Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Alona dan Alvaro


__ADS_3

Hari sudah petang. Xander dan Alona pulang ke kota J dengan selamat.


Alona memutuskan pulang kerumahnya terlebih dahulu. Alona tidak ingin menemui kekasihnya Alvaro di rumah sakit dalam keadaan dirinya tidak siap mengatakan alasan yang tepat tentang ketidak hadirannya.


Langit sudah gelap saat Alona tiba di rumahnya. Alona bergegas masuk ke rumahnya menuju lantai paling atas. Lantai teratas merupakan tempat favorit bagi Alona. Tempatnya menikmati ke indahan langit malam. Alona duduk sejenak, menopangkan tangan ke dagunya di atas meja menghadap ke arah luar taman rumahnya. Kemudian Alona menyiapkan air hangat di bathtub lengkap dengan sabun dan lilin aromaterapi menghiasi di sekeliling bathtub.


Saat siap Alona merendam seluruh tubuhnya menikmati air hangat dengan sabun aromaterapi wangi bunga mawar. Alona mengatur posisi kepalanya senyaman mungkin. Kepalanya mendongak ke atas memandangi langit malam. Ruangan itu di desain transparan sehingga Alona bisa melihat bulan sabit yang sedikit bersembunyi di balik awan hitam serta bintang berkelap-kelip dari kejauhan. Alona memikirkan alasan ketidak hadirannya ke rumah sakit. "Alvaro pasti marah padaku." Alona menarik nafasnya dalam-dalam. Alona merasa bersalah tidak datang menemui kekasihnya bahkan memberi kabarpun tidak.


Alona memutuskan menghubungi mamanya Alvaro lewat telepon rumahnya. Alona meraih gagang telepon di pinggir bathtub "Ma, apa kabar?"


"Baik!" Diana menjawab dengan nada sedikit ketus.


"Ma, apa Alvaro sudah tidur?" tanya Alona sangat hangat.


"Tidak!, dia sedang asik mengobrol bersama temannya Amor."


Mendengar nama Amor di sebut hati Alona mulai bergejolak tidak menentu. Pikirannya sudah melayang terbawa bersama angin malam di rumahnya. Alona memegang dadanya untuk menahan emosi. "Lupakan Alona dia hanya temannya saja" Alona berbicara di dalam hatinya. Kemudian Alona melanjutkan pembicaraan dengan mama Alvaro yang sempat tertunda. Nadanya terdengar lirih penuh penyesalan. "Ma, maafkan aku. Kemarin aku tidak bisa datang"


"Tidak perlu minta maaf denganku. Temui Alvaro di rumah sakit besok pagi." Diana mulai mendominasi percakapan diantara keduanya.


"Tapi-" Alona ragu ingin menolak.


"Alona!" Diana meninggikan suaranya tanda ia tidak ingin ada penolakan. "Mama ingin bicara penting denganmu. Ini masalah hari pertunangan kalian. Mama harap Alona bisa datang ke rumah sakit besok pagi sekali."


"Baiklah Ma..." Alona tidak bisa mengelak lagi jika masalah pertunangannya dengan Alvaro.


Setelah mengucapkan kata terakhirnya sambungan telepon langsung di putus oleh Diana.


Alona mengerakan kakinya, bermain air di dalam bathtub.


Teringat besok pagi ia akan mengunjungi kekasihnya di rumah sakit Alona bergegas keluar dari bathtub dan membersihkan badannya lalu turun ke lantai dua. Ia harus tidur lebih awal tidak boleh terlambat sampai di rumah sakit.


"Bibi, Bibi, Bibi susi!" Alona memanggil asisten rumahnya dari lantai dua dekat tangga.


"Ya, Nona. Ada apa?" Bibi Susi menjawab dari dapur dan segera berlari kencang menghampiri Alona yang memanggilnya tidak sabaran.


"Maaf Bibi. Aku tidak bermaksud mengganggu. Apa pamanku sudah datang ke rumah?"


Bibi Susi menganggukan kepalanya. "Ya. Tuan Adam sudah datang kemarin siang. Tuan menitipkan kartu ini untuk Nona."


Alona meraih kartu berwarna kuning keemasan dari tangan Bibi Susi. "Terima kasih Bi. Apa paman mengatakan sesuatu untukku."

__ADS_1


"Tidak ada" Bibi susi menggeleng-gelengkan kepalanya. Hanya saja Tuan Adam terlihat marah saat datang."


"Eemm...." Alona terdiam sejenak lalu ia kembali berbicara pada Bibi Susi. "Bi tolong siapkan makan untukku. Aku sangat lapar."


"Baik Non." Bibi Susi sedikit membungkukkan badannya dan segera pergi ke dapur.


Alona sudah menduga pamannya pasti marah saat tahu sahamnya sudah berpindah ke tangan orang lain. Alona memijit pelipisnya yang terasa sakit akibat terlalu banyak berpikir. Mata Alona kembali menatap kartu emasanya. Alona tersenyum getir. "Kartu emas terakhirku. Aku harus menggunakannya sebaik mungkin. Setelah ini tidak ada kartu ini lagi. Harus berhemat dari sekarang"


"Nona, Alona" Alona tersadar dari lamunan memikirkan kehidupan selanjutnya saat Bibi susi memanggilnya. "Non, makanannya sudah siap."


"Ya Bi. Aku akan segera turun."


***


Pagi-pagi sekali Alona sudah bangun. Ia segera mencuci wajahnya. Setelah itu ia pergi ke dapur memasak bubur ayam untuk kekasihnya Alvaro.


Jam 6 pagi Alona sudah tiba di rumah sakit.


