Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kebenaran yang menyakitkan


__ADS_3

Pesan singkat untuk Alona telah berhasil di kirim beberapa saat yang lalu...


Suara bel berbunyi cukup nyaring hingga ke seluruh penjuru ruang kantor, menandakan jam kerja telah berakhir. Alan membereskan semua dokumen di atas mejanya. Ia berkemas dan bersiap-siap pergi ke west flores menemui adiknya Alona. Baru saja Alan berdiri dari kursinya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar ruangan kerjanya.


"Masuk!" Perintah Alan dengan suara lantang.


Masuk dua orang laki-laki membawa map berisi dokumen rahasia di tangannya.


"Tuan, saya ingin melaporkan hasil investigasi tentang latar belakang Nona Alona dan bukti baru tentang Diana Maringka." Jelas Danu sedikit ragu-ragu.


Alan berjalan menuju sofa di tengah ruangan kerjanya. Bersamaan dengan itu, Danu dan Darto mengikuti arah langkah Alan menuju sofa.


Alan duduk di sofa bermuatan satu orang. Kemudian ia mengarahkan tangannya ke arah sofa panjang di hadapannya dan berkata, "silahkan duduk..."


Danu dan Darto duduk rilexs di sofa tersebut. Meskipun begitu mereka juga tidak bisa tersenyum. Mereka berpura-pura tenang untuk meringankan beban Tuanya ketika mengetahui isi laporan di tangannya.


"Tuan, Alan. Aku harap Tuan tidak marah dan bisa menerima semua kenyataan ini." Ucap Danu khawatir.


"Katakan saja, aku siap!" Jawab Alan singkat.


Alan menarik napas beratnya. Sesungguhnya ia sangat kahwatir, dan takut kehilangan adiknya. Mungkin bisa di katakan bahwa ia belum siap menerima kenyataan bila adiknya bukan adiknya.


"Tuan Alan..., berdasarkan hasil tes DNA Nona Alona benar bukan adik kandungnya Tuan."


Alan seketika terdiam membeku di kursinya. Tangannya gemetar dan bibirnya sudah memucat serta terasa dingin. Alan menopangkan tangan ke pelipisnya dengan siku bertumpu pada sandaran tangan sofa. Sementara tubuhnya bersandar ke sandaran punggung sofa. Bersamaan dengan itu, Alan mendongakkan kepalanya, menahan air mata yang perlahan terasa akan jatuh.


"Tuan---" panggil Danu menyadarkan Alan yang tengah berpikir keras mengatur emosinya.


"Lanjutkan saja.... Jangan pedulikan perasaanku. Hal ini sangat wajar, semua orang pasti merasakan hal yang sama." katanya meyakinkan.


"Tuan, Kami sudah memastikan bahwa hanya ada dua bayi yang lahir di hari yang sama saat itu."


Danu berhenti lagi, memandang ke arah Alan yang sudah terlihat terpuruk.


Pikiran Alan saat ini benar-benar buruk, lebih buruk dari kematian ayah dan ibunya. Pikiran Alan sudah terbelah menjadi ribuan cabang, melayang terbawa oleh udara yang terasa sesak dan penggap di ruangan itu.


Tiga hari yang lalu Alan membuka brangkas ayahnya untuk mencari surat kepemilikan perusahaan Raharaja Industry. Alan tidak menduga bisa menemukan surat adopsi adiknya Alona.


Saat melihat surat adopsi itu, kepala Alan terasa akan pecah. Dia sudah cukup sedih atas kehilangan orang tuanya. Namun sekarang dia di hadapkan dengan kenyataan yang rumit untuk dijelaskan.


Awalnya Alan tidak ingin peduli dengan surat itu. Namun hati dan perasaannya berkata lain. Dia harus mengetahuinya dan menerima kenyataan itu, walaupun terasa pahit. Setidaknya dia tidak akan menyesal di kemudian hari.


Alan bertekad menyewa detektif swasta untuk menyelidiki semua itu....


"Lanjutkan, aku akan mendengarkan semuanya." Ucap Alan sedikit lirih setelah beberapa menit pikirannya berkelana mencari ketenangan.


"Kami menemukan catatan bahwa bayi yang lahir di hari yang sama dengan Nona Alona meninggal 2 hari setelah kematian ibunya. Kami sangat yakin bahwa bayi itu yang di adopsi oleh Tuan Ardhi untuk menutupi kematian Nona Alona sebenarnya." Lanjut Danu.


"Maksudmu? bayi yang meninggal itu adalah adik kandungku. Dan, ayahku mengadopsi bayi yang ibunya meninggal untuk menutupi kematian adikku Alona. Menutupi semua kebenaran itu, agar ibuku tidak sedih. Lalu---, aku mengerti..." jawab Alan.


