Alona merendahkan diri dari sebelumnya. Ia mengucapkan kata maaf dengan sangat tulus. "Maaf...!"
"Omong kosong!," Xander mencemooh Alona.
"Sssssssscht," Alona meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Xander. "Jangan katakan itu sayang. Kau bisa menyakiti hatiku."
Meskipun pria itu sedang marah, tetap saja sebagai seorang pria tergila-gila pada kecantikan di depan matanya ia menjadi hilang kendali dengan perasaannya sendiri "Kau telah mengacau makan malamku, maka Kau yang akan menjadi pengganti makan malamku Alona...." Xander menggetarkan giginya kemudian mencengkram tengkuk wanita itu. "Jangan bergerak sedikitpun jika tidak ingin aku melakukan sesuatu padamu!"
Alona bagai terbenam di lautan lumpur, semakin ia ingin bebas semakin kuat lumpur itu menyedot badannya ke dalam lobang yang lebih dalam.
Alona tidak bergeming dengan semua tekanan Xander padanya. Alona mendongak memantapkan pandangan matanya pada pria itu. Akhirnya Alona berbicara memprovokasi Xander. "Apakah begitu menyenangkan membuat seorang wanita terluka Sayang?"
Xander tetap diam memandangi wajah wanita itu lekat. Ia siap memakan makanannya kapanpun.
Melihat tidak ada pergerakkan dari Xander Alona semakin menjadi-jadi lebih agresif dari sebelumnya. "Apakah seperti ini kau memperlakukan kekasihmu sayang!?" Alona menyentuh pipi Xander. Jari-jemarinya bergerak memainkan pipi Xander seperti bermain piano. Gerakannya teratur sesuai dengan irama jantungnya.
"Apa yang Kau lakukaan?,Apa Kau mencoba menggodaku lagi Alona?, jangan harap Kau bisa lolos kali ini."
"Tidak...," Alona berbicara lembut dengan nada sedikit mendayu. "Kau bilang ingin memakanku, jadi aku mempersiapkan diri menjadi makanan yang lezat. Bagimana? apa Kau suka?" Alona menyalakan kobaran api yang sempat padam.
Xander tersenyum sinis menatap Alona. "Kau dan Kakamu sama saja. Sama-sama membuatku jijik."
"Sayang hatiku benar-benar sakit meandengar penilaianmu itu. Setidaknya Kau bisa bermurah hati padaku. Misalnya melepaskan cengkramanmu, aku kesakitan." Alona berbicara dengan suara manja, dan tersenyum manis kala mengucapkan kata-kata itu.
__ADS_1
Xander tanpa sadar mengikuti kata-kata wanita itu. Tangan yang tadinya mencengkram tengkuk Alona dengan sangat kuat kini mulai melonggar. Namun amarahnya masih tetap sama tidak berkurang. "Alona!" Xander berteriak memanggil nama wanita itu.
"Sayang jangan berteriak, nanti tenggorokanmu sakit. Aku tidak bisa selalu bersamamu, menjagamu. Aku- " Alona menghentikan kata-katanya sejenak, "akan mengkhawatirkanmu jika Kau sakit atau terluka."
Xander tersenyum manis tapi ada maksud lain yang tidak di ketahui dengan jelas. Dalam hitungan detik suasana hati pria itu berubah menjadi tatapan bersahabat dan sedikit kasihan. "Alona-, apakah kau bersedia menjadi istriku?"
Tidak ingin terjebak. Alona menganggap kata-kata Xander hanya bualan belaka. Ia hanya tersenyum saat mengatakan permohonan maafnya. "Maaf Tuan. Menggoda seorang wanita yang akan segera menikah itu tidak baik."
"Alona apa Kau benar-benar tidak mengingatku sedikitpun?" Xander membelai kedua pipi Alona. Tatapan matanya sangat serius menatap bola mata Alona. Ada cinta terpancar dari pantulan pupil matanya.
"Xander, aku tidak pernah mengenalmu, sedikitpun tidak. Kecuali Kau pria yang telah menghancurkan hidupku. Hanya itu yang aku ketahui."
"Lupakan saja bila itu bukan dirimu. Tapi, aku tidak mungkin salah lihat saat di sekolah dulu. Kau wanita pertama yang memperhatikanku. Kau yang telah menolong ku dari kejaran anjing gila di sekolah."
"Xander aku benar-benar tidak tahu itu. Kau mungkin salah orang. Aku tidak pernah menyelamatkan seorang pria dari kejaran anjing gila."
"Alona apakah tidak ada kemungkinan lagi bahwa Kau akan meninggalkan kekasihmu dan memilihku?" Xander bertanya dengan nada lembut dan serius.
Alona menundukkan kepalanya tidak tahu harus mengatakan apa. Alona kemudian memegang kedua tangan Xander yang dari tadi membelai pipinya. Ia mendongak dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Melihat Alona menatap matanya begitu dalam Xander kembali berbicara. "Aku akan melepaskan semua dendam denganmu Alona. Aku hanya ingin hidup tenang, bahagia dan memiliki keluarga yang utuh sama seperti dulu saat keluargaku masih lengkap.
Xander cinta tidak bisa di paksakan. Hati dan cintaku hanya untuknya.
