Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Cobalah Untuk Mengerti


__ADS_3

"Hai Bi..., selamat sore" Sapa Xander pada Bi Ani yang tengah membuka tutup panci di kompor yang sedang menyala.


"Selamat sore Tuan. Tuan, sudah bangun?" Tanya balik Bi Ani.


"Ya..., Bi dari tadi." Jawab Xander seadanya. "Bibi sedang memasak apa?" Tanyanya.


"Aku sedang membuat ikan tuna kukus untuk Nyonya Alona." Kata Bi Ani sambil menaburkan garam halus ke atas ikan kukusnya.


"Memangnya Alona sudah bisa makan Bi? sejak kapan?" Tanya Xander ingin tahu.


"Bibi sedang mencoba saja. Wanita hamil harus memakan makan bernutrisi terutama Nyonya Alona sangat susah makan. Kalau mengandalkan susu saja itu tidak akan cukup. Meskipun ikan tuna ada yang memiliki kandungan merkuri tinggi. Akan tetapi, ikan tuna juga sangat baik untuk ibu hamil dan janinnya. Terdapat omega 3 dan protein tinggi dan masih banyak lagi. Asal makannya tidak berlebih dan pengolahannya benar serta memilih ikan yang masih segar maka tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuh kembangan janin. Bibi mengukusnya tanpa bumbu apapun, hanya di tambahkan sedikit garam saja." Pungkas Bi Ani secara detail.


"Oh..." Jawab Xander singkat. "Bibi ternyata lebih pandai dari ahli gizi ya." Puji Xander dengan senyum tulus mengembang di wajahnya.


"Tuan bisa saja, memuji Bibi." Ungkap Bi Ani sedikit tersanjung. "Tuan..., ada perlu apa ke dapur?" Tanya bi Ani.


"Mau buat susu untuk Alona Bi, dari tadi dia belum makan. Aku kasihan lihat dia sangat kurus seperti itu."


"Mau Bibi bantu?" Tanya Bi Ani menawarkan.


"Tidak perlu Bi. Aku bisa sendiri. Kan, Bibi sudah mengajarkan ke aku untuk membuatnya, kemarin."


Bibi Ani tersenyum. "Nyonya Alona sungguh beruntung mendapatkan Tuan. Sangat jarang suami peduli ketika istrinya sedang hamil. Tuan harus sabar. Wanita hamil memang bermacam-macam keanehnya. Ada yang mau makan terus, ada yang tidak bisa makan seperti Nyonya Alona."


"Aku penginnya Alona biar makan terus Bi, tapi, bagaimana lagi dia seperti itu. Apa ikannya sudah matang?" Tanya Xander.


"Sebentar lagi Tuan."


"Oke, aku akan menunggunya. Biar aku yang kasih ke Alona. Siapa tahu perutnya bisa menerima."


"Ya, Tuan. Duduk dulu saja di kursi. 5 menit lagi matang."


"Oh, ya Bi. Besok sore dokter yang akan menjaga Alona akan datang, namanya dokter Risma. Bibi tolong awasi dia ya." Kata Xander sambil menarik kursi di meja makan.


"Apa Tuan sudah menyelidiki latar belakangnya." Tanya Bi Ani serius.


"Sudah Bi dia dari rumah sakit ternama di kota ini. Dia juga sangat baik dan kompeten. Aku tidak mau Bibi terlalu kecapekan menjaga Alona."

__ADS_1


"Tuan terlalu berlebihan. Aku sangat senang bisa menjaga Nyonya Alona. Dia sudah Bibi anggap seperti anak sendiri."


"Terima kasih Bibi sangat perhatian dengan Alona, istri saya."


"Sama-sama Tuan. Selagi Bibi bisa, pasti Bibi bantu."


Suara panci sudah semakin kencang mengepulkan udara panasnya, yang artinya kukusan ikan sudah matang.


"Ikannya sudah matang Tuan." Ucap Bi Ani sambil mematikan kompor.


Bibi Ani meletakan 4 potong ikan tuna tanpa tulang di atas piring. Kemudian Bi Ani meletakkannya di nampan di sertai sebotol Kecap dan segelas air hangat di sampingnya. "Tuan, kecap ini akan menambah rasa segar. Jika Nyonya menyukainya bisa di tuangkan sedikit.


Alexander menganggukan kepalanya. Dan, membawa nampan pergi ke kamarnya.


Saat Xander memasuki kamar, di lihatnya Alona tengah menyisir rambut di depan kaca menggunakan baju piyama berwana merah transparan. "Sayang aku membawa susu dan ikan tuna. Bibi Ani membuatkanya untukmu. Di makan ya, di coba aja dulu, kata Bi Ani masaknya tidak pakai bumbu apapun."


