
Detik-detik menegangkan, saat pelatuk pistol di tarik. Alona memegang tangan suaminya untuk mengalihkan arah tembakan.
Alona tidak ingin Alexander menjadi pembunuh. Siapa yang akan mendampinginya bila suaminya harus masuk penjara karena membunuh seseorang.
Alona rela membahayakan nyawanya sendiri, demi keharmonisan rumah tangannya di masa depan.
Karena kaget dengan suara tembakan, Alona berteriak dan jatuh pingsan....
"Prank!!!" Bunyi suara kaca pecah terkena tembakan pistol... Kaca di meja hias hancur berkeping-keping.
Sementara Alvaro sudah tidak berdaya dengan semua luka memar di tubuhnya. Dia hanya meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Melihat Alona akan terjatuh, Alexander dengan cepat menangkap tubuh Alona. Alexander menggendongnya dan meletakkannya dengan lembut di atas kasur. "Sayang maafkan aku.... Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian," ucapnya sambil mencium kening istrinya.
Alvaro menyaksikan semua keintiman itu. Hatinya menjadi lebih sakit, sakitnya lebih perih dari luka memar yang ia rasakan saat ini.
Dalam hatinya menjerit, Alona seharusnya menjadi miliknya bukan orang lain.
Kenyataan memang selalu menyakitkan. Dulu dan sekarang sama saja!
Alvaro tersenyum menatap Alona yang tengah terbaring lemah di atas kasur. Dialah wanita yang aku cintai. Aku yang menanam benih cinta bersamanya. Namun, hatiku harus menerima kenyataan bahwa pria lain yang memetik hasil benih yang ku tanam. "Apa salahku?" rintihnya dalam hati.
Suara ponsel milik Alexander berdering cukup nyaring dan berhasil memecah keheningan yang mencekam di kamar itu. "Ada apa?!" tanya Xander di sambungan telepon.
"Tuan kami berhasil melumpuhkan semua musuh di luar." Jawab Rahman ketua pasukan kuda hitam.
"Urus mereka sampai tuntas. Dan, tolong kirim seseorang untuk membawa seekor an*ing liar di kamarku. Bawa dia pergi dari sini. Semua urusannya aku serahkan padamu." Perintahnya segera.
Alvaro di tarik secara paksa. Ia berjalan terkatung-katung menahan sakit. Aku bukan orang jahat. Tapi, keadaan yang menuntunku seperti ini!
"Tuhan! kembalikan dia padaku. Aku tidak sanggup! menahan sakit ini!" Ucap Alvaro dalam hatinya. "Alona Aku mencintaimu!" Teriak Alvaro saat di seret secara paksa menuruni anak tangga. Detik berikutnya, "Bruk!" Alvaro terjatuh pingsan, tidak kuat menahan goresan luka memar di seluruh tubuhnya.
Masih di kamar Alona dan Xander....
"Bibi..., tolong kemasi semua barang milik Alona. Aku akan membawanya pergi dari sini," ucap Xander sedikit lirih menyaksikan istrinya terkulai lemas tidak berdaya.
"Baik... Tuan" Jawab Bi Ani dan segera melaksanakan tugasnya.
"Dokter Risma..." Panggil Alexander.
"Ya... Tuan." Jawab Dokter Risma sedikit tergagap akibat menahan takut di dadanya.
"Tolong periksa keadaan istriku. Apa dia dan bayinya baik-baik saja? aku sangat khawatir!" Pintanya sopan sambil menatap sendu wajah istrinya dan memegang tangannya.
"Baik, Tuan." Jawab Dokter Risma.
30 menit seluruh persiapan pindah rumah selesai....
Alexander membawa Alona pergi menjauh dari kehidupan kota. Helikopter mendarat sempurna di sebuah desa kecil dengan rumah hijau dan asri di kaki bukit, "West Flores."
Gunung mati masih berdiri kokoh di sana. Sementara, sungai dan danau masih berwarna biru jernih dengan aliran air yang tenang namun nyaman di pandang.
Setibanya di sana, Alexander menggendong istrinya masuk ke dalam rumah. "Sayang..., kita di mana?" Tanya Alona sambil merangkul leher suaminya dan menatap matanya.
