
Amor tiba 15 menit setelah kepergian Alona dan Diana.
"Hai Varo..." Amor melambaikan tangannya menyapa Alvaro yang sedang berbaring di atas tempat tidur."
Alvaro tersenyum. "Maaf merepotkanmu Amor. Mamaku yang memintamu datang."
Amor membalas senyuman Alvaro dan berkata. "Tidak masalah. Aku juga mengerti kekhawatiran tante Diana padamu."
".... Oh ya, aku hampir lupa. Selamat atas pertunanganmu. Tante sudah mengatakan bahwa Kau akan segera bertunangan dengan kekasihmu Alona."
Dalam hati Amor sudah meradang. Tangannya sudah terkepal menahan emosinya. Kecemburuannya pada Alona sudah setinggi gunung. Tidak bisa di turunkan ke dataran rendah begitu saja. Amor bergumam dalam hatinya. "Alona Kau bisa bahagia saat ini. Selama aku masih ada Alvaro hanya akan menjadi milikku. Tidak akan ku biarkan Kau merebut apa yang seharusnya menjadi milikku."
Alvaro menjawab ucapan selamat dari Amor. "Terima kasih Amor. Kau memang teman baikku."
Amor selalu pandai menyembunyikan kepribadiannya yang buruk. Wanita itu pandai bersandiwara. Amor termasuk dalam kategori wanita yang memiliki seribu wajah.
"Pastikan cetakan pertama undanganya untukku. Aku akan marah jika kau memberikannya pada orang lain." Amor bergurau.
"Tentu saja" Alvaro menjawab singkat.
"Varo aku tidak tahu Kau masih menyukainya atau tidak. Aku membawakan minuman kesukaanmu saat SMA dulu."
Amor mengeluarkan minuman tradisional bercita rasa manis dengan rasa jahe hangat yang kuat.
Alvaro masih mengingatnya. Minuman kesukaannya saat SMA dulu. "Amor bagaimana kau bisa membelinya. Aku bahkan sudah mencari minuman itu sejak lama, tapi, aku tidak pernh berhasil menemukannya."
Amor tersenyum bahagia. Selangkah lagi rencananya akan berhasil.
"Kau meragukan kemampuanku Varo. Aku bisa melakukan apapun demi teman baikku. Minumlah!"
Alvaro mengambil botol itu dari tangn Amor. Ia segera meminum minuman itu tanpa ragu dan curiga. "Terima kasih Amor. Aku sudah lama menginginkan minuman ini." Alvaro meminum minuman itu sekaligus tanpa nafas. "Glek..., glek..., glek...."
Amor bagikan kejatuhan bintang dari langit saat menyaksikan Alvaro meminum minuman itu.
Amor duduk di sofa menunggu reaksi obat tidur dalam minuman yang telah ia berikan pada Alvaro. Saat duduk Amor merasa kesakitan, bokongnya menghantam tas di atas sofa. Amor kesal dan ingin melempar tas itu. Tapi niatnya ia urungkan. Matanya sangat jeli ketika menemukan hal yang menarik.
***
Di satu sisi terjadi perselisihan cukup rumit antara Alona dan Diana.... Mereka berdebat menentukan pilihan....
Alona dan Diana sibuk memilih model cincin yang akan di buat khusus untuk Alona dan Alvaro. Alona menginginkan cincin berlian bermata warna merah mawar. Sedangkan Diana memilih biru muda.
"Ma..., aku ingin model yang ini."
"Tidak!. itu terlalu berlebihan. Mama tidak suka."
__ADS_1
"Ma..., yang akan melakukan pertunangan itu aku dan Alvaro."
"Alvaro anak Mama jadi aku yang mewakili pilihannya." Diana terus berdebat tidak ingin mengalah.
Pembuat desain cincin itu kebingungan menentukan pilihan kedua wanita di depannya. Mata wanita itu terus mengikuti telunjuk Alona dan Diana saat kedua wanita itu berdebat menentukan pilihannya.
"Ma aku ingin ini titik!." Alona menunjuk desain cincin pilihannya.
"Tidak!" Diana menolak.
"Yang ini Mama!" Alona tetap bertahan dengan pilihannya.
"Kataku yang warna biru muda ini Alona! titik!." Diana membalikkan halaman katalog desain cincin pilihannya.
"Stop, stop, stop....!" Cristine melerai perkelahian antar ibu dan menantu itu. "Aku sudah menentukan pilihan desain yang akan ku buat. Warna merah mawar!"
Cristine merespon cepat saat Alona mengarahkan 5 jarinya di sertai angka nol di bawah mejah di atas paha Cristine. Artinya Alona akan memberikan fee khusus untuknya 50 juta. Tentu saja dengan uang itu ia bisa membeli apapun.
Cristine sangat pandai menentukan pilihan yang menguntungkan baginya. Fee itu tergolong paling fantastis dalam sejarah karirnya mendesain cincin untuk pertunangan. Biasanya ia hanya mendapatkan 10 juta dalam sekali pengerjaan.
"Ma..., Aku yang menang." Alona membusungkan dadanya.
Diana geram lalu berkata. "Baiklah aku mengalah"
Diana tersenyum ke arah Cristine. "Terima kasih untuk desain ekslusifmu. Tolong buat cincinnya sedetail mungkin. Aku tidak ingin ada cacat sekecil apapun." Diana mengeluarkan amplop besar berwarna coklat. Setumpuk uang kertas sudah ia siapkan untuk DP pembuatan cincin itu. "Katakan pada bosmu. Aku akan mentransfer sisanya."