"Benar Tuan. Tuan Ardhi mengadopsi anak itu. Namanya Myrah Beverly Gunawan. Dia putri pemilik rumah sakit Gunawan Grup. Alasan kenapa akte Nona Alona anak kandung karena bayi itu di adopsi hanya dengan surat adopsi dari persetujuan kedua belah pihak namun tidak secara hukum."


Alan menganggukan kepalanya. "Emmm aku mengerti." Ucapnya.


"Tuan ini data lengkap keluarga Gunawan. Kelurga asli Nona Alona. Kelurga aslinya hanya tersisa satu Kakak laki-laki, satu Kakak perempuan, dan satu paman." Ucap Danu menjabarkan.


Mendengar kata asli Alan semakin menjadi lesu.


"Baik, berikan padaku. Aku akan mengurus sisanya."


"Tuan...." panggil Darto sedikit gemetar takut Tuan nya marah karena suasana hatinya kurang baik.


"A-aku ingin menyampaikan informasi tentang Diana."


"Berikan saja padaku aku akan membacanya sendiri. Kalian boleh pergi." Perintahnya.


Alan membolak-balik setiap halaman dokumen rahasia itu. Semua sudah tercetak jelas siapa asal usul adiknya.


Pada dasarnya Alan tidak ingin mengungkapkan kebenaran itu. Namun hatinya berkata, dia harus menemui keluarga aslinya.

__ADS_1


Alan boleh egois. Tapi bagaimana jika Alona mengetahuinya sendiri dikemudian hari? mungkin saat itu dia tidak akan sanggup untuk memberikan penjelasan.


Alan duduk di kursinya. Ia kembali berpikir, apa seharusnya yang ia lakukan?


Menemui keluarga aslinya? lalu tidak mengizinkan mereka bertemu!? atau....


"Aku akan menemuinya. Bagaimanapun aku harus berterima kasih pada pria yang telah merelakan adiknya untuk kebahagiaan ibuku."


West Flores, jam 7 malam.


Alan berdiri mengamati rumah di depannya. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia masuk dengan langkah pasti.


Alona sudah menunggu Alan cukup lama hingga kaki dan pantatnya sudah beberapa kali merasakan kesemutan duduk di sofa ruang tamu.


Ketika Alan sampai, Alona langsung mencecar Kakaknya. "Kak, aku tidak ingin mengugurkan anak ini. Aku tidak mau, Kak!" teriak Alona keberatan sambil meneteskan air mata.


"Alona..., dengarkan Kakak terlebih dahulu. Kakak hanya ingin kamu pergi ke Gunawan hospital untuk melakukan cek up."


"Kakak aku tidak mau, semua itu pasti hanya akal-akalan Kakak saja, iya kan?"


"Alona, Alona..., lihat Kakak oke. Apa Kakak terlihat seperti orang jahat?"


"Kak, aku akan tetap di sini. Tidak mau ke sana. Dia anakku dengan Alexander." Jelas Alona tetap bertahan.


Alan tersenyum dan tertawa kecil menatap wajah imut adiknya. "Alona, aku tidak akan menggugurkan anakmu. Aku sudah tahu tentang anak itu. Dia juga keponakanku."


Walaupun pada awalnya Alan benar ingin menggugurkan anak itu. Tapi Alexander datang sebelum dia pergi. Dia menjelaskan semuanya.... Tentang keponakannya tersayang.


Alona terdiam dan mengusap air matanya. "Lalu, apa maksud Kakak? ingin membawaku pergi dari sini"


Alan memeluk Alona dan menepuk punggung adiknya. Ia juga mencium kening Alona dengan seluruh kasih sayang dan perhatian, sama seperti dulu. "Nanti Kakak akan jelaskan padamu ketika kita sudah sampai oke." Seru Alan sambil tersenyum.


"Michael!" Panggil Alona terkejut sekaligus tidak percaya saat menyaksikan sosok Michael tengah berdiri di depan pintu masuk rumahnya.


"Kak, kenapa Michael ada di sini?" Tanya Alona binggung.


Alan ingin mencoba menjelaskan lebih detail. Namun Alona sudah menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak mungkin. Kakak pasti bercanda, Kan?"


"Alona benar dia Kakakmu. Aku cuma Kakak---"


Kata-kata Alan terhenti. Dia tidak sanggup melanjutkannya. Alan berbalik membelakangi Alona.


