Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Awal dari pembalsan dendam


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Adam menemui Diana di sebuah cafe dekat kawasan pusat perkantoran di kota J.


"Diana! aku sudah tahu anakmu tidak lagi bersama Alona. Dan, sahamnya juga tinggal 15%" Maki Adam kesal merasa dikhianati.


"Adam! aku mengerti maksudmu. Kau tidak perlu khawatir. Aku juga sudah punya rencana untuk itu. Kau hanya perlu bersabar. Semua saham itu pasti akan menjadi milikmu. Sekarang kita harus menyusun siasat baru! Karena Alona sudah menikah dengan seorang pria. Dan, pria itu adalah keponakan ku sendiri." Jawab Diana dengan tatapan datar.


Adam tertawa. "Diana saham milik Alona itu ada di tangan suaminya sendiri. Apakah kau tahu sahamnya sebanyak 45%! itu artinya suaminya yang akan memimpin Raharaja Industry."


"Adam, jangan bodoh! aku tidak pernah gagal dengan semua rencana ku. Jika Kau bersikeras dan tidak sabaran. Aku bisa melakukan sesuatu untuk menyebarkan kebenaran peristiwa lima tahun silam." Ancam Diana.


"Diana! aku ingatkan padamu jangan pernah mempermainkan aku!" Anacam balik Adam.


"Aku tidak pernah mempermainkan mu Adam!" Jawab Diana.


"Satu lagi Diana! jika sampai ada orang lain tahu tentang masalah peristiwa lima tahun lalu. Kalian yang harus menebus akibatnya. Aku tidak akan tinggal diam. Lima tahun aku sudah menunggu. Tapi apa?! kalian bahkan belum berhasil memberikan apapun untukku. Jangan lupa Kau juga ikut andil dalam kasus itu. Kau dan orangmu otak di balik perencanaan itu. Bukan aku!" Sangkal balik Adam.


Alan kebetulan sedang mampir di sebuah cafe untuk membeli segelas kopi hangat di pagi hari dan berencana meminumnya di Cafe itu sendiri. Tidak menyangka saat Alan turun dari mobilnya ia melihat dua orang yang ia kenal. Diana dan pamannya Adam sedang duduk berhadap-hadapan di sudut cafe yang masih terlihat sepi pengunjung. Mereka terlihat sangat serius mengobrol....


Alan memicingkan matanya, memantau pergerakan lawan. "Kebetulan sekali..., ada wanita itu di sini. Aku akan menunggunya di dalam mobil. Saat paman keluar maka aku akan masuk menemui wanita ular itu. Diana Maringka! ini awal dari pembalasan dendam."


10 menit pamannya Adam keluar dari cafe dengan wajah masam. Wajahnya sangat terlihat murung dan tidak ada kesenangan sama sekali.


Alan tersenyum menyeringgai menyaksikan pamanya yang selalu ingin menguasi perusahaan milik ayahnya. "Paman Kau tidak berubah sejak dulu." Ucap Alan dari dalam mobil melihat pamannya menemui Diana.


Kecurigaan Alan pada pamanya semakin besar. Dugaanya kali ini tidak akan salah. Pasti pamannya juga terlibat. Mulai dari pengeluaran perusahaan, dan, sekarang pertemuannya dengan Diana. Semua benar-benar mencurigakan!


Setelah Adam pergi dengan mobilnya. Alan langsung masuk menuju meja Diana. Saat itu Diana seperti sudah beranjak ingin pergi,namun ia urungkan saat melihat Alan menyapanya. "Hai..., kebetulan sekali bertemu dengan calon besan di sini! tapi sayang tidak jadi..." Sapa Alan dengan sindiran.


Diana tersenyum dengan bibir mengerucut ke kanan atas. "Wow....! Kebetulan sekali" Jawabannya.


"Ya, sepertinya begitu..., Diana Maringka!"


"Alan!, Alan! aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini! aku harap Kau tidak sengaja mengikuti ku." Sindir Diana malas.


"Nyonya Nugroho terlalu percaya diri!"


"Emm..., apa yang Kau inginkan?!"Tanya Diana tanpa berbasa-basi lagi dengan nada sedikit meninggi.


"Nyonya terlalu terus terang. Tapi, aku suka Nyonya seperti itu!" Puji Alan.


"Jangan banyak bicara. Waktu ku sangat berharga!" Kata Diana mulai kesal.


Alan menyenderkan punggungnya ke kursi kayu di tempat duduk cafe itu. "Diana aku punya kejutan untukmu. Aku sudah berhasil menemukan siapa pelaku pembunuhan ayah dan ibuku!"


Diana terdiam sesaat, kemudian tersenyum anggun dan elegan.... Berpura-pura tenang dalam kegaduhan hatinya.


"Oh! Ya! Siapa itu?!" Tanya Diana berpura-pura tidak tahu sambil menopangkan kedua tangan di dagunya dengan kedua sikunya bertumpu di atas meja.


