Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Aku ingin menghabiskan masa tuaku bersamamu


__ADS_3

Menikmati makan dan minum di tepi pantai merupakan kenikmatan yang datang dari surga. Apapun yang disajikan pasti akan habis tanpa sisa! Entah itu masakannya keasinan, kemanisan, ataupun rasa tawar. Semua yang di hidangkan akan teralihkan oleh keindahan alam yang ada di sana.


Alona dan Alvaro melupakan perkelahian yang telah terjadi pagi ini. Mereka menikmati pemandangan pantai dan deburan ombak. Menyantap makanan yang telah dipesan 30 menit yang lalu.


"Sayang, apakah Kau menyukai makanannya?"


"Iya, Aku menyukainya. Varo...!"


Rambut hitam Alona sedikit melayang di terpa angin. Alvaro dengan penuh perhatian membelai rambut itu, rambut Alona yang berterbangan ia sisipkan di balik telingganya.


Melihat ombak pantai yang tak pernah lelah berlari saling kejar mengejar membuat Alona melupakan sejenak masalah hidupnya, suara deburan ombak di tepi pantai membuat hati dan pikiran Alona sedikit tenag. Pikiran yang kusutnya jadi terang, hati yang semerautnya jadi senang.


Berjalan dan berlari kecil menyusuri pasir putih pantai merupakan suatu kebahagian yang tak terlupakan bagi Alona. Ia mengajar Alvaro berlari-lari seperti anak kecil bermain air.


"Alvaro aku lelah!"


Alvaro dengan gagah membungkukkan punggungnya dan mengisyaratkan agar Alona naik.


"Naiklah!, Aku akan menggendong mu sayang...."


"Tapi, Aku takut nanti Kau kelelahan."


"Tidak akan, Naiklah..., Aku masih mudah, otot-otot ku masih sanggup untuk membawamu kemanapun."


"Baiklah...!"


Alvaro menggendong Alona dan berlari kecil menyusuri pantai, ia sesekali berjalan memutar tubuhnya.


"Alvaro jangan pernah tinggalkan Aku, berjanjilah padaku."


"Alona, Kau tidak usah khawatir. Aku akan selalu ada di samping mu."


Hari mulai sore, matahari berjalan malu-malu ingin pergi menjemput bulan. Ia ingin segera terbenam, matahari sangat yakin jika suatu saat nanti ia akan bertemu bulan.


Warna jingga menyala menemani matahari yang akan pergi berganti malam. ia secara perlahan mulai turun meninggalkan kehangatan cahayanya. Aku akan kembali besok, jika tidak ada badai datang. Aku tidak akan mengingkari janjiku pada pagi hari.


"Varo, Aku sangat menyukai matahari yang terbenam itu. Aku sangat menyukainya, ia tak pernah berhenti mengharapkan bulan datang menemuinya. Walaupun ia harus di kecewakan lebih dari seribu kali."


"Alona, aku sangat mencintaimu sayang. Aku tidak ingin kembali malam ini. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu."


"Alvaro, jangan bercanda!"


"Alona, Aku mohon sekali ini saja!"

__ADS_1


"Tidak!, Alvaro. Kau sudah tidak waras hari ini."


Diujung perdebatan kecil Alona dan Alvaro terdengar suara deringan ponsel Alona. Ia melihat layar, disana tertulis nomor tanpa nama.


"Sayang, sepertinya ini penting. Aku akan mengangkatnya sebentar."


"Hem...!"


Terima telepon, Alona mengusap layar ponselnya. Diujung sambungan terdengar suara sedikit pelan namun berapi-api.


"Nona..., sepertinya Kau sedang asik bersenang-senang bersama kekasihmu. Haruskah aku mengucapkan salam padanya."


"....!!!" Tubuh Alona menegang seketika dan hampir tidak bisa berdiri, ia hampir terjatuh tersandung kakinya sendiri.


"Oh! iya, Aku hampir lupa!, aku memiliki koleksi foto kita sedang asik bermain malam itu. Kau suka gaya yang mana? Aku orang yang sangat baik, aku akan mengirimnya satu untukmu, gratis!"


Alexander diam sesaat untuk menarik napas perlahan. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya lagi.


"Jika Kau tidak keberatan, aku akan mengirimnya besok pagi. Kerumahmu atau kerumah pacarmu?" Xander asik memutar-mutar, memainkan foto yang ada ditanganya. Senyum simpul merendahkan terukir diwajahnya yang tampan. Foto itu memperlihatkan adegan mesranya dengan Alona. Di meja sambungan telepon terlihat cetakan foto berceceran, mungkin lebih dari seratus jika di hitung.