Melihat itu, Alona semakin tidak bisa menerima. Alona menarik tangan kakaknya kemudian menarik kerah kemeja Kakanya. Alona berteriak histeris. Dia menagis dan meronta. Sesekali Alona memukul dada Kakak nya.


"Kak, kamu berbohong. Katakan padaku, Kak? Jangan buat drama, Kak Alan?! Kamu Kakakku. Aku melihat sendiri akta kelahiranku. Ayah dan ibuku sama dengan mu. Di sana tidak tertulis adopsi. Aku anak kandung ayah dan ibu."


Alan hanya bisa menerima pukulan dari adiknya. Dia tidak merasa sakit sama sekali.


Michael berjalan mendekat ke arah Alona. Detik berikutnya, ia menarik Alona ke dalam pelukannya dan berkata. "Myrah, Myrah Beverly Gunawan. Kamu adikku." Ucap Michael lirih. "Kakak tidak berhak menemui mu hanya saja Alan memberikan izin untuk menemui mu."


"Kamu bukan Kakak ku, hanya Alan Kakak ku. Pergi kamu dari sini." Teriak Alona mengusir Michael.


"Alona Kamu tenang saja. Kakak tidak akan merebutmu dari Kakakmu Alan. Aku sudah sangat senang bisa bertemu denganmu setelah 18 tahun kita berpisah. Selain aku kamu juga mempunyai Kakak perempuan. Namanya Michelle. Dia sangat identik dengan sikap dan perilaku mu."


Tubuh Alona perlahan merosot ke lantai. "Kak, Alan kamu tidak menginginkan ku lagi, Kan? makanya Kakak mencari orang ini untuk mengaku bahwa dia Kakak ku yang asli." Kata Alona sambil menunjuk ke arah Michael.


Michael mengerti keadaan Alona saat ini. Dia juga tidak berharap Alona akan menerimanya dengan mudah. Michael sudah senang bisa tahu keadaan adik kandungnya dalam keadaan sehat.


"Alona kamu jangan marah dengan Kakak. Kakak juga sangat mencintaimu." Ucap Michael.


"Pergi!" Maki Alona lagi. "Aku tidak punya Kakak seperti mu."


"Alona Sayang..., dengarkan Kak Alan ya. Kakak tidak berniat apapun. Keluargamu yang asli berhak tahu bahwa kamu baik-baik saja bersama Kakak selama ini."


Bibi Ani dan Dokter Risma tidak berani mencampuri urusan Nyonya-nya. Mereka berdiam diri di kamar masing-masing.


Alona jatuh pingsan....


Alan segera meraih tubuh adiknya. Ia menggendong Alona masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Alan mengelus kepala Alona dan menghapus air mata di pipinya.


Alan meraih ponselnya dan melakukan panggilan ke Alexander. Dia tidak bisa menengkan adiknya. Jalan satu-satunya untuk menghubungi Alexander. Pria itu suaminya. Tentu saja dia akan membujuknya. Alan tahu pasti sifat adiknya saat mencintai seseorang, adiknya akan luluh dengan orang yang benar-benar ia cintai. Alan bisa saja membujuk adiknya, namun hati dan pikirannya sedang tidak singkron saat ini.


"Pulang sekarang!" Perintah Alan.


"Kak, Maaf. Aku sedang ada meeting dadakan untuk launching resort di pantai utara kota J." Jawab Alexander.


"Kataku pulang, ya pulang Alexander. Apa kau lebih mementingkan pekerjaanmu di bandingkan dengan kesehatan istrimu. Alona pingsan, aku sedang di west flores." Katanya dengan nada semakin meninggi.


"Aku akan pulang segera! Kak. Tolong Jaga Alona sebentar saja sebelum aku kembali." Jawab Alexander cemas dan takut terjadi sesuatu yang fatal pada istrinya.


Ketika sambungan telepon mati Alexander langsung memerintahkan untuk melanjutkan meeting tanpa kehadirannya. "Rudy awasi semua kegiatan meeting malam ini. Dan, pastikan kamera record-nya mennyala. Aku akan memutar video saat sudah sampai di tempat istriku."


Alexander segera pergi meninggalkan ruangan meeting menuju west flores....


Kamar tidur, di west flores....


"Alona kamu kenapa Sayang?" Tanya Alexander dengan nada sangat lembut di pinggir kasur.


Alona diam, sesekali sisa tangisannya terdengar sangat sedih dan terpukul.


"Apa kamu juga akan mendiamkan aku seperti ini? Alona? aku sudah melewati 7 pegunungan, 7 mata air, 7 lintasan waktu untuk menemui mu. Apa kamu tega mendiamkan aku?"


