Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Menyusup seperti pencuri!


__ADS_3

Alexander perlahan membuka matanya. Melihat Alona yang masih tertidur dia pun bangkit pergi ke atas kasur. Xander tidur di samping Alona menyusup seperti pencuri.


Jam lima sore Alona terbangun dari tidurnya. Merasa berat di pundaknya, Alona membalikkan badan dan melihat Xander tengah memeluknya. Alexander yang merasakan bahwa Alona sudah bangun berpura-pura bahwa ia tidur berjalan. "Maaf... sepertinya kebiasaan tidur berjalanku kambuh lagi." Kata Xander.


Ketika pria itu hendak pergi turun dari kasur Alona menariknya. "Maafkan aku..., aku hanya ingin kita bisa menjaga perasaan masing-masing. Aku sedang dalam proses kehamilan seperti ini sangat mudah marah. Tolong kamu mengerti keadaanku. Aku sangat mencintaimu." Ucap Alona.


Detik berikutnya, wanita itu mencium bibir Xander. Ciuman hangat di sore hari. Bibir Xander yang sedang terluka merasakan sakit. Namun ia tahan untuk menutupinya. Ciuman itu seperti obat, bahkan rasa sakit terasa hilang seketika.


"Alona sayang..., aku juga minta maaf. Mungkin, aku terlalu khawatir padamu dan bayi kita, sehingga aku seperti ini. Apa kamu tahu? aku sangat takut kehilanganmu!"


"Emm..." Alona mengganggukan kepalanya. "Aku mengerti..." Jawab Alona dengan nada terharu.


Alona membelai pipi Xander secara lembut. Krim yang menutupi wajah pria itu menempel di tangan Alona. "Sayang sejak kapan kamu memakai krim wajah seperti ini!?" Tanya Alona.


"Sial!!! apa aku memakainya terlalu tebal." Ucap Xander dalam hati.


"I-ini...." Xander ikut memegang pipinya dan tertawa untuk mencairkan kecanggungannya karena sudah ketahuan memakai krim wajah. "Apa terlalu tebal?" Tanya Xander. "Aku hanya iseng saja saat melihat krim wajah punyamu di atas meja. Aku hanya ingin merasakan bagaimana memakai krim sepertimu." Sangkal Xander mencoba menghindari kecurigaan Alona.


"Sayang jangan berbohong padaku. Wajahmu tidak seperti biasanya. Mungkin tadi aku tidak terlalu memperhatikan wajahmu secara intens. Tunggu di sini." Perintah Alona. " Aku akan membersihkannya. Aku ingin tahu apa yang sedang kau tutupi dariku."


"....!!!" Xander terdiam memikirkan alasan.


Alona mengambil kapas dan toner pembersih wajah di atas meja hiasnya. Kemudian ia membersihkan wajah Xander secara menyeluruh. Mulut Alona menganggah lebar saat melihat wajah asli Xander. Bekas lebam di wajah pria itu masih terlihat jelas. "Sayang apa yang terjadi pada wajahmu?" Tanya Alona cemas.


"Sudahlah! Jangan pedulikan wajah ku."Kata Xander merajuk untuk menutupi kebohongannya. "Kau bahkan tidak memperhatikannya saat masuk ke rumah. Apa aku tidak berarti bagimu!?"


"Itu hanya perasaan mu saja Xander sayang, aku sangat peduli padamu. Bahkan Aku juga sangat takut kehilanganmu." Kata Alona dengan suara lembut dan manja.


Alona turun dari kasur, " duduk di sini jangan bergerak." Perintah Alona pada Xander.


Alona kembali membawa kotak obat di tangannya. "Kenapa wajahmu menjadi memar seperti ini!?" Tanya Alona dengan menarik dagu Xander menghadap ke arahnya. "Jawab aku!"


Xander tidak ingin mengatakan kejadian yang sebenarnya bahwa dia di pukul oleh mantan kekasihnya Alona. Tiba-tiba sebuah ide keluar dari dalam otaknya. Entah ide macam apa ini!? namun Xander tetap mengatakanya. Meskipun terdengar konyol dan tidak masuk akal. Asal ia sudah bicara lebih dulu dan hasil akhirnya tergantung kemampuan bicaranya. Xander memasang muka tenang dan serius untuk meyakinkan bahwa itu benar. "Ini sangat memalukan. Tadi pagi saat aku ingin mencarimu aku terjebak di kerumunan pelajar sedang tawuran. Mungkin karena wajahku yang terlihat seperti anak SMA mereka ikut memukulku."