"West Flores..." Jawab Xander dengan pandangan ke depan menatap jalan setapak menuju rumah.
"Untuk apa kita di sini?" Tanyanya lagi.
"Kamu akan aman melahirkan bayi kita di sini. Aku tidak ingin membahayakan Kamu lagi." Ucap Xander sambil menurunkan Alona di kursi ayun menghadap pemandangan luar rumah.
"Apa hanya kita berdua di sini?" Tanya Alona.
"Tidak, Bibi Ani dan Dokter Risma akan menyusul besok pagi." Jawab Xander yang sedang berdiri di balkon memandang ke arah danau di luar.
Alona bangkit berdiri dan memeluk suaminya dari belakang. "Sayang bisakah kita hidup sederhana saja. Aku tidak membutuhkan kehidupan yang glamor. Aku hanya membutuhkan keluarga yang utuh dan damai. Aku hanya ingin kamu di sampingku, menikmati hidup seperti sekarang ini. Menyaksikan pemandangan di sore hari dan di pagi hari bersama."
Alexander membalikkan badannya menghadap istrinya. "Alona maafkan aku yang belum bisa membahagiakan mu sampai saat ini."
Alona mendongak menatap wajah suaminya. "Sejujurnya kebahagiaan ku adalah selalu di sampingmu." Jawab Alona sambil tersenyum.
"Maafkan aku Alona..., untuk sekarang kita masih harus berjuang. Hidup tidak sesederhana yang kita bayangkan. Oh ya, besok Kakakmu Alan sudah boleh pulang. Dia sudah sembuh. Apa kamu ingin bertemu dengannya?" Tanya Xander.
Alona tersenyum bersemangat saat mendengar kakaknya sembuh. Harapan selama ini yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang. "Benarkah? kapan aku bisa menemuinya?" Tanyanya.
__ADS_1
"Besok aku akan menjemputnya." Jawab Xander sambil membelai pipi istrinya yang terlihat bersemangat.
Air mata Alona perlahan menetes seperti ada irisan bawang merah menempel di matanya. Alona memeluk suaminya semakin erat dan menagis sesenggukan karena terharu. "Terima kasih Sayang, Kamu sudah menepati janjimu. Kakakku sudah sembuh.... Aku tidak sabar ingin melihat Kakak Alan."
Alexander menepuk-nepuk punggung Alona. "Sudah jangan menaggis. Nanti, bayi di dalam perutmu akan menjadi cenggeng." Kata Xander. Kemudian, Xander melepaskan pelukannya dan berjongkok di depan Alona. Alexander menempelkan kepalanya di perut Alona mencoba berinteraksi dengan bayi di dalam perutnya. "Sayang, jangan menjadi cenggeng seperti ibumu. Jadilah pria tangguh seperti Ayah." Kata Xander sambil mengelus perut Alona.
Alona tertawa geli. "Memangnya kamu sudah tahu bahwa anak di dalam perutku laki-laki?"
"Dia akan terlahir sebagai laki-laki tangguh." Jawab Xander sangat yakin.
"Bagaimana kalau bayinya perempuan?" Tanya Alona.
"Kalau perempuan aku akan mendidiknya seperti laki-laki. Biar tidak cenggeng seperti ibunya.Jawab Xander pasti.
"Aku tidak yakin. Kamu punya waktu untuk bersamanya setiap hari." Sindir Alona.
"Aku akan membawanya setiap hari ke kantor."
"Maksudmu!? Kamu akan meninggalkan aku sendirian di rumah?" Tanya Alona mendelikkan matanya dan merajuk karena kesal. Bagaimana pun dia yang melahirkan anaknya. Dia yang berhak mendampingi anaknya setiap hari.
"Tentu saja." Jawab Xander datar. "Kalau tidak ingin sendirian. Kamu bisa mengandung lagi setelah ini. Sampai melahirkan bayi laki-laki." Goda Xander sambil berlari meninggalkan istrinya di luar.
"Alexander!" Teriak Alona dengan wajah merah padam. "Apa kamu pikir aku mesin pencetak anak?"
Alexander tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak mengatakannya seperti itu. Aku hanya mengatakan bahwa kamu bisa mengandung sampai melahirkan bayi laki-laki, itu saja" Jawabannya dari dalam kamar.