Alvaro melambaikan tangan pada Alona yang sedang asik menerima telepon. Alona membalas melambaikan tangannya, ia berpura-pura tersenyum.


"Tuan! apakah Kau sudah tidak punya hati?" tanya Alona dengan nada sedikit lesu.


"Cukup!, apa yang Kau inginkan!?" maki Alona kesal.


"Tidak banyak!, temui aku besok sore. Aku akan mengirimkan alamatnya, segera!"


Tanpa aba-aba, Xander memutuskan sambungan telepon.


"Tut..., tut..., tut...."


Alona pergi meninggalkan Alvaro yang berada di tepi pantai. Ia berlari menuju rumah bambu kecil yang telah di sewa seharain.


Alona ingin menagis!


Apa yang harus aku lakukan, aku tidak akan bisa terus menutupi kejadian malam itu!?


Suatu saat ia akan mengetahuinya, ini seperti bom waku yang akan meledak pada waktunya.


Haruskah Aku mengatakannya malam ini!?


"Tapi aku tidak sanggup, jika ia meninggalkanku."

__ADS_1


Sampai kapan Aku akan menutupinya!?


"Sampai ia menikahiku, lalu mencampakanku pada saat itu juga!?"


"Alvaro seandainya ada sedikit keberanian di dalam hatiku untuk mengatakanya, apakah Kau masih bisa menerimaku?"


Kejadian malam itu terlintas di ingatan Alona. Pria itu sungguh tega melakukan perbuatan yang tidak dapat ia terima, bahkan lebih dari sekali.


Mengingat kejadian itu membuat Alona berkeringat dingin, susah bernapas, seluruh wajahnya merasa hangat, perutnya bergejolak seperti di guncang kekuatan luar biasa.


"Huak..., huak..., huak...."


Alona memuntahkan semua isi perutnya. Ia selalu seperti ini jika stres, asam lambungnya meningkat mengakibatkan ia memuntahkan seluruh makanan yang telah masuk.


Dari kejauhan Alvaro melihat Alona sedang muntah dengan hebatnya, ia segera berlari menghampiri Alona. Dengan cekatan ia mengelus dan sedikit memijat bagian punggung dan tengkuk Alona.


"Sayang, Kamu kenapa?"


"...." Huak, huak, huak.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?"


"Trima kasih, Varo. Aku baik-baik saja, aku cuma masuk angin dan maag ku kambuh"


"Tunggu di sini sebentar saja, Aku akan memesan teh hangat untukmu."


Alvaro kembali dengan segelas teh hangat ditangannya. Ia membantu Alona untuk meminum teh itu. Lambung Alona merasa lebih nyaman setelah meminum teh.


"Alona, sebaiknya kita beristirahat di sini sebentar lagi. Di dalam ada kasur, Kau bisa tidur, aku akan menemanimu."


Alona membaringkan tubuhnya yang sudah lesu, sementara Alvaro membantu Alona memakai selimut.


Angin pantai terasa sejuk menerobos masuk melewati pentilasi kamar itu. Alvaro merasa kedinginan duduk di kursi samping tempat tidur, ia sesekali melihat Alona sedang tidur sangat nyenyak. Alona tidur miring menghadap ke arah Alvaro.


Bibir merah alami Alona sesekali bergerak. Bulu matanya yang lentik sedikit mengerjap, raut wajahnya terlihat sangat polos. Melihat wajah Alona yang sempurna seperti seorang dewi sedang tertidur, membuat Alvaro mendekati Alona. Ia tanpa sadar membelai pipi Alona dan menelusuri setiap inci wajahnya hingga ibu jarinya menyentuh bibir Alona.


"Sayang, menikahlah denganku. Aku ingin menghabiskan masa tuaku bersamamu."


Perasaan Alvaro tidak menentu, darahnya seperti berhenti mengalir. Ia kemudian naik ke atas kasur disamping Alona, ia memeluknya dari belakang dan mencium leher dan telinga Alona. Semakin lama Alvaro tidak dapat mengalihkan perhatiannya pada Alona, ia beralih memutar badannya dan tidur didepan Alona.


Alvaro mendekatkan wajahnya dengan Alona. sangat dekat, hanya satu sentimeter jaraknya.


Tangan Alvaro memeluk tubuh Alona. Bibir merah alaminya sedikit bersentuhan dengan bibir Alona. Sedikit saja benda itu terlambat memukulnya, sudah dipastikan ia akan menciun Alona dengan ganas.

__ADS_1


"Buk...!" Sebuah pukulan mendarat dengan keras di belakang Alvaro pukulan itu sangat cepat membuatnya tidak sadarkan diri.


__ADS_2