Alona melihat ikan tuna di atas nampan yang sudah di letakkan di atas meja depan sofa. Air liurnya sudah naik turun. "Sepertinya enak.... Aku akan mencobanya." Katanya tertarik.


Alona bangkit berdiri berjalan menuju sofa. Ketika sampai ia duduk di samping suaminya, memakan sedikit demi sedikit ikan tuna kukus. Perutnya sepertinya mulai menyukai makanan itu, di lihat dari antusias Alona menyantapnya. Alexander menyandarkan badannya kemudian merangkul istrinya yang sedang makan di sampingnya, menarik nafas perlahan dan berkata pelan dan sangat halus. "Sayang..., maafkan aku. Besok harus ke kota J. Ada urusan mendadak. Kamu tetap di rumah ya. Jangan kemana-mana."


Alona melepaskan sendok di tangannya yang mengakibatkan bunyi beradu cukup kuat antara sendok dan piring. "Kenapa kamu pergi secara tiba-tiba. Bukannya kamu cuti kerja satu minggu." Cecar Alona.


"Yang namanya nomor satu itu. Kamu tidak akan pergi meninggalkan aku Alexander!" Ucap Alona dengan nada meninggi dan tidak senang.


Xander memeluk Alona. "Sayang..., please mengerti kali ini saja, oke."


Alona menagis, tidak ingin berpisah. Ia menundukkan kepalanya dan menaggis lebih kencang.


Xander meraih dagu Alona untuk melihat ke arahnya. Namun, Alona tetap bersihkeras menundukkan kepalanya tidak ingin melihat ke arah pria itu. Xander memegang kedua bahu Alona dan berkata. "Hei..., Sayang lihat aku." Ucapnya pelan menenangkan hati istrinya. "Sayang..., Aku bukan akan pergi selamanya. Aku janji besoknya pasti pulang, percayalah." Xander kehabisan akal dan mengusap wajahnya sendiri. "Honey..., aku mohon. Aku akan pulang setelah pekerjaan ku selesai di sore hari oke."


"Alexander, perasaanku sedang tidak enak. Aku takut terjadi apa-apa denganmu. Aku ikut ya." Pinta Alona memohon.


"Sayang, percaya padaku. Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu sedang hamil. Kamu tidak bisa berpergian jauh. Apalagi naik helikopter Sayang."


Alona bangkit berdiri menuju kasurnya. Sementara air mata di pipinya sudah basah, mengalir bagai air hujan tidak henti-hentinya.


"Alona, Alona, Sayang, dengarkan aku..." Kata Xander keheranan melihat istrinya merajuk.

__ADS_1


Alona membaringkan tubuhnya di kasur dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Tangisannya tidak bisa berhenti. "Pergi saja! Jangan pedulikan aku!" Ucapnya.


Alexander kebingungan melihat perubahan sikap istrinya. Mau tidak mau dia harus menenangkan istrinya. Pria itu berjalan menuju kasur dan tidur di samping istrinya kemudian memeluknya erat dari belakang. "Sayang..., aku akan menelpon sekretaris Rudy. Jika memang bisa diwakilkan aku akan tetap di sini" Ucapnya mencari solusi.


Alexander meriah ponsel di atas nakas samping tempat tidur. "Rudy besok acara ketemu klien di mall Center C bisa di wakilkan tidak? istriku tidak bisa di tinggal besok sampai selesai cuti."


"Maaf Tuan. Investor Tuan Albert menginginkan bertemu langsung untuk tanda tangan pemberian dana pembangunan hotel baru di kota C. Jika Tuan tidak datang, Tuan Albert tidak akan tanda tangan kontrak kerjasama. Tuan tahu pembangunan hotel di kota C sedang terkendala dana cukup besar. Dan, akan fatal bila Tuan tidak mendapatkan dana sesegera mungkin."


"Oke. terima kasih Rudy."


Dengan wajah datar dan penuh penyesalan, Xander mengakhiri teleponnya.


"Sayang, kamu dengar sendiri bukan? aku harus pergi. Aku janji besok langsung pulang setelah selesai dengan urusan ku."


"Sudah ku katakan pergi ya pergi! aku tidak peduli!" Ucap Alona di sertai isak tangis yang tidak bisa terbendung.