Alona mengepalkan tangannya. "Apa bedanya aku dengan seekor kambing. Setiap tahun melahirkan bayi. Nak, selamatkan ibumu. Semoga di dalam perutku ada dua bayi, laki-laki dan perempuan." Ucap Alona dalam hatinya.
*****
Alvaro berdiri terikat rantai di kedua sisi tangannya di dalam gedung khusus pertahanan perusahaan Utama Grup.
Sementara Rahman duduk bersilang kaki di sofa empuk di depan Alvaro. Tangannya menopang dagu sedikit malas menatap wajah Alvaro. "Tuan kami akan menuntut Anda sampai ke pengadilan." Kata Rahman.
Alvaro tertawa. "Tuntut saja aku tidak takut!" Jawabannya.
"Anda akan di tuntut melakukan percobaan pemerkosaan dan pembunuhan. Satu lagi, memiliki senjata api tanpa surat izin."
Datang dua orang pengawal dari depan. "Bos ada pesan dari Tuan Alexander."
"Katakan!" Perintahnya. Pengawal itu bersisik di telinganya. "Tuan bilang untuk melaporkannya ke polisi sekarang juga." Rahman menganggukan kepalanya lalu melambaikan tangannya pada dua pengawal untuk pergi.
*****
Keesokan harinya di sore hari....
Alan berdiri di depan pintu masuk rumah. Ia melihat dan mengamati adiknya Alona yang tengah asik menyiram bunga di taman. Pria itu tidak berani mengganggu kesenangan adiknya. Matanya sudah berkaca-kaca. "Sudah lama sekali, aku tidak melihatnya tersenyum seperti itu." Ucap Alan dalam hati.
Alona berhenti menyiram bunga saat melihat ada bayangan seseorang. Kepalanya perlahan terangkat dan memperhatikan pria di depan matanya. "Kakak..." Ucap Alona tersentak kaget tidak percaya. "Kakak Alan!" Teriak Alona sambil berlari menghambur ke arah Kakanya.
Alona menaggis memeluk erat kakaknya. "Kapan kakak sampai?" Tanya Alona.
Alan menguatkan hatinya untuk tidak menangis. Bukan masalah pria dilarang menangis. Tapi, ia tidak ingin Alona melihatnya bersedih. Dia ingin selalu menjadi kakak yang tangguh untuk adik satu-satunya.
Alan mengelus kepala dan mencium kening adiknya. "Sejak tadi..." Jawabnya. "Kakak sangat merindukanmu." Kata Alan sambil mencubit kedua pipi Alona.
"Aaau! Kakak. Jangan mencubitku seperti itu. Aku bukan anak kecil lagi." Kata Alona dengan suara manjanya.
"Bagiku kamu tetap sama." Kata Alan sambil menggendong Alona masuk ke dalam rumah.
"Kakak turunkan Aku. Aku bukan anak kecil lagi." Kata Alona sambil tertawa lepas.
Sementara Alexander berdiri mematung dengan memegang dua tas di tangannya. Hatinya mulai bergemuruh menahan kekesalan akibat terabaikan. "Benar kata orang, kamu akan terabaikan pada saat seseorang penting hadir di dekatnya."
"Alexander apa Kamu akan cemburu pada kakak iparmu sendiri." Ucapnya dalam hati. Alexander mencoba tersenyum untuk menutupi wajah masamnya. "Alexander biarkan istrimu menikmati pertemuan dengan kakaknya. Dia sudah sah menjadi milikku. Tidak ada pria yang akan merebutnya darimu sekalipun itu kakaknya."
Alexander melangkahkan kakinya ikut masuk ke dalam rumah.
"Kakak, ingin minum apa?" Tanya Alexander pada Alan.
"....!!!!" Alan dan Alona duduk di sofa, masih sibuk bercerita. Mereka mengabaikan keberadaan Alexander.
Alexander lantas pergi ke dapur membanting panci ke lantai.
__ADS_1
"Sayang..." Teriak Alona di ruang tamu mencoba memberikan peringatan.
"Maaf..." Jawab Alexander di dapur. "Aku tidak sengaja menjatuhkan panci."
3 menit Alexander keluar dari dapur menyajikan 3 gelas teh hangat di atas meja.