"Diana! apa ini cukup untuk bukti bahwa seseorang itu bisa masuk penjara." Kata Alan sambil memperlihatkan foto mobil Diana sedang menabrak mobil ayahnya di depan palang pintu rel kereta api. Foto itu di ambil dari layar CCTV milik Kereta Api. "Ayahku tidak akan mungkin menjalankan mobilnya saat kereta api akan lewat di depan matanya, kan, Tante?!" Alan sengaja menekankan Kata Tante untuk memprovokasi Diana.


Diana memiringkan kepalanya melirik ke arah Alan. "Nak, Kau bukan tandingan ku. Jadi pergilah atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih membahayakan mu." Ancam Diana dengan suara pelan dan sangat halus hampir nyaris tidak terdengar bila tidak memperhatikan dengan seksama.

__ADS_1


"Tante..., aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya menunjukkan sebuah foto mobil. Dan, aku hanya menunjukkannya saja. Tante jangan emosi!"


"Mobil memang punyaku. Tapi apa Kau bisa memastikan bahwa di dalamnya adalah aku. Aku juga punya bukti untuk itu. Waktu itu mobilku sudah di curi orang lain. Dan, aku punya bukti keterangan BAP dari kepolisian bahwasanya mobilku telah di curi oleh orang lain." Sangkal Diana.


"Kau tahu? menuduh seseorang tanpa bukti akurat itu bisa di laporkan?! Aku masih menganggapmu sebagai keluarga ku. Walau bagaimanapun adikmu mengandung cucuku Alan! tidak kah Kau tahu itu?" Tanya Diana dengan wajahnya menunduk tanpa melihat ke arah Alan.


Wanita itu sudah jelas melemparkan batu loncatan. Dia sudah memikirkan semua rencananya dengan matang.


Alan tidak tahu bahwa adiknya sedang hamil anaknya Alvaro. Dia ikut terdiam, namun, tetap tenang. Tidak ingin termakan umpan pancing Diana. "Oh! Ya!" Jawab Alan santai. "Apa Kau sudah memeriksanya?!" Tanya Alan.


Diana mengepalkan tangannya dan menggertakan giginya. "Alan! jangan memancing batas kesabaran ku! Kau bisa melakukan tes jika tidak percaya!"


Meskipun demikian Alan tetap tenang. Tujuannya kali ini untuk menyerang mental Diana. Dia hanya ingin menciptakan sebuah ketidak tenagan pada pelaku pembunuhan ayahnya. Siapa Diana? Alan sudah tahu pasti. Wanita licik dan memiliki 1000 wajah.


"Pasti!" Kata Alan. "Jika itu benar-benar anak dari anakmu. Aku sendiri yang akan membunuhnya!"


"Alan!" Teriak Diana sambil mengeprak meja. "Apa hakmu membunuhnya?!"


"Aku hanya tidak ingin anak itu menderita mempunyai nenek iblis seperti mu. Alona adikku, sudah jelas aku akan melindunginya dari siapapun. Aku tidak akan membiarkan dia melahirkan anak musuh. Dan, aku sangat bersyukur bahwa adikku tidak jadi menikah dengan anakmu. Bayi itu bukan penghalang untuk ku Diana!"


Alan berdiri dan berkata untuk terakhir kalinya. "Oh ya Tante. Aku menantikan saat-saat Tante Diana ditangkap polisi. Rekaman di mobil ayahku yang akan membuktikannya." Mata Alan melirik menatap benci ke arah Diana.


"Selamat pagi...., Tante Diana! Aku menunggu mu di persidangan." Alan segera pergi meninggalkan Diana sendirian tanpa menoleh ke arahnya.


Diana membanting gelas di atas meja. Dia sangat kesal.


Tidak lama setelah itu, Diana menerima telepon dari kantor kepolisian. "Ya, aku akan datang segera!" Jawab Diana di sambungan telponnya.


Diana keluar dari Cafe berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Hentakan kakinya sangat kuat menginjak lantai hingga menimbulkan suara berisik. "Anak itu tidak pernah membuat ku tenang." Gumamnya sambil berjalan.


Dia ingin segera sampai ke kantor polisi untuk membereskan masalah yang menyangkut anaknya.


*****


Alan memacu mobilnya sangat kencang. Ia telah tersulut emosi mendengar bahwa adiknya Alona tengah hamil anaknya Alvaro.


Satu sisi anak itu anak musuh dan satu sisi lagi itu adalah anak dari adiknya sendiri. Memikirkan itu membuat kepala Alan terasa pusing.


Alan tidak tahu cerita tentang kehamilan itu bisa terjadi!


Bagaimana adiknya bisa menikah dengan Alexanderpun ia belum jelas asal-usulnya.


Alan sedang terperangkap dalam masalah ketidakpastian saat ini...