Kekasihku sudah melupakan semua yang telah terjadi padaku. Dia juga sudah menerima keadaanku saat ini. Mari kita lupakan dendam keluarga kita. Semua ini hanya akan menyakiti kita. Apa yang Kau ingin lihat sudah Kau lihat. Aku sudah cukup menderita untuk hal ini.
Makan malam berakhir berantakan. Tidak ada nafsu makan lagi yang ada hanya kemarahan. Xander pergi naik ke lantai atas menuju balkon kamarnya. Ia memandang langit gelap sama seperti perasaannya saat ini.
Perasaan Xander selalu saja tersakiti. Tidak ada yang mencintai dan menyayanginya. Kebahagiaan dan cinta yang ia miliki terhenti sejak keluarganya hancur berantakan. Bisa diartikan bahwa Xander kekurangan kasih sayang saat ia sudah dewasa. Hingga tanpa sadar menjadikannya seorang yang dingin dan tidak bersahabat. Pemarah dan emosional cerminannya saat ini.
Alona kembali ke kamar kakaknya Xander. Ia tidak lagi mempedulikan apapun. Alona duduk dengan menopangkan dagu di kedua lututnya.
__ADS_1
Ia membenamkan wajah dan memeluk kedua kakinya sendiri. Menagis meratapi nasib yang tidak berpihak padanya. 'Ibu ayah Kenapa hidupku sangat menyedihkan?, aku sangat merindukan kalian. Aku juga merindukan kakak Alan. Merindukan saat-saat kebersamaan keluarga kita. Ayah yang selalu menyisiri rambutku. Ibu yang selalu menyuapiku makan. Kakak yang selalu mengodaku di saat tidur. Semua itu terjadi seperti baru kemarin aku merasakannya."
Langit sudah cerah. Alona dan Xander terbangun bersama-sama di kamar yang berbeda. Mereka mengerakan badannya yang terasa kaku.
Alona turun dari kasurnya. Ia menuruni anak tangga menuju dapur.
Meja makan yang semalam berantakan sudah terlihat bersih seperti tidak ada jejak pertengkaran antara Alona dan Xander.
Alona membuka kulkas dua pintu di ruang dapur. Semua sayur, buah-buahan, daging tertata rapih. Alona sempat binggung, bukankah di sini tidak ada asisten rumah tangga. Tapi semua itu masih terlihat segar. "Lupakan," Alona menghiraukan yang tidak ia ketahui. Alona sudah kelaparan sejak tadi malam perlahan tangannya memotong sawi dan menumisnya. Daging segar ia cuci dan di masak kecap manis.
Ruangan dapur seperti di restoran ternama. Tercium aroma masakan yang sangat mengugah selera. Wanginya menyebar sampai ke lantai dua. Xander tersadar dengan perutnya yang berbunyi gemuruh saat mencium aroma masakan yang lezat. Xander mengerutkan alisnya. Ia tidak pernah memberi tahu asisten rumah untuk datang hari ini. Lalu siapa yang sedang memasak di dapur. Mungkinkah Alona?.
Tersadar, Xander langsung berjalan cepat menuju dapur. Saat tiba ia sudah mendapati meja makan penuh dengan lauk pauk tersaji dengan tampilan indah seperti chef profesional yang menatanya di meja makan itu.
"Pagi" Alona menyapa Xander yang tengah bengong menatap meja makan.
Xander mengarahkan pandangan matanya pada orang yang menyapanya. "Alona?" ia sedikit terkejut.
"Ya" Alona menjawab tanpa ragu. "Maaf, aku tidak meminta izinmu terlebih dahulu. Aku sangat kelaparan pagi ini."
Alona menarik kursi di meja kemudian ia menarik tangan Xander dan menyuruhnya duduk di kursi itu. Alona mengambil piring dan sendok meletakkan nasi dan lauknya di atas piring kemudian ia meletakkan piring itu di hadapan Xander.
Xander hanya terdiam memandangi wajah Alona yang sedang serius melayaninya. Perasaannya semakin tidak karuan. Jantungnya saat ini seperti sedang di siksa di dalam dadanya.
"Makanlah, nanti makananmu dingin jika tidak segera di makan." Xander tersadar saat mendengar kata-kata Alona menyuruhnya makan. Wanita itu lantas tersenyum saat Xander menatap ke arahnya.
Apa kabar jantung dan hati Xander saat alona memperlakukannya dengan lembut dan perhatian. Rasanya lebih dari di siksa. Jika bisa memilih ia ingin menghentikan waktu berputar pada saat ini juga. Alona yang perhatian dan lembut sudah mengalihkan semua dunianya yang suram.
Alona menarik kursi berlawanan dari Xander ia mengisi makanannya sendiri. Pagi ini mereka sarapan dengan tenang seperti menikmati bulan madu bersama.
Setelah selesai dengan makanannya Alona beranjak berdiri ingin mencuci piring itu. Saat ia akan berjalan Xander menghentikannya. "Biar aku saja."
__ADS_1
Alona menghentikan langkahnya. "Tidak perlu aku bisa sendiri" Alona tersenyum lagi. Alona layaknya seorang peri baik hati saat ini. Mungkin jika Xander mengatakan permohonannya Alona akan mengabulkan dengan segera tanpa terkecuali.