"Oh! begitu.... Bukannya kau sangat hebat dalam bertarung Xander!?"


"...." Xander berpura-pura tidak mendengar.


Alona membersihkan wajah Xander dengan alkohol.

__ADS_1


"Au! Sayang bisa pelan sedikit tidak!?"


"Bukankah kau sangat jagoan." Kata Alona sambil menekan kapas lebih kencang.


"Sayang.... pelan sedikit." Ringis Xander menahan sakit.


"Jangan manja! bukankah Kau sangat pandai menyembunyikan luka itu padaku!? artinya kau bisa menahan rasa sakit lebih dari ini."


"Sayang tolong pelankan sedikit. Luka ku juga tidak seserius itu! cukup menunggunya kering saja sudah cukup."


Bagimana jika lukamu terkena infeksi!?" Kata Alona mengingatkan. "Apa kamu sok jagoan. Kau pria dewasa harusnya bisa menghindari perkelahian seperti itu. Memalukan saja!"


"Apa aku harus berkelahi dengan mereka juga? Mereka semua mengepungku. Beruntung Rudy menyelamatkanku tepat waktu." Kata Xander merangkai kata-kata agar lebih meyakinkan Alona.


"Lebih baik kau melawan daripada terluka seperti ini." Kata Alona.


"Bukankah berkelahi dengan mereka akan membuatku lebih memalukan!? jika aku di tahan polisi bagaimana?" Tanya Xander bercanda. " Kau tahu anak SMA sepertiku tidak punya ayah dan ibu untuk datang membebaskan dari penjara semalam di kantor polisi."


"Tentu saja aku akan membebaskanmu! menyamar sebagai ibumu! lagipula ungku sangat banyak. Aku cukup membawa uang membebaskanmu dengan syarat penebusan." Jawab Alona menimpali lelucon Xander.


"Sayang..., kau sangat menggemasakan." Kata Xander.


Alona menekan kapas yang sudah di beri obat merah di wajah Xander.


"Itu peringatan untukmu. Agar tidak mengulangi kesalahan seperti itu lagi."


"Alona aku takut anak di dalam perutmu lahir seorang bayi perempuan. Aku tidak akan sanggup menghadapi kalian berdua. Semoga tuhan memberiku anak laki-laki untuk pertama kalinya."


"Xander!" Alona berteriak mengepalkan tangannya.


"Lihatlah baru saja aku bilang. Kau sudah breaksi seperti itu. Di kepalamu aku sudah bisa melihat ada dua tanduk iblis sedang menyala" Kata Xander sambil tersenyum menatap tingkah lucu Alona-nya.


Luka Xander sudah selesai di obati. Sekarang dia tidak perlu memakai krim wajah untuk menutupinya. Alona yang sedang marah duduk di pinggir kasur membelakanginya. Alexander memeluk Alona dari belakang. "Sayang..., jangan menekuk wajah seperti itu!" Kata Xander mencairkan situasi.


Alona hanya menoleh dengan wajah masam lalu memalingkan wajahnya lagi.


"Sayang, beib, honey, sweetie, love, dear, sweetheart..., bisa kita bicara baik-baik!?" Tanya Xander pelan.


"Kenpa!?" Tanya Alona masih kesal sambil menoleh ke arah Xander.

__ADS_1


"Kamu seperti itu semakin cantik!" Kata Xander menggoda.


Alona tidak dapat menahan senyum di wajahnya. Meskipun kata-kata seperti itu terlihat murahan dan klasik. Namun hati Alona sangat cepat mencair. "Oh! kenapa hati dan otakku tidak sinkron saat seperti ini." Kata Alona dalam hatinya.


"Aku sepertinya akan jadi pria yang membuat mu selalu marah! sayang.... Setelah marah senyummu itu seperti membutku mabuk kepayang." Kata Xander menggoda Alona lagi.