Alan mencoba menerka lewat logikanya. Jika adiknya hamil anaknya Alvaro. Kenapa Alexander menikahinya? bukankah lelaki tidak akan mau menikahi wanita hamil anak orang lain.


Apa adiknya menipu Alexander? atau....


"Aaaaaaaaaakh!" Alan memukul kemudi mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.


"Kenapa semua menjadi kacau seperti ini?!" Gumam Alan.

__ADS_1


Alan meraih ponsel di saku celananya dan menelpon Robin. "Batalkan semua agenda hari ini!" Perintahnya.


Segera setelah itu ia menelepon adiknya. "Alona..., Jawab Kakak dengan jujur. Siapa ayah dari bayi yang sedang Kau kandung?"


Alona terdiam dan menekan tombol loudspeaker panggilan agar suaminya juga mendengar pertanyaan dari kakaknya.


"Kakak... apa maksudnya?" Tanya Alona kebingungan mendengar pertanyaan secara tiba-tiba dari kakaknya.


Alona dan Xander belum mengatakan tentang kehamilan Alona. Pasti ada orang yang sudah memberi tahu kakaknya. Entah siapapun itu pasti memiliki maksud tersembunyi....


"Cepat Jawab Alona! sebelum kesabaran kakak habis. Milik suamimu atau mantan kekasih mu?" Tanyanya lagi.


Alona tetap diam dan melirik Alexander di sampingnya. Alona tidak bisa menjawab.


"Kenapa diam?" Tanya Alan semakin kesal dan marah.


"A-aku..." Jawab Alona tergagap.


Alexander mengambil alih panggilan telepon itu dan menjawab teleponnya. "Kakak aku akan menjelaskannya."Jawab Alexander.


Alan sudah bisa menarik kesimpulan saat mendapati adiknya tidak bisa berbicara dengan lancar. Namun akan lebih aman melakukan tes.


"Alexander! aku tidak bertanya dengan mu. Kembalikan telponnya."


"Tapi-, Kak?!"


Alan diam sesaat dan melanjutkan pertanyaan lainnya. "Berapa bulan?!" Tanya Alan langsung.


"Dua..., eh satu bu--" jawab Xander kebingungan.


"Suami macam apa Kau Alexander?!" Selah Alan sebelum Xander selesai menuntaskan kata-katanya. "Kau bahkan tidak tahu dia sudah hamil berapa bulan. Tunggu satu bulan lagi aku akan menjemput adikku pulang dan akan memeriksanya. Aku akan membuat janji dengan pihak rumah sakit Gunawan hospital untuk melakukan tes amniosentesis. Dan, Kau jangan coba-coba menghalangi ku."


"Kak, aku rasa itu tidak perlu. Aku dan Alona sudah sepakat menginginkan anak itu."


Alexander bukan tidak ingin melakukan pemeriksaan amniosentesis pada Alona. Dia hanya tidak ingin melihat Alona merasakan sakit. Belum lagi, dampak dari melakukan tes amniosentesis sangat besar, bisa berdampak pada kesehatan ibu dan bayi bahkan bisa mengakibatkan keguguran.


"Xander! sudah ku katakan jangan ikut campur! ini masalah keturunan keluarga ku." Ancam Alan.


Detik berikutnya, telepon di putus secara sepihak oleh Alan.


Alona menanggis memeluk suaminya. "Sayang, bagaimana jika kakak menyuruhku menggugurkan kandungan ini?!" Tanya Alona.


Alexander mencium kening dan mengusap kepala istrinya. "Tidak akan..., aku akan mencegahnya." Jawab Xander lembut menenangkan istrinya. "Aku akan meyakinkan kakakmu. Jangan menanggis lagi..." Kata Xander sambil mengusap air mata istrinya.


"Tapi---, kamu bisa dengar, kan? kata-kata kakak tadi sangat tegas. Aku tahu kakakku tidak akan pernah main-main dengan kata-katanya. Aku takut!" Alona menyenderkan kepalanya di dada bidang Xander, mencoba mencari ketenangan dan kenyamanan.


"Sayang..., tenanglah. Bagaimana aku bisa meyakinkan kakakmu kalau kamu seperti ini? Aku juga perlu dukungan mu. Sudah ya..., jangan manggis lagi. Kamu fokus saja dengan kesehatan mu dan bayi kita saat ini. Kamu juga harus makan. Lihatlah badanmu terlihat sangat kurus. Nanti, kakakmu bisa menyalahkan aku lagi. Kakakmu pasti berpikir aku tidak merawat mu dengan baik jika kamu sangat kurus."


Alona mengusap air matanya dan mencium pipi suaminya. "Terima kasih..., aku akan makan." Jawab Alona terharu.


Alona mengambil semangkuk sup daging untuk dimakan di atas meja. Kebetulan saat kakaknya menelepon mereka sedang sarapan pagi.

__ADS_1


__ADS_2