Alona melemparkan seulas senyum saat kata-kata gombal Alexander terngiang di telinganya. Memang hanya pria itu yang bisa membuat hatinya luluh saat ini.


"Alona sebaiknya kita dengarkan penjelasan Kakakmu dan Michael. Aku tahu kamu sulit menerima kenyataan ini. Jika itu aku, aku juga akan merasakan hal yang sama seperti mu. Saat ini kamu harus tenang. Kakak Alan sudah berjanji akan selalu menjadi Kakak mu. Dan Michael tidak akan membawamu kembali."


Alona menganggukan kepalanya.


"Apa kita bisa keluar sekarang?" tanya Alexander.


"Emmm.... Aku sudah bisa mendengarkan semuanya."


Alona mengarahkan kedua tangannya ke arah Alexander untuk di gendong ke luar.


"Baiklah Alona yang cantik, suamimu akan menggendongmu keluar.... Suamimu akan menutupi wajah cantikmu. Aku tahu kamu malu, kan? memperlihatkan wajah sehabis menangis di depan orang lain."


*****


Michael dan Alan duduk di sofa. Mereka hanya duduk diam tanpa berkata sedikitpun.


Beberapa menit kemudian, Alexander membawa Alona keluar bersamanya.


Mereka berempat duduk bersama di sofa. Alona duduk di samping Alexander. Dia duduk bersandar di bahu suaminya dengan wajah di tutup dengan kain.


"Michael, katakan apa yang terjadi pada saat itu?" Kata Alan.


Waktu itu di rumah sakit Gunawan hospital...


Ibuku meninggal setelah melahirkan adikku Myrah Beverly Gunawan. Ibuku meninggal akibat pendarahan terus menerus pasca melahirkan. Darah-nya O negatif tergolong langka, tidak ada orang yang bisa mendonorkan darah untuknya, kebetulan semua stok rumah sakit sedang tidak ada, sehingga ibuku meninggal akibat kekurangan darah. Sementara ayahku meninggal satu bulan sebelum ibuku melahirkan. Ayahku Torino Gunawan meninggal akibat gagal ginjal.


Ayahku pemilik Gunawan hospital. Setelah ia meninggal kepemimpinan rumah sakit di berikan pada pamanku Taryx Gunawan.


Paman Taryx yang membantu semua persalinan ibuku termasuk ibumu.


Aku masih berumur 10 tahun dan adikku Michelle berumur 7 tahun saat adikku lahir. Paman Taryx tidak memiliki istri dan kami berdua masih kecil. Paman bilang, dia merasa menyesal karena telah gagal menyelamatkan satu bayi selama ia bertugas di rumah sakit. Oleh karena itu paman Taryx meyakinkan kami untuk memberikan adik kami Myrah untuk di adopsi. Aku sangat menentang saran paman Taryx. Aku tidak setuju, karena paman bilang kami tidak boleh tahu data orang tua yang akan mengadopsi Myrah. Selain itu kami juga tidak boleh menemuinya lagi.


Dengan berat hati, akhirnya aku menyetujui semua saran paman. Semua itu bermula saat aku melihat adikku Myrah menagis tidak henti-hentinya selepas dipinjamkan kepada ibumu. Aku bertanya pada perawat yang sedang menenangkan adikku menanggis. Dia hanya bilang, Myrah menagis karena tidak ingin berpisah dari gengaman ibu yang menggendongnya di ruang rawat pasien persalinan. Saat itu hatiku terketuk, aku memberikan adikku karena adikku Myrah yang menginginkannya sendiri. Ya, dia menginginkannya, dan aku harus menyerahkan adikku kepada keluarga yang tidak aku ketahui sama sekali.


Paman Taryx mengirim kami ke luar negeri setelah Myrah di adopsi...


"Alona, Myrah... Aku hanya ingin bertemu denganmu sekali saja. Aku juga Kakak mu. Meskipun kita pernah bertemu, tapi saat itu aku tidak tahu. Tapi setiap aku dekat dengan mu aku selalu merasa bahwa Kau sangat familiar. Mungkin itu sebuah ikatan antara adik dan Kakak. Aku tidak akan merebutmu kembali. Kakak hanya ingin diakui sekali saja..." Ucap Michael lirih.


Semua orang terdiam, bahkan suara napas dari keempat orang itu bisa terdengar saling sahut-sahutan.


"Sayang, bagaimana? Kakakmu Michael sudah menjelaskan semuanya, dia hanya ingin Kau mengakuinya satu kali saja. Apa Kau akan menerimanya?" Tanya Alexander dengan lembut.


Alan, Michael, Alexander, "....???"

__ADS_1


__ADS_2