"Kakak silahkan di minum..." Kata Xander dengan suara lembut dan sopan.
"Terima kasih..." Jawab Alan tanpa melihat ke arah Alexander.
Alexander mengelus dadanya. "Oke, sabar Alexander. Kamu harus sabar menahan emosimu. Dia hanya kakak iparmu. Bukan selingkuhan istrimu, oke!"
Sementara Alona masih sibuk bercerita dengan kakaknya, ikut mengabaikan kehadiran Xander. "Kakak terlihat sangat kurus." Kata Alona sambil memegang tangan kakaknya. "Sayang tolong buatkan makanan untuk kakak" Perintah Alona.
"3 kali...." Ucap Xander dalam hati. "Oke, tunggu sebentar... Nyonya Alona." Jawab Xander pelan sambil mengertakan giginya.
Alexander benar-benar kesal hari ini. "Hari ini aku akan sabar, tapi, tidak akan ada esok atau lusa.
15 menit Alexander datang lagi dari dapur. "Kakak makanan sudah siap." Kata Alexander mempersilakan makan di meja makan.
Alona menarik tangan kakaknya ke meja makan. "Kakak ayo kita makan. Masakannya sangat enak. Lebih enak dari buatanku." Bisik Alona di telinga kakaknya.
Lagi-lagi Alexander terabaikan di meja makan menyaksikan kemanjaan istrinya dan kakak ipar yang memanjakan istrinya. "Kakak aku ingin di suapin sama Kakak. Aku tidak suka kol. Tolong singkirkan itu." Kata Alona tersenyum ceria.
Sebagai lelaki Alexander harus menjaga image-nya. Alexander lantas menarik kursinya ." Aku sudah kenyang." Katanya.
Alexander masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
"Sayang..." Teriak Alona lagi.
"Maaf, pintunya rusak. Aku akan memperbaikinya besok" Jawab Alexander.
Alexander meremas-remas kedua telapak tangannya. "Lihatlah, bahkan dia hanya peduli dengan pintu. Bukan dengan ku, suaminya." Kata Alexander berceloteh meratapi kekesalannya hari ini. "Aku akan membuatmu menderita malam ini Sayang...." Ucapnya dalam hati sambil tersenyum dengan maksud tersembunyi.
Masih di meja makan....
"Kakak, pasti lelah berjalan dari jalan kecil tadi, kan? Aku akan menyuruh Xander menyiapkan kamar untuk kakak istirahat." Kata Alona dengan suara lembutnya.
"Tidak perlu." Jawab Alan. "Tunjukkan saja kamarnya. Biar Kakak yang membereskannya nanti. Kamu istirahat saja di kamarmu."
"Jangan seperti itu..." Jawab Alona. " Kakak tamu kami di sini."
"Alona..., Kakak bukan seorang bayi. Kakak bisa sendiri. Pergilah ke kamar mu." Perintahnya.
"Baiklah, Kakak tidak asik lagi." Jawab Alona cemberut.
"Kamu itu ya..." Kata Alan sambil mengusap-usap kepala adiknya.
"Ya sudah aku pergi." Balas Alona.
*****
Di depan pintu kamar. "Sayang...," Kata Alona sambil memegang gagang pintu dan membukanya.
"....!!!" Alexander sudah berbaring di atas kasur memejamkan matanya.
"Sudah tidur..." Kata Alona berjalan ke arah kasur.
Alona membersihkan dirinya sebelum tidur. Dan, berencana membaca buku panduan cara memberi ASI.
Namun, semua berbeda dari rencana. Baru sebentar bokongnya terasa nyaman duduk di kasur, bersandar di kepala ranjang dan membuka buku halaman pertama. Dengan cepat Alexander menariknya ke dalam selimut.
Sontak saja Alona berteriak, tapi, mulutnya sudah di bekap oleh tangan suaminya.
"Alexander apa yang kamu lakukan? Ada Kakak di rumah!"
Alexander, "....!!!"
"Alexander, aku ingatkan padamu jangan sekarang. Kakak akan mendengarnya."
Alexander, "...!!!"
"Sayang...," Alona mencoba membujuk suaminya agar mengurungkan niat mesumnya.
__ADS_1