
Sehari semalam, tanpa kabar dari Alona. Hati tulus dan sucinya seperti tersayat ribuan keping kaca pecah.
Alvaro selalu menjaga hatinya untuk wanita itu. Sementara wanita yang di cintai dan di sayanginya selalu membuat hatinya hancur seperti butiran debu.
Alvaro terus merelakan hatinya jatuh dan bangkit lagi, hinga kesekian kalinya. Luas hatinya seperti lautan samudra, tak henti, selalu memberi cinta untuk wanita itu. Pria itu jungkir balik mencintai seorang wanita yang selalu membuatnya resah.
Mungkin ini yang di namakan, lebih baik memelihara segerombolan unggas ketimbang menjaga seorang wanita.
Memang benar yang dikatakan orang. Memiliki kekasih berparas rupawan harus berhati-hati dan berlapang dada. Setiap detik kamu harus siap jatuh ke lobang cemburu.
Banyak pria siap bersaing denganmu! Bahkan mereka selalu mendoakanmu cepat berakhir bersamanya. Sungguh sebuah harapan yang menyedihkan!
Alvaro duduk menyenderkan badanya di jok mobil. Kedua telapak tangannya ia letakan di atas kepalanya. Sesekali tangan itu menampar wajahnya sendiri.
Kelopak mata pria itu sudah menghitam. Bola matanya sedikit memerah. Pikirannya lebih kusut dari orang yang memiliki setumpuk hutang pada rentenir.
Pria itu terus berfikir.... memikirkan wanita itu, hingga ratusan juta kali mengulang di memorinya.
"Alona!," Alvaro berteriak. Pria itu bukan akan gila tapi ia sudah benar-benar gila karena cinta.
Alona! jangankan menelepon memberi kabar SMS saja Kau tak sempat!
Ribuan pesan telah kukirim, tak ada satupun Kau balas!?
Apakah Kau begitu menginginkan pria itu!?
Kau memang tidak dapat dipercaya. Kau seperti belut di sawah, sekali lepas dari tangan Kau langsung menghilang seperti di telan perut bumi.
Apa aku harus mengikat mu di tiang rumah atau mematahkan kedua kaki mu, Alona!?
Baru sehari, Alona!. Aku tidak menjemput mu, Kau sudah pergi. Bagaimana jika aku mati!? Mungkin, Kau orang pertama yang akan tertawa terbahak-bahak di atas pemakaman ku.
Alvaro meraih ponsel di dalam saku celananya. Pria itu mengaktifkan GPS dan menggulir layar ponselnya. Ia masuk ke sebuah situs online di internet, sebuah situs penyedia layanan pelacak lokasi terakurat melalui jaringan telepon pemilik ponsel yang di tuju.
"Jalan Selatan Raya, 15 menit dari titik koordinat anda sekarang. Apakah anda ingin mempertinjau lebih rinci?" Alvaro meng-klik "Ok" di layar ponselnya.
Alvaro menginjak gas dan melaju dengan kecepatan penuh. Hanya butuh waktu 10 menit ia mencapai titik yang di tujunya. Alvaro sudah melihat mobil yang sama pada video yang dikirim temannya.
Mobil berwarna kuning itu sedang parkir di pinggir jalan di depan sebuah hotel ternama se-kota J, Golden Hotel. Alvaro dari kejauhan mengintai pergerakan mobil itu, ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan pemilik mobil di dalamnya.
Lima menit berlalu, seorang wanita berpenampilan seperti pelayan berjalan ke arah mobil itu. Wanita itu mengetuk pintu mobil. Perlahan kaca hitam turun menampakan sosok seorang pria berpenampilan seperti dewa. Pria itu seperti membicarakan hal yang serius pada wanita itu. "Tolong jaga dia, aku tidak akan lama"
"Baik, Tuan. Aku akan menjaganya" Wanita itu menundukkan kepalanya dan tersenyum.
Xander dengan tampilan sempurnanya membuka pintu mobil dan segera keluar dari mobil itu. Pria itu pergi, seperti tergesa-gesa. Kini hanya seorang pelayan wanita, berdiri mematung menjaga mobil yang terparkir di tepi jalan.
__ADS_1
Alvaro menyalakan kemudi mobil dan menyeberangi jalan menuju mobil itu. Ia memotong jalan agar lebih cepat sampai ketujuan.
Alvaro menghampiri pelayan wanita itu. Memanfaatkan ketampanannya, ia sedikit menggoda dan bertanya pada wanita itu. "Maaf Nona, bolehkah aku bertanya sesuatu."
Wanita itu tersipu malu melihat ketampanan Alvaro. Hatinya seperti di terpa ribuan gelombang cinta. Mata wanita itu di penuhi bentuk hati yang terus berputar mengelilingi matanya. Wanita itu terlihat seperti telah tersihir ilmu hitam dari ribuan abat lamanya. Ia tersenyum ramah dan menganggukan kepala nya.
Alvaro langsung ke-inti pertanyaannya. "Siapa Pria yang keluar dari mobil tadi?"
Wanita itu kembali tersenyum seperti telah terhipnotis oleh kekuatan gaib. Kekuatan itu seperti di pancarkan langsung dari sudut bibir Alvaro, Pria yang berbicara padanya. Wanita itu menjawab. "Pria itu bos saya, pemilik hotel ini." Ia menunjuk ke arah hotel yang terhalang tembok raksasa yang besarnya seperti tembok Cina.
Wanita itu tidak menyadari bahwa ia sudah melanggar kode etik perusahaan, memberikan identitas bosnya kepada orang asing yang tidak memiliki kepentingan dalam entitas usaha.
Wanita itu menghiraukan segala yang akan terjadi. Tidak peduli apapun itu. Asal ia bisa memandangi wajah tampan di hadapannya.