Setelah selesai dengan urusan pembuatan cincin Alona dan Diana segera pulang ke rumah sakit.
Alona sudah tidak sabar ingin cepat sampai ke tujuan. Hatinya sudah resah memikirkan kekasihnya bersama wanita lain. Walaupun Amor hanya teman Alvaro, tetap saja perasaan seorang wanita tidak akan senang meninggalkan kekasihnya bersama seorang wanita. "Varo..., tunggu aku sayang" Tangan Alona mencengkram sangat kuat di jok mobil di samping kedua pahanya. Kuku-kukunya sudah menusuk ke dalam jok mobil itu.
Diana tersenyum memperhatikan tingkah Alona. "Alona?"
Alona tersadar dari perbuatannya yang hampir merobek jok mobil "Ya, Ma. Ada apa?" Alona menoleh ke arah Diana yang memanggilnya.
"Alona percayalah bahwa Varo tidak akan berselingkuh di belakang mu." Diana menasehati Alona.
"Ma. Aku tidak bisa tenang. Perasaanku dari tadi tidak enak. Jantungku terus berdetak sangat kencang. Aku takut Alvaro-" Alona menundukkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca. "Selingkuh Ma...."
"Pak Dodi, tolong percepat laju mobilnya." Perintah Diana pada sopir di depan.
Dodi menganggukan kepalanya. "Baik Nonya."
Diana sekali lagi menatap Alona. "Tenanglah. Mobil ini akan segera sampai"
*****
__ADS_1
Heaven Place ada hati yang terluka.
Xander tinggal di rumah kaca. Pria itu memutusakan tidur di tempat Alona tidur sebelumnya. Alas kasur dan bantal masih tercium wangi tubuh Alona. Wanginya membuat Xander nyaman dan tertidur nyenyak.
Pagi-pagi sekali Xander sudah mendapatkan laporan penyewaan ballroom lantai lima di hotelnya. Xander tersenyum menatap ke arah taman bunga mawar. Pandangan matanya tertuju pada tumpukan bunga mawar yang sudah layu dan mengering. Xander mengingat kejadian manis saat Alona memangkas semua bunga mawar miliknya. "Alona Kau benar-benar akan meninggalkanku."
Air hujan turun setitik demi setitik. Gerimis itu seperti mengungkapkan perasaan Xander. Pria itu bersedih. Cukup lama matanya memandang kosong ke arah luar.
"Alona!, hatiku tidak bisa menerima rasa sakit ini."
Xander memegang dadanya. Rasanya sangat sakit terutama hatinya.
"Bibi rubah!, aku tahu tujuanmu memilih hotelku untuk acara pertunangan Alvaro dan Alona. Kau menganggap ku tidak akan berani mengacaukan acara itu di tempatku sendiri. Benar kan Bibi!?" Xander tersenyum sinis memikirkan kelicikan Diana.
Xander memencet nomor di layar ponselnya. Panggilan telepon terhubung ke sekretaris pribadinya. "Rudy segera perintahkan pada mereka untuk mengatur segala keperluan ballroom lantai 5. Pastikan tidak ada satupun yang tertinggal. Aku tidak akan mengampuni kalian jika itu tidak berhasil."
"Baik Tuan. Saya mengerti apa yang harus saya lakukan."
"Bagus..., aku akan memberikan bonus dua kali lipat dari gaji kalian semua, jika rencana itu berhasil."
Alona kakimu tidak akan sanggup melangkah terlalu jauh dariku. Tidak ada satu orangpun yang berani bermain api denganku termasuk Kau Alona.
****
Amor duduk di sofa bersantai memanjakan dirinya. Amor memoles kuku-kuku tangannya. Kemudian kuku kaki. Selanjutnya pikiran Amor di penuhi kegembiraan yang berlipat ganda dari sebelumnya. Wanita itu sudah mendapatkan apa yang ia sudah inginkan. "Alvaro sayang maafkan aku.... Aku harus melakukan cara ini untuk mendapatkanmu kembali."
Sudah dua jam Amor menemani Alvaro di rumah sakit.
Alona dan Diana belum juga kembali....
Amor tetap duduk tenang di atas sofa. Kemudian matanya memandang Alvaro. Pria tampan di atas kasur itu sudah tertidur sangat pulas.
Detik berikutnya pintu kamar di dorong sangat kuat dari luar. Amor cukup kaget.
Alona melangkah kan kakinya memasuki kamar Alvaro. Alona merasa lega saat melihat Alvaro tidur di kasurnya dan Amor tetap duduk di sofa. Alona menggenggam erat tangan Alvaro. "Varo..., Varo sayang aku sudah kembali. Bangunlah!"
Amor tahu diri, ketika Alona dan Diana sudah kembali. Ia langsung pamit meninggalkan rumah sakit itu.
Alona melihat ke arah Amor dan berkata. "Terima kasih sudah bersedia menjaga Alvaro."
Amor tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dalam hati ia berkata. "Tunggu tanggal mainnya kau akan menanggis darah Alona."
"Tante Diana aku pamit."
"Terima kasih Amor. Tante sangat senang Kau bersedia menemani Alvaro. Ingatlah untuk datang ke pesta pertunangan temanmu. Cetakan pertama Tante kirim untukmu."
__ADS_1
"Jangan sungkan untuk meminta bantuan darku lagi Tante. Aku pasti datang ke acara itu. Aku pergi...." Amor berbalik ke belakang melambaikan tangan ke arah Diana dan Alona kemudian ia pergi dari ruangan itu