"Pagi sayang...." Alona tersenyum dan mencium kening Alvaro. Alona membawa bubur ayam dengan alat penghangatnya. Alona memegang tangan Alvaro. "Apa sudah merasa baikan." Alvaro hanya mengganggukan kepalanya, meskipun begitu ia tetap memaksakan dirinya tersenyum saat Alona menyapanya. Waktu itu Alvaro sudah bangun dan baru selesai mandi di bantu perawat pria yang bertugas.


Alona duduk di kursi samping tempat tidur Alvaro. Wanita itu membuka bok bubur ayamnya. "Sayang lihatlah aku membawakan makanan kesukaanmu."


Melihat Alvaro tidak senang Alona menjadi sedikit lesu. "Apa Kau tidak menyukainya?." Alvaro tetap diam tidak menjawab apapun yang di katakan Alona. Pandangan matanya juga tidak mengarah kepada wanita itu.


Wangi bubur ayam membuat Alvaro merasakan lapar. Mulutnya ingin menolak tapi perut memilih berkhianat. Seketika perasaan murung Alvaro menjadi bersemangat saat melihat bubur ayam kesukaannya. "Bagaimana Kau melewati keamanan dengan makanan ini." Alvaro menatap Alona dengan pandangan curiga.


"Aku bisa melakukan apapun untukmu." Alona tersenyum seraya mengaduk bubur ayam buatannya.


"Alona..., jangan bilang kamu-" Belum sempat Alvaro mengintrogasi Alona sesendok bubur sudah masuk ke dalam mulutnya. Rasanya yang enak membuat Alvaro melupakan kemarahannya.


"Jangan berbicara saat makan, tidak baik, Kau bisa tersedak nanti." Alona tersenyum sumringah saat menyuapi Alvaro.


Alvaro menutup mulutnya merasakan bubur ayam kesukaannya. Pandangan mata pria itu sedikit geram menatap Alona.....


"Jangan menatapku seperti itu. Atau aku akan pulang sekarang.," Alona mengancam.


Alvaro mengerutkan keningnya. Ia belum seutuhnya memaafkan Alona karena tidak menemuinya kemarin. Hanya saja Alvaro tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan Alona. Pria itu sudah mulai berubah. Ia sudah bisa mengendalikan emosinya. Demi cintanya dengan Alona ia rela melakukan apapun.


"Masalah kemarin aku minta maaf." Alona memulai percakapan di antara keduanya.


Hati Alvaro mulai mencair melihat Alona yang terus menerus memberinya makan.

__ADS_1


Alvaro menggenggam tangan Alona. "Sayang besok aku sudah diperbolehkan pulang ke rumah." Alvaro bersemangat.


"Benarkah?" Alona meletakan box bubur di atas meja kecil samping tempat tidur. Alvaro menganggukan kepalanya tanda bahwa perkataannya benar. Alona menggenggam erat tangan Alvaro. "Aku senang mendengarnya. Aku akan menjemputmu sayang..." Mata Alona sedikit berkaca-kaca saat mendengar kekasihnya sudah diperbolehkan pulang ke rumah.


Alona memegang kedua pipi Alvaro matanya menatap kedua bola mata Alvaro. Pancaran cinta terus keluar dari bola mata Alona. "Sayang aku mencintaimu. Jangan lakukan hal-hal bodoh lagi."


Alvaro menatap mesra Alona. "Alona berjanjilah tidak akan pernah meninggalkanku" Alvaro juga memegang pipi Alona.


Saat mereka sedang bermesraan dan bibir mereka hampir menyatu Diana keluar dari kamar tidur kecii di ruangan itu.


"Kehem....," Diana menghentikan kemesraan anaknya dan Alona. "Apa sudah tidak sabar menunggu sebentar saja. Apa tidak bisa di lakukan setelah menikah?. Di sini rumah sakit bukan hotel." Diana mengingatkan keduanya.


"Ma...." Alona melepaskan tangannya dari pipi Alvaro. "Kami tidak melakukan apapun" Alona dan Alvaro terlihat canggung.


"Kalian yang tahu sendiri. Mama tidak ingin ikut campur masalah kalian.Tapi, tolong jaga sikap kalian. Jangan melampaui batas."


Alona mengangukan kepalanya, sementara itu Alvaro hanya diam dan tersenyum menatap Alona.


Diana duduk bersandar di atas sofa dan berkata. "Alona kemarilah" Diana menepukan tangan di atas sofa di sampingnya.


Alona menghampiri Diana dan duduk di sampingnya.


"Varo telepon temanmu Amor. Mama ingin pergi dengan Alona membeli cincin pertunangan kalian.


Alona ingin menginterupsi ide Diana. Tapi terhenti saat diana mengatakan. "Aku tidak tenang meninggalkannya sendiri bersama perawat. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi."


.... Dan Kau Alona tetap duduk di sini. Aku akan bersiap-siap sebentar.


Alona terdiam menundukkan kepalanya.


Saat Diana masuk ke kamar kecil di ruangan itu. Alona melangkahkan kakinya cepet ke arah Alvaro dan berkata. "Awas!, jika kau macam-macam."


"Sayang apa kau mengancamku?" Tanya Alvaro.


"Tidak!" Alona menjawab dengan mendelikkan matanya. "Aku hanya memberimu peringatan."


Alona kembali duduk di sofa berpura-pura membaca majalah menunggu Diana keluar.


Diana keluar dengan dandanan modis seperti remaja.Jika Diana dan Alona disandingkan maka mereka terlihat seperti adik kakak.


Diana sudah memesan tempat pembuatan cincin berlian di tempat temannya. Ia sengaja memilih pagi hari menghindari kemacetan dan keramaian.

__ADS_1


__ADS_2