Bos-nya memang lebih tampan. Tapi ia tidak menyukai orang berpenampilan bengis. Sedangkan melihat pria di depannya, ia seperti melihat setumpuk berlian, berkilauan memancarkan cahayanya.
Wanita mana yang tidak akan terhipnotis oleh penampilan pria di depannya itu.
"Lalu wanita di dalam itu..." Alvaro kembali bertanya.
"Oh!, dia kekasih bos. Cantik bukan?" Pelayan itu bertanya pada Alvaro. "Mereka terlihat sangat serasi. Aku pernah melihatnya masuk ke kamar bos di hotel ini." Wanita itu sangat senag bergosip terdengar dari suarnya sedikit kecil saat mengatakan semua informasi pada Alvaro.
Hati Alvaro seperti terbakar mendengar bahwa pelayan itu pernah melihat Alona menemui pria itu. Ia *** jari-jari tangan nya.
Wanita menemui seorang pria di dalam kamar hotel!. Tentu akan menimbulkan berbagai macam spekulasi. Terlebih telinga yang mendengar itu adalah pria yang mencintai wanita itu.
Tidak ada hal baik yang terjadi di kamar hotel, jika wanita dan pria di dalamnya.
Pria itu membuka seat belt yang melingkar di dadanya dan segera keluar. Bam! terdengar suara sangat keras. Alvaro membanting pintu mobilnya. Langkah kakinya sangat cepat seperti langkah kaki kuda di alam liar.
Dengan amarah yang menggebu-gebu ia mengetuk kaca mobil di samping Alona.
Tangannya yang sedikit berotot menarik gagang pintu mobil dengan sangat kuat hingga pintu itu seperti akan lepas sendiri.
"Alona!, Keluar!"
"Alona keluar lah!"
Raut wajah pria itu sangat mengerikan. Suaranya sangat keras memanggil Alona.
Pelayan itu ketakutan melihat Alvaro mengetuk kaca mobil sangat keras. Dengan sigap, wanita itu pergi memanggil bos-nya. Ia takut bahwa pria yang mendekati pacar bos-nya adalah seorang pencuri atau perampok.
Alona terbangun dari tidurnya dan melihat Alvaro mengetuk kaca mobil. Wanita itu tersenyum melihat Alvaro, ia segera menarik gagang pintu, tapi tidak bisa terbuka. Ia meraih kunci yang menggantung di kemudi mobil lalu memencet tombol buka pintu otomatis.
Alona keluar dan langsung memeluk Alvaro. "Sayang Kau disini. Aku sangat merindukanmu!"
__ADS_1
"...." Alvaro terdiam sejenak, perasaannya sangat nyaman saat di peluk gadis itu.
"Varo...." Alona memanggil kekasihnya. Suaranya lembut seperti nyanyian di surga.
"Sayang...." Alona kembali memanggil pria itu. Mata wanita itu bergerak-gerak seperti bola mata anak anjing, tanpa perasaan bersalah ataupun dosa. Kedua tangannya memegang pergelangan tangan Alvaro. Sikap dan tingkah lakunya sangat imut, wanita itu sangat pandai mencuri hati dan meminta kasih sayang dari pria itu. "Aku sudah mengirimi mu pesan, tapi kenapa kau tak membalas satu pesanpun dari ku. Apakah Kau sangat sibuk, sayang...? aku bersungguh-sungguh merindukanmu. Percayalah...!"
Alona memegang sudah mengirimkan pesan ke Alvaro, tapi semua pesan yang di tujukan ke nomor Alvaro sudah di blokir oleh Alexander.
Mendengar kata-kata Alona, Alvaro tersenyum menyeringai.
Apakah wanita itu sedang memutar balikkan fakta? atau sedang mengatur siasat untuk mengalihkan semua kesalahannya!?
Tidak lagi dan kemudian, Alvaro sudah bosan dengan lelucon seperti itu.
"Alona.... Kau bersama siapa di mobil ini!?"
Alona terdiam tidak berani mengatakan sesuatu. Mulutnya ingin berbicara, tapi tercekat di tenggorokannya. " Varo.... aku, aku, aku...."
"Bersama pria lain!" Alvaro memotong kata-kata yang ingin di ucapkan oleh wanita itu.
Wanita itu menggigit bibir bagian bawahnya...
Dunia wanita itu seketika beralih, seperti berada di neraka. Panas dan dingin di neraka seakan menguap menghancurkan seluruh tubuhnya.
Bagaimana ia harus menjelaskan semua tentang keadaannya!? Kecanggungan ini!
Haruskah ia menjelaskan bahwa ini hanya salah paham. Lebih tepatnya kesalah pahaman di antara mereka berdua.
Detak jantung wanita itu, seketika memompa lebih cepat dari kecepatan biasanya.
Alona menundukkan kepalanya, ia tidak ada kebranian untuk menatap wajah pria itu.
Alvaro sudah hilang kesabarannya. Ia mendorong tubuh wanita itu hingga menempel ke mobil. Pria itu kemudian memegang dagu Alona hingga posisinya menghadap ke arahnya.
"Varo aku akan menjelaskan semuanya, itu tidak seperti yang Kau pikirkan. Aku tidak pernah berbohong padamu, Varo. Aku hanya....'
"Tidur bersamanya! benar kan Alona!?"
"Jawab aku!?" Alvaro sudah mencengkeram kedua pipi Alona. Cengkramanya sangat kuat hingga pipi wanita itu sudah berubah menjadi merah.
Dari kejauhan terdengar suara seorang pria.
"Kawan!, jangan terlalu kasar dengan seorang Wanita...."
Alvaro , Alona "...."
__ADS_1