"Gombal!" Kata Alona dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Mau bicara apa?" Tanya Alona dengan nada yang lembut.


"Aku sudah memikirkan untuk menentukan hari pernikahan kita... Bagaimana menurutmu?"


"Aku menginginkan pernikahan sederhana saja. Mengingat bahwa Alvaro sedang mencari keberadaanku. Kita cukup menikah di taman belakang saja. Kita sama-sama sudah tidak memiliki orang tua. Kakaku Alan juga belum sembuh. Sebaiknya kita undang sekretarismu Rudy untuk menjadi saksimu dan Bi ani menjadi saksi untukku. Untuk hari dan tanggalnya aku serahkan padamu. Kamu yang selalu sibuk dan tahu hari yang cocok untuk kita."


"Ide yang bagus." Kata Xander. " Setelah semua selesai dan tidak ada lagi yang mengganggu kita. Aku akan membuat acara pernikahan termegah sepanjang sejarah untukmu sayang. Maaf untuk Kakak mu Alan. Aku yang menyebabkannya seperti itu. Aku pria yang terlalu ambisius dengan dendamku dan tidak berperasaan saat itu. Aku menembak kedua kakinya dan terakhir ingin menembak jantungnya. Beruntung Kamu datang pada saat itu. Sehingga tembakan ku meleset"


"Sudah lupakan.... Aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi." Kata Alona sambil menggenggam erat tangan Xander yang sedang memeluknya.


"Aku akan mengurus semuanya besok pagi." Kata Xander sambil mencium kening Alona.


"Apa kamu lapar?" Tanya Alona.


Xander menganggukan kepalanya. Pria itu tidak makan dari kemarin malam. Saat Alona bertanya padanya barulah ia sadar bahwa perutnya keroncongan hingga cacing di dalam perutnya berbunyi cukup kencang.


"Mau makan apa?" Tanya Alona. "Aku akan memasaknya untukmu..."


"Tidak usah..., Jangan terlalu lelah." Kata Xander. "Aku bisa memasak sendiri. Apa kamu ingin makan juga? Aku bisa membuatnya untukmu dan bayi kita." Ucap Xander perhatian.


"Aku akan meminum susu saja. Aku belum bisa makan. Bumbu masakan membuat perutku tidak nyaman."


"Tunggu di sini..., Aku akan menyeduhnya untukmu."


Xander turun pergi ke dapur. Membuka lemari tempat penyimpanan susu hamil yang telah Xander siapkan khusus untuk Alona selama sebulan. Pria itu mengambil box susu dan membaca secara cermat cara menyeduh segelas susu hangat. Bi Ani yang masuk ke dapur dari taman belakang memperhatikan Xander yang tengah sibuk mencari sendok takaran susu. Bi Ani mendekati Xander. "Tuan Xander biar aku saja."


Mendengar suara Bi Ani secara tiba-tiba membuat Xander sedikit terkejut. "Oh Bi !? tidak perlu aku harus selalu siap saat Alona membutuhkan. Aku tidak bisa mengandalkan Bibi setiap waktu. Lagipula Alona sudah sangat lelah harus membawa beban berat setiap hari. Aku membayar Bibi juga bukan untuk memasak dan bersih-bersih. Bibi hanya bertugas menjaganya. Kalau Bibi tidak memaksa untuk memasak sendiri aku juga akan menyewa seorang chef untuk Alona dan Bibi."


"Tuan sangat manis, dan akan menjadi suami idaman setiap wanita. Aku akan memberi tahu cara menyeduh susunya." Jawab Bi Ani.


"Baiklah... Aku akan melihat dan menjadi murid Bibi Ani yang paling patuh." Ucap Xander bersemangat.

__ADS_1


Alona yang sudah lama menunggu di atas menjadi khawatir. Mengingat bahwa Xander tidak pernah menyeduh segelas susu membuatnya semakin tidak tenang, takut tangannya terkena air panas. "Apa Xander bisa menyeduh susunya? kenapa dia juga belum kembali?" Tanya Alona dalam hati.


Belum lama Alona memikirkannya. Xander sudah kembali dengan segelas susu dan sepiring roti bakar kacang dan cokelat. "Sayang aku kembali..." Kata Xander sambil tersenyum ke arah Alona.


__ADS_2