
Xander menelepon Rudy sekretaris pribadinya, pria itu berbicara dengan nada lantang dan mendominasi. "Rudy jemput aku, di rumah. Sepuluh menit!"
"Baik, Tuan." Rudy menjawab perintah tuannya. Setelah menerima telepon itu. Rudy bergegas ke parkiran mobil. Sudut keningnya muncul keringat dingin. Beruntungnya sekretaris Rudy sudah mengetahui semua perilaku bos-nya. Jika tidak, pasti sudah terkena serangan jantung pada saat bos-nya memberi perintah. Jarak kantor ke rumah bos-nya diperkirakan 15-20 menit, itu pun jika tidak macet. Apakah pria itu menganggap bahwa aku seorang pembalap. Bagaimana aku harus mengendarai mobil dalam waktu sepuluh menit harus sampai ke tujuan. Mungkin bos menganggapku seorang pria yang memiliki sayap di bawah tanganku. Entahlah!
Setelah selesai dengan panggilan teleponnya.
Xander naik ke atas, lantai dua kamar tidur. Betapa marahnya ia saat mendapati kamarnya hancur. "Alona Kau benar-benar wanita bar-bar." Xander memijat keningnya yang terasa akan pecah akibat ulah wanita itu.
Tangan pria itu terkepal, urat-urat tangan dan lehernya terlihat sangat jelas seperti sedang menjerit karena tertarik begitu kuat oleh amarahnya.
Pria itu tersenyum, senyumannya seperti badai bencana. Di setiap lekukan bibirnya terdapat gelombang kebencian, terpancar jelas saat bibirnya terangkat ke sudut atas.
Alona!, aku menantikan saat-saat Kau tidak bisa berdiri tegak saat terjatuh. Bahkan jika Kau berusaha keras untuk bangkit, Kau tidak akan mampu melakukannya.
Bukan hanya sekedar ingin menghancurkan, tapi, pria itu juga ingin melihatnya menderita. Lebih menderita dari pada kematian.
Ini bukan akhir, melainkan sebuah awal permulaan. Bermain cantik akan lebih puas menikmati hasilnya.
Wajah pria itu menggelap seperti tertutup awan kelabu.
Kelinci kecil, aku harap kau tidak lengah dengan kemurahan hatiku. Wajahku memang pandai bersandiwara. Jangan tertipu!
Xander menghiraukan kekacauan kecil di dalam kamarnya. Untuk saat ini ia tengah menikmati permainannya, menjadi pria penyayang dan lembut.
__ADS_1
Pria itu kembali tersenyum manis, seakan ia berubah menjadi pribadi yang baru.
Alonaku sayang, kita akan memulai permainan baru kita....
*****
Alona menghentikan laju mobil, ketika ia sudah berada jauh dari rumah Xander . Ia berhenti di pinggir jalan dengan banyak pohon di kedua sisi jalan. Alona menagis, tidak dapat menahan semua penderitaannya. Wanita itu tertawa sangat kencang. Tawanya bisa memutuskan telinga pendengarnya. "Kau sangat lucu Alona. Berpura-pura bahagia di depan orang lain. Nyatanya hatimu sangat terluka."
Aku, demi kakakku rela memasang muka tembok di hadapan pria itu. Aku seperti sudah melupakan bahwa bukan pria itu yang menodaiku.
Harusnya aku berkaca di sungai yang jernih, bukan sungai dangkal dan keruh seperti ini. Aku sedang bermain dengan api. Aku jelas tahu resikonya, jika tidak hati-hati maka aku akan terbakar.
Aku membodohi diriku sendiri. Selalu tersenyum menyembunyikan semua rasa kesedihan.
"Kak!" Alona berteriak sangat kencang di dalam mobilnya. "Aku sudah lelah Kak, menunggu kesembuhanmu, jika aku punya pilihan saat ini aku ingin pergi sesegera mungkin. Aku muak melihat pria itu, jika Kau tidak di tahan olehnya sudah lama kedua tanganku melukainya."
Aku sudah berusaha semaksimal mungkin mendapatkan titik lemah pria itu. Akan tetapi aku belum menemukan apapun.
Hari terus berlanjut, entah sampai kapan aku bisa bertahan menghadapi semua ini.
Saat pikiran Alona tidak menentu terdengar suara ponsel berdering. Alona mengusap pipinya, menghapus air mata yang jatuh mengalir.
Nada ponsel itu sama dengan nada ponsel miliknya. Alona mencari ponsel itu mengikuti arah suara deringan. Alona menoleh kebelakang. Saat matanya menatap sesuatu yang familiar, bola mata Alona seketika membesar memperjelas pandangan matanya. "Tasku!, aku menemukannya." Alona segera meraih tas itu.
__ADS_1
Tasnya terasa dingin saat di sentuh. Suhu dinginnya sangat terasa hingga ke dalam tulang di jarinya. Alona membuka tasnya, ponselnya terus berdering tidak henti-hentinya .
Rupanya tasnya tertinggal di dalam mobil. Syukurlah pria itu tidak melihat isi ponselku seperti sebelumnya.
Alona langsung meraih ponsel di dalam tasnya. Ribuan pesan masuk, semua pesan berasal dari kekasihnya Alvaro. Dari ribuan SMS yang masuk , lebih dari setengahnya berisi permintaan maaf atas kesalahpahaman kemarin. Selebihnya SMS itu berisi ungkapan rasa cintanya pada Alona.
Sayang, aku merindukanmu. Datang temui aku di rumah sakit.
Sayang, badanku meriang. Merindukan kasih sayang darimu.
Sayang, jangan marah. Jika Kau marah hatiku sangat tersiksa.
Sayang, aku mencintaimu. Hanya dirimu tidak ada yang lain. Aku berani bersumpah demi langit dan bumi beserta isinya. Hatiku seutuhnya untukmu.
Sayang, meskipun di dunia ini banyak wanita cantik tapi hanya kamu yang terlihat benar-benar cantik di mataku.
Seratus pesan terakhir semua berisi namanya dengan diikuti tanda tanya di belakangnya. "Alona?"
Hati Alona tamba terenyuh saat menatap isi pesan kekasihnya.
Alona tidak memungkiri bahwa kekasihnya tidak akan pernah berkhianat dengannya. Dialah satu-satunya yang berkhianat dalam hubungan ini.
Alona menyenderkan badannya ke jok mobil . Ia menatap kosong ke arah pepohonan rindang di tepi jalan . Alvaro maafkan aku, lebih baik hari ini kita akhiri hubungan ini. Aku akan menemanimu di rumah sakit.
__ADS_1
Sekali lagi, tanpa keraguan Alona meyakinkan hatinya bahwa ia sudah siap melepas kekasihnya. "Aku yakin ini keputusan terbaikku. Aku tidak akan menyesalinya, sekarang atapun di masa depan."
Alona menginjak gas mobilnya dan pergi ke rumah sakit, Gunawan hospital.