Alexander menarik badan Alona dan memeluknya. "Sayang dengarkan aku. Aku bisa membatalkan kerjasama ini. Aku tidak akan mempermasalahkan semua kerugiannya. Tapi, coba kamu pikirkan ada 10.000 orang yang bergantung hidup dari pembangunan hotel di kota C. Mereka semua memilik harapan untuk hidup lebih baik dari pekerjaannya di hotel itu. Mungkin, ada juga, pekerja yang memiliki istri yang sedang hamil seperti mu. Apa Kamu tega melihat anak dan istrinya kelaparan, lantaran kontrak itu di batalkan. Bukankah kamu juga punya yayasan Raharja foundation. Lalu, apa artinya kamu memiliki itu semua? sedangkan Kamu saja tidak mau memberikan mereka kesempatan untuk memiliki pekerjaan agar bisa hidup mandiri."


".... sebenarnya aku kurang setuju dengan konsep yayasan milikmu sekarang. Alangkah baiknya yayasan itu kita ganti dengan yayasan memberikan pendidikan gratis dan pelatihan kerja atau menggantinya dengan pemberian modal untuk usaha kecil mereka. Aku berpikir yayasan membari bantuan kebutuhan pokok sudah di miliki banyak orang. Yayasan seperti itu hanya untuk sementara waktu. Sedangkan, jika kita memberikan mereka pendidikan dan pekerjaan semua bisa menjadi lebih baik. Semu orang hidup bukan di takdirkan hidup miskin hanya saja karena kurang pengetahuan dan kemampuan mereka tidak bisa bersaing di bidang masing-masing. Untuk yayasan kanker kita cukup memberikan bantuan ke yayasan yang sudah ada. Untuk yayasan rumah sakit aku rasa tidak perlu. Utama foundation sudah memiliki 1000 klinik gratis yang sudah tersebar ke seluruh penjuru kota kecil. Bila mereka memiliki penyakit tidak bisa diobati di sana, mereka bisa di berikan rujukan ke rumah sakit kota, dan, semua biaya akan di bayar oleh Utama foundation."


Xander menarik napas panjang secara perlahan. Berharap istrinya akan tersentuh dan mengerti keadaannya. "Sayang, aku memang bersalah tidak bisa menemanimu setiap waktu. Tapi, itu semua bukan keinginanku. Kita makhluk hidup harus bertahan hidup dengan makan. Untuk makan kita tentu harus memiliki pekerjaan. Apa kamu bisa memaafkan ku?" Ucapnya.


Alona mengganggukan kepalanya secara perlahan. "Maafkan aku yang terlalu egois. Aku tidak bisa mengendalikan emosi ku dengan baik. Tapi, berjanjilah untuk segera pulang setelah semuanya selesai. Perasaanku sangat tidak enak hari ini. Aku takut terjadi sesuatu padamu Sayang...." Tutur Alona lembut.


Alexander mengusap kening istrinya dan menciumnya dengan lembut. "Ya..., aku akan segera pulang. Berdoalah agar aku baik-baik saja." Jawabnya menenangkan.


"Aku selalu berdoa untuk keselamatanmu Sayang...."


"Berbaringlah...." Perintah Xander " Aku akan memijat kaki dan punggung mu. Aku tahu kamu kelelahan hari ini."


*****


Malam hari di kota J. Awan hitam dan pekat menyelimuti seluruh kehidupan kota yang ramai. Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pejalan kaki sudah mulai membuka payung karena hujan rintik-rintik sudah mulai turun. Alvaro masih terbenam dengan tumpukan pekerjaan menggunung. Tidak lama suara ponsel berdering cukup kencang. Dari layar ponselnya tertulis nama Ferdy memanggilnya. "Halo!" Jawabnya singkat.


"Selamat malam Bos. Saya ingin melaporkan rencana besok sore. Semua sudah beres. Pastikan Bos datang tepat waktu. Nona Alona sudah kami pastikan aman di tempatnya."


"Bagus. Lanjutkan! kabari aku jika ada perubahan rencana." Jawab Alvaro dengan wajah serius dan mematikan. Segera setelah itu dia mematikan teleponnya.

__ADS_1


Alvaro menarik dasi yang melingkar di lehernya. Tarikan napasnya sangat berat seperti dapat menarik lalat dan nyamuk ikut masuk ke dalam lobang hidungnya. Senyum seringainya sangat mematikan. "Alona..., tidak peduli Kamu bersama siapa sekarang, tapi, pada akhirnya kamu harus bersamaku. Pria itu tidak ada tandingannya dengan ku. Dia hanya seekor lalat yang mencoba memakan roti di piringku." Ucap Alvaro dengan tangan terkepal dan wajah muram.


__ADS_2